{"id":204941,"date":"2023-02-07T11:12:22","date_gmt":"2023-02-07T04:12:22","guid":{"rendered":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/?p=204941"},"modified":"2023-02-07T11:12:22","modified_gmt":"2023-02-07T04:12:22","slug":"dosa-warga-pekalongan-bikin-bahaya-tenggelam-makin-dekat","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/dosa-warga-pekalongan-bikin-bahaya-tenggelam-makin-dekat\/","title":{"rendered":"Dosa Warga Pekalongan Bikin Bahaya Tenggelam Makin Dekat"},"content":{"rendered":"<p><span style=\"font-weight: 400;\">Pekalongan mempunyai banyak hal-hal indah dan luar biasa. Kita sama-sama mengenalnya sebagai pusat penghasil <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/ironi-batik-pekalongan-produk-asli-yang-dibenci-masyarakat-pekalongan-sendiri\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">batik<\/a>, pernah menyandang predikat pembangungan terbaik, mempunyai potensi besar di sektor perikanan dan perdagangan, dan sederet hal-hal indah lainnya.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Namun, terkadang, hal-hal indah di atas menutup sebuah bahaya yang sebetulnya sangat mengancam. Pada 2022, <a href=\"https:\/\/www.cnnindonesia.com\/nasional\/20221104094244-20-869377\/bappeda-90-persen-kota-pekalongan-akan-tenggelam-2035\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">CNN<\/a> pernah merilis sebuah berita terkait Pekalongan. CNN menulis bahwa pada 2035 nanti, sekitar 90 persen wilayah Kota Pekalongan akan tenggelam.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Analisis terkait bahaya tersebut sudah dibuat sejak lama. Ciri-cirinya, antara 2008 sampai 2013, suhu di Pekalongan meningkat. Selain itu, bajir rob mulai terjadi. Hal ini momok bagi generasi penerus di sana.<\/span><\/p>\n<h4><b>Healing di gunung sampah sambil nonton abrasi pantai<\/b><\/h4>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Mari kita menepikan ancaman Kota Pekalongan yang akan tenggelam pada 2035. Kita wajib menengok ke masalah besar yang seharusnya sudah menjadi keprihatinan bersama.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Masyarakat Kota Pekalongan tentunya sudah tidak asing dengan lokasi ini. Ketika melintas di lokasi ini, kita harus mendongak lantaran tingginya yang semakin menjulang. Lokasi yang saya maksud adalah Tempat Pembuangan Akhir (TPA) yang bertempatkan di daerah Degayu, Kota Pekalongan.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Saking terkenalnya, saya menyarankan TPA Degayu untuk menjadi lokasi wisata. Yah, hitung-hitung <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/pulau-merak-hidden-gem-di-banten-cocok-untuk-healing\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">healing<\/a> ekonomis. Tempat ini \u201cindah sekali\u201d, lho. Kapan lagi kita bisa melihat gunungan sampah yang berada dekat pantai. Lucunya, air laut sudah semakin menggerogoti pantai tersebut tapi didiamkan saja. Indah sekali abrasi yang terjadi, ya.<\/span><\/p>\n<h4><b>Sampah yang mengancam Kota Pekalongan<\/b><\/h4>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Nah, sekarang, saatnya pembaca tahu dari mana, berapa jumlah sampah tiap harinya, dan dampaknya untuk Kota Pekalongan. Saya menemukan sebuah berita yang menarik dari <a href=\"https:\/\/mtvjateng.tv\/2023\/01\/18\/tps3r-tak-berfungsi-maksimal-picu-penumpukan-sampah-di-tpa-degayu\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">MTV Jateng<\/a>.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Mereka melaporkan bahwa di balik \u201cmegahnya\u201d gunung sampah tersebut, terdapat sekitar 150 ton sampah yang dihasilkan masyarakat Pekalongan setiap harinya. Jumlah tersebut membuat pemerintah daerah harus memaksimalkan keberadaan Tempat Pengelolaan Sampah Reduce Reuse Recycle (TPS 3R) di masing-masing kelurahan.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Alih-alih menjadi solusi, ehh malah menambah masalah. Keberadaan TPS 3R di berbagai kelurahan tidak berfungsi secara maksimal. Beberapa masalah muncul dan jangan salah, ada \u201cdosa\u201d masyarakat Pekalongan di sana.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Masalah yang saya maksud adalah langsung membuang sampah ke TPA Degayu tanpa diolah terlebih dahulu. Selain itu, tidak terlihat ada petugas pemilah sampah.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Ada 22 TPS 3R yang ada di Kota Pekalongan. Tentu ini bukan jumlah yang sedikit sebenarnya untuk wilayah kota yang secara administratif relatif kecil daerahnya dibandingkan dengan daerah lain.<\/span><\/p>\n<h4><b>Dosa warga Kota Pekalongan<\/b><\/h4>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Sebagai warga asli Kota Pekalongan, yang tidak terhindar dari \u201cdosa\u201d ini, saya merasa sangat prihatin dan bersalah. Jika menengok ke lapangan, imbauan seperti \u201cJagalah Kebersihan\u201d, \u201cPeringatan Dilarang Keras Buang Sampah\u201d, atau kalimat baru yang saya temui yang berbunyi \u201cBarang Siapa Membuang Sampah Di Sini Akan Diviralkan dan Dapat Sanksi\u201d tidak ada mujarabnya.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Kalimat-kalimat di atas biasanya dipasang persis di pinggir jalan atau sungai sebuah area yang diharapkan bebas sampah. Namun, apa yang terjadi? Tetap saja sampah itu bergeletakan manja di bawah papan imbauan itu.\u00a0<\/span><\/p>\n<h4><b>Limbah batik<\/b><\/h4>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Selain masalah sampah, \u201cdosa\u201d warga Kota Pekalongan lainnya adalah perkara limbah batik. Air sungai jadi kotor dan terlihat kumuh itu salah siapa? Masak salah warga kota lain?<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Sekali lagi, masalah ini menjadi indikasi bahwa imbauan dari pemerintah kota atau sesama warga bukan sesuatu yang wajib diresapi. Entah karena apa, tapi yang saya rasakan sebagai warga Pekalongan, masyarakatnya cukup ngeyelan, sak karepe dewe, dan yang paling nyeleneh lagi kalau dinasihati malah balik menasihati.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Rasa-rasanya warga itu suka sekali dengan kondisi kumuh dan tidak sehat. Beberapa dari mereka enggak memikirkan masalah lingkungan. Padahal, tindakan kecil yang menumpuk selama bertahun-tahun pada akhirnya melahirkan masalah yang lebih besar, yaitu ancaman tenggelam pada 2035.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Apa warga Kota Pekalongan nggak merasa ngeri? Sekarang itu sudah 2023. Artinya, tinggal 12 tahun lagi menuju tenggelam di 2035. Ingat, 12 itu masa yang pendek banget untuk mengatasi masalah lingkungan.<\/span><\/p>\n<h4><b>Harus ada kolaborasi<\/b><\/h4>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Iya, saya memahami bahwa untuk mengatasi masalah besar tidak bisa kita memasrahkan semuanya ke Pemkot Pekalongan. Hal yang sama berlaku juga untuk masyarakatnya. Harus ada kolaborasi di antara kedua unsur pembangun kota ini.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Pemkot bisa menerjemahkan imbauan menjadi kebijakan yang konkret. Susunlah solusi yang bisa diharap oleh warga dengan mudah. Sementara itu, warga juga harus sadar bahwa <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/plastik-tercipta-untuk-selamatkan-bumi-sekarang-malah-jadi-masalah-lingkungan\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">masalah lingkungan<\/a> itu seperti bom waktu. Bisa jadi bukan angkatan kita yang merasakan dampaknya, tapi anak dan cucu di masa depan. Masalahnya, ancaman tenggelam itu 12 tahun lagi dan bisa saja itu masih menjadi masalah kita.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Tanpa adanya kesadaran untuk berkolaborasi, maka tidak akan ada perubahan berarti. Ya siap-siap saja kita hidup di atas rumah panggung, di atas air laut yang menenggelamkan 90 persen wilayah Kota Pekalongan.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Penulis: Sofarul Wildan Akhmad<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Editor: Yamadipati Seno<\/span><\/p>\n<p><strong>BACA JUGA <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/tanggul-di-pesisir-pekalongan-bukti-mitigasi-bencana-yang-ngaco\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">Tanggul di Pesisir Pekalongan: Bukti Mitigasi Bencana yang Ngaco<\/a><br \/>\n<\/strong><\/p>\n<p><span id=\"Terminal_Mojok_merupakan_platform_User_Generated_Content_UGC_untuk_mewadahi_jamaah_mojokiyah_menulis_tentang_apa_pun_Submit_esaimu_secara_mandiri_lewat_carainiya\"><em>Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara\u00a0<a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/kirim-tulisan\/\">ini<\/a>\u00a0ya.<\/em><\/span><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Bahaya yang mengamcam Kota Batik.<\/p>\n","protected":false},"author":2086,"featured_media":205193,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_lmt_disableupdate":"no","_lmt_disable":"","jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":{"source_name":"","source_url":"","via_name":"","via_url":"","override_template":"0","override":[{"template":"1","single_blog_custom":"","parallax":"1","fullscreen":"1","layout":"right-sidebar","sidebar":"default-sidebar","second_sidebar":"default-sidebar","sticky_sidebar":"1","share_position":"float","share_float_style":"share-monocrhome","show_share_counter":"1","show_view_counter":"0","show_featured":"1","show_post_meta":"1","show_post_author":"1","show_post_author_image":"1","show_post_date":"1","post_date_format":"default","post_date_format_custom":"Y\/m\/d","show_post_category":"0","show_post_reading_time":"0","post_reading_time_wpm":"300","show_zoom_button":"1","zoom_button_out_step":"3","zoom_button_in_step":"4","show_post_tag":"1","show_prev_next_post":"0","show_popup_post":"1","number_popup_post":"3","show_author_box":"1","show_post_related":"1","show_inline_post_related":"0"}],"override_image_size":"0","image_override":[{"single_post_thumbnail_size":"crop-715","single_post_gallery_size":"crop-500"}],"trending_post":"0","trending_post_position":"meta","trending_post_label":"Trending","sponsored_post":"0","sponsored_post_label":"Sponsored by","sponsored_post_name":"","sponsored_post_url":"","sponsored_post_logo_enable":"0","sponsored_post_logo":"","sponsored_post_desc":"","disable_ad":"0"},"jnews_primary_category":{"id":"","hide":""},"jnews_override_counter":{"override_view_counter":"0","view_counter_number":"0","override_share_counter":"0","share_counter_number":"0","override_like_counter":"0","like_counter_number":"0","override_dislike_counter":"0","dislike_counter_number":"0"},"jnews_post_split":[],"footnotes":""},"categories":[1],"tags":[10004,18392,15912,4576,18391],"class_list":["post-204941","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-nusantara","tag-jawa-tengah","tag-kota-batik","tag-kota-pekalongan","tag-pekalongan","tag-pekalongan-tenggelam"],"modified_by":"Yamadipati Seno","amp_enabled":true,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/204941","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/users\/2086"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=204941"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/204941\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media\/205193"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=204941"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=204941"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=204941"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}