{"id":205501,"date":"2023-02-15T12:13:49","date_gmt":"2023-02-15T05:13:49","guid":{"rendered":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/?p=205501"},"modified":"2023-02-15T12:14:04","modified_gmt":"2023-02-15T05:14:04","slug":"sapa-mantan-ada-bayangmu-di-tiap-jengkal-aspal-di-jogja","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/sapa-mantan-ada-bayangmu-di-tiap-jengkal-aspal-di-jogja\/","title":{"rendered":"Sapa Mantan: Ada Bayangmu di Tiap Jengkal Aspal di Jogja"},"content":{"rendered":"<p>Mantan selalu jadi topik yang indah dan getir di saat bersamaan. Terlebih jika kamu punya mantan di Jogja, kota yang katanya menyinarimu dengan kebahagiaan. Sinar-sinar itu, menghujanimu dengan pedih-pedih tak bertepi. Tapi tak bisa dimungkiri juga, bahwa pedih-pedih tersebut, pernah dibarengi dengan kebahagiaan tak terperi.<\/p>\n<p>Saya pun punya cerita tentang mantan yang bikin setiap jengkal aspal di Jogja terasa begitu melankolis.<\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Setelah kami berpisah, nyaris setiap jengkal jalanan di Jogja membuat saya teringat padanya. Wanita bertubuh mungil dengan dagu lancip dan hidung bangir yang terus terngiang di kepala. Wanita yang dingin dan sempat membuat hidup ketar-ketir.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Kisah kami adalah kisah cinta jalanan. Berawal dan berakhir di jalan. Seperti banyak jalan di Indonesia, ini kisah yang penuh geronjal.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Semua bermula pada 31 Desember 2018. Jelang pergantian tahun kami keluar malam. Honda Revo tempur yang berwarna hitam dop menjadi saksi, di atas aspal, perasaan ini saya utarakan dengan suara bergetar.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Malam itu, sekiranya pukul sepuluh malam, kami keluar. Saya menjemput di kontrakan tempatnya tinggal. Lalu kami berkeliling jalanan Jogja yang sedang ramai-ramainya. Dari selatan ke utara, timur ke barat, melihat suasana bahagia. Berharap pergantian tahun ini juga membawa kebahagiaan buat kami berdua. Saya sudah merencanakan bahwa pergantian tahun ini akan jadi momen saya mengutarakan cinta.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Tepat tahun berganti, kami melihat nyala kembang api di langit saat sedang berjalan pelan di Ring Road Utara. Cahaya merekah, hati ini semakin deg-degan.<\/span><\/p>\n<h4><b>Januari yang menentukan<\/b><\/h4>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Sekitar pukul setengah satu pagi, motor saya arahkan ke selatan melalui Jalan Monjali. Inilah jalan yang menjadi saksi bisu momen indah itu. Ikrar cinta saya sedikit tersamarkan suara kendaraan dan angin malam, sehingga perlu diulangi dua kali.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">\u201cMungkin kamu tahu, beberapa bulan terakhir aku lagi deketin kamu. Aku suka kamu, mungkin sayang. Mau nggak kalau kita pacaran?\u201d<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Dia terdiam. Saya mencoba menengok spion yang sudah saya atur agar bisa melihat ekspresinya. Sial, dia sadar kalau saya perhatikan, lalu memalingkan wajahnya.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">\u201cKamu nggak harus jawab dengan segera,\u201d ujar saya menenangkan.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Ia lalu meminta waktu untuk berpikir sejenak. Sampai kami tiba di halaman kontrakannya, jawaban belum diberikan. Saya pamit beranjak pulang, tapi ia menahan tangan saya. Meminta agar saya menunggu sedikit lebih lama di teras yang remang cahaya.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Kami banyak terdiam. Barangkali sekitar setengah jam, sampai akhirnya jawaban itu terlontar dari mulutnya. Jawaban yang rasanya seperti melongsorkan beban di kepala. Ia menerima pinangan cinta ini dengan malu. Maklum, di usianya yang jelang dua puluh kala itu, ini pertama kalinya ia pacaran.<\/span><\/p>\n<h4><b>Cerita cinta yang (luar) biasa<\/b><\/h4>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Kami pun jadian. Setelahnya jalanan tetap jadi banyak cerita kami. Aneh memang, tapi wanita ini benar-benar suka minta diajak berkeliling di jalan tanpa arah tujuan yang pasti. <\/span><span style=\"font-weight: 400;\">Suatu waktu ia ingin diajak naik motor sampai ke Pakem yang dingin itu. Padahal saat itu sudah pukul sepuluh malam. Saya agak malas, tapi demi cinta, dinginnya Jalan Kaliurang bukan penghalang. Naik, lalu turun lagi, tanpa mampir ke mana-mana. Berulang kali.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Naik-turun Jalan Kaliurang malam-malam sudah jadi hal lumrah. Memutari ring road juga kami lakoni bersama. Pernah juga, untuk sekadar mencari pecel lele malam-malam, kami berkendara sampai Kota Magelang. Pulang-pergi lebih dari 80 kilometer untuk sekadar makan hidangan yang nyaris setiap seratus meter ada di Jogja.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Tapi tentu, bukan tujuan yang kami nikmati. Melainkan perjalanan. Melihat keramaian jalan dibalut sensasi percakapan yang tersamarkan suara bising kendaraan, tak pernah membosankan.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Sesekali rutinitas ini membuat saya masuk angin. Tapi masuk angin rasanya tidak seberapa berat, demi melihat senyumnya merekah. Pelukan dari belakang jok Revo, rasanya membuat motor butut 110cc ini tidak kalah dari kendaraan mewah.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Kebiasaan itu terus berlanjut. Sampai motor Revo itu pensiun, saya kembalikan ke kampung halaman untuk dialihkan menjadi motor tempur mengangkut hasil panen salak, sehingga saya berganti kendaraan, kami masih muter-muter tanpa arah.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Ketika mulai sibuk bekerja, kami pun masih sesekali meluangkan waktu melakukan agenda rutin ini. Jarak tempuh kami sesuaikan agar lebih dekat. Saya lebih hati-hati agar terhindar dari masuk angin, karena badan ini sudah memikul lebih banyak tanggungan.<\/span><\/p>\n<h4><b>Tiga tahun, delapan bulan<\/b><\/h4>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Hubungan ini bertahan tiga tahun delapan bulan. Akhir yang menyedihkan. Berat, tapi berakhirnya hubungan ini tampaknya jalan terbaik baginya dan diri saya.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Kami tidak sadar bahwa mengambah geronjal jalan terlalu banyak menimbulkan banyak dampak. Kami merasa tahan, layaknya Revo saya yang tak pernah limbung menerjang jalan berlubang di Godean. Tapi, ternyata banyak luka yang tertimbun tanpa sadar. Ketika itu meletup, meletuplah dengan letupan yang besar.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Usai kami putus dan jadi mantan, saya sempat memohon dengan sangat agar ia mau diajak berkendara malam sekali lagi. Ada banyak penolakan. Tapi akhirnya ia mau, sekali, untuk terakhir kali. Kami pun berkendara ke utara menelusuri Jalan Kaliurang.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Sepanjang jalan saya menangis. Di belakang ia berwajah dingin. Mungkin tak ingin terlihat lembek di hadapan saya seperti yang selalu ia lakukan. Sesampainya di depan <a href=\"https:\/\/grhasia.jogjaprov.go.id\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">RSJ Grhasia<\/a>, ia minta berhenti dan putar balik.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">\u201cSudah cukup, sampai sini saja. Aku pengin pulang,\u201d ujarnya, dingin, seperti cuaca malam itu.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Perjalanan ribuan kilometer di jalan raya, hampir empat tahun, berakhir di rute turun dari Kaliurang. Selepas itu, semua tinggal kenangan. Setiap jengkal jalanan, terutama jalan-jalan besar di Jogja, sudah kami lewati berdua. Dari awal jadian, hingga jadi mantan.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Perpisahan ini sempat memunculkan perasaan yang janggal. Saat harus melintasi rute-rute itu seorang sendiri, selalu sendiri. Tapi hidup harus terus berjalan, meninggalkan yang seharusnya. Mantan adalah cerita yang patutnya tetap di awal paragraf kehidupan yang terus bertambah, bukan di akhir. Meski, doa-doa ia jadi orang terakhir tetap mantap dikumandangkan.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Pesanku, semoga senantiasa bahagia, manis. Di mana pun berada dan dengan siapa pun berkendara, jaga keselamatan. Apa pun itu, semoga selalu bahagia.<\/span><\/p>\n<p>Penulis: Hammam Izzuddin<\/p>\n<p>Editor: Rizky Prasetya<\/p>\n<p><strong>BACA JUGA\u00a0<a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/pilunya-batal-nikah-gara-gara-perabotan\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">Pilunya Batal Nikah Gara-gara Perabotan<\/a><br \/>\n<\/strong><\/p>\n<p><em>Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara\u00a0<a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/kirim-tulisan\/\">ini<\/a>\u00a0ya.<\/em><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Ku percaya selalu ada rasa sakit di Jogja.<\/p>\n","protected":false},"author":2094,"featured_media":172547,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_lmt_disableupdate":"no","_lmt_disable":"","jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":{"source_name":"","source_url":"","via_name":"","via_url":"","override_template":"0","override":[{"template":"1","single_blog_custom":"","parallax":"1","fullscreen":"1","layout":"right-sidebar","sidebar":"default-sidebar","second_sidebar":"default-sidebar","sticky_sidebar":"1","share_position":"float","share_float_style":"share-monocrhome","show_share_counter":"1","show_view_counter":"0","show_featured":"1","show_post_meta":"1","show_post_author":"1","show_post_author_image":"1","show_post_date":"1","post_date_format":"default","post_date_format_custom":"Y\/m\/d","show_post_category":"0","show_post_reading_time":"0","post_reading_time_wpm":"300","show_zoom_button":"1","zoom_button_out_step":"3","zoom_button_in_step":"4","show_post_tag":"1","show_prev_next_post":"0","show_popup_post":"1","number_popup_post":"3","show_author_box":"1","show_post_related":"1","show_inline_post_related":"0"}],"override_image_size":"0","image_override":[{"single_post_thumbnail_size":"crop-715","single_post_gallery_size":"crop-500"}],"trending_post":"0","trending_post_position":"meta","trending_post_label":"Trending","sponsored_post":"0","sponsored_post_label":"Sponsored by","sponsored_post_name":"","sponsored_post_url":"","sponsored_post_logo_enable":"0","sponsored_post_logo":"","sponsored_post_desc":"","disable_ad":"0"},"jnews_primary_category":{"id":"","hide":""},"jnews_override_counter":{"override_view_counter":"0","view_counter_number":"0","override_share_counter":"0","share_counter_number":"0","override_like_counter":"0","like_counter_number":"0","override_dislike_counter":"0","dislike_counter_number":"0"},"jnews_post_split":[],"footnotes":""},"categories":[12912],"tags":[115,18464,18431],"class_list":["post-205501","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-sapa-mantan","tag-jogja","tag-kaliurang","tag-sapa-mantan"],"modified_by":"Rizky Prasetya","amp_enabled":true,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/205501","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/users\/2094"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=205501"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/205501\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media\/172547"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=205501"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=205501"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=205501"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}