{"id":204875,"date":"2023-02-04T13:17:55","date_gmt":"2023-02-04T06:17:55","guid":{"rendered":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/?p=204875"},"modified":"2023-02-04T13:17:55","modified_gmt":"2023-02-04T06:17:55","slug":"saya-nggak-sepakat-bekasi-gabung-ke-dki-jakarta","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/saya-nggak-sepakat-bekasi-gabung-ke-dki-jakarta\/","title":{"rendered":"Saya Nggak Sepakat Bekasi Gabung ke DKI Jakarta!"},"content":{"rendered":"<p><span style=\"font-weight: 400;\">Bekasi bergabung ke Jakarta? Saya cuman bisa ketawa dan geleng-geleng kepala saat membaca tulisan Mas Arief berjudul<\/span><a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/saya-sepakat-kalau-bekasi-gabung-dki-jakarta\/\"> <b><i>&#8220;Saya Sepakat kalau Bekasi Gabung DKI Jakarta&#8221;<\/i><\/b><\/a><span style=\"font-weight: 400;\"> dan ditulis dengan alasan-alasan yang bikin saya lebih ketawa. Maaf banget, Mas. Saya ketawa bukan meremehkan, tapi lucu saja membacanya, asli.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Mas Arief mengatakan ada pro dan kontra, tulisan Mas Arief di sini saya asumsikan sebagai tulisan yang pro akan hal itu. Karena jelas-jelas dalam tulisan tersebut Mas Arief menjelaskan alasan mengapa sepakat dengan bergabung ke Bekasi, walaupun entah bagaimana saya menafsirkan bahwa Mas Arief seperti mewakili orang-orang Bekasi.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Jadi begini, Mas. Sebagai orang Jakarta, khususnya Jakarta Timur. Saya sih sama sekali tidak sepakat dengan bergabungnya Bekasi ke Jakarta. Mau itu wacana walikota dari jauh hari, kek. Nggak sepakat sama sekali saya. Udah benar Bekasi sekarang nggak bergabung dengan Jakarta.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><b>Pertama, <\/b><span style=\"font-weight: 400;\">membawa-bawa sejarah dengan landasan bahwa Bekasi harus &#8220;kembali&#8221; bergabung dengan Jakarta. Mas Arief bilang, dulu Bekasi masuk ke dalam wilayah<\/span><a href=\"https:\/\/www.bekasikota.go.id\/pages\/sejarah-kota-bekasi\"> <span style=\"font-weight: 400;\">Kawedanan Jatinegara<\/span><\/a><span style=\"font-weight: 400;\"> saat masa kolonial. Oleh karena itu, Bekasi harus kembali bergabung ke Jakarta.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Mas Arief nih nggak baca utuh sepertinya. Bekasi juga kali yang memisahkan diri dari Jakarta, Mas. Bekasi itu<\/span><a href=\"https:\/\/kumparan.com\/kumparannews\/bekasi-pernah-jadi-bagian-dari-jakarta-sebelum-tahun-1950-1rhavMQACe7\"> <span style=\"font-weight: 400;\">memisahkan diri dari Jakarta<\/span><\/a><span style=\"font-weight: 400;\"> karena saat itu tidak sepakat dengan Republik Indonesia Serikat. Bekasi lebih memilih memisahkan diri, agar ruang gerak Belanda tidak bertambah luas.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Kalau misalnya tetap kukuh, itu sama saja Mas Arief tidak menghargai keputusan orang-orang Bekasi pada masa revolusi dulu, dong? Selain itu, Mas, kalau misalnya konteksnya bawa sejarah, nanti daerah lain ikutan.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Contohnya\u00a0 Keresidenan Kedu yang wilayahnya meliputi Magelang, Purworejo, Wonosobo, Temanggung, sampai Kebumen. Dulu mereka masuk ke Yogyakarta, loh. Kalau misalnya minta gabung kembali? Repot dong. Buktinya mereka adem ayem aja, nggak minta balikan sama Yogyakarta.\u00a0<\/span><\/p>\n<h4><strong>Bawa-bawa Betawi, duh<\/strong><\/h4>\n<p><b>Kedua, <\/b><span style=\"font-weight: 400;\">kultur juga nggak bisa dibawa-bawa kali. Kultur dan budaya kan dinamis, bisa berubah-ubah tergantung waktu dan kondisi, Mas. Kalau bilang Jakarta dan Bekasi kulturnya sama karena banyak Betawi, nggak sekalian aja Tangerang dan Bogor juga? Banyak itu orang-orang Betawi di sana.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Saya bukan mendiskreditkan Betawi loh, ya. Cuman kan memang kebanyakan Betawi yang tersebar di luar Jakarta itu karena mereka hijrah, tentunya dengan berbagai faktor dan alasan. Kultur pun terbawa, ya, karena mereka memang Betawi.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Lagian, bawa alasan kultur itu udah nggak relevan. Jakarta sudah kebanyakan pendatang. Jakarta sudah nggak Betawi amat, nggak seperti dahulu. Sekarang Jakarta isinya multikultural dari berbagai macam daerah. Lagian, Jakarta juga sekarang metropolitan. Udah jarang kultur Betawi di Jakarta, apalagi di daerah yang metropolitan banget di pusat kota.<\/span><\/p>\n<p><b>Ketiga, <\/b><span style=\"font-weight: 400;\">sistem transportasi jelek kok malah solusinya gabung Jakarta. Aneh banget! Kritik Pemerintah Daerah, lah! Lagian, memang dipikir semua transportasi publik di Jakarta itu sudah merata? Belum juga kali. Masih banyak<\/span><a href=\"https:\/\/www.kompas.id\/baca\/metro\/2022\/02\/02\/88-juta-warga-jabodetabek-sulit-akses-transportasi-publik\"> <span style=\"font-weight: 400;\">jutaan orang Jakarta yang kesusahan akses transportasi publik<\/span><\/a><span style=\"font-weight: 400;\">. Ditambah kalau Bekasi bergabung, malah makin banyak dan susah yang akses transportasi publik.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Contoh tuh Bogor, nggak gabung ke Jakarta tapi transportasi publiknya sudah mulai berbenah dan bagus. Nggak merengek minta gabung ke Jakarta dengan alasan transportasi publik. Semarang yang jauh dari Jakarta saja transportasinya mantap, tuh. Memang lagi-lagi soal pemerintah daerahnya, mereka yang harus mikir solusinya.\u00a0<\/span><\/p>\n<h4><strong>Yakin gabung Jakarta adalah solusi?<\/strong><\/h4>\n<p><b>Keempat, <\/b><span style=\"font-weight: 400;\">merasa dianaktirikan Jawa Barat? Yakin kalau masuk Jakarta nggak bakal dianaktirikan juga? Wqwqwq. Lagian, walaupun misalnya casenya itu adalah dianaktirikan, nggak bakal dilepas juga semudah itu. Ada Cikarang yang jadi sektor ekonomi paling menguntungkan buat Jawa Barat.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Kalau misalnya masuk Jakarta, emang bakal yakin langsung dijadikan anak emas? Nggak juga, Bro. Mengurus 6 wilayah saja sudah lumayan berat, apalagi ditambah dengan Bekasi yang punya PR sejibun. Nggak ada jaminan 100 persen bakal dianakemaskan.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><b>Kelima, <\/b><span style=\"font-weight: 400;\">pemimpin mentereng juga semuanya umurnya sedikit dalam pemerintahan. Semuanya mau megang Jakarta karena ini adalah Ibu Kota Indonesia. Kalau sudah bukan ibu kota, bisa jadi nggak bakal ada yang mau jadi pemimpin Jakarta lagi. Ini memang kasar sekali, sih. Cuman, ya, kenyataan dan faktanya begitu. Semua mau memegang Jakarta untuk modal jadi presiden.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Lagian, ayolah, kalau mau punya pemimpin mentereng itu solusinya bukan gabung ke Jakarta. Tapi benahi SDM, jadi masyarakat yang sadar akan lingkungan dan wilayahnya sendiri. Politik itu cuman opsi. Kalau Bekasi keren karena diri sendiri, itu kan lebih baik dan juga lebih bagus, toh? Daripada nanti dibilang &#8220;Alah, Bekasi mah sekarang bagus karena gabung Jakarta.&#8221; Mau kayak begitu?\u00a0<\/span><\/p>\n<p><b>Keenam, <\/b><span style=\"font-weight: 400;\">emang dipikir Bekasi doang mitra Jakarta? Itu seluruh kota dan kabupaten di Jabodetabek semuanya mitra, Bos. Depok yang segitu anehnya aja juga mitra Jakarta. Semuanya aja gabung Jakarta karena alasan mitra.\u00a0<\/span><\/p>\n<h4><strong>Nambahin penderitaan anak Jaktim doang<\/strong><\/h4>\n<p><b>Ketujuh, <\/b><span style=\"font-weight: 400;\">saya nggak sepakat karena Bekasi cuman bakal nambah ledekan ke Jakarta Timur. Selama ini saja Jakarta Timur sering dianggap Bekasi, begitu pun sebaliknya. Buseh, Jakarta Timur kayak Jakarta coret, dianggap bukan Jakarta, padahal masuk Jakarta.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Kalau nambah lagi Bekasi masuk ke Jakarta, ya Allah makin jadi itu ledekan. Diledek anak hilang yang kembali lagi ke pelukan saudaranya. Aduh, males banget mikir kalau memang jadi kesampaian. Sudah lah, intinya saya nggak sepakat kalau Bekasi Gabung DKI Jakarta. Nggak banget.\u00a0<\/span><\/p>\n<p>Penulis: Nasrulloh Alif Suherman<br \/>\nEditor: Rizky Prasetya<\/p>\n<p><strong>BACA JUGA\u00a0<a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/di-bekasi-ramalan-cuaca-seakan-tak-berguna\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">Di Bekasi, Ramalan Cuaca Seakan Tak Berguna<\/a><\/strong><\/p>\n<h5><span id=\"Terminal_Mojok_merupakan_platform_User_Generated_Content_UGC_untuk_mewadahi_jamaah_mojokiyah_menulis_tentang_apa_pun_Submit_esaimu_secara_mandiri_lewat_carainiya\"><strong><em>Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara\u00a0<a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/kirim-tulisan\/\">ini<\/a>\u00a0ya.<\/em><\/strong><\/span><\/h5>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Lucu bener alasannya.<\/p>\n","protected":false},"author":321,"featured_media":165985,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_lmt_disableupdate":"no","_lmt_disable":"","jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":{"source_name":"","source_url":"","via_name":"","via_url":"","override_template":"0","override":[{"template":"1","single_blog_custom":"","parallax":"1","fullscreen":"1","layout":"right-sidebar","sidebar":"default-sidebar","second_sidebar":"default-sidebar","sticky_sidebar":"1","share_position":"float","share_float_style":"share-monocrhome","show_share_counter":"1","show_view_counter":"0","show_featured":"1","show_post_meta":"1","show_post_author":"1","show_post_author_image":"1","show_post_date":"1","post_date_format":"default","post_date_format_custom":"Y\/m\/d","show_post_category":"0","show_post_reading_time":"0","post_reading_time_wpm":"300","show_zoom_button":"1","zoom_button_out_step":"3","zoom_button_in_step":"4","show_post_tag":"1","show_prev_next_post":"0","show_popup_post":"1","number_popup_post":"3","show_author_box":"1","show_post_related":"1","show_inline_post_related":"0"}],"override_image_size":"0","image_override":[{"single_post_thumbnail_size":"crop-715","single_post_gallery_size":"crop-500"}],"trending_post":"0","trending_post_position":"meta","trending_post_label":"Trending","sponsored_post":"0","sponsored_post_label":"Sponsored by","sponsored_post_name":"","sponsored_post_url":"","sponsored_post_logo_enable":"0","sponsored_post_logo":"","sponsored_post_desc":"","disable_ad":"0"},"jnews_primary_category":{"id":"","hide":""},"jnews_override_counter":{"override_view_counter":"0","view_counter_number":"0","override_share_counter":"0","share_counter_number":"0","override_like_counter":"0","like_counter_number":"0","override_dislike_counter":"0","dislike_counter_number":"0"},"jnews_post_split":[],"footnotes":""},"categories":[1],"tags":[2840,18347,14802],"class_list":["post-204875","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-nusantara","tag-bekasi","tag-bekasi-gabung-ke-dki-jakarta","tag-jakarta-timur"],"modified_by":"Rizky Prasetya","amp_enabled":true,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/204875","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/users\/321"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=204875"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/204875\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media\/165985"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=204875"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=204875"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=204875"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}