{"id":208643,"date":"2023-03-15T11:55:50","date_gmt":"2023-03-15T04:55:50","guid":{"rendered":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/?p=208643"},"modified":"2023-03-15T11:55:50","modified_gmt":"2023-03-15T04:55:50","slug":"lamongan-sampai-kapan-meromantisasi-soto-dan-pecel-lele","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/lamongan-sampai-kapan-meromantisasi-soto-dan-pecel-lele\/","title":{"rendered":"Lamongan, Sampai Kapan Meromantisasi Soto dan Pecel Lele?"},"content":{"rendered":"<p><span style=\"font-weight: 400;\">Jujur, kegelisahan saya soal Lamongan sudah sangat lama. Tapi saya selalu ragu untuk menulisnya. Faktor keamanan jadi pertimbangan, juga ragu apakah tulisan ini punya dampak. Tapi, yah, kalo nggak dicoba, kita nggak akan pernah tahu kan?<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Yaps, kegelisahan saya terkait romantisasi, yang saya kira tiap kota sudah melakukannya dengan versinya masing-masing. Mulai dari Jogja, Bandung, Malang, bahkan Solo. Sebagai warga asli Lamongan, saya merasa perlu untuk memberi komentar atas pola romantisasi di kota saya ini. Eh, kabupaten ding.<\/span><\/p>\n<h2><strong>Soto dan pecel lele is so last year<\/strong><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Pertama, saya ingin mengatakan kalau soto dan pecel lele ini sudah pol-polan untuk digunakan sebagai strategi romantisasi kabupaten satu ini. <\/span><span style=\"font-weight: 400;\">Pecel lele memang kebanggaan, hanya saja untuk sampai di taraf romantis, saya kira belum bisa semakmur angkringan Jogja. Apalagi soto lamongan, jelas nggak masuk. Sebab kurang khas. Di mana-mana ada, cuy.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Akan lebih baik menggunakan sego boran saja yang memang hanya ada di Lamongan. Ini akan lebih menarik wisatawan untuk mampir dan mencoba, sebab di kota lain hampir nggak ada. Bahkan bisa dibilang nggak ada sama sekali.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Oh, iya, branding wingko babat juga perlu lho diupayakan, sebab wingko ini malah dikenal sebagai oleh-oleh khas Semarang. Akan tetapi, kita kayak B aja, gitu, nggak ada upaya \u201cperlawanan\u201d sama sekali. Ya Allah.<\/span><\/p>\n<h2><strong>Lamongan Megilan<\/strong><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Selain itu, dalam urusan branding, satu hal yang tidak kalah penting adalah tagline. Bagi yang belum tahu, tagline kami adalah Lamongan Megilan. Dan kalau kita browsing, alasan dipilih kata \u201cMegilan\u201d adalah sebab kata ini merupakan dialek khas Lamongan yang tersebar di berbagai daerah sampai pelosok.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Terlepas dari kebenaran argumen tersebut, tapi banyak teman saya di Lamongan yang baru ngeh dengan diksi megilan. Poin dari tagline yang baik ini bukan sekadar khas, tapi juga enak dilafalkan, didengar, dan diingat sebaik-baiknya.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Dengan segala hormat, kata \u201cmegilan\u201d ini terdengar lucu (dalam konotasi negatif). Baik bagi orang Lamongan, maupun luar Lamongan.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Ini bukan anggapan pribadi. Sudah lama saya mengamati ekspresi orang-orang yang mendengar kata satu ini. Dan belum pernah sekali pun saya melihat ada yang kagum saat pertama kali mendengar tagline satu ini. Bahkan kebanyakan menganggap diksi satu ini asing, lucu, dan seakan mbatin, \u201chah, opo kui\u201d.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Coba kita tengok kota lain. Jogja Istimewa, misalnya. Terdengar simple, baik bagi orang asli sana maupun luar. Oke, kalau Jogja terkesan terlalu \u201ctinggi\u201d, mari bandingkan dengan kabupaten sekitarnya.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Gunungkidul Handayani, Sleman Sembodo, Bantul Projotamansari. Meski kita tidak paham artinya, tapi kata tersebut masih nyaman aja untuk diucapkan. Atau coba liat sesama Jawa Timur. Ada Jombang Beriman, Tuban Bumi Wali, dan Kediri Lagi.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Kalau dibuat begitu, jadi terkesan simpel, mudah dipahami dan menyenangkan dibaca. Tagline ini memang hal yang sederhana, tapi penting juga lho.<\/span><\/p>\n<h2><b>Titik Nol Lamongan, apalagi ini?<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Oh, iya,\u00a0 Kalau boleh berpesan, dengan segala hormat, tolong, hentikan upaya branding asal-asalan. Misal, pembuatan titik nol km Lamongan.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Bagi yang belum tahu, titik nol yang saya maksud adalah semacam bangunan mini yang menjadi penanda <a href=\"https:\/\/kominfo.jatimprov.go.id\/berita\/titik-0-km-icon-baru-lamongan\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">lokasi nol derajat<\/a> di lamongan. Saya tidak paham ini usulan siapa. Saya hanya membayangkan, dalam rapat tersebut, apa tidak ada satu orang saja yang mengatakan kalau proyek ini tidak perlu dilakukan? Sebab, memangnya apa urgensinya dibuat seperti itu? Apalagi dengan bentuk bangunan mungil seperti itu.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Mengutip ucapan Pak Bupati Lamongan, dalam Jawa Pos Radar Bojonegoro, \u201cTitik 0 Km sangat penting, menjadi ikon, sebagai penanda bahwa orang tersebut sudah sampai, atau pernah singgah ke Lamongan.\u201d Nah, ini. Mohon maaf, bukankah penanda sudah sampai di Lamongan itu tugu perbatasan ya, Pak? Mohon maaf, lho.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Lebih lanjut, blio mengatakan, \u201cSaya berharap ikon ini nanti digunakan sebagai salah satu tempat favorit warga Lamongan maupun dari luar, dalam mengabadikan momen fotonya\u201d.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Hmmm. Pak, maaf, tapi apa-apa yang dipaksakan itu tidak pernah baik. Sebab, bangunan mungil tersebut tidak tampak menarik untuk dijadikan foto. Coba diamati saja, apakah objek tersebut ramai dijadikan foto hari ini? Sepi-sepi aja bukan? <\/span><span style=\"font-weight: 400;\">Mohon maaf lho. Tapi, bangunan tersebut hampir setara dengan objek tulisan \u201clove\u201d di sebuah tempat wisata. Bagi anak muda sangat tidak menarik. Nggak tau sih kalau bagi orang lanjut usia, whehehe.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Yaps, untuk urusan konsep branding, sepertinya bapak perlu meremajakan tim yang ada. Apalagi salah satu program njenengan adalah City Branding Lamongan Megilan. Yah, semoga saja sukses, ya, Pak.<\/span><\/p>\n<p>Penulis: M. Afiqul Adib<br \/>\nEditor: Rizky Prasetya<\/p>\n<p><strong>BACA JUGA <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/sudah-saatnya-soto-dan-pecel-lele-lamongan-gantian-memberi-panggung-untuk-nasi-boran\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">Sudah Saatnya Soto dan Pecel Lele Lamongan Gantian Memberi Panggung untuk Nasi Boran<\/a><\/strong><\/p>\n<h5><span id=\"Terminal_Mojok_merupakan_platform_User_Generated_Content_UGC_untuk_mewadahi_jamaah_mojokiyah_menulis_tentang_apa_pun_Submit_esaimu_secara_mandiri_lewat_carainiya\"><em>Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara\u00a0<a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/kirim-tulisan\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\">ini<\/a>\u00a0ya.<\/em><\/span><\/h5>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Lamongan nggak capek apa meromantisasi soto dan pecel lele terus-terusan? Ganti kek apa gitu. Sego boran, misalnya.<\/p>\n","protected":false},"author":580,"featured_media":178308,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_lmt_disableupdate":"no","_lmt_disable":"","jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":{"source_name":"","source_url":"","via_name":"","via_url":"","override_template":"0","override":[{"template":"1","single_blog_custom":"","parallax":"1","fullscreen":"1","layout":"right-sidebar","sidebar":"default-sidebar","second_sidebar":"default-sidebar","sticky_sidebar":"1","share_position":"float","share_float_style":"share-monocrhome","show_share_counter":"1","show_view_counter":"0","show_featured":"1","show_post_meta":"1","show_post_author":"1","show_post_author_image":"1","show_post_date":"1","post_date_format":"default","post_date_format_custom":"Y\/m\/d","show_post_category":"0","show_post_reading_time":"0","post_reading_time_wpm":"300","show_zoom_button":"1","zoom_button_out_step":"3","zoom_button_in_step":"4","show_post_tag":"1","show_prev_next_post":"0","show_popup_post":"1","number_popup_post":"3","show_author_box":"1","show_post_related":"1","show_inline_post_related":"0"}],"override_image_size":"0","image_override":[{"single_post_thumbnail_size":"crop-715","single_post_gallery_size":"crop-500"}],"trending_post":"0","trending_post_position":"meta","trending_post_label":"Trending","sponsored_post":"0","sponsored_post_label":"Sponsored by","sponsored_post_name":"","sponsored_post_url":"","sponsored_post_logo_enable":"0","sponsored_post_logo":"","sponsored_post_desc":"","disable_ad":"0"},"jnews_primary_category":{"id":"","hide":""},"jnews_override_counter":{"override_view_counter":"0","view_counter_number":"0","override_share_counter":"0","share_counter_number":"0","override_like_counter":"0","like_counter_number":"0","override_dislike_counter":"0","dislike_counter_number":"0"},"jnews_post_split":[],"footnotes":""},"categories":[1],"tags":[2250,8758,4683,15742,5316,18724],"class_list":["post-208643","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-nusantara","tag-lamongan","tag-pecel-lele","tag-romantisasi","tag-sego-boran","tag-soto","tag-titik-nol-lamongan"],"modified_by":"Rizky Prasetya","amp_enabled":true,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/208643","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/users\/580"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=208643"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/208643\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media\/178308"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=208643"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=208643"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=208643"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}