{"id":209126,"date":"2023-03-19T08:00:34","date_gmt":"2023-03-19T01:00:34","guid":{"rendered":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/?p=209126"},"modified":"2023-03-19T08:36:56","modified_gmt":"2023-03-19T01:36:56","slug":"colenak-murdi-putra-camilan-legendaris-dari-bandung-yang-jadi-hidangan-istimewa-kaa-1955","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/colenak-murdi-putra-camilan-legendaris-dari-bandung-yang-jadi-hidangan-istimewa-kaa-1955\/","title":{"rendered":"Colenak Murdi Putra: Camilan Legendaris dari Bandung yang Jadi Hidangan Istimewa KAA 1955"},"content":{"rendered":"<p>Kalau saat ini kamu sedang berakhir pekan di Bandung dan bosan dengan kuliner yang itu-itu saja, mungkin kamu bisa coba cicipi camilan yang satu ini. Namanya colenak Murdi Putra, camilan manis khas Bandung yang legendaris. Disebut legendaris karena<a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/tag\/camilan\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\"> camilan<\/a> ini sudah ada sejak tahun 1930 dan bahkan menjadi salah satu hidangan istimewa pada gelaran Konferensi Asia Afrika (KAA) pada tahun 1955 yang lalu.<\/p>\n<p>Colenak adalah akronim dari \u201cdicocol enak\u201d yang artinya kurang lebih \u201cdisentuh atau dicolek sedikit dan rasanya enak\u201d. Camilan ini berbahan dasar tapai singkong\u2014dalam bahasa Sunda disebut <a href=\"https:\/\/www.bandung.go.id\/features\/detail\/13\/peuyeum-merupakan-makanan-khas-kota-bandung\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">peuyeum<\/a>\u2014yang dibakar dan diberi guyuran gula aren cair yang dicampur dengan parutan kelapa. Rasanya manis dengan sensasi asam dan sangat cocok buat kamu yang doyan dengan camilan yang manis-manis.<\/p>\n<p>Biar kamu nggak penasaran, nih saya coba uraikan hal-hal unik dari camilan legendaris khas Bandung ini, ya.<\/p>\n<h2><strong>Rasanya manis tapi nggak bikin giung<\/strong><\/h2>\n<p>Meski camilan ini berbahan dasar tapai<a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/tag\/singkong\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\"> singkong<\/a> dan gula aren yang rasanya dominan manis, tapi nggak bikin giung, lho. Kayaknya sih karena ada parutan kelapa yang bisa menetralisir rasa giung itu. Jadi, kamu bisa menyantap camilan ini dengan nikmat dan nyaman di lidah.<\/p>\n<h2><strong>Cuma ada 3 varian rasa<\/strong><\/h2>\n<p>Nggak begitu banyak varian rasa yang ditawarkan oleh colenak Murdi Putra ini. Setahu saya cuma ada tiga varian rasa: original, nangka, dan durian. Saya kurang paham juga kenapa cuma ada tiga varian rasa itu, tapi sepertinya colenak Murdi Putra mencoba mempertahankan resep leluhurnya.<\/p>\n<h2><strong>Kemasannya ramah lingkungan<\/strong><\/h2>\n<p>Ini adalah salah satu keunikan dari colenak Murdi Putra: kemasan! Berbeda dengan camilan lain yang kebanyakan menggunakan kemasan plastik, colenak Murdi Putra hanya menggunakan dua lapis kertas\u2014kertas nasi dan kertas putih\u2014sebagai kemasannya. Kertas nasi dan kertas putih tadi dilipat sedemikian rupa hingga menyerupai lipatan nasi bungkus.<\/p>\n<h2><strong>Nggak mudah basi<\/strong><\/h2>\n<p>Colenak Murdi Putra adalah camilan nggak mudah basi karena ada gula cair yang bisa menjadi pengawet alami. Di suhu ruangan, camilan ini bisa bertahan selama dua hari. Sedangkan jika dimasukkan ke dalam lemari pendingin, bisa sampai satu minggu. Tapi kalau kamu masih ragu, kamu bisa cek kok tanggal kedaluwarsanya yang tertera di bagian bawah kemasan.<\/p>\n<h2><strong>Sedikit tapi bikin kenyang<\/strong><\/h2>\n<p>Kalau kamu buka kemasannya, camilan ini terlihat sedikit. Paling hanya empat atau lima potong tapai bakar berukuran kecil yang diguyur gula aren cair dan parutan kelapa. Meski terlihat sedikit, tapi lumayan bisa bikin kamu kenyang, lho. Kalau nggak percaya, kamu boleh coba sendiri.<\/p>\n<figure id=\"attachment_209148\" aria-describedby=\"caption-attachment-209148\" style=\"width: 854px\" class=\"wp-caption aligncenter\"><img fetchpriority=\"high\" decoding=\"async\" class=\"wp-image-209148 size-full\" src=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-content\/uploads\/2023\/03\/Desain-tanpa-judul-2023-03-19T063747.150.jpg\" alt=\"Beberapa potongan colenak (Dokumentasi Pribadi Andri Saleh)\" width=\"854\" height=\"540\" srcset=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-content\/uploads\/2023\/03\/Desain-tanpa-judul-2023-03-19T063747.150.jpg 854w, https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-content\/uploads\/2023\/03\/Desain-tanpa-judul-2023-03-19T063747.150-300x190.jpg 300w, https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-content\/uploads\/2023\/03\/Desain-tanpa-judul-2023-03-19T063747.150-768x486.jpg 768w, https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-content\/uploads\/2023\/03\/Desain-tanpa-judul-2023-03-19T063747.150-750x474.jpg 750w\" sizes=\"(max-width: 854px) 100vw, 854px\" \/><figcaption id=\"caption-attachment-209148\" class=\"wp-caption-text\">Beberapa potongan colenak (Dokumentasi Pribadi Andri Saleh)<\/figcaption><\/figure>\n<h2><strong>Harganya murah<\/strong><\/h2>\n<p>Nah, untuk masalah harga, colenak Murdi Putra ini termasuk murah. Untuk satu kemasan colenak dengan varian rasa apa pun, kamu hanya perlu mengeluarkan kocek sebesar 12 ribu rupiah. Padahal kalau dibandingkan dengan nilai sejarahnya, camilan dengan harga segitu terhitung sangat murah.<\/p>\n<h2><strong>Tersedia di beberapa tempat<\/strong><\/h2>\n<p>Colenak Murdi Putra tersedia di mana-mana, lho. Selain ada di toko pusatnya di Jalan Ahmad Yani (Cicadas) Bandung, kamu juga bisa dapatkan colenak ini di supermarket, toko-toko retail, dan di beberapa toko cabangnya di sekitaran Bandung. Tapi kalau mau gampangnya, kamu bisa juga pesan di aplikasi online, kok.<\/p>\n<p>Itulah hal-hal unik dari colenak Murdi Putra yang perlu kamu ketahui. Kalau kamu membaca artikel ini sambil ngiler karena pengin banget mencicipi, jangan ragu untuk segera beli, ya. Mumpung di Bandung, kapan lagi menyantap camilan legendaris yang dulu pernah dicicipi juga oleh para pemimpin negara di Asia dan Afrika?<\/p>\n<p>Penulis: Andri Saleh<br \/>\nEditor: Intan Ekapratiwi<\/p>\n<p><strong>BACA JUGA <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/8-rekomendasi-kuliner-bandung-yang-patut-dicoba-kalau-lagi-ke-sana\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">8 Rekomendasi Kuliner Bandung yang Patut Dicoba Kalau Lagi ke Sana<\/a>.<\/strong><\/p>\n<h5><span id=\"Terminal_Mojok_merupakan_platform_User_Generated_Content_UGC_untuk_mewadahi_jamaah_mojokiyah_menulis_tentang_apa_pun_Submit_esaimu_secara_mandiri_lewat_carainiya\"><em>Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara\u00a0<a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/kirim-tulisan\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\">ini<\/a>\u00a0ya.<\/em><\/span><\/h5>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Colenak legendaris di Bandung yang udah eksis dari tahun 1930 dan pernah dihidangkan di Konferensi Asia Afrika tahun 1955, lho!<\/p>\n","protected":false},"author":1468,"featured_media":209146,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_lmt_disableupdate":"no","_lmt_disable":"","jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":{"source_name":"","source_url":"","via_name":"","via_url":"","override_template":"0","override":[{"template":"1","single_blog_custom":"","parallax":"1","fullscreen":"1","layout":"right-sidebar","sidebar":"default-sidebar","second_sidebar":"default-sidebar","sticky_sidebar":"1","share_position":"float","share_float_style":"share-monocrhome","show_share_counter":"1","show_view_counter":"0","show_featured":"1","show_post_meta":"1","show_post_author":"1","show_post_author_image":"1","show_post_date":"1","post_date_format":"default","post_date_format_custom":"Y\/m\/d","show_post_category":"0","show_post_reading_time":"0","post_reading_time_wpm":"300","show_zoom_button":"1","zoom_button_out_step":"3","zoom_button_in_step":"4","show_post_tag":"1","show_prev_next_post":"0","show_popup_post":"1","number_popup_post":"3","show_author_box":"1","show_post_related":"1","show_inline_post_related":"0"}],"override_image_size":"0","image_override":[{"single_post_thumbnail_size":"crop-715","single_post_gallery_size":"crop-500"}],"trending_post":"0","trending_post_position":"meta","trending_post_label":"Trending","sponsored_post":"0","sponsored_post_label":"Sponsored by","sponsored_post_name":"","sponsored_post_url":"","sponsored_post_logo_enable":"0","sponsored_post_logo":"","sponsored_post_desc":"","disable_ad":"0"},"jnews_primary_category":{"id":"","hide":""},"jnews_override_counter":{"override_view_counter":"0","view_counter_number":"0","override_share_counter":"0","share_counter_number":"0","override_like_counter":"0","like_counter_number":"0","override_dislike_counter":"0","dislike_counter_number":"0"},"jnews_post_split":[],"footnotes":""},"categories":[12909],"tags":[141,2948,18761,18762,7073,13694],"class_list":["post-209126","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-kuliner","tag-bandung","tag-camilan","tag-colenak","tag-colenak-murdi-putra","tag-peuyeum","tag-tapai"],"modified_by":"Intan Ekapratiwi","amp_enabled":true,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/209126","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1468"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=209126"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/209126\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media\/209146"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=209126"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=209126"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=209126"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}