{"id":208651,"date":"2023-03-15T09:17:18","date_gmt":"2023-03-15T02:17:18","guid":{"rendered":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/?p=208651"},"modified":"2023-03-15T09:17:18","modified_gmt":"2023-03-15T02:17:18","slug":"3-dosa-guru-bahasa-indonesia-saat-mengajar","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/3-dosa-guru-bahasa-indonesia-saat-mengajar\/","title":{"rendered":"3 Dosa Menyebalkan dari Guru Bahasa Indonesia Saat Mengajar"},"content":{"rendered":"<p><span style=\"font-weight: 400;\">Sehemat ingatan, menjadi guru sama sekali nggak pernah terlintas dalam benak saya, apalagi menjadi guru Bahasa Indonesia. Dulu, menurut saya, guru Bahasa Indonesia adalah pekerjaan yang sedikit sia-sia karena kita mengajarkan bahasa nasional yang sebenarnya kita bisa pelajari di mana saja dan kapan saja.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Namun, anggapan di atas menjadi berkebalikan dengan apa yang saya lakukan saat ini. Tidak dinyana, akhirnya saya berani juga mengambil keputusan untuk menjadi guru Bahasa Indonesia.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Profesi ini mendadak menjadi profesi yang sangat menantang. Menurut pengalaman saya, sering terjadi sebagian guru Bahasa Indonesia (nggak semua ya gaes) menormalisasi kesalahan-kesalahan yang bisa memengaruhi keberhasilan pembelajaran.<\/span><\/p>\n<h2><b>#1 Tidak membiasakan penggunaan Bahasa indonesia secara tepat<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Saya menyadari jika keberhasilan kelas Bahasa Indonesia nggak sepenuhnya tentang teori, tapi juga tentang praktik. Salah satu praktiknya ya sudah pasti penggunaan dalam kehidupan sehari-hari secara tepat dan aplikatif.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Sayangnya, penggunaannya aplikatif belum sepenuhnya dilakukan oleh guru dan siswa. Masing sering terjadi guru Bahasa Indonesia mencampurkan bahasa daerah yang akhirnya malah menimbulkan ambiguitas, terutama pada siswa. Padahal, niat hati masuk kelas biar mahir berbahasa Indonesia, malah belajar bahasa campuran alias campur kode. Gimana bisa dapat kosakata yang baru dan banyak kalau begini?<\/span><\/p>\n<h2><b>#2 Monoton dan tekstual<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Saya nggak menyalahkan guru Bahasa Indonesia yang pusat pembelajarannya ada pada teks dan buku pelajaran. Tapi setidaknya, guru seperti ini nggak melupakan kalau keterampilan bahasa nggak hanya membaca dan menulis saja, tapi ada menyimak dan berbicara.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Kedua keterampilan dasar berbahasa itu sering dilupakan seolah-olah pembelajarannya cukup membaca, menelaah, dan menulis teks saja. Padahal, jauh daripada itu, pembelajaran Bahasa Indonesia juga melatih siswa dalam memahami apa yang mereka simak dan menyampaikan informasi apa yang mereka pahami kepada orang lain.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Selain menjadikan teks dan buku sebagai bahan ajar utama, sebagian guru Bahasa Indonesia kurang menguasai medan pembelajaran. Alhasil, model pembelajaran seolah-olah memiliki pakem yang nggak bisa diimprovisasi sama sekali.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Padahal ya, menjadi guru itu bebas berkreasi apalagi kita hidup dan mengajar di zaman Mas Menteri Nadiem Makarim menjabat. Siapa yang masih asing dengan Kurmer? Iya yang katanya bebas mengajar dan belajar itu lho. Nyatanya pengesahan Kurmer nggak bikin semua guru sadar betapa bebasnya kita mengkreasikan bahan dan kegiatan belajar siswa.<\/span><\/p>\n<h2><b>#3 Lupa tentang literasi<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Belajar Bahasa Indonesia berarti belajar literasi. Kegiatan literasi yang bisa dilakukan dalam sangat beragam, bahkan guru Bahasa Indonesia bisa menjadi fasilitator dan role model yang sesuai untuk siswa. Bayangkan saja jika siswa belajar literasi langsung dari pengalaman guru. Pembelajaran ini sudah pasti memberi kesan yang dalam bagi mereka dan sesuatu yang berkesan sudah pasti akan diingat selamanya.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Sayangnya, sebagian guru alpa kegiatan literasi. Literasi hanya sebatas membaca dan menulis selanjutnya, nggak ada pengkategorian level pengembangan keterampilan literasi sebagai bentuk tindakan keberlanjutan literasi dalam kelas. Kalau dulu kita mengenal tipe soal HOTS dalam Kurtilas, dalam Kurmer kita mengenal tipe soal literasi.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Soal literasi memang sangat berkaitan dengan kegiatan menumbuhkan minat siswa kepada bahan bacaan. Tetapi, pada dasarnya, kegiatan literasi adalah kegiatan di mana siswa bisa terbiasa mencari tahu sesuatu karena rasa keingintahuan mereka. Nah, cara menumbuhkan rasa keingintahuan mereka itulah yang menjadi kunci besar kesuksesan pembelajaran literasi.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Kalau sudah memperhatikan \u201cdosa-dosa\u201d di atas, apakah anak didik kita seketika jenius dan mahir? Tentu tidak! Meskipun nggak langsung menjadikan mereka seorang ahli, setidaknya kita, para guru Bahasa Indonesia, sudah berusaha menciptakan kelas semenarik mungkin sehingga membuat kesan baik mata pelajaran ini kepada siswa. Kalau sudah baik, apa yang terjadi selanjutnya? Mereka jadi gemar belajar dan kemahiran berbahasa menjadi sebuah keniscayaan.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Jadi, kalau ada siswa yang belum mahir, mari sama-sama merefleksi dan mengevaluasi diri. Salam bahasa!<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Penulis: Ade Vika Nanda Yuniwan<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Editor: Yamadipati Seno<\/span><\/p>\n<p><strong>BACA JUGA <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/jangan-anggap-mudah-bahasa-indonesia-kalau-nulis-saja-masih-sering-salah\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">Jangan Anggap Mudah Bahasa Indonesia kalau Nulis Saja Masih Sering Salah<\/a><br \/>\n<\/strong><\/p>\n<h5><span id=\"Terminal_Mojok_merupakan_platform_User_Generated_Content_UGC_untuk_mewadahi_jamaah_mojokiyah_menulis_tentang_apa_pun_Submit_esaimu_secara_mandiri_lewat_carainiya\"><em>Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara\u00a0<a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/kirim-tulisan\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\">ini<\/a>\u00a0ya.<\/em><\/span><\/h5>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Menurut pengalaman saya, sering terjadi sebagian guru Bahasa Indonesia malah menormalisasi kesalahan yang terjadi. <\/p>\n","protected":false},"author":208,"featured_media":208718,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_lmt_disableupdate":"no","_lmt_disable":"","jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":{"source_name":"","source_url":"","via_name":"","via_url":"","override_template":"0","override":[{"template":"1","single_blog_custom":"","parallax":"1","fullscreen":"1","layout":"right-sidebar","sidebar":"default-sidebar","second_sidebar":"default-sidebar","sticky_sidebar":"1","share_position":"float","share_float_style":"share-monocrhome","show_share_counter":"1","show_view_counter":"0","show_featured":"1","show_post_meta":"1","show_post_author":"1","show_post_author_image":"1","show_post_date":"1","post_date_format":"default","post_date_format_custom":"Y\/m\/d","show_post_category":"0","show_post_reading_time":"0","post_reading_time_wpm":"300","show_zoom_button":"1","zoom_button_out_step":"3","zoom_button_in_step":"4","show_post_tag":"1","show_prev_next_post":"0","show_popup_post":"1","number_popup_post":"3","show_author_box":"1","show_post_related":"1","show_inline_post_related":"0"}],"override_image_size":"0","image_override":[{"single_post_thumbnail_size":"crop-715","single_post_gallery_size":"crop-500"}],"trending_post":"0","trending_post_position":"meta","trending_post_label":"Trending","sponsored_post":"0","sponsored_post_label":"Sponsored by","sponsored_post_name":"","sponsored_post_url":"","sponsored_post_logo_enable":"0","sponsored_post_logo":"","sponsored_post_desc":"","disable_ad":"0"},"jnews_primary_category":{"id":"","hide":""},"jnews_override_counter":{"override_view_counter":"0","view_counter_number":"0","override_share_counter":"0","share_counter_number":"0","override_like_counter":"0","like_counter_number":"0","override_dislike_counter":"0","dislike_counter_number":"0"},"jnews_post_split":[],"footnotes":""},"categories":[12910],"tags":[1164,2094,18717,18718,4152],"class_list":["post-208651","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-pendidikan","tag-bahasa-indonesia","tag-guru","tag-guru-bahasa-indonesia","tag-mata-pelajaran-bahasa-indonesia","tag-nadiem-makarim"],"modified_by":"Yamadipati Seno","amp_enabled":true,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/208651","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/users\/208"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=208651"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/208651\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media\/208718"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=208651"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=208651"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=208651"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}