{"id":204892,"date":"2023-02-05T13:39:39","date_gmt":"2023-02-05T06:39:39","guid":{"rendered":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/?p=204892"},"modified":"2023-02-05T13:39:39","modified_gmt":"2023-02-05T06:39:39","slug":"culture-shock-orang-muhammadiyah-yang-hidup-di-lingkungan-nu","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/culture-shock-orang-muhammadiyah-yang-hidup-di-lingkungan-nu\/","title":{"rendered":"Culture Shock Orang Muhammadiyah yang Hidup di Lingkungan NU"},"content":{"rendered":"<p><em>Sebagai orang Minangkabu yang tumbuh dengan kultur Muhammadiyah, saya kaget betul hidup di tengah lingkungan Nahdliyin<\/em><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">\u201cMas, nanti malam datang tahlilan ya ke rumah Pak Yusuf, habis maghrib,\u201d Ucap Pak RT mengingatkan saya di mushola suatu ketika.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Sebagai warga baru yang belum genap tinggal tiga minggu, saya sedikit risih dengan berbagai undangan yang bersifat kumpul-kumpul seperti mengenang wafatnya seseorang dengan hitungan hari, mendoakan orang yang sudah wafat secara bersama-sama dengan sajian makanan, hingga kegiatan ala warga NU lainnya yang tak sedikit dalam mengeluarkan biaya.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Begini, sebelum Anda menuduh saya sebagai warga yang tak mau bermasyarakat dan sombong, tentu saya punya alasan sendiri mengapa hal-hal semacam di atas membuat saya sedikit syok sebagai warga yang baru saja pindah.<\/span><\/p>\n<h4><strong>Minangkabau yang kental dengan nilai Muhammadiyah<\/strong><\/h4>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Sedikit cerita, saya terlahir dari keluarga besar Minangkabau yang terbiasa dari kecil mengamalkan tata cara beribadah ala orang Muhammadiyah. Almarhum kakek dari ibu saya dulunya aktivis Muhammadiyah di kampungnya, Sumatera Barat. Sedang almarhum ayahnya lebih hebat lagi, dia pernah jadi wakil ketua cabang Muhammadiyah tingkat kabupaten di pertengahan 90-an. Untuk yang satu ini, membuat saya bangga bukan main.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Tak hanya itu, sejak pertengahan 80-an, di kampung kelahiran saya banyak pendatang asal Minangkabau, Sumatera Barat, yang merantau dan tujuannya jelas mengadu nasib dengan berdagang. Dan bisa ditebak, orang Minang sudah pasti identik sebagai warga Muhammadiyah. Padahal tidak juga.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Hingga awal 2000-an, para perantau Minang tersebut jumlahnya sampai puluhan KK, dan melahirkan keturunan hingga bisa membentuk dua RT untuk hitungan dalam satu desa.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Anda bisa bayangkan dengan besarnya jumlah perantau tersebut, mereka mampu mendirikan masjid, membangun ke-khas-an tradisi dari kampungnya agar tak hilang, hingga komunitas ini sangat disegani warga lokal asli dan para perantau dari suku lain yang jumlahnya tak sebesar mereka.<\/span><\/p>\n<h4><strong>Belum pernah tahlilan<\/strong><\/h4>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Saya ingat betul, dari saya SD hingga menjelang masuk kuliah, tak pernah sekalipun ada acara tahlilan maupun yasinan selepas jenazah dimakamkan siang atau sore harinya di kampung saya.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Ayah saya cuma bilang, \u201cMuhammadiyah emang gitu, Nak, kalau ada sodara atau kerabat yang wafat, malamnya rumah ahlu musibah nggak ada acara, yang mendoakan almarhum atau almarhumah ya anak-anaknya, bukan minta tolong tetangga,\u201d<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Sejak almarhum ayah saya bilang begitu ketika saya masih kelas 5 SD, saya manggut-manggut saja, nurut. Dan saya pikir, inilah ajaran Islam sesungguhnya. Ya, itulah kekakuan saya yang berlanjut hingga akan menikah, dan menjadi warga baru di sebuah komunitas yang jauh berbeda dengan kampung saya.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Mungkin Anda bertanya, kan? Anda kan pasti kuliah, dan pasti menemukan lingkungan baru? Kok tidak mau beradaptasi? Masak ya semua kawan saya orang Muhammadiyah?<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Jawabannya singkat, ketika kuliah saya masuk komunitas mahasiswa muslim yang keras soal ketauhidan. Saya tak mau sebut apa nama organisasinya, mereka mengklaim diri sebagai <a href=\"https:\/\/id.wikipedia.org\/wiki\/Salafiyah\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">Salafi,<\/a> bercelana cingkrang, dan tidak ada zikir bersuara sesuai sholat berjamaah. Sudah itu saja gambaran saya ketika di kampus dulu. Kaku banget ya hidup ini, duh.<\/span><\/p>\n<h4><span style=\"font-weight: 400;\"><strong>Berkenalan dengan kultur NU<\/strong><\/span><\/h4>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Setelah obrolan singkat dengan Pak RT di musala subuh itu dan secara lisan mengundang saya, sejuta pertanyaan muncul dalam benak. Saya sampai bertanya kepada istri, \u201cDik, biasanya kalau diundang yasinan atau tahlilan itu ngasih amplop nggak, sih? \u201c. Istri saya cuma jawab, \u201cAbang nggak pernah yasinan ya seumur hidup?\u201d. Saya hanya bengong dengan jawaban sekaligus pertanyaannya. Kan ya itu tadi, tumbuh sebagai orang Minangkabau dengan nilai Muhammadiyah yang kental, wajar saya bingung.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Baiklah, dengan segala kesadaran tinggi sebagai warga baru, akhirnya saya datang juga menghadiri undangan tahlilan Pak Yusuf, tetangga kami yang cukup dituakan oleh warga.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Selepas acara, saya disalami bapak-bapak dengan senyuman ikhlas, mereka mengajak saya berbicara dan mempersilakan duduk sambil dihidangi kopi panas serta gorengan. Ah, nikmat sekali. Saya tersentuh, dalam hati saya berkata, inilah makna sesungguhnya di balik undangan tahlilan dan yasinan, yaitu : silaturahmi dan persatuan antar warga.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Saya sadar betul bahwa kini hidup di tengah-tengah masyarakat Nahdliyin, setidaknya itu yang saya lihat dari plang ranting NU di depan mushola tempat tinggal saya saat ini. Saya lihat juga militansi warganya sangat baik, terutama ketika ada undangan yasinan maupun pengajian yang menghadirkan tokoh agama dari pondok pesantren berlatar belakang NU.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Walau di awal sedikit gugup dengan kebiasan baru ini sebagai anak yang dilahirkan dari tradisi kental Muhammadiyah, akhirnya saya mulai beradaptasi.<\/span><\/p>\n<p><strong>Muhammadiyah pun menjunjung nilai toleransi dan melebur ke masyarakat<\/strong><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Sebagai disclaimer, bukan salah organisasi Muhammadiyah lho saya, tapi pemahaman buruk saya soal kehidupan yang sangat majemuk di masyarakat. Muhammadiyah sangat menjunjung tinggi toleransi dan mendorong warga persyarikatan untuk melebur dalam setiap kegiatan masyarakat, apa pun latar belakangnya.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Ada beberapa catatan penting setelah saya mulai terbiasa hidup di tengah komunitas atau masyarakat Nahdliyin.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Pertama, betapa sulitnya hidup di tengah masyarakat Nahdliyin jika Anda bersikeras tak mau hidup bertetangga dengan baik dan selektif memilih \u2018aliran\u2019 tertentu dalam ritual ibadah. Saking baiknya mareka, jangan kaget, tak datang ke yasinan saja, kita sudah dikirimin bungkusan makanan ke rumah.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Kedua, betapa sulitnya hidup di tengah masyarakat Nahdliyin jika Anda memilih menjadi warga cuek, dan tak ambil pusing soal masalah tetangga. Padahal Anda cuek aja, mereka tak segan merangkul, dan selalu ingin melibatkan kita dalam kegiatan bermasyarakat.\u00a0 Untuk yang satu ini, saya sudah buktikan seperti cerita awal tulisan saya. Saya lho tumbuh Muhammadiyah, tetap dirangkul.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Lagi? Tidak ada, saya bangga menjadi bagian kecil kehidupan mereka, walau saya sadari \u2018berbeda\u2019 soal pemahaman fiqih, dan cara pandang dalam beberapa ritual ibadah.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Namun saat ini, saya sangat terbuka dan begitu menghargai ketika berada di tengah-tengah mereka. Saya lantas berpikir, persatuan dan kesatuan sesungguhnya lebih berharga ketimbang mempertahankan sebuah prinsip serta ego yang masih bisa dicari sela perdebatannya.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Semoga Anda semua dan saya makin memaknai indahnya persatuan dan hidup nyaman dalam sebuah kedamaian.<\/span><\/p>\n<p>Penulis: Irsyadunnas<br \/>\nEditor: Rizky Prasetya<\/p>\n<p><strong>BACA JUGA <a href=\"https:\/\/mojok.co\/esai\/sejarah-indonesia-100-tahun-lalu-dari-pembuangan-tan-malaka-hingga-keluarnya-muhammadiyah-dari-barisan-sarekat-islam\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">Sejarah Indonesia 100 Tahun Lalu: Dari Pembuangan Tan Malaka hingga Keluarnya Muhammadiyah dari Barisan Sarekat Islam<\/a><\/strong><\/p>\n<h6><span id=\"Terminal_Mojok_merupakan_platform_User_Generated_Content_UGC_untuk_mewadahi_jamaah_mojokiyah_menulis_tentang_apa_pun_Submit_esaimu_secara_mandiri_lewat_carainiya\"><em>Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara\u00a0<a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/kirim-tulisan\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\">ini<\/a>\u00a0ya.<\/em><\/span><\/h6>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Kaget, Bung.<\/p>\n","protected":false},"author":2082,"featured_media":99753,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_lmt_disableupdate":"no","_lmt_disable":"","jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":{"source_name":"","source_url":"","via_name":"","via_url":"","override_template":"0","override":[{"template":"1","single_blog_custom":"","parallax":"1","fullscreen":"1","layout":"right-sidebar","sidebar":"default-sidebar","second_sidebar":"default-sidebar","sticky_sidebar":"1","share_position":"float","share_float_style":"share-monocrhome","show_share_counter":"1","show_view_counter":"0","show_featured":"1","show_post_meta":"1","show_post_author":"1","show_post_author_image":"1","show_post_date":"1","post_date_format":"default","post_date_format_custom":"Y\/m\/d","show_post_category":"0","show_post_reading_time":"0","post_reading_time_wpm":"300","show_zoom_button":"1","zoom_button_out_step":"3","zoom_button_in_step":"4","show_post_tag":"1","show_prev_next_post":"0","show_popup_post":"1","number_popup_post":"3","show_author_box":"1","show_post_related":"1","show_inline_post_related":"0"}],"override_image_size":"0","image_override":[{"single_post_thumbnail_size":"crop-715","single_post_gallery_size":"crop-500"}],"trending_post":"0","trending_post_position":"meta","trending_post_label":"Trending","sponsored_post":"0","sponsored_post_label":"Sponsored by","sponsored_post_name":"","sponsored_post_url":"","sponsored_post_logo_enable":"0","sponsored_post_logo":"","sponsored_post_desc":"","disable_ad":"0"},"jnews_primary_category":{"id":"","hide":""},"jnews_override_counter":{"override_view_counter":"0","view_counter_number":"0","override_share_counter":"0","share_counter_number":"0","override_like_counter":"0","like_counter_number":"0","override_dislike_counter":"0","dislike_counter_number":"0"},"jnews_post_split":[],"footnotes":""},"categories":[13078],"tags":[525,527],"class_list":["post-204892","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-gaya-hidup","tag-muhammadiyah","tag-nahdliyin"],"modified_by":"Rizky Prasetya","amp_enabled":true,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/204892","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/users\/2082"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=204892"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/204892\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media\/99753"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=204892"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=204892"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=204892"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}