{"id":212898,"date":"2023-04-12T10:35:28","date_gmt":"2023-04-12T03:35:28","guid":{"rendered":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/?p=212898"},"modified":"2023-04-12T10:35:28","modified_gmt":"2023-04-12T03:35:28","slug":"monumen-perahu-di-pekalongan-simbol-siaga-hadapi-banjir","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/monumen-perahu-di-pekalongan-simbol-siaga-hadapi-banjir\/","title":{"rendered":"Monumen Perahu di Pekalongan: Simbol Siaga Hadapi Banjir?"},"content":{"rendered":"<p><span style=\"font-weight: 400;\">Ketika melawat ke Pekalongan, di simpang jalan Diponegoro kita akan disuguhi monumen perahu yang biasa-biasa saja. Tapi katanya sih, harga patung itu mahal. Konon monumen itu menghabiskan biaya sekitar 400 juta rupiah. Mayan juga, ya.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Tapi ya nggak apa-apa juga kalau memang habisnya 400 juta, toh memegahkan kota sendiri bagian dari kebanggaan masyarakat. Eh tapi masyarakat yang mana ya?<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Terlepas dari perdebatan biaya pembangunan monumen yang fantastis dengan hasil pembangunan yang biasa-biasa saja, jika dilihat-lihat simbol perahu yang ada di kota Pekalongan tadi agak aneh juga ya?<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Iya sih, Pekalongan memang deket sama pelabuhan, cocok juga sih kalau monumen itu jadi lambang kota Pekalongan. Nggak salah juga kok. Tapi sepertinya ada yang janggal gitu lho. Tidak pas. Mungkin karena mindset orang-orang seperti saya ini cuma kenal Pekalongan sebagai daerah sentral batik, bukan penghasil ikan. <\/span><span style=\"font-weight: 400;\">Begitu juga dengan orang-orangnya, kebanyakan berdagang batik bukan ikan.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Tapi, ah sudah lah coba ikutin penjelasan berikutnya. Mungkin bisa sedikit kasih terang apa yang saya maksud tadi aneh.<\/span><\/p>\n<h2><b>Perahu di tengah kota<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Kalau dipikir-pikir lagi agak aneh juga ya ada perahu di tengah Kota Santri. Apalagi menghabiskan dana 400 juta untuk patung perahu yang paling sederhana yang pernah kulihat di dunia. Serius.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Katanya sih alasan simbol perahu di Kota Pekalongan, karena ingin menonjolkan kota ini sebagai daerah berbasis perikanan.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Mungkin loh ya, &#8220;bos besar&#8221; di kota ini sudah bosan menjual slogan &#8220;<a href=\"https:\/\/dpmptsp.pekalongankota.go.id\/index.php\/id\/kota-pekalongan\/sekilas-kota-pekalongan\/pekalongan-world-s-city-of-batik\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">The World City of Batik<\/a>&#8220;. Mereka ingin ada suasana lain untuk memvisualkan kota Pekalongan. Karena dekat sama laut, si penemu ide ini langsung tertuju pada simbol ikan dan perahu.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Ya meskipun agak aneh saja di dalam kota penghasil batik malah ada simbol perahu. Tapi tak apalah, mungkin ini bagian dari cara pemerintah setempat mengartikan Pekalongan sebagai kota yang siaga. Siaga apa? Nah mari kita lihat di uraian selanjutnya.<\/span><\/p>\n<h2><b>Simbol siaga menghadapi banjir<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Ya betul, simbol siaga menghadapi banjir. Belakangan ini Pekalongan geger karena bencana banjir. Konon akibat aliran sungai ke laut sudah dangkal. Selokan terisi sampah yang memadat dan kurangnya daerah resapan air mengakibatkan banjir setelah beberapa jam atau menit mengguyur kota Pekalongan.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Nah, mungkin monumen itu gambaran masyarakat Pekalongan yang telah siap dan siaga menghadapi banjir. Artinya Monumen Perahu dapat dimaknai sebagai alat evakuasi tatkala rumah-rumah masyarakat di Pekalongan tenggelam.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Tapi ini mungkin loh, tafsiran liar. Saya bukannya kewanen, tapi memang tafsiran orang kan bebas ya. Jadi nggak ada yang bisa disalahkan jika saya punya perspektif seperti itu. Ya menurut saya sih nggak apa-apa juga kalau memang artinya seperti itu. Toh sama-sama mengandung nilai kebermanfaatan juga.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Malah justru menurut saya, monumen ini tepat guna. Monumen Perahu jadi pengingat untuk masyarakat Pekalongan, agar bisa menjaga ketertiban dan kebersihan lingkungan.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Jadi setiap lewat monumen itu mereka akan teringat, &#8220;oh iya jangan buang sampah sembarangan. Kalau melanggar, banjir nanti lebih fatal dari sebelumnya.\u201d<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Nggak salah juga sih monumen perahu di Pekalongan disimbolkan seperti itu. Hitung-hitung mengikhlaskan uang 400 juta dana pembangunan monumen. <\/span><span style=\"font-weight: 400;\">Toh yang membuat biaya monumen itu jadi mahal bukan material dan tukangnya, tapi bagaimana si monumen itu bisa jadi media kesadaran lingkungan masyarakat.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Tapi ini mungkin loh, tafsiran liar saja. Tapi kalau ada yang mau menambahkan imajinasi lain, saya persilakan.<\/span><\/p>\n<p>Penulis: Erik Muhammad Rizkia<br \/>\nEditor: Rizky Prasetya<\/p>\n<p><strong>BACA JUGA <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/aib-kota-pekalongan-yang-sampai-sekarang-masih-menghantui\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">Aib Kota Pekalongan yang Sampai Sekarang Masih Menghantui<\/a><\/strong><\/p>\n<p><em>Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara\u00a0<a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/kirim-tulisan\/\">ini<\/a>\u00a0ya.<\/em><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Pekalongan katanya Kota Batik, tapi punya Monumen Perahu di tengah kota. Maksudnya gimana ya?<\/p>\n","protected":false},"author":2177,"featured_media":212924,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_lmt_disableupdate":"no","_lmt_disable":"","jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":{"source_name":"","source_url":"","via_name":"","via_url":"","override_template":"0","override":[{"template":"1","single_blog_custom":"","parallax":"1","fullscreen":"1","layout":"right-sidebar","sidebar":"default-sidebar","second_sidebar":"default-sidebar","sticky_sidebar":"1","share_position":"float","share_float_style":"share-monocrhome","show_share_counter":"1","show_view_counter":"0","show_featured":"1","show_post_meta":"1","show_post_author":"1","show_post_author_image":"1","show_post_date":"1","post_date_format":"default","post_date_format_custom":"Y\/m\/d","show_post_category":"0","show_post_reading_time":"0","post_reading_time_wpm":"300","show_zoom_button":"1","zoom_button_out_step":"3","zoom_button_in_step":"4","show_post_tag":"1","show_prev_next_post":"0","show_popup_post":"1","number_popup_post":"3","show_author_box":"1","show_post_related":"1","show_inline_post_related":"0"}],"override_image_size":"0","image_override":[{"single_post_thumbnail_size":"crop-715","single_post_gallery_size":"crop-500"}],"trending_post":"0","trending_post_position":"meta","trending_post_label":"Trending","sponsored_post":"0","sponsored_post_label":"Sponsored by","sponsored_post_name":"","sponsored_post_url":"","sponsored_post_logo_enable":"0","sponsored_post_logo":"","sponsored_post_desc":"","disable_ad":"0"},"jnews_primary_category":{"id":"","hide":""},"jnews_override_counter":{"override_view_counter":"0","view_counter_number":"0","override_share_counter":"0","share_counter_number":"0","override_like_counter":"0","like_counter_number":"0","override_dislike_counter":"0","dislike_counter_number":"0"},"jnews_post_split":[],"footnotes":""},"categories":[1],"tags":[18933,4576],"class_list":["post-212898","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-nusantara","tag-monumen-perahu","tag-pekalongan"],"modified_by":"Rizky Prasetya","amp_enabled":true,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/212898","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/users\/2177"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=212898"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/212898\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media\/212924"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=212898"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=212898"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=212898"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}