{"id":209067,"date":"2023-03-18T11:30:23","date_gmt":"2023-03-18T04:30:23","guid":{"rendered":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/?p=209067"},"modified":"2023-03-18T11:11:40","modified_gmt":"2023-03-18T04:11:40","slug":"penggunaan-maneh-dalam-percakapan-bahasa-sunda-sehari-hari","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/penggunaan-maneh-dalam-percakapan-bahasa-sunda-sehari-hari\/","title":{"rendered":"Panduan Menggunakan Kata \u201cManeh\u201d yang Baik dan Benar dalam Percakapan Bahasa Sunda Sehari-hari"},"content":{"rendered":"<p>Jagat maya kembali digegerkan oleh kasus yang menimpa gubernur Jawa Barat, Ridwan Kamil. Setelah sebelumnya ramai tentang pro-kontra pembangunan <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/5-hal-tentang-masjid-raya-al-jabbar-yang-jarang-orang-ketahui\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">Masjid Raya Al-Jabbar<\/a>, kali ini yang menjadi perhatian netizen adalah perihal penggunaan salah satu kata dalam bahasa Sunda, \u201cmaneh\u201d, di media sosial Instagram.<\/p>\n<p>Kata tersebut dilontarkan dalam sebuah komentar pada postingan Ridwan Kamil tempo hari. Seakan nggak terima dengan komentar itu, lelaki yang disapa Kang RK ini pun membalas dengan kata yang serupa. Nggak sampai di situ, kasus ini pun berbuntut panjang hingga trending di <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/tag\/twitter\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">Twitter<\/a> dengan tagar #Maneh.<\/p>\n<p>Dalam bahasa Indonesia, \u201cmaneh\u201d berarti \u201ckamu\u201d. Sebagai orang Sunda asli yang lahir, besar, dan hidup di Bandung, saya sudah sangat sering menggunakan kata \u201cmaneh\u201d dalam percakapan sehari-hari. Memang betul kata tersebut tergolong kata kasar dan nggak sopan. Tapi dalam kondisi tertentu, kata \u201cmaneh\u201d sudah biasa diucapkan sebagaimana halnya (maaf) ucapan \u201canjing\u201d\u2014beserta turunannya macam \u201canjir\u201d atau \u201canying\u201d\u2014dan \u201cgoblog\u201d dalam bahasa Sunda. Ingat, dalam kondisi tertentu, ya.<\/p>\n<p>Berdasarkan pengalaman saya dalam percakapan sehari-hari, kurang lebih kondisi seperti inilah yang membolehkan kita menggunakan kata \u201cmaneh\u201d.<\/p>\n<h2><strong>Dalam percakapan dengan teman akrab<\/strong><\/h2>\n<p><a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/tag\/orang-sunda\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">Orang Sunda<\/a> memang dikenal supel dan mudah bergaul. Apalagi jika bertemu dengan teman yang akrab, maka seakan-akan nggak ada jarak dalam berinteraksi, termasuk dalam percakapan. Makanya nggak heran kalau mereka selalu menggunakan kata \u201cmaneh\u201d dalam percakapannya.<\/p>\n<p>Contohnya, \u201cManeh kamana wae, euy?\u201d atau ditambah kata kasar menjadi \u201cManeh kamana wae, goblog?\u201d yang artinya \u201cKamu ke mana saja, sih?\u201d. Orang yang ditanya pun nggak bakalan marah, malah biasanya tertawa terbahak-bahak karena saking akrabnya.<\/p>\n<h2><strong>Dalam percakapan dengan orang yang seumuran atau lebih muda<\/strong><\/h2>\n<p>Kata \u201cmaneh\u201d juga bisa digunakan dalam percakapan bahasa Sunda sehari-hari dengan orang yang seumuran atau yang lebih muda. Misalnya, \u201cManeh sakola di mana, Jang?\u201d yang artinya \u201cKamu sekolah di mana, Dek?\u201d<\/p>\n<p>Meski termasuk kata kasar, orang yang ditanya akan memaklumi. Sebab, si penanya itu seumuran atau lebih tua usianya.<\/p>\n<h2><strong>Dalam konteks bercanda<\/strong><\/h2>\n<p>Selain supel dan mudah bergaul, orang Sunda juga dikenal sering bercanda. Dalam <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/tag\/percakapan\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">percakapan<\/a> bahasa Sunda sehari-hari, kata \u201cmaneh\u201d juga sering terlontar saat bercanda. Misalnya, \u201cAh, maneh mah aya-aya wae!\u201d yang artinya \u201cAh, kamu ini ada-ada saja!\u201d<\/p>\n<p>Lantaran konteksnya sedang bercanda, orang yang disebut \u201cmaneh\u201d itu nggak bakalan baper apalagi sampai pinned komentar. Eh.<\/p>\n<h2><strong>Dalam kondisi kesal<\/strong><\/h2>\n<p>Yang terakhir, kata \u201cmaneh\u201d bisa digunakan juga ketika sedang kesal atau berselisih. Biasanya kalimat yang paling sering dilontarkan adalah \u201cAh, kumaha maneh we lah!\u201d yang artinya \u201cAh, gimana kamu saja lah!\u201d<\/p>\n<p>Meski disampaikan dalam keadaan emosi atau mimik wajah yang merenggut, biasanya nggak sampai bikin konflik berkepanjangan, kok. Apalagi sampai baku hantam.<\/p>\n<p>Nah, itulah penggunaan kata \u201cmaneh\u201d yang baik dan benar dalam percakapan bahasa Sunda sehari-hari. Meski kata ini dianggap biasa saja di beberapa daerah di <a href=\"https:\/\/id.wikipedia.org\/wiki\/Jawa_Barat\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">Jawa Barat<\/a>, kita tetap harus memahami konteks, adab, dan etika ketika berkomunikasi.<\/p>\n<p>Sebisa mungkin hindari penggunaan kata \u201cmaneh\u201d ini kepada orang tua, teman atau kerabat yang usianya jauh lebih tua, atasan kantor, atau orang yang baru dikenal. Apalagi kalau kata ini dituliskan dalam bentuk teks semacam komentar di <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/tag\/media-sosial\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">media sosia<\/a>l atau pesan Whatsapp. Kita kan nggak pernah tahu apakah kalimatnya serius, bercanda, atau sok akrab.<\/p>\n<p>Jadi, kumaha? Maneh ngarti, kan?<\/p>\n<p>Penulis: Andri Saleh<br \/>\nEditor: Intan Ekapratiwi<\/p>\n<p><strong>BACA JUGA <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/bahasa-sunda-sehari-hari-untuk-orang-non-sunda-supaya-lebih-nyunda\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">Bahasa Sunda Sehari-hari untuk Orang Non-Sunda Supaya Lebih Nyunda<\/a>.<\/strong><\/p>\n<h5><span id=\"Terminal_Mojok_merupakan_platform_User_Generated_Content_UGC_untuk_mewadahi_jamaah_mojokiyah_menulis_tentang_apa_pun_Submit_esaimu_secara_mandiri_lewat_carainiya\"><em>Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara\u00a0<a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/kirim-tulisan\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\">ini<\/a>\u00a0ya.<\/em><\/span><\/h5>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Kata &#8220;maneh&#8221; udah biasa digunakan dalam percakapan bahasa Sunda sehari-hari, khususnya dalam situasi berikut ini.<\/p>\n","protected":false},"author":1468,"featured_media":209076,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_lmt_disableupdate":"no","_lmt_disable":"","jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":{"source_name":"","source_url":"","via_name":"","via_url":"","override_template":"0","override":[{"template":"1","single_blog_custom":"","parallax":"1","fullscreen":"1","layout":"right-sidebar","sidebar":"default-sidebar","second_sidebar":"default-sidebar","sticky_sidebar":"1","share_position":"float","share_float_style":"share-monocrhome","show_share_counter":"1","show_view_counter":"0","show_featured":"1","show_post_meta":"1","show_post_author":"1","show_post_author_image":"1","show_post_date":"1","post_date_format":"default","post_date_format_custom":"Y\/m\/d","show_post_category":"0","show_post_reading_time":"0","post_reading_time_wpm":"300","show_zoom_button":"1","zoom_button_out_step":"3","zoom_button_in_step":"4","show_post_tag":"1","show_prev_next_post":"0","show_popup_post":"1","number_popup_post":"3","show_author_box":"1","show_post_related":"1","show_inline_post_related":"0"}],"override_image_size":"0","image_override":[{"single_post_thumbnail_size":"crop-715","single_post_gallery_size":"crop-500"}],"trending_post":"0","trending_post_position":"meta","trending_post_label":"Trending","sponsored_post":"0","sponsored_post_label":"Sponsored by","sponsored_post_name":"","sponsored_post_url":"","sponsored_post_logo_enable":"0","sponsored_post_logo":"","sponsored_post_desc":"","disable_ad":"0"},"jnews_primary_category":{"id":"","hide":""},"jnews_override_counter":{"override_view_counter":"0","view_counter_number":"0","override_share_counter":"0","share_counter_number":"0","override_like_counter":"0","like_counter_number":"0","override_dislike_counter":"0","dislike_counter_number":"0"},"jnews_post_split":[],"footnotes":""},"categories":[1],"tags":[6512,18748,6047,2209],"class_list":["post-209067","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-nusantara","tag-bahasa-sunda","tag-maneh","tag-orang-sunda","tag-percakapan"],"modified_by":"Intan Ekapratiwi","amp_enabled":true,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/209067","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1468"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=209067"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/209067\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media\/209076"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=209067"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=209067"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=209067"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}