{"id":204980,"date":"2023-02-05T06:30:56","date_gmt":"2023-02-04T23:30:56","guid":{"rendered":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/?p=204980"},"modified":"2023-02-05T00:52:33","modified_gmt":"2023-02-04T17:52:33","slug":"duka-di-balik-gemerlap-toko-kelontong-madura","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/duka-di-balik-gemerlap-toko-kelontong-madura\/","title":{"rendered":"Duka di Balik Gemerlap Toko Kelontong Madura"},"content":{"rendered":"<p><span style=\"font-weight: 400;\">Pekan lalu, toko kelontong Madura kembali ramai diperbincangkan setelah akun Instagram <a href=\"https:\/\/mojok.co\/author\/husein-jafar-al-hadar\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">Habib Husein Jafar Al-Hadar<\/a> mengunggah foto belio sendiri yang sedang berada di balik etalase toko kelontong Madura, tentunya dengan pom mini khas di depannya. Lantas konten tersebut banyak dikomen, di-share dan di-repost, setelah disusul dengan konten video belio dengan tema yang sama.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Rekam kesuksesan, kegigihan, maupun keunikan orang Madura telah banyak dimunculkan dengan video dan tulisan (baik tentang solidaritas tanpa batas mereka bahkan hingga watak keras yang menjadi stigma). Tapi, tahukah kleyan, man-teman, bahwa di balik manis gula yang mereka cecap, ada asam garam yang mereka telan. Saya sebagai orang Madura tulen sedikit tahu mengapa mereka memilih mengadu nasib di perantauan.<\/span><\/p>\n<h4><b>Minim pendidikan<\/b><\/h4>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Maksud saya dengan pendidikan di sini adalah pendidikan umum, bukan (ilmu keagamaan) pesantren, yang dalam realitasnya banyak lapangan pekerjaan membutuhkan latar pendidikan sebagaimana yang saya maksud. Seperti Manajemen, Ilmu Komunikasi, Ekonomi, Ilmu Hukum Dan Politik, dll.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Meskipun tidak dapat dimungkiri bahwa saat ini sudah banyak perguruan tinggi yang berdiri, khususnya di Sumenep semisal Instika, STKIP PGRI, Wiraraja, dan yang terbaru Uniba, serta beberapa yang tak begitu dikenal. Namun, adanya fasilitas pendidikan tersebut tidak terlalu membantu terhadap perkembangan Pendidikan di Madura, meski tidak mutlak semuanya.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Biaya pendidikan yang mahal, sedang orang tua tidak mampu membiayai, menjadikan para generasi muda Madura memilih bekerja saja daripada melanjutkan sekolah. Ditambah lagi muncul statement yang mengatakan, \u201cBuat apa sekolah tinggi-tinggi jika akhirnya jadi nelayan dan petani?\u201d Ini memang nyata dan fakta, bahwa sarjana muda di Madura akhir-akhir ini malah bingung mau kerja apa. Dan merantau adalah pilihan praktis dan ekonomis untuk menghindari hal itu.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Dalam ini, saya sedikit mengusulkan kepada pelbagai lembaga pemberi beasiswa untuk selektif lagi memilih para awardee-nya, terlebih kepada mereka yang tidak mampu dalam hal biaya. Semisal LPDP yang memiliki program beasiswa afirmasi, setidaknya Madura dimasukkan lah kepada wilayah yang bisa mendapat beasiswa tersebut. Atau supaya tak difitnah membawa kepentingan pribadi, saya usulkan juga daerah lain dengan problem serupa yang wajib dicek ulang oleh pengelola Lembaga LPDP. Akhem.<\/span><\/p>\n<h4><b>Sosial dan budaya<\/b><\/h4>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Selain pendidikan yang minim, baik dalam segi biaya atau mindset berpikir, faktor lain yang membuat orang Madura memilih hidup di tanah rantau adalah sosial dan budaya. Pertama, secara sosial orang Madura mulai dirasuki gaya hidup yang tinggi. Tentunya, perkembangan pesat teknologi informasi dan (katanya) imbas dari dibangunnya <a href=\"https:\/\/id.wikipedia.org\/wiki\/Jembatan_Nasional_Suramadu\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">Jembatan Suramadu<\/a> menjadi alasan inti.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Lagi-lagi ini imbasnya kepada generasi muda Madura. Mayoritas mereka mulai enggan lagi bertani, melaut, atau menjadi kuli di tanah sendiri. Teman-teman sekelas saya banyak yang langsung gas berangkat ke Malaysia, Arab Saudi, Jakarta, Bali dll. Katanya dengan bekerja di kota besar, meskipun toh sama-sama menjadi kuli, penjaga toko klontong, tukang sate, tukang sapu jalanan, penghasilannya lebih menjanjikan daripada di Madura. Mereka biasanya mengambil 3 hingga 5 tahun sebelum akhirnya kembali ke kampung halaman; dan tidak lama setelah itu mereka akan kembali lagi ke tanah rantau sebab uang yang dikumpulkan sudah habis, dan terus begitu berulang-ulang.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Untuk kalangan tua juga tak ketinggalan, biasanya alasan mereka sepele, \u201cAgar sama seperti tetangga-tetangga yang hidupnya kaya.\u201d Mungkin ini sebagian kecil, tapi sungguh ini benar-benar ada. Saya sendiri pernah mendengarnya. Meski setelah tulisan ini rampung, saya tidak menyempatkan diri untuk mencari artikel penelitian tentang gengsi orang Madura, setidaknya orang-orang jenis ini di daerah-daerah lain pun juga ada.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Kedua, dari segi budaya atau tradisi. Di Sumenep ada satu desa yang mayoritas penduduknya bekerja di Bali, tradisi tersebut diturunkan ke anak-anak mereka. Meski mereka hanya bekerja di perusahaan ayam potong, tapi penghasilan mereka lumayan tinggi. Saya beberapa kali menyambangi daerah tersebut, ada teman yang tinggal di sana. Rumah-rumah penduduk sudah bak perumahan elit di Jakarta, bertingkat-tingkat dan mewah. Tapi, jika kalian pergi ke sana tak banyak kalian jumpai muda-mudi hingga dewasa, yang ada hanya orang-orang sepuh yang lanjut usia. Sepi. Sebagian besar penduduknya memilih menetap di Bali.<\/span><\/p>\n<h4><b>\u201cYe, beremma pole, Cong!\u201d<\/b><\/h4>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Untuk yang terakhir ini, saya sudah sentil sedikit sebelumnya, yaitu tentang gengsi orang Madura. Manusia memiliki kecenderungan ingin diakui oleh kelompoknya, berbagai hal bisa dilakukan untuk kepentingan itu. Bahkan ia rela berkorban biaya dan tenaga agar dicap sama dan tak dikucilkan sesama. Akhirnya, karena tidak ada biaya yang mendukung, mereka rela berutang entah berapa jumlahnya, yang penting mereka bisa eksis dan narsis.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Di kemudian hari mereka akan menyesal dan kelimpungan untuk mengembalikan utang yang sudah menumpuk itu, maka merantau menjadi solusi cepat mereka.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Selain masalah gengsi juga ada yang memang murni tidak mampu; baik karena bangkrut atau hasil panen yang begitu di luar ekspektasi. Sedikit demi sedikit mereka memberanikan diri berutang kepada kerabat atau tetangga mereka. Dan ujung-ujungnya bakal merantau juga untuk menutupi lubang-lubang utang yang menganga.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Beberapa waktu lalu, saya bertanya kepada tetangga mengapa memilih bekerja di luar pulau sedang di sini masih banyak hal yang bisa dibuat pekerjaan dan menghasilkan uang. Tapi, dengan selega perut mereka menjawab, \u201cYe, beremma pole, Cong! Otang la bannyak. Atanih malolo tak cokop.\u201d (ya, mau bagaimana lagi, Nak! Utang sudah banyak. Mau Bertani tidaklah cukup).<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Jawaban tersebut terdengar enteng dan asal jawab. Tapi jika ditelisik lebih jauh, ada makna yang tersirat begitu dalam. Di balik kejamnya hidup yang kadang memerihkan hati, ada sikap berani bertindak dan menerima dengan lapang dada terhadap segala konsekuensi yang bakal mereka tanggung. Dan sifat berani, gigih, prinsip teguh dan tidak kenal kata menyerah itulah yang kadang disalah persepsikan dengan sifat keras nan kasar orang Madura.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Salam settong dhere!<\/span><\/p>\n<p>Penulis: Abd. Muhaimin<br \/>\nEditor: Rizky Prasetya<\/p>\n<p><strong>BACA JUGA <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/4-alasan-orang-madura-bakal-sulit-betah-di-singapura\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">4 Alasan Orang Madura Bakal Sulit Betah di Singapura<\/a><\/strong><\/p>\n<h5><span id=\"Terminal_Mojok_merupakan_platform_User_Generated_Content_UGC_untuk_mewadahi_jamaah_mojokiyah_menulis_tentang_apa_pun_Submit_esaimu_secara_mandiri_lewat_carainiya\"><strong><em>Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara\u00a0<a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/kirim-tulisan\/\">ini<\/a>\u00a0ya.<\/em><\/strong><\/span><\/h5>\n<h5><span id=\"Anda_penulis_Terminal_Mojok_Silakan_bergabung_dengan_Forum_Mojokdi_sini\"><strong><em>Anda penulis Terminal Mojok? Silakan bergabung dengan Forum Mojok\u00a0<a href=\"https:\/\/mojok.co\/forum\/daftar\/\">di sini<\/a>.<\/em><\/strong><\/span><\/h5>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Yang kita tidak tahu di balik kesuksesan mereka.<\/p>\n","protected":false},"author":2079,"featured_media":172688,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_lmt_disableupdate":"no","_lmt_disable":"","jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":{"source_name":"","source_url":"","via_name":"","via_url":"","override_template":"0","override":[{"template":"1","single_blog_custom":"","parallax":"1","fullscreen":"1","layout":"right-sidebar","sidebar":"default-sidebar","second_sidebar":"default-sidebar","sticky_sidebar":"1","share_position":"float","share_float_style":"share-monocrhome","show_share_counter":"1","show_view_counter":"0","show_featured":"1","show_post_meta":"1","show_post_author":"1","show_post_author_image":"1","show_post_date":"1","post_date_format":"default","post_date_format_custom":"Y\/m\/d","show_post_category":"0","show_post_reading_time":"0","post_reading_time_wpm":"300","show_zoom_button":"1","zoom_button_out_step":"3","zoom_button_in_step":"4","show_post_tag":"1","show_prev_next_post":"0","show_popup_post":"1","number_popup_post":"3","show_author_box":"1","show_post_related":"1","show_inline_post_related":"0"}],"override_image_size":"0","image_override":[{"single_post_thumbnail_size":"crop-715","single_post_gallery_size":"crop-500"}],"trending_post":"0","trending_post_position":"meta","trending_post_label":"Trending","sponsored_post":"0","sponsored_post_label":"Sponsored by","sponsored_post_name":"","sponsored_post_url":"","sponsored_post_logo_enable":"0","sponsored_post_logo":"","sponsored_post_desc":"","disable_ad":"0"},"jnews_primary_category":{"id":"","hide":""},"jnews_override_counter":{"override_view_counter":"0","view_counter_number":"0","override_share_counter":"0","share_counter_number":"0","override_like_counter":"0","like_counter_number":"0","override_dislike_counter":"0","dislike_counter_number":"0"},"jnews_post_split":[],"footnotes":""},"categories":[1],"tags":[8855,5020,175,5807,378],"class_list":["post-204980","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-nusantara","tag-kesuksesan","tag-madura","tag-pendidikan","tag-perantau","tag-utang"],"modified_by":"Rizky Prasetya","amp_enabled":true,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/204980","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/users\/2079"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=204980"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/204980\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media\/172688"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=204980"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=204980"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=204980"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}