{"id":209505,"date":"2023-03-23T11:20:37","date_gmt":"2023-03-23T04:20:37","guid":{"rendered":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/?p=209505"},"modified":"2023-03-23T11:13:52","modified_gmt":"2023-03-23T04:13:52","slug":"kesalahan-mahasiswa-saat-menulis-artikel-di-jurnal-ilmiah","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/kesalahan-mahasiswa-saat-menulis-artikel-di-jurnal-ilmiah\/","title":{"rendered":"7 Kesalahan Mahasiswa Saat Menulis Artikel di Jurnal Ilmiah"},"content":{"rendered":"<p>Bagi seorang mahasiswa, menulis artikel di jurnal ilmiah adalah sebuah keharusan. Bukan sekadar tugas dari <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/tag\/dosen\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">dosen<\/a>, menulis artikel di jurnal ilmiah bahkan menjadi salah satu syarat kelulusan di beberapa perguruan tinggi negeri. Mau nggak mau, bisa nggak bisa, mahasiswa terpaksa harus melakukan penelitian ilmiah dan menuangkannya ke dalam sebuah artikel.<\/p>\n<p>Masalahnya, menulis artikel\u2014apalagi artikel di jurnal ilmiah\u2014itu nggak gampang. Apalagi kalau si mahasiswa itu belum tahu cara menulis artikel di jurnal ilmiah, bisa dipastikan akan banyak kesalahan yang dilakukan. Seperti apa sih kesalahannya? Berikut beberapa kesalahan yang biasa dilakukan mahasiswa ketika menulis artikel di jurnal ilmiah.<\/p>\n<h2><b>Artikel nggak sesuai template jurnal ilmiah<\/b><\/h2>\n<p>Setiap jurnal memiliki template artikelnya masing-masing. Template artikel biasanya berbentuk file Microsoft Word dan bisa diunduh di halaman jurnal. Nah, template artikel itulah yang dijadikan acuan ketika menulis di jurnal ilmiah. Jadi kalau ada mahasiswa yang ujug-ujug submit artikel tanpa menggunakan template jurnal yang disediakan, itu jelas sebuah kesalahan besar.<\/p>\n<h2><strong>Artikel nggak mengikuti aturan jurnal<\/strong><\/h2>\n<p>Selain template artikel, di dalam jurnal ilmiah juga ada aturan yang harus diikuti dalam penulisan artikel. Misalnya, jenis font yang digunakan, jumlah kata, susunan bab, penempatan gambar dan tabel, penulisan referensi, dan sebagainya. Kalau nggak mengikuti aturan yang sudah diberikan, itu adalah sebuah kesalahan dan kemungkinan besar artikelnya bakal ditolak.<\/p>\n<h2><strong>Nggak pakai aplikasi Mendeley<\/strong><\/h2>\n<p>Penulisan artikel di jurnal ilmiah nggak bisa lepas dari yang namanya kutipan. Kutipan ini diambil dari hasil penelitian-penelitian terdahulu dengan topik yang sama dengan artikel yang dibuat.<\/p>\n<p>Nah, ada satu aplikasi bernama <a href=\"https:\/\/internationaljournallabs.com\/blog\/cara-mencari-jurnal-di-mendeley\/#:~:text=Apa%20itu%20Mendeley%20Jurnal%3F,dan%20melakukan%20sharing%20data%20penelitian.\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">Mendeley<\/a> yang mempermudah penulisan kutipan dalam sebuah artikel dan mensinkronisasikan dengan daftar pustaka secara otomatis. Kalau nggak pakai aplikasi ini, jelas itu adalah kesalahan dan biasanya redaktur jurnal akan meminta revisi artikel.<\/p>\n<h2><strong>Kutipan diambil dari hasil penelitian yang sudah jadul<\/strong><\/h2>\n<p>Seperti yang sudah saya sebutkan sebelumnya, kutipan dalam sebuah artikel di jurnal ilmiah diambil dari hasil penelitian terdahulu yang topiknya sesuai dengan artikel yang sedang dibuat. Di beberapa jurnal diberlakukan aturan batasan waktu <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/tag\/penelitian\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">penelitian<\/a> yang bisa dikutip adalah dalam rentang 5 tahun atau 10 tahun ke belakang.<\/p>\n<p>Jadi, kalau ada mahasiswa yang menulis artikel di tahun 2023 dan mengutip penelitian tahun 1975, itu jauh banget rentang waktunya. Boleh sih kalau memang nggak ada lagi penelitian yang sesuai, tapi sebisa mungkin cari kutipan penelitian yang up-to-date.<\/p>\n<h2><strong>Artikel nggak dicek di aplikasi Turnitin<\/strong><\/h2>\n<p>Turnitin adalah aplikasi untuk memeriksa tingkat similaritas sebuah artikel. Kalau tingkat similaritasnya tinggi, maka kemungkinan besar isi artikelnya hasil copas sana-sini alias plagiasi.<\/p>\n<p>Beberapa jurnal memberikan syarat batas tingkat similaritasnya maksimal 20 persen untuk sebuah artikel. Kalau sebuah artikel memiliki tingkat similaritas lebih dari 20 persen\u2014apalagi kalau nggak dicek Turnitin sama sekali\u2014itu adalah sebuah kesalahan.<\/p>\n<h2><strong>Artikel disubmit di jurnal yang nggak sesuai<\/strong><\/h2>\n<p>Setiap jurnal memiliki fokus dan cakupan yang berbeda-beda meskipun bidangnya sama. Sebagai contoh, <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/10-jurnal-ilmiah-gratisan-yang-dibutuhkan-mahasiswa-ilmu-komunikasi\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">jurnal ilmu komunikasi<\/a> A hanya menerima artikel dengan topik jurnalistik dan media massa. Sedangkan jurnal ilmu komunikasi B hanya menerima artikel dengan topik kehumasan dan marketing. Nah, kalau ada mahasiswa yang submit artikel dengan topik marketing di jurnal A, jelas itu merupakan kesalahan dan pastinya ditolak oleh redaktur jurnal.<\/p>\n<h2><strong>Nggak sabar menunggu waktu tayang artikel<\/strong><\/h2>\n<p>Rentang waktu antara submit artikel hingga tayang bisa mencapai enam bulan hingga satu tahun. Kesalahan yang sering dilakukan mahasiswa pada poin ini adalah nggak sabar menunggu artikelnya tayang. Tiap hari bolak-balik buka jurnal dan bahkan menghubungi redaktur jurnal hanya sekadar menanyakan kapan artikelnya terbit. Hadeh.<\/p>\n<p>Itulah 7 kesalahan yang biasa dilakukan mahasiswa ketika menulis artikel di jurnal ilmiah. Buat kamu yang saat ini sedang menulis artikel di jurnal ilmiah, mudah-mudahan artikel ini bermanfaat. Dengan meminimalisir kesalahan, kemungkinan besar artikel kamu bakal diterima oleh redaktur jurnal. Yuk, bisa yuk!<\/p>\n<p>Penulis: Andri Saleh<br \/>\nEditor: Intan Ekapratiwi<\/p>\n<p><strong>BACA JUGA <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/17-istilah-dalam-jurnal-ilmiah-yang-wajib-diketahui-calon-peneliti\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">17 Istilah dalam Jurnal Ilmiah yang Wajib Diketahui Calon Peneliti<\/a>.<\/strong><\/p>\n<h5><span id=\"Terminal_Mojok_merupakan_platform_User_Generated_Content_UGC_untuk_mewadahi_jamaah_mojokiyah_menulis_tentang_apa_pun_Submit_esaimu_secara_mandiri_lewat_carainiya\"><em>Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara\u00a0<a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/kirim-tulisan\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\">ini<\/a>\u00a0ya.<\/em><\/span><\/h5>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Menulis artikel di jurnal ilmiah itu nggak gampang, lho. Banyak mahasiswa yang masih sering melakukan kesalahan ini.<\/p>\n","protected":false},"author":1468,"featured_media":209536,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_lmt_disableupdate":"no","_lmt_disable":"","jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":{"source_name":"","source_url":"","via_name":"","via_url":"","override_template":"0","override":[{"template":"1","single_blog_custom":"","parallax":"1","fullscreen":"1","layout":"right-sidebar","sidebar":"default-sidebar","second_sidebar":"default-sidebar","sticky_sidebar":"1","share_position":"float","share_float_style":"share-monocrhome","show_share_counter":"1","show_view_counter":"0","show_featured":"1","show_post_meta":"1","show_post_author":"1","show_post_author_image":"1","show_post_date":"1","post_date_format":"default","post_date_format_custom":"Y\/m\/d","show_post_category":"0","show_post_reading_time":"0","post_reading_time_wpm":"300","show_zoom_button":"1","zoom_button_out_step":"3","zoom_button_in_step":"4","show_post_tag":"1","show_prev_next_post":"0","show_popup_post":"1","number_popup_post":"3","show_author_box":"1","show_post_related":"1","show_inline_post_related":"0"}],"override_image_size":"0","image_override":[{"single_post_thumbnail_size":"crop-715","single_post_gallery_size":"crop-500"}],"trending_post":"0","trending_post_position":"meta","trending_post_label":"Trending","sponsored_post":"0","sponsored_post_label":"Sponsored by","sponsored_post_name":"","sponsored_post_url":"","sponsored_post_logo_enable":"0","sponsored_post_logo":"","sponsored_post_desc":"","disable_ad":"0"},"jnews_primary_category":{"id":"","hide":""},"jnews_override_counter":{"override_view_counter":"0","view_counter_number":"0","override_share_counter":"0","share_counter_number":"0","override_like_counter":"0","like_counter_number":"0","override_dislike_counter":"0","dislike_counter_number":"0"},"jnews_post_split":[],"footnotes":""},"categories":[12910],"tags":[6901,17523,5223,34],"class_list":["post-209505","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-pendidikan","tag-artikel","tag-artikel-ilmiah","tag-jurnal-ilmiah","tag-mahasiswa"],"modified_by":"Intan Ekapratiwi","amp_enabled":true,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/209505","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1468"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=209505"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/209505\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media\/209536"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=209505"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=209505"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=209505"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}