{"id":20858,"date":"2019-11-20T17:28:29","date_gmt":"2019-11-20T10:28:29","guid":{"rendered":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/?p=20858"},"modified":"2019-11-20T17:28:29","modified_gmt":"2019-11-20T10:28:29","slug":"menjadi-ambis-atau-tidak-ambis-dalam-pusaran-kehidupan-mahasiswa","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/menjadi-ambis-atau-tidak-ambis-dalam-pusaran-kehidupan-mahasiswa\/","title":{"rendered":"Menjadi Ambis atau Tidak Ambis dalam Pusaran Kehidupan Mahasiswa"},"content":{"rendered":"<p>Waktu saya masih kuliah, istilah \u201cambis\u201d\u2014diambil dari kata \u201cambisi\u201d atau \u201cambisius\u201d\u2014belum sepopuler sekarang. Secara umum, kata ini dipakai untuk menjelaskan keinginan belajar yang <em>Allahuakbar-tinggi-sekali<\/em>, kerajinan mencatat pelajaran, tepat waktu mengerjakan tugas, dan deretan nilai kuliah yang bebas dari nilai C dan D.<\/p>\n<p>Di masa-masa saya berada dalam kelas dan ikut mata kuliah, istilah \u201cambis\u201d kayaknya lebih sering disinonimkan dengan kata \u201cAstuti\u201d\u2014si anak paling rajin yang pernah saya dan teman-teman temui. Matanya selalu memandang ke mana dosen bergerak. Tangannya teracung tiap kali dosen melempar <span style=\"text-decoration: line-through;\">jumroh<\/span> pertanyaan. Tugasnya selalu lengkap\u2014tidak seperti kita-kita (<em>hah kita???<\/em>) yang lebih sering kaget sambil bertanya, \u201cHah, ada tugas? Yang mana?!\u201d<\/p>\n<p>Astuti, kalau hidup di zaman mahasiswa sekarang, mungkin berhasil mendapat predikat sebagai anak ambis sejati. Saking ambisnya, dia kalau patah hati juga <em>healing-<\/em>nya paling-paling ngerjain <a href=\"https:\/\/tirto.id\/cpns-2019-portal-resmi-simulasi-ujian-cat-bkn-online-catbkngoid-eipc\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\"><em>try out <\/em>CPNS.<\/a><\/p>\n<p>Astuti\u2014lagi-lagi\u2014kalau hidup di zaman mahasiswa sekarang, pasti bahagia lahir dan batin melihat banyaknya mahasiswa yang ramai-ramai menuliskan \u201cAku pengin ambis, deh\u201d atau bahkan mengganti namanya di media sosial dengan \u201cMau Jadi Anak Ambis 2019\u201d. Beberapa orang mungkin menyamakan \u201cambis\u201d dengan \u201crajin\u201d\u2014bebas saja, yang jelas maknanya satu: ingin jadi Astuti.<\/p>\n<h4>Cap Negatif Anak Ambis<\/h4>\n<p>Nggak tahu dari mana mulanya, sikap ambisius sering kali disejajarkan dengan keadaan negatif. Mentang-mentang tampak lebih \u201cnafsu\u201d belajar, mereka-mereka ini dicap songong dan sok-sokan, <span style=\"text-decoration: line-through;\">padahal mah emang iya<\/span>, sampai-sampai dinilai nggak bisa bersikap lebih <em>santuy <\/em>dan kalem.<\/p>\n<p>Tapi\u2014<em>hellawwww??? <\/em>Dalam KBBI, \u201cambisius\u201d saja memiliki makna sebagai berikut: berkeinginan keras mencapai sesuatu (harapan, cita-cita); penuh ambisi. Dengan kata lain, ambisius adalah keadaan di mana seseorang memiliki keinginan yang besar untuk melakukan atau mendapatkan sesuatu.<\/p>\n<p>Makna di atas jelas-jelas merupakan makna positif yang patut diapresiasi, bukannya makna jelek yang bisa dihina-hina. Punya ambisi kok buruk? Punya kebohongan yang nggak dibuka-buka, tuh, baru buruk!<\/p>\n<h4>Menjadi Ambis yang Berkecukupan<\/h4>\n<p>Di suatu masa kuliah, nilai Kimia Organik saya adalah E. <em>Apa-apaan?! <\/em>batin saya. Saya memang nggak ambis-ambis amat (<em>waktu ujian, saya mengandalkan doa dan keberuntungan karena\u2014ya Allah\u2014nggak ngerti lagi pokoknya<\/em>), tapi nilai E terasa terlalu jahat buat saya. Selagi mengatur napas karena <em>shock, <\/em>saya mendapatkan satu pesan di hape. Teman saya.<\/p>\n<p>Si teman\u2014<em>sebut saja namanya Mila, tapi bukan admin Mojok<\/em>\u2014mendapatkan nilai E yang sama dengan saya. Dia lebih terkejut daripada saya; SMS-nya pun banyak <em>typo-<\/em>nya (<em>iya, dulu masih zaman SMS<\/em>). Batinnya menjerit dan merasa dunia ini nggak adil. Bahkan setelah kami bertemu pun, tatapan matanya kosong dan dia nggak mau makan sampai Magrib.<\/p>\n<p>Yah, soalnya dia lagi puasa hari itu. Hehehe.<\/p>\n<p>Mila ini anak yang cukup ambis, dan saya melihat sendiri dampak kegagalan yang ia alami siang itu. Mila belajar jauh lebih keras dari saya, menghafalkan semua susunan senyawa, rumus kimia, atau apalah itu namanya\u2014saya nggak tahu soalnya saya aja nggak lulus. Giliran dapat nilai jelek, Mila langsung <em>mental breakdown. <\/em>Saya ikut sedih.<\/p>\n<p>Tapi, itu baru Mila. Menurut saya, masih ada yang lebih ambis daripada Mila: teman saya yang lain, yang namanya Sutono.<\/p>\n<p>Saya pernah mengulang sebuah mata kuliah, lalu terkejut karena bertemu Sutono yang terkenal pandai bukan kepalang. Saya bertanya apa yang ia lakukan, tapi Sutono hanya duduk dan mengisi tanda tangan presensi.<\/p>\n<p>\u201cDia lagi bete,\u201d bisik seorang kawan yang lain pada saya, \u201cSutono lagi bete.\u201d<\/p>\n<p>\u201cKenapa?\u201d<\/p>\n<p>\u201cNilainya di mata kuliah ini kemarin cuma A-.\u201d<\/p>\n<p>\u201cCuma?!\u201d<\/p>\n<p>\u201cDia maunya A. Kekeuh mau ngulangin.\u201d<\/p>\n<p>Saya kicep. Nilai saya yang E tiba-tiba membuat saya merasa jadi sampis. Alias <em>sampah abis.<\/em><\/p>\n<p><b>BACA JUGA <\/b><a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/apakah-mahasiswa-stan-kenal-jargon-hidup-mahasiswa-indonesia\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\">Apakah Mahasiswa STAN Kenal Jargon \u201cHidup Mahasiswa Indonesia\u201d?<\/a> <b><\/b>atau tulisan <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/author\/aprilia-kumala\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\">Aprilia Kumala<\/a>\u00a0lainnya.<\/p>\n<p><em>Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara\u00a0<a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/kirim-tulisan\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\">ini<\/a>\u00a0ya.<\/em><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Astuti, kalau hidup di zaman sekarang, mungkin berhasil mendapat predikat sebagai anak ambis sejati. Dia kalau patah hati healing-nya palingan ngerjain try out CPNS.<\/p>\n","protected":false},"author":416,"featured_media":20960,"comment_status":"closed","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_lmt_disableupdate":"","_lmt_disable":"","jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":[],"jnews_primary_category":[],"jnews_override_counter":[],"jnews_post_split":[],"footnotes":""},"categories":[8],"tags":[2806,436,34],"class_list":["post-20858","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-featured","tag-ambisius","tag-kuliah","tag-mahasiswa"],"modified_by":"Audian Laili","amp_enabled":true,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/20858","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/users\/416"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=20858"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/20858\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media\/20960"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=20858"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=20858"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=20858"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}