{"id":209416,"date":"2023-03-22T13:40:09","date_gmt":"2023-03-22T06:40:09","guid":{"rendered":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/?p=209416"},"modified":"2023-03-22T13:40:09","modified_gmt":"2023-03-22T06:40:09","slug":"culture-shock-orang-papua-adalah-pertanyaan-orang-kota","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/culture-shock-orang-papua-adalah-pertanyaan-orang-kota\/","title":{"rendered":"Sesungguhnya, Culture Shock Terbesar bagi Orang dari Papua Adalah Pertanyaan Absurd Orang Kota"},"content":{"rendered":"<p><span style=\"font-weight: 400;\">Di akhir 2013, ketika masih berkuliah di salah satu universitas swasta di Yogyakarta, artikel saya berjudul <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">9 Pertanyaan Menyebalkan bagi Mereka yang Berasal dari Papua<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> terbit di Hipwee. Saat itu, situs itu sedang hits-hitsnya, dan artikel saya menjadi salah satu artikel paling sering dibaca ketika itu (nyombong dikit).<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Sesuai judulnya, isi dari artikel itu adalah curhatan saya berdasarkan pengalaman pribadi, serta pengalaman keluarga dan teman-teman yang berasal dari Papua yang sering mendapatkan pertanyaan nyeleneh yang bikin heran bin gemas. Di antaranya adalah, \u201cPapua itu di NTT ya?\u201d, \u201cKalau ke Papua harus pakai paspor?\u201d, \u201cJayapura sama Papua jauhan mana?\u201d, dan lain-lain. Sayangnya, kalau saya googling, artikel itu sudah tidak ditemukan lagi. Adanya di <a href=\"https:\/\/www.kaskus.co.id\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">Kaskus<\/a> yang sudah diedit menjadi milik orang lain. Hiks.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Siapa sangka, 10 tahun kemudian, tepatnya 2023 ini, minggu lalu, ketika mengikuti suatu kegiatan di Jakarta, saya mendapatkan pertanyaan yang sejenis. Duh Gusti.<\/span><\/p>\n<h2><strong>&#8220;Di Papua ada bubur ayam?&#8221;<\/strong><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Ceritanya saat itu kami menginap di salah satu hotel berbintang 4 di daerah Jakarta Utara. Ada 174 peserta yang mengikuti kegiatan ini, sehingga kami belum mengenal semuanya (sampai kegiatan berakhir juga belum kenal semua, hahaha).<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Namanya hotel bintang 4, sudah jelas dong, sarapannya banyak jenisnya. Nah, saat sarapan, saya duduk dengan salah seorang peserta yang berdomisili di Jakarta. Kami pun berkenalan dan ngobrol sekenanya terkait kegiatan itu. Sebut saja nama mbak ini Mince. Mbak Mince ini sedang makan bubur ayam. Setelah makanan saya habis, karena ngiler dengan makanan Mbak Mince, saya pun memutuskan mengambil bubur ayam. Mumpung banyak makanan enak, tidak boleh disia-siakan wkwkwk. Lalu saya kembali duduk dengan Mbak Mince ini.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">\u201cNgambil apa, Mbak?\u201d, tanya Mbak Mince pada saya.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">\u201cBubur ayam juga mbak\u201d, jawab saya singkat sambil tersenyum.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Laluuu pertanyaan mencengangkan itu muncul. \u201cDi Jayapura ada jualan?\u201d Belum menangkap dengan jernih arti pertanyaan ini, dan masih berusaha berpikiran positif, saya balas bertanya, \u201cJualan apa, Mbak?\u201d, \u201cBubur ayam\u201d, Mbak Mince menyahut dengan muka polos tanpa dosa. Hatiku ngejleb seketika. Pengen seketika itu nyolot dan misuh-misuh, tapi harus jaim karena baru kenal dan semua peserta ini adalah orang-orang hebat.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Dengan berusaha sabar, saya jawab singkat, \u201cAda mbak\u201d. Percakapan selesai, lalu kami melanjutkan makan dan kegiatan di hari itu dan hari-hari selanjutnya dengan baik.<\/span><\/p>\n<h2><strong>Memang tidak semaju Jawa, tapi&#8230;<\/strong><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Tapiiiii tunggu dulu\u2026 sampai hari ini, ketika kegiatan sudah berakhir dan kami semua sudah kembali ke daerah asal kami masing-masing, pertanyaan itu masih terngiang-ngiang di kepala saya, dan masih menimbulkan keheranan yang justru lebih besar dari 10 tahun lalu. Seprimitif itukah Papua bagi orang ibu kota sampai di tahun 2023 ini ada tidaknya orang berjualan bubur ayam saja harus ditanyakan?<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Yaaa, saya tahu kok, Mbak Mince.. Kami di Papua tidak semaju di Pulau Jawa. Contohnya nih, kami tidak punya kereta api, apa lagi MRT seperti di Jakarta. Transportasi paling umum untuk lintas kabupaten\/kota di Papua adalah pesawat atau kapal. Ada juga sih yang bisa pakai mobil. Tapi itu cerita lain lagi. Pilihan kedai makanan di sini juga sudah tentu tidak sebanyak di sana. Tapi ya nggak gitu juga kali! Pertanyaan seperti \u201cdi Jayapura ada jualan bubur ayam?\u201d bagi saya pribadi bukan hanya sekedar pertanyaan karena rasa ingin tahu. Di balik pertanyaan itu, ada persepsi bahwa kami di Papua masih jauh sekali peradabannya, hingga bahkan belum mengenal hal sesimpel makanan Indonesia pada umumnya.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Padahal, di beberapa kota\/kabupaten kami di Papua sudah ada XXI, Pizza Hut, termasuk Starbucks. Bubur ayam? Ya jelas ada, Mbak!!!<\/span><\/p>\n<h2><strong>Pertanyaan yang absurd<\/strong><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Sesungguhnya, bagi kami yang berasal dari Papua\u2014paling tidak untuk saya pribadi\u2014yang berkunjung ke kota besar di Pulau Jawa, salah satu culture shock terbesar bukanlah gaya hidup atau makanannya. Tapi pertanyaan-pertanyaan yang mengimplikasikan pemahaman bahwa kami belum hidup selayaknya manusia Indonesia pada umumnya. Pertanyaan-pertanyaan yang bikin geram dan bikin bawaannya mau makan orang yang nanya. Ups.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Saran saya, kurang-kurangin lah yang beginian. Masih ada banyak bahan yang bisa digali ketimbang membandingkan atau menganggap orang yang bukan berasal dari daerah besar itu terbelakang. Oke, Ges-gesku?<\/span><\/p>\n<p>Penulis: Debora Plautilda Maturbongs<br \/>\nEditor: Rizky Prasetya<\/p>\n<p><strong>BACA JUGA <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/6-stereotipe-papua-yang-benar-benar-keliru\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">6 Stereotipe Papua yang Benar-benar Keliru<\/a><\/strong><\/p>\n<p><span id=\"Terminal_Mojok_merupakan_platform_User_Generated_Content_UGC_untuk_mewadahi_jamaah_mojokiyah_menulis_tentang_apa_pun_Submit_esaimu_secara_mandiri_lewat_carainiya\"><em>Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara\u00a0<a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/kirim-tulisan\/\">ini<\/a>\u00a0ya.<\/em><\/span><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Bisa-bisanya nanya ada bubur ayam nggak di Papua, pertanyaan orang kota kadang nggak masuk nalar.<\/p>\n","protected":false},"author":1591,"featured_media":209469,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_lmt_disableupdate":"no","_lmt_disable":"","jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":{"source_name":"","source_url":"","via_name":"","via_url":"","override_template":"0","override":[{"template":"1","single_blog_custom":"","parallax":"1","fullscreen":"1","layout":"right-sidebar","sidebar":"default-sidebar","second_sidebar":"default-sidebar","sticky_sidebar":"1","share_position":"float","share_float_style":"share-monocrhome","show_share_counter":"1","show_view_counter":"0","show_featured":"1","show_post_meta":"1","show_post_author":"1","show_post_author_image":"1","show_post_date":"1","post_date_format":"default","post_date_format_custom":"Y\/m\/d","show_post_category":"0","show_post_reading_time":"0","post_reading_time_wpm":"300","show_zoom_button":"1","zoom_button_out_step":"3","zoom_button_in_step":"4","show_post_tag":"1","show_prev_next_post":"0","show_popup_post":"1","number_popup_post":"3","show_author_box":"1","show_post_related":"1","show_inline_post_related":"0"}],"override_image_size":"0","image_override":[{"single_post_thumbnail_size":"crop-715","single_post_gallery_size":"crop-500"}],"trending_post":"0","trending_post_position":"meta","trending_post_label":"Trending","sponsored_post":"0","sponsored_post_label":"Sponsored by","sponsored_post_name":"","sponsored_post_url":"","sponsored_post_logo_enable":"0","sponsored_post_logo":"","sponsored_post_desc":"","disable_ad":"0"},"jnews_primary_category":{"id":"","hide":""},"jnews_override_counter":{"override_view_counter":"0","view_counter_number":"0","override_share_counter":"0","share_counter_number":"0","override_like_counter":"0","like_counter_number":"0","override_dislike_counter":"0","dislike_counter_number":"0"},"jnews_post_split":[],"footnotes":""},"categories":[1],"tags":[2921,623,1265,18800],"class_list":["post-209416","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-nusantara","tag-culture-shock","tag-jawa","tag-papua","tag-pertanyaan-orang-kota"],"modified_by":"Rizky Prasetya","amp_enabled":true,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/209416","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1591"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=209416"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/209416\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media\/209469"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=209416"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=209416"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=209416"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}