{"id":208626,"date":"2023-03-21T08:50:40","date_gmt":"2023-03-21T01:50:40","guid":{"rendered":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/?p=208626"},"modified":"2023-03-21T08:50:33","modified_gmt":"2023-03-21T01:50:33","slug":"ruwetnya-jakarta-bagi-warga-pemalang-yang-lama-tinggal-di-solo-dan-jogja","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/ruwetnya-jakarta-bagi-warga-pemalang-yang-lama-tinggal-di-solo-dan-jogja\/","title":{"rendered":"Ruwetnya Jakarta bagi Warga Pemalang yang Sudah Lama Tinggal di Solo dan Jogja"},"content":{"rendered":"<p><em>Saya tuh orang Pemalang yang udah tinggal cukup lama di Solo dan Jogja. Selama ini nggak ada masalah ketika saya merantau. Tapi ketika saya pergi ke Jakarta, semua terasa berbeda.<\/em><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Sebagai warga daerah yang lahir dan besar di <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/tag\/pemalang\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">Pemalang<\/a>, saya tidak merasakan perbedaan kultural yang cukup bikin kaget ketika pertama kali pindah ke Solo untuk studi S-1 beberapa tahun lalu. Lima tahun kemudian, ketika harus pindah ke Jogja untuk menempuh studi lanjut pun saya tidak terlalu banyak menemukan perubahan berarti dan langsung bisa beradaptasi.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Akan tetapi, ketika baru-baru ini saya memutuskan untuk pindah dan menetap di Jakarta untuk beberapa tahun ke depan, saya cukup terkejut. Meskipun pernah tinggal selama satu bulan di Jakarta untuk magang beberapa waktu lalu, Jakarta tetap bikin saya syok dan mumet.<\/span><\/p>\n<h2><strong>Jangan ikuti jalan kecil yang direkomendasikan Google Maps di Jakarta<\/strong><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Pelajaran pertama yang saya dapatkan selama berkeliling di sekitar tempat tinggal saya di Jakarta Timur adalah jangan pernah mengambil rute jalan kecil yang direkomendasikan oleh <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/tag\/GOOGLE-MAPS\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">Google Maps<\/a>. Pokoknya jangan diikuti! Buat saya yang selama 10 tahun terakhir kerap mengeksplorasi tempat baru di Solo atau Jogja menggunakan Google Maps, rumitnya kawasan padat penduduk di Jakarta itu bener-bener ra mashok!<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Gimana mungkin Google Maps dengan sengaja merekomendasikan gang sempit yang lebarnya kadang nggak lebih dari satu meter, penuh tikungan, dan bercabang? Parahnya lagi, kadang di sepanjang gang ini ramai oleh anak-anak dan warga sekitar yang kongkow atau sekadar jalan kaki lalu-lalang.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Sebagai warga Pemalang yang sudah tinggal lama di Solo dan Jogja tentu saja saya nggak enak hati dong kalau nggak manggut-manggut nunduk seraya bilang permisi tiap kali melintasi warga sekitar yang sudah pasti asing dengan perawakan saya? Memang cari gara-gara aja nih Google Maps. Nggak lagi-lagi deh manut Google Maps di Jakarta.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Sudah paling benar kalau di Jakarta ya pakai <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/tag\/transportasi-publik\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">transportasi publiknya<\/a>. Meskipun seminggu dua minggu belum tentu bisa ngeh sama puluhan trayek dan line KRL atau Transjakarta, setidaknya nggak ruwet pakai Google Maps, deh.<\/span><\/p>\n<h2><strong>Nggak ada tempat belanja murah dan lengkap kayak Mirota Kampus atau Luwes<\/strong><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Akui saja, di Jogja, kita semua adalah pelanggan setia <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/tag\/mirota-kampus\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">Mirota Kampus<\/a>\u2014atau yang sekarang dikenal dengan nama Manna Kampus\u2014sementara di Solo, ada Luwes dan SFA yang jadi swalayan primadona. Lha, di Jakarta? Ampun, deh, kayaknya harus ke mal sih kalau mau dapat tempat belanja yang lengkap, tapi tentu saja harganya nggak murah.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Di Jakarta, untuk berbelanja kebutuhan rumah tangga sehari-hari dengan banyak pilihan, sejauh ini saya belum menemukan pusat barang grosir seperti Progo dan Remujung yang ada di Jogja. Saya mesti menyisirnya satu per satu dari ruko yang ada di pinggiran jalan. Sialnya, barang yang saya cari nggak mesti ketemu juga. Jakarta memang bukan tempat yang mudah untuk bisa segera kerasan di sini.<\/span><\/p>\n<h2><strong>Kuliner dan teh<\/strong><\/h2>\n<p>Butuh waktu yang cukup lama bagi lidah saya yang terbiasa sarapan sego megono di Pemalang, nasi liwet di Solo, dan soto daging di Jogja, untuk beralih pada menu sarapan di Jakarta. Sejauh mata memandang hanya ada <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/tag\/ketoprak\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">ketoprak<\/a>, lontong sayur, dan nasi uduk di sini. Entah di mana saya bisa menemukan kedai jajanan pasar yang setiap pagi siap sedia dan tiap beberapa meter ada kayak di Jogja.<\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Selain rumitnya perkara sarapan, kenapa juga sih tiap kali pesan es teh di Jakarta saya harus ditanya, &#8220;Mau es teh manis atau es teh tawar?&#8221; Memangnya nggak bisa bikin es teh yang manis pahitnya pas kayak di daerah Solo Jogja gitu? Kenapa juga harus nawarin es teh tawar? Hidup udah susah dan gitu-gitu aja, mosok dapat teh yang tawar juga, sih? <\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Haduh, ini sih sudah tergolong penyiksaan pada lidah sebagai indra pengecap saya. Mosok tiap hari saya mesti jajan teh kemasan di <a href=\"https:\/\/indomaret.co.id\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">Indomaret<\/a> biar nggak perlu ditanya mau es teh manis atau es teh tawar?<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Kalian masih ngotot merantau ke Jakarta kayak saya? Udah deh di Solo atau jogja aja, meskipun UMR-nya gitu-gitu aja, setidaknya punya Mas Wali dan Raja yang pro rakyat. Eh, iya, kan?<\/span><\/p>\n<p>Penulis: Adi Sutakwa<br \/>\nEditor: Intan Ekapratiwi<\/p>\n<p><strong>BACA JUGA <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/5-alasan-masuk-akal-untuk-tidak-tinggal-di-jakarta\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">5 Alasan Masuk Akal untuk Tidak Tinggal di Jakarta<\/a>.<\/strong><\/p>\n<h5><span id=\"Terminal_Mojok_merupakan_platform_User_Generated_Content_UGC_untuk_mewadahi_jamaah_mojokiyah_menulis_tentang_apa_pun_Submit_esaimu_secara_mandiri_lewat_carainiya\"><em>Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara\u00a0<a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/kirim-tulisan\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\">ini<\/a>\u00a0ya.<\/em><\/span><\/h5>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Jakarta ternyata ruwet banget ya buat perantau kayak saya.<\/p>\n","protected":false},"author":1076,"featured_media":209352,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_lmt_disableupdate":"no","_lmt_disable":"","jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":{"source_name":"","source_url":"","via_name":"","via_url":"","override_template":"0","override":[{"template":"1","single_blog_custom":"","parallax":"1","fullscreen":"1","layout":"right-sidebar","sidebar":"default-sidebar","second_sidebar":"default-sidebar","sticky_sidebar":"1","share_position":"float","share_float_style":"share-monocrhome","show_share_counter":"1","show_view_counter":"0","show_featured":"1","show_post_meta":"1","show_post_author":"1","show_post_author_image":"1","show_post_date":"1","post_date_format":"default","post_date_format_custom":"Y\/m\/d","show_post_category":"0","show_post_reading_time":"0","post_reading_time_wpm":"300","show_zoom_button":"1","zoom_button_out_step":"3","zoom_button_in_step":"4","show_post_tag":"1","show_prev_next_post":"0","show_popup_post":"1","number_popup_post":"3","show_author_box":"1","show_post_related":"1","show_inline_post_related":"0"}],"override_image_size":"0","image_override":[{"single_post_thumbnail_size":"crop-715","single_post_gallery_size":"crop-500"}],"trending_post":"0","trending_post_position":"meta","trending_post_label":"Trending","sponsored_post":"0","sponsored_post_label":"Sponsored by","sponsored_post_name":"","sponsored_post_url":"","sponsored_post_logo_enable":"0","sponsored_post_logo":"","sponsored_post_desc":"","disable_ad":"0"},"jnews_primary_category":{"id":"","hide":""},"jnews_override_counter":{"override_view_counter":"0","view_counter_number":"0","override_share_counter":"0","share_counter_number":"0","override_like_counter":"0","like_counter_number":"0","override_dislike_counter":"0","dislike_counter_number":"0"},"jnews_post_split":[],"footnotes":""},"categories":[13087],"tags":[529,5807,2284],"class_list":["post-208626","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-pojok-tubir","tag-jakarta","tag-perantau","tag-solo"],"modified_by":"Intan Ekapratiwi","amp_enabled":true,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/208626","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1076"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=208626"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/208626\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media\/209352"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=208626"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=208626"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=208626"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}