{"id":2091,"date":"2019-05-24T18:15:53","date_gmt":"2019-05-24T11:15:53","guid":{"rendered":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/?p=2091"},"modified":"2021-10-05T13:40:08","modified_gmt":"2021-10-05T06:40:08","slug":"dapat-tawaran-skripsi-jadi-dan-calon-istri-saat-mudik-lebaran-dari-ibu","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/dapat-tawaran-skripsi-jadi-dan-calon-istri-saat-mudik-lebaran-dari-ibu\/","title":{"rendered":"Dapat Tawaran Skripsi Jadi dan Calon Istri Saat Mudik Lebaran dari Ibu"},"content":{"rendered":"<p>Saya kurang tahu bagaimana cara berpikir beliau (kebetulan Ibu saya sendiri) yang ingin anaknya segera <em>mentas<\/em> dari Perguruan Tinggi. Memang itu kewajaran bagi orang tua, tapi yang membuatnya tidak lumrah adalah <a href=\"https:\/\/tirto.id\/depresi-karena-skripsi-kampus-dosen-wajib-menolong-mahasiswa-ddqy\">tawaran skripsi jadi<\/a> dan calon istri.<\/p>\n<p>Sepertinya tidak dapat saya tolak secara langsung\u2014surgaku masih di telapak kaki ibu. Namun di balik pemberian tawaran macam itu saya jadi tahu bahwa kapasitasku untuk mengurai masalah belum tuntas. Padahal tugas utama dari pendidikan yang kulalui selama ini adalah dapat berhadapan dengan masalah secara langsung lalu menyelesaikan secara mandiri. Jika <em>problem solving<\/em> aja saya belum mampu, apakah jalan pintas menjadi pilihan?<\/p>\n<p>Dulu itu saya belum tahu\u2014bahkan sampai sekarang\u2014mengapa saya mesti kuliah dan tuntas tepat waktu. Pesan bapak sebelum mendiang hanya singkat, \u201c<em>Eman-eman umurmu, Nak<\/em>.\u201d Lah, semasa masih sekolah menengah atas di tempatku belajar itu banyak orang yang jauh lebih tua dariku\u2014bahkan sampai lima tahun di atasku\u2014tidak cocok dengan realita yang pernah saya lalui jika variabelnya umur.<\/p>\n<p>Pun rasanya tak mampu menyela Ayah saat itu dan sekarang setidaknya aku mulai tahu bahwa antar pelaku dan orang yang pernah melakukan itu terbentang jaraknya. Makanya cocok sekali bila pendidikan anak itu seperti yang Amirul Mukminin Ali Bin Abi Thalib katakan &#8220;Didiklah anakmu sesuai zamannya.\u201d dan kata yang dipesankan Ayah juga tidak kemudian salah seutuhnya.<\/p>\n<p><strong>Pertama <\/strong>beliau sebagai sosok pimpinan keluarga merasa perlu memberi tahu bahwa masa muda beliau dulu terlalu lama untuk mencari pengalaman, dan anak-anaknya masih kecil-kecil saat beliau mulai tua dan rentan. Atau mungkin yang <strong>Kedua <\/strong>itu Ayah hanya ingin coba menerka bahwa tipikal anak kedua macam diriku tidak ingin tepat waktu lulus kuliahnya, jadi semakin tua saya baru kuliah maka semakin tua pula saya tuntas.<\/p>\n<p>Itupun masih raba-raba, seperti <em>ijtihad<\/em> begitu, kalaupun salah masih dapat nilai pahala meskipun satu. Dan hari ini saya masih di kampus dan menikmati perubahan demi perubahan yang ada secara &#8216;dekat dan nyaring&#8217;. Setuju atau tidak perubahan pasti ada dan berpihak. Seperti detik-detik akhir bulan Ramadan saat pulang kampung yang selalu tak berpihak pada diriku.<\/p>\n<p>Saat bertemu dengan orang rumah memang tak ada perubahan kalo soal pertanyaan &#8216;kapan lulus&#8217; dan &#8216;kapan nikah&#8217;. Itu sudah seperti formulir yang pasti terisi nama dan alamat, atau bahkan seperti kisi-kisi pertanyaan para pengantar jenazah ketika bertanya &#8216;Siapa Tuhanmu&#8217; dan &#8216;Siapa Nabimu&#8217; pada si mayit. Tapi sebelum merembet kesitu biasanya saya melipur diri dengan baju baru, THR, dan tawaran pertanyaan mau liburan kemana.<\/p>\n<p>Tapi karena kemarin-kemarin juga sudah diingatkan lewat telpon\u2014mungkin beliau mulai lelah bertanya\u2014beliau kemudian bertanya di depan publik. Lalu orang-orang yang mendengarnya akan melirikku iba. Ya, paling tidak saya malu, toh penghakiman publik itu menginginkan objek menjadi malu. Namun entah mengapa pulang kampung kali ini lain, beliau sudah tidak tanya lagi, malah memberi solusi terbuka dan mungkin terbaik. Tawaran itu adalah skripsi jadi,<\/p>\n<p>\u201cKurang apalagi, Nak?\u201d<br \/>\n\u201cJudul sudah diterima, Bu. Tinggal melangkah ke bab satu.\u201d<br \/>\n\u201cTerima saja tawaran Ibu. Teman-teman Ibu itu banyak yang jadi dosen, jelas bantu.\u201d<br \/>\n\u201cBantu nanti aja bu, kalo mau lanjut S2.\u201d<br \/>\n\u201cJenjang S1 aja belum kamu.\u201d<\/p>\n<p>Kemudian aku senyum dan hanya itu yang paling aman agar tidak menuai rasa marah dari sang Ibu. Rasanya ingin menolak kekuatan di luar kendali kita, namun kekuatan dari luar itu merembes ke ubun-ubun\u2014menjadi stimulus\u2014mewujud dalam kerangka berfikir yang utuh\u2014holistik. Dan kemudian percaya diri bahwa depresi itu tak lama usianya, ia melebur seiring lingkungan sekitar dapat menumbuhkan keceriaan.<br \/>\nBelum usai disitu, solusi kedua datang menyambar berupa tawaran calon istri, itu pun gegara banyak orang datang ke rumah dan mengincar anak pertama sebagai calon ternyata gagal karena sudah menikah tahun lalu. Aku sebagai anak kedua menjadi korban dari kebijakan yang seperti udah disepakati sejak kapal nabi Nuh berlabuh, bahwa pilihan selanjutnya adalah adiknya.<\/p>\n<p>Tidak ada masalah dengan calon istri kecuali harapan-harapan yang dibayangkan atas diriku seperti mampu mengaji; mengelola sekolah; menahkodai bahtera rumah tangga; dan urutan-urutan harapan selanjutnya jika sudah <em>qabiltu nikahaha<\/em>. Dari situ juga akhirnya cinta menjelma zat korosif yang merongrong ruh dan tubuhku hari demi hari.<\/p>\n<p>Sayangnya semua berdatangan dari Ibu\u2014letak segala hasrat-obsesi-sombong diriku tepat di bawah kakinya. Artinya semua yang profan tidak pernah sebanding dengan jerih payahnya sebagai orang yang melahirkanku. Bahkan saking mulianya\u2014ada satu teks tercatat, begitu mencengangkan\u2014bahwa dulu ada yang bertanya, &#8220;siapa yang paling pertama dihormati?&#8221; Padahal di waktu yang sama budaya patriarki masih tumbuh subur, jawaban Nabi Muhammad tetap:<\/p>\n<p>\u201cIbumu, ibumu, ibumu, lalu ayahmu.\u201d<\/p>\n<p>Karena itu, <a href=\"https:\/\/mojok.co\/red\/rame\/kilas\/gara-gara-pernyataan-mudik-seperti-neraka-habiburokhman-akhirnya-dipolisikan\/\">kepulangan kali ini ke kampung halaman<\/a> adalah cara belajar terbaik untuk senyum bagai Zain di akhir film <em>Capernaum\u2014<\/em>getir dan tangguh. Dan satu-satunya solusi menjawab pertanyaan Ibu\u2014dari segala hak dan kewajiban atas diriku sebagai anaknya\u2014tentu dengan senyuman berkali-kali sampai obrolannya selesai.<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Wajar memang cara berpikir Ibu yang ingin anaknya segera mentas dari Perguruan Tinggi\u2014yang tidak lumrah adalah tawaran skripsi jadi dan calon istri.<\/p>\n","protected":false},"author":45,"featured_media":2109,"comment_status":"closed","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_lmt_disableupdate":"","_lmt_disable":"","jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":[],"jnews_primary_category":[],"jnews_override_counter":[],"jnews_post_split":[],"footnotes":""},"categories":[13078],"tags":[566,568,567,228,342],"class_list":["post-2091","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-gaya-hidup","tag-ibu","tag-kapan-lulus","tag-kapan-nikah","tag-keluarga","tag-lebaran"],"modified_by":"Ibil S Widodo","amp_enabled":true,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/2091","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/users\/45"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=2091"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/2091\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media\/2109"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=2091"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=2091"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=2091"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}