{"id":212261,"date":"2023-04-05T07:00:54","date_gmt":"2023-04-05T00:00:54","guid":{"rendered":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/?p=212261"},"modified":"2023-04-05T00:22:43","modified_gmt":"2023-04-04T17:22:43","slug":"bandara-jenderal-soedirman-purbalingga-sepi-kayak-hati-jomblo","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/bandara-jenderal-soedirman-purbalingga-sepi-kayak-hati-jomblo\/","title":{"rendered":"Apa Persamaan Bandara Jenderal Soedirman Purbalingga dengan Hati Jomblo? Betul, Sama-sama Sepi!"},"content":{"rendered":"<p><em>Bandara Jenderal Soedirman Purbalingga kok kayak hati jomblo? Sama-sama sepi!<\/em><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Slogan &#8220;kerja,kerja, kerja&#8221; saya rasa sudah tidak relevan lagi bagi pemerintah Indonesia. Hal ini dibuktikan dengan pembangunan infrastruktur yang terus dikebut tapi tidak memiliki tujuan yang pasti. Pemerintah harus bisa membedakan mana kebutuhan dan keinginan.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Sebenarnya, hal ini nggak perlu diingatkan. Masa gitu aja nggak bisa. Ya mbok dipikir dulu sebelum bertindak supaya kebijakan yang dibuat tidak salah melulu. Salah satu kesalahan pemerintah yang ingin saya ceritakan adalah tentang pembangunan Bandara Jenderal Soedirman di Kabupaten Purbalingga, Jawa Tengah.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Katanya, Bandara Jenderal Soedirman dibangun dengan tujuan untuk memudahkan mobilitas dari luar daerah ke Karesidenan Banyumas khususnya ke Kabupaten Purbalingga. Dari sini, tujuannya terlihat bagus.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Tapi, bentar dulu, Gaes. Ada yang aneh ini.<\/span><\/p>\n<h2><strong>Apanya yang menarik?<\/strong><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Pertanyaannya adalah, memangnya ada daya tarik apa di daerah ini sehingga Bandara Jensoed harus \u201cdipaksakan\u201d dibangun? Saya rasa tidak ada magnet apa pun yang membuat wisatawan dan pelaku industri kreatif berkunjung ke Karesidenan Banyumas. Bukan berarti saya tidak bangga sebagai salah satu warga asli Purbalingga. Tapi, memang seperti itulah adanya.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Karsidenan Banyumas ini terdiri dari dari lima kabupaten, yaitu Banjarnegara, Purbalingga, Banyumas, Cilacap dan Kebumen. Menurut saya, kelima kabupaten tersebut masih tergolong kabupaten yang dikategorikan \u201cbiasa-biasa saja\u201d. Kenapa demikian? Karena di daerah tersebut tidak ada industri dan pariwisata yang mampu menggaet para pendatang untuk berkunjung ke Bralingmascakep.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Menggaet pendatang berkunjung saja susah, apalagi untuk menarik wisatawan supaya terbang dan mendarat di Bandara Jenderal Soedirman. Nggak percaya? Nih saya kasih penjelasannya.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Kita mulai dari Kabupaten Banjarnegara dan Kebumen. Memang dua kabupaten ini terkenal sebagai daerah wisata. Banjarnegara dengan dataran tingginya (Dieng) dan Kebumen dengan pantai dan guanya yang melimpah. Tapi, kedua kabupaten tersebut belum mampu menjadi destinasi utama para wisatawan. Keduanya masih kalah dengan daerah-daerah lain di Jawa Tengah seperti Semarang dan Solo.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Selain kedua kabupaten tersebut, ada tiga kabupaten lainnya, yaitu Purbalingga, Cilacap, dan Banyumas. Purbalingga memang dikenal sebagai <a href=\"https:\/\/www.sonora.id\/read\/422855255\/mengenal-bulu-mata-lokal-asli-produksi-purbalingga\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">daerah industri bulu mata<\/a>. Tapi keberadaan pabrik bulu mata belum mampu mendatangkan para pelaku industri. Lah mau mendatangkan gimana? Wong bosnya aja orang Cina yang udah lama mukim di Purbalingga. Saya menyebutnya sebagai Cina Ngapak, hahaha.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Lalu, bagaimana dengan Cilacap dan Banyumas? Sami mawon alias sama saja, nggak ngaruh. Mungkin, di antara kabupaten lainnya, Cilacap dan Banyumas lebih mendominasi. Cilacap dengan kilang Pertamina-nya dan Banyumas dengan Purwokerto-nya. Tapi, selama daerah-daerah tersebut belum dijadikan sebagai opsi siswa dalam acara study tour, maka, masih belum terkenal-terkenal amat. Chuakss.<\/span><\/p>\n<h2><strong>Bandara ini rame kok. Beneran. Suer.<\/strong><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Awal mula pendirian bandara ini memang ramai. Tapi keramaian yang terjadi hanya sebatas karangan bunga ucapan selamat atas dibukanya bandara. Maskapai yang ada di Bandara Jenderal Soedirman pun hanya Citilink. Fyi, saat saya menulis artikel ini dan mengeceknya lagi maskapai itu pun sudah tidak beroperasi di bandara tersebut. Ya mau gimana lagi? wong sepi peminat, ya mending minggat.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Keberadaan bandara yang sepi ini membuat efek domino. Salah satunya bagi perekonomian masyarakat sekitar. Katanya, Bandara Jenderal Soedirman bisa meningkatkan ekonomi masyarakat sekitar, eehh ternyata hanya omong kosong belaka. Untuk meredam kekecewan masyarakat yang sudah terlanjur antusias dengan dibangunnya Bandara, maka dibuatlah event-event yang nggak ada hubungannya dengan aktivitas bandara.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Sebut saja, acara balap motor. Balap motor, Gaes. Bayangno.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Apa mungkin, pemerintah Kabupaten Purbalingga memang sengaja mengadakan acara seperti ini sebagai plan B untuk menutupi isu \u201cnggak lakunya\u201d Bandara Jenderal Soedirman?<\/span><\/p>\n<h2><strong>Masyarakat gigit jari<\/strong><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Akhirnya harapan masyarakat pun menjadi pupus. Mereka jadi bingung mau ngapain. FYI, rata-rata masyarakat di sekitar bandara adalah seorang petani yang mata pencahariannya adalah dengan berladang. Sedangkan ladang yang mereka gunakan sebagian besar terletak di daerah Bandara Jenderal Soedirman yang sudah dibayar ganti rugi untuk pembangunan bandara.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Selain itu, hal ini diperparah dengan adanya pihak-pihak yang menyalahgunakan area bandara sebagai tempat pacaran. Silahkan saja kalian berkunjung ke bandara di sore hari. Dijamin kalian akan menemukan sejoli yang sedang memadu kasih di sepanjang pintu masuk bandara. Oh ya, ada juga para anak baru gede yang memamerkan knalpot racingnya, bahkan sesekali mereka juga adu balap, loh. Haduh.. ada-ada saja.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Slogan \u201ckerja, kerja, kerja\u201d memang sudah sebaiknya direvisi lagi. Bandara Jenderal Soedirman adalah bukti bahwa kerja tok tanpa perencanaan cuman bikin orang lain rugi. Betul apa betul banget?<\/span><\/p>\n<p>Penulis: Yanuar Abdillah Setiadi<br \/>\nEditor: Rizky Prasetya<\/p>\n<p><strong>BACA JUGA <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/keluh-kesah-menjadi-warga-kabupaten-purbalingga\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">Keluh Kesah Menjadi Warga Kabupaten Purbalingga<\/a><\/strong><\/p>\n<p><span id=\"Terminal_Mojok_merupakan_platform_User_Generated_Content_UGC_untuk_mewadahi_jamaah_mojokiyah_menulis_tentang_apa_pun_Submit_esaimu_secara_mandiri_lewat_carainiya\"><em>Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara\u00a0ini\u00a0ya.<\/em><\/span><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Katanya, Bandara Jenderal Soedirman bisa meningkatkan ekonomi masyarakat sekitar, eh ternyata hanya omong kosong belaka.<\/p>\n","protected":false},"author":1840,"featured_media":212289,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_lmt_disableupdate":"no","_lmt_disable":"","jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":{"source_name":"","source_url":"","via_name":"","via_url":"","override_template":"0","override":[{"template":"1","single_blog_custom":"","parallax":"1","fullscreen":"1","layout":"right-sidebar","sidebar":"default-sidebar","second_sidebar":"default-sidebar","sticky_sidebar":"1","share_position":"float","share_float_style":"share-monocrhome","show_share_counter":"1","show_view_counter":"0","show_featured":"1","show_post_meta":"1","show_post_author":"1","show_post_author_image":"1","show_post_date":"1","post_date_format":"default","post_date_format_custom":"Y\/m\/d","show_post_category":"0","show_post_reading_time":"0","post_reading_time_wpm":"300","show_zoom_button":"1","zoom_button_out_step":"3","zoom_button_in_step":"4","show_post_tag":"1","show_prev_next_post":"0","show_popup_post":"1","number_popup_post":"3","show_author_box":"1","show_post_related":"1","show_inline_post_related":"0"}],"override_image_size":"0","image_override":[{"single_post_thumbnail_size":"crop-715","single_post_gallery_size":"crop-500"}],"trending_post":"0","trending_post_position":"meta","trending_post_label":"Trending","sponsored_post":"0","sponsored_post_label":"Sponsored by","sponsored_post_name":"","sponsored_post_url":"","sponsored_post_logo_enable":"0","sponsored_post_logo":"","sponsored_post_desc":"","disable_ad":"0"},"jnews_primary_category":{"id":"","hide":""},"jnews_override_counter":{"override_view_counter":"0","view_counter_number":"0","override_share_counter":"0","share_counter_number":"0","override_like_counter":"0","like_counter_number":"0","override_dislike_counter":"0","dislike_counter_number":"0"},"jnews_post_split":[],"footnotes":""},"categories":[13087],"tags":[18875,18876,8290],"class_list":["post-212261","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-pojok-tubir","tag-bandara-jenderal-soedirman","tag-barlingmascakeb","tag-purbalingga"],"modified_by":"Rizky Prasetya","amp_enabled":true,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/212261","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1840"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=212261"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/212261\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media\/212289"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=212261"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=212261"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=212261"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}