{"id":208253,"date":"2023-03-13T08:24:50","date_gmt":"2023-03-13T01:24:50","guid":{"rendered":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/?p=208253"},"modified":"2023-03-14T07:19:22","modified_gmt":"2023-03-14T00:19:22","slug":"aib-kota-pekalongan-yang-sampai-sekarang-masih-menghantui","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/aib-kota-pekalongan-yang-sampai-sekarang-masih-menghantui\/","title":{"rendered":"Aib Kota Pekalongan yang Sampai Sekarang Masih Menghantui"},"content":{"rendered":"<p><span style=\"font-weight: 400;\">Sudah dua tahun ini, saya bersama keluarga bolak-balik ke Pekalongan. Bukan tanpa sebab, adik saya menempuh pendidikan sekolah menengah atas di kota batik tersebut.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Selama di Pekalongan, saya menjumpai berbagai pengalaman yang belum saya jumpai sebelumnya di Kabupaten Purbalingga. Pada kesempatan kali ini, saya ingin menyampaikan pengalaman ini kepada para pembaca agar tidak mengalami <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/seni-mengenal-magelang-untuk-pemula\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">culture shock<\/a> saat berkunjung ke Kota Pekalongan.<\/span><\/p>\n<h2><b>Aib #1 Limbah batik masih menghantui Kota Pekalongan<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Pekalongan terkenal sebagai sentra pembuatan batik. Hal ini bisa dilihat dari kualitas batik cap dan tulis yang tidak perlu diragukan lagi. Selain menjadi kebanggaan masyarakat, batik juga memiliki dampak buruk bagi keberlangsungan warganya. Yaps, <a href=\"https:\/\/www.kompas.id\/baca\/nusantara\/2022\/03\/08\/sumur-warga-di-pekalongan-tercemar-limbah-batik\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">limbah batik<\/a>.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Batik yang sudah selesai dilukis dan dikeringkan harus dicuci menggunakan air bersih. Jika sudah, air sisa pencucian batik harus dibuang ke\u00a0 tempat yang aman agar tidak mencemari lingkungan. Tapi, jika berkunjung ke Pekalongan, kalian akan menjumpai parit yang begitu hitam. Catat baik-baik, \u201chitam\u201d, bukan gelap atau keruh.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Selain kotor, air paritnya juga mengalir sangat lambat. Hal itu sangat berbeda dengan parit di daerah saya (baca: Purbalingga) yang biasa digunakan oleh anak-anak bermain air dan berenang. Haduh, sudah paritnya hitam, mengalirnya lambat lagi. Ini si bukan manusia saja yang enggan menggunakan air parit, nyamuk saja enggan untuk menetaskan jentik-jentik di sana. Lah wong banyune ireng banget, lur!<\/span><\/p>\n<h2><b>Aib #2 Cuaca yang sangat panas<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">FYI, letak Pekalongan yang dekat dengan pantai utara Jawa membuat kota satu ini tergolong panas ketika musim kemarau datang. Meskipun tidak sepanas Bekasi, tapi boleh diadu. Rata-rata panas di Pekalongan saat siang hari mencapai 31 derajat celcius.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Jika saat kemarau panas begitu menyengat, berbeda cerita saat musim hujan tiba. Saat musim hujan tiba, beberapa titik di Pekalongan akan dilanda banjir. Ketinggiannya pun bisa mencapai mata kaki. Hal ini bisa kalian rasakan saat melewati Jalan H. Mochamad Charoen, Banyurip Alit, Pekalongan Selatan. Banjirnya memang nggak parah-parah amat. Tapi namanya banjir ya tetap meresahkan ya, guys!<\/span><\/p>\n<p><em><strong>Baca halaman selanjutnya&#8230;.<\/strong><\/em><\/p>\n<h2><a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/aib-kota-pekalongan-yang-sampai-sekarang-masih-menghantui\/2\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\"><b>Aib #3 Banjir yang mulai menghantui\u00a0<\/b><\/a><\/h2>\n<p><!--nextpage--><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\"><a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/underground-city-simpang-lima-semarang-yakin-bisa-lolos-dari-banjir\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">Banjir<\/a> ini disebabkan sistem parit dan selokan di Kota Pekalongan yang sangat buruk. Banyak parit dan selokan yang mampet. Apalagi air di parit seperti saya jelaskan tadi, hitam pekat. Selain mengganggu lalu lintas, banjir bisa menyebabkan penyakit kulit bagi warga. Yang lebih epik lagi, banjir bisa membuat jalan mudah rusak dan berlubang. Wis lah complicated banget, lur!<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Saya rasa ini menjadi PR bagi pemerintah kota sebelum banjir bertambah parah. Apalagi akhir-akhir ini muncul statemen bahwa Kota Pekalongan akan tenggelam.\u00a0<\/span><\/p>\n<h2><b>Aib #4 Pantai yang kotor<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Sesekali waktu, saya juga menyempatkan waktu untuk berkunjung ke laut utara Jawa. Satu kata yang muncul dalam benak saya yaitu, \u201ckotor\u201d. Bahkan, airnya lebih kotor daripada\u00a0 air di pantai selatan Jawa. Warna airnya hampir 11-12 sama warna parit di Kota Pekalongan.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Ini sebabnya kalian akan jarang menemui pengunjung yang mandi di pinggir pantai. Kalau kalian maksa mandi di sana akan muncul slogan baru, yaitu, habis mandi terbitlah <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/3-dokter-spesialis-paling-enak-untuk-balik-lagi\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">dokter kulit<\/a>.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Itulah beberapa aib yang saya rasakan saat berkunjung ke Kota Pekalongan. Apa yang kalian rasakan saat berkunjung ke sana? Share di kolom komentar, yak!<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Penulis: Yanuar Abdillah Setiadi<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Editor: Yamadipati Seno<\/span><\/p>\n<p><strong>BACA JUGA <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/dosa-warga-pekalongan-bikin-bahaya-tenggelam-makin-dekat\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">Dosa Warga Pekalongan Bikin Bahaya Tenggelam Makin Dekat<\/a><br \/>\n<\/strong><\/p>\n<h5><span id=\"Terminal_Mojok_merupakan_platform_User_Generated_Content_UGC_untuk_mewadahi_jamaah_mojokiyah_menulis_tentang_apa_pun_Submit_esaimu_secara_mandiri_lewat_carainiya\"><em>Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara\u00a0<a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/kirim-tulisan\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\">ini<\/a>\u00a0ya.<\/em><\/span><\/h5>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Kota Pekalongan ternyata menyimpan beberapa aib yang sampai saat ini masih menghantui. Sebuah keprihatinan besar bagi semua warga.<\/p>\n","protected":false},"author":1840,"featured_media":208412,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_lmt_disableupdate":"no","_lmt_disable":"","jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":{"source_name":"","source_url":"","via_name":"","via_url":"","override_template":"0","override":[{"template":"1","single_blog_custom":"","parallax":"1","fullscreen":"1","layout":"right-sidebar","sidebar":"default-sidebar","second_sidebar":"default-sidebar","sticky_sidebar":"1","share_position":"float","share_float_style":"share-monocrhome","show_share_counter":"1","show_view_counter":"0","show_featured":"1","show_post_meta":"1","show_post_author":"1","show_post_author_image":"1","show_post_date":"1","post_date_format":"default","post_date_format_custom":"Y\/m\/d","show_post_category":"0","show_post_reading_time":"0","post_reading_time_wpm":"300","show_zoom_button":"1","zoom_button_out_step":"3","zoom_button_in_step":"4","show_post_tag":"1","show_prev_next_post":"0","show_popup_post":"1","number_popup_post":"3","show_author_box":"1","show_post_related":"1","show_inline_post_related":"0"}],"override_image_size":"0","image_override":[{"single_post_thumbnail_size":"crop-715","single_post_gallery_size":"crop-500"}],"trending_post":"0","trending_post_position":"meta","trending_post_label":"Trending","sponsored_post":"0","sponsored_post_label":"Sponsored by","sponsored_post_name":"","sponsored_post_url":"","sponsored_post_logo_enable":"0","sponsored_post_logo":"","sponsored_post_desc":"","disable_ad":"0"},"jnews_primary_category":{"id":"","hide":""},"jnews_override_counter":{"override_view_counter":"0","view_counter_number":"0","override_share_counter":"0","share_counter_number":"0","override_like_counter":"0","like_counter_number":"0","override_dislike_counter":"0","dislike_counter_number":"0"},"jnews_post_split":[],"footnotes":""},"categories":[1],"tags":[10004,18392,15912,18699,4576],"class_list":["post-208253","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-nusantara","tag-jawa-tengah","tag-kota-batik","tag-kota-pekalongan","tag-limbah-batik","tag-pekalongan"],"modified_by":"Yamadipati Seno","amp_enabled":true,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/208253","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1840"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=208253"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/208253\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media\/208412"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=208253"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=208253"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=208253"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}