{"id":207297,"date":"2023-03-05T14:01:34","date_gmt":"2023-03-05T07:01:34","guid":{"rendered":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/?p=207297"},"modified":"2023-03-05T14:01:34","modified_gmt":"2023-03-05T07:01:34","slug":"5-alasan-seblak-kurang-disukai-di-pulau-sulawesi","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/5-alasan-seblak-kurang-disukai-di-pulau-sulawesi\/","title":{"rendered":"5 Alasan Seblak Kurang Disukai di Pulau Sulawesi"},"content":{"rendered":"<p><span style=\"font-weight: 400;\">Seblak, jajanan yang sudah nggak asing di telinga kita. Jajanan khas <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/ujian-terberat-rakyat-jawa-barat-adalah-pimpinan-daerahnya-sendiri\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">Jawa Barat<\/a> ini memang sangat populer. Sayangnya, popularitas seblak belum sampai ke Pulau Sulawesi, tempat saya merantau saat ini.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Oleh sebab itu, saya melakukan wawancara dan riset kecil-kecilan terkait alasan seblak kurang populer di sana. Orang yang saya wawancara adalah rekan sejawat saya. Berikut hasilnya:<\/span><\/p>\n<h2><b>#1 Aneh melihat kerupuk direbus<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Kerupuk adalah salah satu bahan dasar seblak. Umumnya, kerupuk itu memang digoreng. Nikmatnya kerupuk itu, seharusnya, dari kriuk serta garingnya. Tapi, dalam memasak seblak, kerupuk itu direbus sampai lunak.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Proses memasak tersebut dianggap aneh, oleh rekan-rekan saya di Pulau Sulawesi. Mereka nggak terbiasa melihat kerupuk direbus. Keanehan dalam memasak seblak tersebut, membuat beberapa rekan saya nggak berminat sama sekali untuk mencicipi.<\/span><\/p>\n<h2><b>#2 Nggak sesuai selera<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Seperti yang kita tahu, seblak itu rasanya pedas atau sangat pedas. Begitu pula selera orang Pulau Sulawesi yang suka pedas-pedas kecut atau asam. Akan tetapi, kesamaan rasa pedas tersebut nggak serta merta membuat seblak cocok di lidah orang sini.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Menurut rekan-rekan saya yang pernah nyobain seblak, meskipun rasanya sudah pedas, tapi tetap saja rasanya kurang pas di lidah. Namun, mereka sulit menggambarkan perasaan kurang pas tersebut.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Menurut analisis saya, sepertinya ada rasa yang nggak ada atau kurang dari seblak bagi orang Pulau Sulawesi. Rasa tersebut adalah kecut atau asam dari <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/sauto-dan-lengko-kuliner-sengketa-antara-tegal-dan-daerah-tetangga\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">jeruk nipis<\/a>. Kayaknya jarang penjual seblak yang menyediakan tambahan jeruk nipis dalam seporsi jualannya.<\/span><\/p>\n<h2><b>#3 Tampilannya benyek<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Menurut beberapa rekan saya, tampilan seblak itu benyek. Kalau dalam bahasa <a href=\"https:\/\/id.wikipedia.org\/wiki\/Cikarang_(kota)\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">Cikarang<\/a>, benyek itu sesuatu (biasanya barang) yang empuk\/lembek dan berair. Karena tampilannya begitu, membuat orang Pulau Sulawesi menjadi kurang tergugah untuk nyobain.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Sebenarnya, saya cukup sependapat dengan opini tersebut. Tampilan makanan ini memang kurang menarik. Secara tampilan estetika makanan, kurang cantik. Terlebih bagi orang yang belum pernah nyobain jajanan ini sama sekali.<\/span><\/p>\n<h2><b>#4 Ada cekernya<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Ceker adalah salah satu bahan pelengkap seblak. Bagi pecintanya, kadang keberadaan ceker itu sangat vital untuk meningkatkan nafsu makan. Makanya, banyak penjual seblak yang menyediakan topping ceker dalam produk olahannya. Akan tetapi, keberadaan ceker menjadi salah satu masalah bagi orang Pulau Sulawesi.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Mayoritas orang sini yang saya kenal, rata-rata, nggak suka ceker. Tolong jangan judge selera orang dari daerah lain ya teman-teman. Khususnya bagi kalian pencinta ceker.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Bagi saya, perbedaan selera ini sangat wajar. Contohnya ada orang yang suka dan terbiasa makan belalang. Kebiasaan tersebut, kerap dianggap unik (untuk nggak bilang aneh) bagi orang Jabodetabek. Oleh karena itu, orang Jabodetabek nggak suka makan belalang. Begitu kira-kira persamaan atau perumpamaannya.<\/span><\/p>\n<h2><b>#5 Tekstur seblak yang lembek<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Ketika makan seblak, mulut nggak ngerasa capek karena di setiap suapan nggak ada yang \u201cngelawan\u201d. Alias, mayoritas isiannya itu lembek semua.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Tekstur lembek ini yang membuat orang Pulau Sulawesi merasa kurang cocok. Minimal, di lidah rekan-rekan kerja saya yang asli sini. Tekstur lembek terasa asing di lidah mereka.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Begitulah berbagai alasan yang membuat seblak kurang disukai di Pulau Sulawesi. Sekali lagi saya tekankan, ini berdasarkan hasil riset kecil-kecilan dan wawancara kepada rekan sejawat saya. Bisa jadi ada orang sini yang suka dan itu baik adanya.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Semoga tulisan ini bisa berguna bagi pedagang seblak yang ingin berjualan di Pulau Sulawesi. Siapa tahu mereka bisa melakukan inovasi supaya produknya dapat diterima di lidah mayoritas orang Sulawesi.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Penulis: Ahmad Arief Widodo<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Editor: Yamadipati Seno<\/span><\/p>\n<p><strong>BACA JUGA <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/alasan-perempuan-sangat-suka-makan-seblak\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">Alasan Perempuan Sangat Suka Makan Seblak<\/a><br \/>\n<\/strong><\/p>\n<h5><span id=\"Terminal_Mojok_merupakan_platform_User_Generated_Content_UGC_untuk_mewadahi_jamaah_mojokiyah_menulis_tentang_apa_pun_Submit_esaimu_secara_mandiri_lewat_carainiya\"><em>Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara\u00a0<a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/kirim-tulisan\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\">ini<\/a>\u00a0ya.<\/em><\/span><\/h5>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Ternyata, orang Pulau Sulawesi tidak menggemari seblak. Setelah wawancara dan riset, inilah 5 alasan yang saya rangkum.<\/p>\n","protected":false},"author":1760,"featured_media":207511,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_lmt_disableupdate":"no","_lmt_disable":"","jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":{"source_name":"","source_url":"","via_name":"","via_url":"","override_template":"0","override":[{"template":"1","single_blog_custom":"","parallax":"1","fullscreen":"1","layout":"right-sidebar","sidebar":"default-sidebar","second_sidebar":"default-sidebar","sticky_sidebar":"1","share_position":"float","share_float_style":"share-monocrhome","show_share_counter":"1","show_view_counter":"0","show_featured":"1","show_post_meta":"1","show_post_author":"1","show_post_author_image":"1","show_post_date":"1","post_date_format":"default","post_date_format_custom":"Y\/m\/d","show_post_category":"0","show_post_reading_time":"0","post_reading_time_wpm":"300","show_zoom_button":"1","zoom_button_out_step":"3","zoom_button_in_step":"4","show_post_tag":"1","show_prev_next_post":"0","show_popup_post":"1","number_popup_post":"3","show_author_box":"1","show_post_related":"1","show_inline_post_related":"0"}],"override_image_size":"0","image_override":[{"single_post_thumbnail_size":"crop-715","single_post_gallery_size":"crop-500"}],"trending_post":"0","trending_post_position":"meta","trending_post_label":"Trending","sponsored_post":"0","sponsored_post_label":"Sponsored by","sponsored_post_name":"","sponsored_post_url":"","sponsored_post_logo_enable":"0","sponsored_post_logo":"","sponsored_post_desc":"","disable_ad":"0"},"jnews_primary_category":{"id":"","hide":""},"jnews_override_counter":{"override_view_counter":"0","view_counter_number":"0","override_share_counter":"0","share_counter_number":"0","override_like_counter":"0","like_counter_number":"0","override_dislike_counter":"0","dislike_counter_number":"0"},"jnews_post_split":[],"footnotes":""},"categories":[12909],"tags":[5640,18610,15182,2065,1267],"class_list":["post-207297","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-kuliner","tag-jawa-barat","tag-makanan-khas-jawa-barat","tag-pulau-sulawesi","tag-seblak","tag-sulawesi"],"modified_by":"Yamadipati Seno","amp_enabled":true,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/207297","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1760"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=207297"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/207297\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media\/207511"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=207297"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=207297"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=207297"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}