{"id":204987,"date":"2023-02-06T13:47:25","date_gmt":"2023-02-06T06:47:25","guid":{"rendered":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/?p=204987"},"modified":"2023-02-06T13:49:23","modified_gmt":"2023-02-06T06:49:23","slug":"benarkah-orang-madura-suka-main-dukun","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/benarkah-orang-madura-suka-main-dukun\/","title":{"rendered":"Benarkah Orang Madura Suka Main Dukun?"},"content":{"rendered":"<p><span style=\"font-weight: 400;\">Sebagai orang Madura yang merantau, saya sudah terbiasa mendengarkan stigma orang luar terhadap orang Madura. Yang paling biasa saya dengar adalah orang Madura tipikal orang keras. Kemudian, jadi bega. Tidak ketinggalan pula bahwa orang Madura dianggap suka mencuri besi.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Beragam stigma saya tanggapi dengan biasa saja tanpa emosi. Sudah biasa kuping hamba mendengarkannya. Kecuali stigma yang satu ini saya tanggapi dengan serius, yakni, orang Madura suka main dukun.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Seketika hatiku tersentak mendengar pernyataan dari kawan kuliah, bahwa para tetangganya sering menasihatinya untuk berhati-hati kalau mau berteman dengan orang Madura. Sebab, katanya suka main dukun. Dan kalau sudah sakit hati, mainnya langsung santet. Bukan hanya satu kawan, bahkan kawan kuliah saya lainnya juga menceritakan hal sama bahwa orang Madura suka main dukun.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Saya saat mendengarkannya merasa geli dan ingin tertawa. Selama hidup sebagai orang Madura selama dua puluh tiga tahun, saya kok baru tahu kalau masyarakat luar menganggap orang Madura suka main dukun. Dari sana saya mulai merefleksikannya kembali, apakah benar orang Madura suka main dukun?<\/span><\/p>\n<h4><strong>Banyak juga yang main dukun<\/strong><\/h4>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Setelah saya merenungkan dengan flashback<\/span> <span style=\"font-weight: 400;\">kisah kehidupan selama menjadi orang Madura, ternyata ada benarnya. Di kabupaten saya tinggal, ada desa yang dikenal sebagai tempatnya para dukun. Bahkan, hampir tersohor di kalangan masyarakat luas. Meski demikian, saya tidak mengetahui pasti, apakah benar desa tersebut banyak dukunnya atau tidak. Sebab, saya tidak pernah menggunakan jasa dukun.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Namun, saya mengetahuinya dari teman bermain saya. Teman bermain saya mengatakan kalau di desanya dan tetangga desanya, mudah untuk mencari dukun. Bahkan, setiap kali orang mau melakukan kepentingan tertentu dengan memakai jasa dukun, biasanya datang ke desanya atau tetangga desanya.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Saya juga teringat pernah menanyakan, \u201cSebanyak apa dukun di desamu?\u201d Teman saya mengakui bahwa jumlah dukun di desanya terbilang banyak. Hingga dari banyaknya, tidak bisa dihitung dengan tangan.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Di sisi lain, saya juga teringat saat menjadi seorang siswa. Saya sempat mengikuti lomba. Dan sebelum lomba dimulai, saya diminta untuk minum air putih oleh pelatih. Sontak saya bergegas mengambil air putih yang saya beli. Tetapi, pelatih saya justru menyuruh untuk meminum air putih darinya. Seketika saya bertanya, \u201cKenapa kok harus minum air putih ini?\u201d \u201cAirnya dari dukun,\u201d jawab pelatih.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Bukan hanya saya saja. Kawan-kawan saya lainnya di sekolah berbeda juga sering mendapatkan arahan dari pelatihnya untuk minum air putih atau memegang benda yang katanya diperoleh dari dukun. Bahkan, dukun memberikan arahan, dan arahannya terkadang terbilang nyeleneh. Yakni, jangan masuk lapangan lebih awal, biar tim lawan saja masuk lapangan terlebih dahulu. Atau saat bertanding menggunakan kostum dengan warna tertentu.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Uniknya, saat timnya kalah, pelatih akan mengatakan \u201ckalah<\/span> <span style=\"font-weight: 400;\">dukon<\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">\u201d<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">. Artinya, kalah dukun. Terkadang pelatih dan tim official bisa menebak bahwa tim lawan membawa dukun ke lapangan pertandingan. Bagaimana mereka bisa tahu? Katanya, dukun memiliki penampilan unik dan berbeda dari orang biasa.<\/span><\/p>\n<h4><strong>Kacong yang menggunakan jasa dukun<\/strong><\/h4>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Fakta lainnya datang dari novel <\/span><a href=\"https:\/\/yoursay.suara.com\/ulasan\/2022\/01\/21\/094359\/ulasan-buku-damar-kambang-batal-nikah-karena-tradisi\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\"><i><span style=\"font-weight: 400;\">Damar Kambang<\/span><\/i><\/a><span style=\"font-weight: 400;\"> karya Muna Masyari. <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">Damar Kambang <\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">merupakan novel dengan mengangkat kisah dari kehidupan orang Madura. Di salah satu bagian isi ceritanya terdapat adegan Kacong sebagai tokoh utama menggunakan jasa dukun. Tujuannya agar Cebbing linglung, sehingga terus-terusan mencari Kacong.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Jika demikian, apakah sudah pasti orang Madura suka main dukun? Belum tentu, kawan. Tidak semua suka main dukun. Percayalah bahwa masih ada orang Madura yang tidak percaya dukun. Ya sebagaimana orang daerah lain lah, ya pasti ada yang anti-mistis dan nggak percaya.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Mereka biasanya lebih mempercayai terhadap kuasa Allah daripada harus percaya pada dukun. Sehingga, mereka lebih berharap pada Allah daripada harus datang ke dukun. Katanya, kalau meminta ke Allah hati menjadi tenang, serta tidak bayar. Sedangkan kalau pergi ke dukun, sudah membuat hati tidak tenang, ribet, dan masih bayar lagi.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Dan ketika mengeluarkan uang saat menggunakan jasa dukun, belum tentu hasilnya sesuai harapan. Sehingga, uang terbuang dengan sia-sia. Berbeda dengan meminta pada Allah, meski terkadang tidak sesuai dengan harapan yang diinginkan, tetapi Allah memberikan gantinya dengan sesuatu lebih baik.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Orang Madura lainnya yang tidak percaya pada dukun, bukan karena percaya pada Allah saja. Melainkan mereka juga percaya dengan namanya kerja keras. Hasilnya kan jelas. Sehingga, segala keinginan dari hidupnya bisa tercapai.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Jadi tidak selamanya orang Madura suka main dukun, kawan. Jangan asal fitnah saja. Lah, masak kalau ada seseorang yang berteman dengan orang Madura, kemudian ketika dia sakit mendadak, masak ya nyalahin temennya? Aneh.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Begitu juga kalau ada orang Madura hidupnya sukses, jangan terlalu dangkal berpikirnya. Dikit-dikit memfitnahnya \u201cpalingan main dukun\u201d. Coba sesekali lihat usaha kerasnya dahulu. Pun saat orang Madura berhasil mendapatkan pasangan berparas memesona, jangan pula dangkal dengan menilai bahwa sudah menggunakan pelet dari dukun.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Atau kalau ada orang Madura berparas ganteng dan cantik, terus dikatakan main susuk. Tidak selalu, kawan. Memang dasarnya ganteng dan cantik. Contohnya kayak saya ini.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Ya jadi bisa disimpulkan, bahwa memang ada yang suka main dukun. Meski demikian, jangan memberi stigma suka main dukun. Orang dari daerah lain pun ya kek gitu. Tidak semuanya percaya pada dukun. Stigma kek mana lagi ini lah.<\/span><\/p>\n<p>Penulis: Akbar Mawlana<br \/>\nEditor: Rizky Prasetya<\/p>\n<p><strong>BACA JUGA <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/4-profesi-yang-lekat-dengan-orang-madura\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">4 Profesi yang Lekat dengan Orang Madura<\/a><\/strong><\/p>\n<h6><span id=\"Terminal_Mojok_merupakan_platform_User_Generated_Content_UGC_untuk_mewadahi_jamaah_mojokiyah_menulis_tentang_apa_pun_Submit_esaimu_secara_mandiri_lewat_carainiya\"><em>Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara\u00a0<a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/kirim-tulisan\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\">ini<\/a>\u00a0ya<\/em><\/span><\/h6>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Tolong banget, Cong.<\/p>\n","protected":false},"author":891,"featured_media":195325,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_lmt_disableupdate":"no","_lmt_disable":"","jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":{"source_name":"","source_url":"","via_name":"","via_url":"","override_template":"0","override":[{"template":"1","single_blog_custom":"","parallax":"1","fullscreen":"1","layout":"right-sidebar","sidebar":"default-sidebar","second_sidebar":"default-sidebar","sticky_sidebar":"1","share_position":"float","share_float_style":"share-monocrhome","show_share_counter":"1","show_view_counter":"0","show_featured":"1","show_post_meta":"1","show_post_author":"1","show_post_author_image":"1","show_post_date":"1","post_date_format":"default","post_date_format_custom":"Y\/m\/d","show_post_category":"0","show_post_reading_time":"0","post_reading_time_wpm":"300","show_zoom_button":"1","zoom_button_out_step":"3","zoom_button_in_step":"4","show_post_tag":"1","show_prev_next_post":"0","show_popup_post":"1","number_popup_post":"3","show_author_box":"1","show_post_related":"1","show_inline_post_related":"0"}],"override_image_size":"0","image_override":[{"single_post_thumbnail_size":"crop-715","single_post_gallery_size":"crop-500"}],"trending_post":"0","trending_post_position":"meta","trending_post_label":"Trending","sponsored_post":"0","sponsored_post_label":"Sponsored by","sponsored_post_name":"","sponsored_post_url":"","sponsored_post_logo_enable":"0","sponsored_post_logo":"","sponsored_post_desc":"","disable_ad":"0"},"jnews_primary_category":{"id":"","hide":""},"jnews_override_counter":{"override_view_counter":"0","view_counter_number":"0","override_share_counter":"0","share_counter_number":"0","override_like_counter":"0","like_counter_number":"0","override_dislike_counter":"0","dislike_counter_number":"0"},"jnews_post_split":[],"footnotes":""},"categories":[1],"tags":[18379,18378,4772],"class_list":["post-204987","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-nusantara","tag-damar-kambang","tag-orang-madura-main-dukun","tag-stigma"],"modified_by":"Rizky Prasetya","amp_enabled":true,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/204987","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/users\/891"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=204987"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/204987\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media\/195325"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=204987"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=204987"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=204987"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}