{"id":204874,"date":"2023-02-07T08:00:22","date_gmt":"2023-02-07T01:00:22","guid":{"rendered":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/?p=204874"},"modified":"2023-02-06T14:39:51","modified_gmt":"2023-02-06T07:39:51","slug":"jangan-anggap-mudah-bahasa-indonesia-kalau-nulis-saja-masih-sering-salah","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/jangan-anggap-mudah-bahasa-indonesia-kalau-nulis-saja-masih-sering-salah\/","title":{"rendered":"Jangan Anggap Mudah Bahasa Indonesia kalau Nulis Saja Masih Sering Salah"},"content":{"rendered":"<p><span style=\"font-weight: 400;\">Dulu saat masih sekolah, saya menganggap Bahasa Indonesia adalah <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/tag\/mata-pelajaran\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">mata pelajaran<\/a> paling mudah. Gimana nggak mudah, pada saat ujian saja semua jawaban bisa dicari di dalam soal. Kalau ujian Bahasa Indonesia tiba, saya merasa nggak perlu belajar di malam sebelum jadwal ujian dilaksanakan. Guru Bahasa Indonesia biasanya juga memiliki pembawaan yang santai, sehingga nggak membuat saya tegang menghadapi mata pelajaran tersebut. <\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Anggapan bahwa bahasa Indonesia merupakan pelajaran mudah, memotivasi saya untuk memilih kuliah di jurusan Pendidikan Bahasa Indonesia. Tentu saja tujuannya biar saya bisa menjalani kuliah dengan santai. Nyatanya, belajar Bahasa Indonesia di kampus dan di sekolah cukup berbeda. Di kampus, ada banyak dosen yang merangkap jadi polisi bahasa dan siap menilang tulisan mahasiswa yang nggak sesuai kaidah.<\/span><\/p>\n<h4><strong>Kesalahan sederhana<\/strong><\/h4>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Saya ingat betul, saat masih duduk di semester awal, saya mengikuti mata kuliah Asesmen Pembelajaran. Saat itu mahasiswa diberi tugas untuk menyusun contoh soal dan diminta mempresentasikannya pada pertemuan minggu depan. Saya cukup percaya diri dengan soal-soal yang saya susun. <\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Seminggu berlalu, saya pun jadi mahasiswa pertama yang ditunjuk oleh dosen untuk mempresentasikan tugas yang telah saya kerjakan. Selesai presentasi, <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/tag\/dosen\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">dosen<\/a> saya memberikan feedback yang cukup panjang. Saya kaget, sebab bukan kualitas soal saya yang dibahas beliau, melainkan penulisan saya yang nggak sesuai kaidah yang berlaku. Mulai dari penggunaan kata &#8220;di&#8221; dan &#8220;ke&#8221; sampai jumlah titik pada soal uraian singkat. Sejak saat itu saya jadi lebih peduli dengan kaidah penulisan bahasa Indonesia karena latar belakang pendidikan saya<\/span><span style=\"font-weight: 400;\">.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Semakin tua semester seorang mahasiswa, makin banyak pula tugas untuk jadi polisi bahasa di kampus saya. Mahasiswa jadi lebih sering diminta untuk menganalisis kesalahan berbahasa di ruang publik, misalnya <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/tag\/baliho\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">baliho<\/a>, poster, poster, iklan, surat resmi, teks petunjuk atau teks peraturan, dll.. Apa sih tujuannya? Ya supaya mahasiswa juga tahu bahwa masyarakat juga masih belum menggunakan bahasa Indonesia dengan baik dan benar. <\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Penulisan kata yang nggak sesuai KBBI merupakan kesalahan ringan. Kesalahan paling berat dalam bahasa Indonesia adalah penempatan susunan subjek, objek, predikat, dan keterangan yang keliru sehingga membuat kalimat ambigu dan memunculkan beragam penafsiran. Nah, itulah tugas saya nanti setelah menjadi guru Bahasa Indonesia, yakni membimbing para murid agar mampu menggunakan bahasa Indonesia dengan baik. <\/span><\/p>\n<h4><strong>Penulisan terima kasih<\/strong><\/h4>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Kesalahan penulisan frasa terima kasih sering sekali kita temukan bahkan pada surat dan peraturan resmi. Kenapa seseorang sulit untuk bisa memahami bahwa terima kasih adalah dua kata yang berdiri sendiri sehingga harus dipisah penggunaannya?<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Saya mengasumsikan sebuah alasan yang paling masuk akal mengapa masyarakat sering menuliskan \u201cterima kasih\u201d tanpa dipisah menjadi \u201cterimakasih\u201d. Alasannya adalah banyak yang nggak mengetahui makna ungkapan \u201cterima kasih\u201d. \u201cTerima kasih\u201d mungkin hanya diungkapkan secara refleks ketika mendapatkan kesenangan tanpa memahami maknanya. Coba deh tanyakan makna \u201cterima kasih\u201d kepada orang-orang yang masih salah menuliskan kata tersebut.<\/span><\/p>\n<h4><strong>Salah menempatkan term \u201cdan\u201d &amp; \u201catau\u201d<\/strong><\/h4>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Apa yang berbeda dari kalimat larangan berikut:<\/span><\/p>\n<ol>\n<li style=\"font-weight: 400;\"><span style=\"font-weight: 400;\">Bertato dan bertindik dilarang mendaftar CPNS<\/span><\/li>\n<li style=\"font-weight: 400;\"><span style=\"font-weight: 400;\">Bertato atau bertindik dilarang mendaftar CPNS<\/span><\/li>\n<\/ol>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Dua kalimat larangan di atas memiliki perbedaan penggunaan term \u201cdan\u201d dan \u201catau\u201d yang tentunya membuat makna larangan menjadi berbeda.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Pada kalimat 1) memiliki makna jika seseorang memiliki tato dan bertindik di tubuhnya, orang tersebut dilarang mendaftar <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/tag\/CPNS\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">CPNS<\/a>. Namun, jika seseorang hanya memiliki tato dan nggak bertindik, orang tersebut bisa mendaftar CPNS. Begitu pula dengan orang yang hanya bertindik dan nggak bertato tetap bisa mendaftar CPNS.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Pada situasi kalimat 2) memiliki makna jika seseorang memiliki tato, orang tersebut nggak boleh mendaftar CPNS. Jika seseorang bertindik, orang tersebut juga nggak boleh mendaftar CPNS. Dari kalimat 2) orang yang memiliki<a href=\"https:\/\/kbbi.kemdikbud.go.id\/entri\/tato\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\"> tato<\/a> dan bertindik malahan yang masih boleh mendaftar CPNS, sebab term \u201catau\u201d memiliki fungsi alternatif pilihan.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Jika sering membuka peraturan yang dibuat oleh pemerintah, kita akan banyak menemukan bentuk frasa \u201cdan\/atau\u201d. Frasa tersebut berfungsi untuk menggabungkan makna term \u201cdan\u201d dan \u201catau\u201d.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Saya sering kali membaca kalimat larangan yang makna sebenarnya dapat digambarkan ketika menggunakan frasa \u201cdan\/atau\u201d, namun yang tertulis hanya menggunakan salah satu term \u201cdan\u201d ataupun term \u201catau\u201d.<\/span><\/p>\n<h4><strong>Penggunaan kata depan \u201cdi\u201d dan \u201cke\u201d<\/strong><\/h4>\n<p><em><span style=\"font-weight: 400;\">\u201cTulisanku dimojok di jiprak orang\u201d<\/span><\/em><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Itu adalah cara tulis orang masih buta akan fungsi \u201cdi\u201d. Saya akan mencoba jelaskan fungsi \u201cdi\u201d dan \u201cke\u201d dalam bahasa Indonesia.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">\u201cDi\u201d dan \u201cke\u201d memiliki dua kegunaan dalam bahasa Indonesia. Kegunaan pertama sebagai kata depan. Kata depan \u201cdi\u201d digunakan untuk menyatakan tempat. Kata depan \u201cke\u201d digunakan untuk menyatakan arah. Jika berfungsi sebagai kata depan, maka penggunannya DIPISAH.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Kegunaan kedua &#8220;di&#8221; dan &#8220;ke&#8221; adalah sebagai awalan. \u201cDi\u201d sebagai awalan memiliki fungsi untuk membentuk kata kerja pasif. \u201cKe\u201d sebagai awalan memiliki fungsi untuk membentuk kata bilangan (kedua, ketiga) dan membentuk kata kerja pasif dengan makna tidak sengaja (kesenggol, kebawa).\u00a0<\/span><\/p>\n<h4><strong>Kalimat yang ambigu<\/strong><\/h4>\n<p><em><span style=\"font-weight: 400;\">\u201cYang membawa HP harap dimatikan\u201d<\/span><\/em><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Maksudnya gimana? Siapa yang dimatikan?\u00a0<\/span><\/p>\n<p><em><span style=\"font-weight: 400;\">\u201cAdik punya novel baru dari Eka Kurniawan\u201d<\/span><\/em><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Gimana maksud kalimat di atas? Adik punya novel baru \u201cdari karya\u201d <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/tag\/eka-kurniawan\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">Eka Kurniawan<\/a> atau adik punya novel baru yang pemberian Eka Kurniawan?<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Itulah contoh kalimat ambigu, kalimat yang memiliki dua makna atau lebih. Biasanya terjadi karena kesalahan struktur penulisan. Maka, kalau habis nulis kalimat sebagainya dibaca ulang kembali dan dicek apakah bisa timbul makna yang berbeda dari makna yang kamu maksud.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Nah, itulah kesalahan penggunaan bahasa Indonesia khususnya saat menulis yang paling sering ditemui di masyarakat. Memang bahasa Indonesia itu mudah. Namun karena mudah, ia jadi sering disepelekan sehingga timbul banyak kesalahan karena kurang pemahaman.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Meski banyak aturan, tetap cintai bahasa Indonesia, ya!<\/span><\/p>\n<p>Penulis: Ratna Latifa<br \/>\nEditor: Intan Ekapratiwi<\/p>\n<p><strong>BACA JUGA <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/menyesal-kuliah-bahasa-indonesia-di-universitas-indonesia\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">Rasa Sesal yang Dulu Saya Rasakan ketika Kuliah Bahasa Indonesia di Universitas Indonesia<\/a>.<\/strong><\/p>\n<h6><span id=\"Terminal_Mojok_merupakan_platform_User_Generated_Content_UGC_untuk_mewadahi_jamaah_mojokiyah_menulis_tentang_apa_pun_Submit_esaimu_secara_mandiri_lewat_carainiya\"><em>Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara\u00a0<a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/kirim-tulisan\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\">ini<\/a>\u00a0ya.<\/em><\/span><\/h6>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Nggak mudah, lho.<\/p>\n","protected":false},"author":2083,"featured_media":205104,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_lmt_disableupdate":"no","_lmt_disable":"","jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":{"source_name":"","source_url":"","via_name":"","via_url":"","override_template":"0","override":[{"template":"1","single_blog_custom":"","parallax":"1","fullscreen":"1","layout":"right-sidebar","sidebar":"default-sidebar","second_sidebar":"default-sidebar","sticky_sidebar":"1","share_position":"float","share_float_style":"share-monocrhome","show_share_counter":"1","show_view_counter":"0","show_featured":"1","show_post_meta":"1","show_post_author":"1","show_post_author_image":"1","show_post_date":"1","post_date_format":"default","post_date_format_custom":"Y\/m\/d","show_post_category":"0","show_post_reading_time":"0","post_reading_time_wpm":"300","show_zoom_button":"1","zoom_button_out_step":"3","zoom_button_in_step":"4","show_post_tag":"1","show_prev_next_post":"0","show_popup_post":"1","number_popup_post":"3","show_author_box":"1","show_post_related":"1","show_inline_post_related":"0"}],"override_image_size":"0","image_override":[{"single_post_thumbnail_size":"crop-715","single_post_gallery_size":"crop-500"}],"trending_post":"0","trending_post_position":"meta","trending_post_label":"Trending","sponsored_post":"0","sponsored_post_label":"Sponsored by","sponsored_post_name":"","sponsored_post_url":"","sponsored_post_logo_enable":"0","sponsored_post_logo":"","sponsored_post_desc":"","disable_ad":"0"},"jnews_primary_category":{"id":"","hide":""},"jnews_override_counter":{"override_view_counter":"0","view_counter_number":"0","override_share_counter":"0","share_counter_number":"0","override_like_counter":"0","like_counter_number":"0","override_dislike_counter":"0","dislike_counter_number":"0"},"jnews_post_split":[],"footnotes":""},"categories":[12910],"tags":[761,1164,740,2554],"class_list":["post-204874","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-pendidikan","tag-bahasa","tag-bahasa-indonesia","tag-mata-pelajaran","tag-pelajaran"],"modified_by":"Intan Ekapratiwi","amp_enabled":true,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/204874","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/users\/2083"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=204874"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/204874\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media\/205104"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=204874"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=204874"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=204874"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}