{"id":211975,"date":"2023-04-01T14:39:28","date_gmt":"2023-04-01T07:39:28","guid":{"rendered":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/?p=211975"},"modified":"2023-04-01T14:39:28","modified_gmt":"2023-04-01T07:39:28","slug":"menurut-saya-gresik-nggak-cocok-dijuluki-kota-santri","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/menurut-saya-gresik-nggak-cocok-dijuluki-kota-santri\/","title":{"rendered":"Menurut Saya, Gresik Nggak Cocok Dijuluki Kota Santri"},"content":{"rendered":"<p><span style=\"font-weight: 400;\">Selaku masyarakat Gresik sekaligus pernah mengenyam pendidikan pesantren di Kabupaten tersebut, saya sedikit heran mengapa Gresik kok bisa menyebut dirinya sebagai kota Santri. Jika mengklaim diri sebagai Kota Pudak, saya mungkin bisa menerimanya, karena memang pudak merupakan makanan khas dari Gresik. Tapi ini, kota santri? Apa iya kabupaten ini paling santri dibandingkan dengan daerah lain?<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Setelah dipikir-pikir, klaim sebutan kota santri pada Kabupaten Gresik menurut saya sangat bermasalah. Mulai dari kronologi, hingga indikator yang nggak begitu jelas. Seolah-olah sebutan kota santri pada Kabupaten Gresik ini begitu terlalu dipaksakan, nggak representatif, dan merupakan sebuah dosa ketika dilekatkan pada kabupaten ini, karena nggak sesuai dengan apa adanya.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Mengapa kok saya mengatakan demikian? Jadi ada beberapa alasan mengapa label kota santri itu nggak cocok sama sekali dilekatkan pada Gresik. Jika ngotot dilekatkan, adalah sebuah hal yang aneh menurut saya.<\/span><\/p>\n<h2><b>Terjebak pada romantisme sejarah<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Sebenarnya kenapa Gresik disebut sebagai kota santri sempat <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/gresik-kota-santri\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">diulas<\/a> oleh salah satu kontributor Terminal Mojok, Arum Ariyaya. Sebagaimana penjelasannya dan kebanyakan literatur yang berkembang bahwa sebutan kota santri pada Kabupaten Gresik tidak dapat terlepas dari penyebaran Islam di Gresik oleh banyak wali, mulai dari Sunan Giri, Sunan Maulana Malik Ibrahim, Siti Fatimah binti Maimun, Kanjeng Sepuh dan lainnya yang nggak mungkin saya sebut satu per satu.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Nah, kesemua wali itu memiliki santri yang begitu banyak dan berkontribusi besar dalam penyebaran Islam di Gresik yang begitu pesat. Melalui kronologi itulah mengapa Gresik disebut sebagai Kota Santri.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Tapi, kalau saya boleh jujur ya, jika itu yang digunakan alasan penyebutan kota santri, menurut saya itu seperti terjebak dalam romantisme sejarah. Melalui masa silam yang dianggap membanggakan, pada akhirnya Gresik hanya terpaku pada kenangan sejarah tanpa bisa memaknai sebutan kota santri yang diklaimnya.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Selain itu, jika kota santri adalah identitas kota ini, seharusnya klaim itu tetap relevan hingga sekarang. Namun, nyatanya tidak sama sekali. Gresik nggak mampu mempertahankan kepopuleran identitasnya pada masa silam.<\/span><\/p>\n<h2><b>Jumlah pesantrennya yang biasa saja<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Sebagaimana disinggung sebelumnya, Gresik terjebak dalam romantisme sejarah, hingga lupa mengkontekstualisasikan klaimnya atas kota santri. Dulu memang mungkin bisa disebut kota santri karena perkembangan Islamnya yang pesat atau jumlah santrinya yang banyak. Namun, tidak untuk sekarang. Jumlah pesantren di kabupaten ini tidak sefantastis daerah-daerah lain.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Jika secara nasional, berdasarkan data dari <a href=\"https:\/\/damarinfo.com\/jumlah-pesantren-terbanyak-di-indonesia-bukan-di-jawa-timur-di-provinsi-manakah\/#:~:text=Berikut%2010%20Provinsi%20dengan%20jumlah,dengan%20jumlah%20santri%20564.299%20santri\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">Kemenag RI per April 2022<\/a>, provinsi dengan jumlah pesantren terbanyak itu Jawa Barat loh, dengan total 8.343 lembaga pesantren. Sedangkan Jawa Timur di urutan ketiga dengan jumlah 4.452 pesantren. Selevel Jawa Timur aja udah tersisihkan, apalagi Gresik.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Jika dalam skala provinsi Jawa Timur, justru daerah yang paling banyak pesantrennya itu Jember dengan total 611 pesantren. Sedangkan Gresik, jauh banget dari itu, nggak sampek separuhnya bahkan, yang hanya ada kisaran 143 pesantren. Boro-boro fantastis, masuk urutan sepuluh besar pesantren terbanyak aja nggak nyampek. Lantas kenapa kok sebutan kota santri masih dilekatkan pada Gresik?<\/span><\/p>\n<h2><b>Jumlah santri yang juga biasa saja<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Nggak hanya sampai pada jumlah pesantren, jumlah santri pun di kabupaten Gresik itu biasa-biasa saja. Nggak yang membludak banget santrinya, sampai-sampai pesantren kekurangan tempat. Biasa aja, sebagaimana pesantren pada umumnya.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Yaa, meskipun perlu diakui Jawa Timur menjadi provinsi dengan jumlah santri terbanyak se-nasional. Perlu dicatat bahwa Gresik bukanlah daerah yang menyumbang santri terbanyak di Jawa Timur.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Terpantau, dari data Kemenag Jawa Timur tahun 2017, daerah yang jumlah santri terbanyak itu justru Kediri, dengan total 78.355. Sedangkan Gresik jauh di bawahnya pada urutan kesebelas dengan jumlah 23.703 santri. Masuk sepuluh besar terbanyak aja nggak. Bahkan nggak sampai setengahnya dari Kediri. Nah, loh, masih mau ngotot nyebut diri sendiri sebagai Kota Santri?<\/span><\/p>\n<h2><b>Resolusi jihad santri nggak muncul dari Gresik<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Terakhir, kalian tau kan Hari Santri? Peringatan setiap tanggal 22 Oktober itu, loh. Ya, sebuah momentum tepatnya pada 22 Oktober 1945 yang kala itu K.H. Hasyim Asy\u2019ari menggelorakan Resolusi Jihad, khususnya di kalangan santri, untuk melawan bangsa kolonial. Di kisah itu, nasionalisme santri benar-benar dibakar.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Tapi, sayangnya resolusi jihad itu nggak dicetuskan di Gresik yang katanya kota santri itu. Melainkan dicetuskan di Surabaya, yang juga menjadi salah satu pendorong momentum Hari Pahlawan 10 November. Kalo resolusi jihad santri dicetuskan di kota ini, ya lumayan lah ada peristiwa heroik nasionalis untuk pengklaiman kota santri, tapi ini kan nggak.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Sedangkan si pencetus resolusi jihad, K.H. Hasyim Asy\u2019ari sendiri bukan orang Gresik, yang mungkin bisa bolak balik Surabaya-Gresik, tapi beliau asli orang Jombang. Dari lahir hingga wafatnya pun di Jombang.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Lantas, kenapa label kota santri masih kekeuh dilekatkan di kabupaten Gresik? Dipikir-pikir lagi, deh, bapak Bupati dan Ibu Wabup khususnya. Klaim yang pasti-pasti aja, lah, untuk label kabupaten Gresik, kota pudak misalnya, atau kota industri juga boleh.<\/span><\/p>\n<p>Penulis: Mohammad Maulana Iqbal<br \/>\nEditor: Rizky Prasetya<\/p>\n<p><strong>BACA JUGA <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/3-hal-istimewa-yang-bisa-kamu-dapat-di-gresik\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">3 Hal Istimewa yang Bisa Kamu Dapat di Gresik<\/a><\/strong><\/p>\n<p><em>Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara\u00a0<a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/kirim-tulisan\/\">ini<\/a>\u00a0ya.<\/em><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Sebentar, orang Gresik jangan marah dulu. Baca dulu aja biar paham.<\/p>\n","protected":false},"author":886,"featured_media":169581,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_lmt_disableupdate":"no","_lmt_disable":"","jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":{"source_name":"","source_url":"","via_name":"","via_url":"","override_template":"0","override":[{"template":"1","single_blog_custom":"","parallax":"1","fullscreen":"1","layout":"right-sidebar","sidebar":"default-sidebar","second_sidebar":"default-sidebar","sticky_sidebar":"1","share_position":"float","share_float_style":"share-monocrhome","show_share_counter":"1","show_view_counter":"0","show_featured":"1","show_post_meta":"1","show_post_author":"1","show_post_author_image":"1","show_post_date":"1","post_date_format":"default","post_date_format_custom":"Y\/m\/d","show_post_category":"0","show_post_reading_time":"0","post_reading_time_wpm":"300","show_zoom_button":"1","zoom_button_out_step":"3","zoom_button_in_step":"4","show_post_tag":"1","show_prev_next_post":"0","show_popup_post":"1","number_popup_post":"3","show_author_box":"1","show_post_related":"1","show_inline_post_related":"0"}],"override_image_size":"0","image_override":[{"single_post_thumbnail_size":"crop-715","single_post_gallery_size":"crop-500"}],"trending_post":"0","trending_post_position":"meta","trending_post_label":"Trending","sponsored_post":"0","sponsored_post_label":"Sponsored by","sponsored_post_name":"","sponsored_post_url":"","sponsored_post_logo_enable":"0","sponsored_post_logo":"","sponsored_post_desc":"","disable_ad":"0"},"jnews_primary_category":{"id":"","hide":""},"jnews_override_counter":{"override_view_counter":"0","view_counter_number":"0","override_share_counter":"0","share_counter_number":"0","override_like_counter":"0","like_counter_number":"0","override_dislike_counter":"0","dislike_counter_number":"0"},"jnews_post_split":[],"footnotes":""},"categories":[1],"tags":[13996,1530,18847,12015],"class_list":["post-211975","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-nusantara","tag-gresik","tag-julukan","tag-klaim","tag-kota-santri"],"modified_by":"Rizky Prasetya","amp_enabled":true,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/211975","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/users\/886"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=211975"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/211975\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media\/169581"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=211975"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=211975"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=211975"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}