{"id":203446,"date":"2023-01-19T13:50:52","date_gmt":"2023-01-19T06:50:52","guid":{"rendered":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/?p=203446"},"modified":"2023-01-19T14:04:03","modified_gmt":"2023-01-19T07:04:03","slug":"jangan-sampai-preman-pensiun-jadi-kayak-ikatan-cinta","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/jangan-sampai-preman-pensiun-jadi-kayak-ikatan-cinta\/","title":{"rendered":"Dear Aris Nugraha, Jangan Sampai Preman Pensiun Jadi Kayak Ikatan Cinta"},"content":{"rendered":"<p><em>Plis, jangan sampai Preman Pensiun kayak Ikatan Cinta atau Tukang Bubur Naik Haji, dong!<\/em><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Harus diakui kalau <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">Preman Pensiun <\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">adalah salah satu <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/tag\/sinetron\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">sinetron<\/a> Indonesia terbaik. Meskipun tidak terlalu istimewa, untuk ukuran sinetron yang tayang di televisi, jelas ia lebih baik dari sinetron lainnya yang tayang sekarang ini<\/span><span style=\"font-weight: 400;\">. Alur cerita yang terarah dan sistem penayangan per musim menjadikan kualitas <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">Preman Pensiun <\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">terjaga.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Akan tetapi, akhir-akhir ini sinetron garapan Aris Nugraha tersebut terkesan dikebut penayangannya. Sejak dirilisnya musim 4 pada 2020 yang lalu, cerita <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">Preman Pensiun <\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">mulai kedodoran. Puncaknya adalah musim 6 dan 7 yang tidak punya jeda sama sekali dari yang awalnya antarmusim selalu punya jeda setidaknya satu tahun. Bahkan sinetron ini <\/span><span style=\"font-weight: 400;\">sempat absen selama empat tahun setelah tamatnya musim 3 pada 2016.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Apalagi dikabarkan <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">Preman Pensiun <\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">musim 8 akan ditayangkan pada bulan Ramadan tahun ini. Saya sih senang-senang saja kalau sinetron ini ada <\/span><span style=\"font-weight: 400;\">setiap tahunnya. Tapi, kalau terlalu banyak, takutnya sinetron ini malah menjadi kayak <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">Tukang Bubur Naik Haji <\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">atau <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">Ikatan Cinta <\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">yang alur ceritanya tak karuan dan super jelek karena diperbudak oleh rating. Maksud saya, berakhir dengan membuat <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/tag\/episode\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">episode<\/a> sebanyak-banyaknya tanpa memperhatikan kualitas.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Kalau kita lihat, puncak kualitas cerita dari <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">Preman Pensiun <\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">ini berada di tiga musim pertama yang berfokus pada konflik internal kelompok Muslihat setelah pensiunnya Kang Bahar sebagai kepala preman yang paling ditakuti. Inilah sebenarnya inti cerita utamanya<\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">, <\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">yaitu perjuangan Muslihat dan beberapa anak buahnya yang berusaha lepas dari bisnis premanisme.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Untuk musim 4 dan selanjutnya, ceritanya mulai mengalami penurunan tapi belum bisa dikatakan jelek. Sehingga Aris Nugraha selaku penulis dan sutradara harus berusaha menemukan formula cerita yang lebih menarik agar pemirsa tidak bosan menonton cerita yang berputar-putar. Ambil contoh Saep si copet yang dari awal musim selalu begitu-begitu saja ceritanya. Atau konflik para preman yang terus berputar-putar.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Ya memang agak sulit juga sih untuk terus meneruskan cerita <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">Preman Pensiun<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">, karena sebenarnya semuanya sudah selesai ketika musim 3 berakhir, di mana Muslihat dan anak buahnya berhenti dari dunia gelap dan memulai hidup baru. Kalau dilanjutkan dan semuanya kembali ke dunia preman ya sama saja bohong, judulnya jadi <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">Preman Batal Pensiun<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Nah, itulah yang saya khawatirkan. Jika<\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">\u00a0<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">ceritanya terlalu panjang dan penayangannya terlalu cepat serta berdekatan, nantinya malah seperti <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">Ikatan Cinta <\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">dan <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\"><a href=\"https:\/\/mojok.co\/esai\/agar-nggak-kayak-tukang-bubur-naik-haji-tukang-ojek-pengkolan-harusnya-tahu-diri\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">Tukang Bubur Naik Haji<\/a>.\u00a0<\/span><\/i><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Ingat, <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">Ikatan Cinta <\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">ketika awal penayangannya juga mendapatkan respons yang cukup positif dari penonton karena cerita di awal memang menarik. Tapi, karena <\/span><span style=\"font-weight: 400;\">rating <\/span><span style=\"font-weight: 400;\">tinggi, <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">Ikatan Cinta <\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">langsung diperah habis-habisan hingga mencapai ribuan episode. Kualitasnya pun jadi berantakan dan jadi salah satu sinetron yang dibenci oleh sebagian orang.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><i><span style=\"font-weight: 400;\">Tukang Bubur Naik Haji<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> juga demikian. Masih ingat ketika sinetron ini pertama kali tayang pada 2012? Respons penonton cukup positif seperti versi FTV-nya. Tapi lama kelamaan sinetron ini menjadi sinetron paling tidak jelas dalam sejarah pertelevisian Indonesia dengan total episode mencapai dua ribu.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Selama ini sinetron Indonesia yang tayang di TV memang jauh dari kata idealisme dan hanya mengejar uang, kecuali mungkin <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">Preman Pensiun <\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">ini. Sekadar informasi, selain membuat <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">Preman Pensiun<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">, <a href=\"https:\/\/id.wikipedia.org\/wiki\/Aris_Nugraha\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">Aris Nugraha <\/a><\/span><span style=\"font-weight: 400;\">juga menjadi otak di balik kesuksesan sitkom legendaris <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">Bajaj Bajuri<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">. Jadi, saya yakin beliau masih bisa menjaga idealisme untuk sinetron <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">Preman Pensiun<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> walaupun dari beberapa <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">season<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> terakhir, alur ceritanya mulai keteteran dan seperti mengarah menjadi sinetron kacangan.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Semoga saja <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">Preman Pensiun <\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">tidak akan seperti itu. Mungkin saja Aris Nugraha sedang merencanakan sinetron ini <\/span><span style=\"font-weight: 400;\">tamat sampai musim 10 pada 2025 mendatang atau tepat 10 tahun setelah<\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">\u00a0<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">pertama kali tayang di RCTI. Saya percaya Aris Nugraha akan membuat ending yang benar-benar klimaks dan epik ketika musim terakhir <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">Preman Pensiun <\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">dirilis.<\/span><\/p>\n<p>Penulis: Hilman Azis<br \/>\nEditor: Intan Ekapratiwi<\/p>\n<p><strong>BACA JUGA <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/preman-pensiun-peaky-blinders-versi-indonesia\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">Preman Pensiun: Sinetron yang Berpotensi Jadi Peaky Blinders versi Indonesia<\/a>.<\/strong><\/p>\n<h5><span id=\"Terminal_Mojok_merupakan_platform_User_Generated_Content_UGC_untuk_mewadahi_jamaah_mojokiyah_menulis_tentang_apa_pun_Submit_esaimu_secara_mandiri_lewat_carainiya\"><em>Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara\u00a0<a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/kirim-tulisan\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\">ini<\/a>\u00a0ya.<\/em><\/span><\/h5>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Plis, Mas Aris.<\/p>\n","protected":false},"author":1160,"featured_media":203485,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_lmt_disableupdate":"no","_lmt_disable":"","jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":{"source_name":"","source_url":"","via_name":"","via_url":"","override_template":"0","override":[{"template":"2","single_blog_custom":"","parallax":"1","fullscreen":"1","layout":"right-sidebar","sidebar":"default-sidebar","second_sidebar":"default-sidebar","sticky_sidebar":"1","share_position":"float","share_float_style":"share-monocrhome","show_share_counter":"1","show_view_counter":"0","show_featured":"1","show_post_meta":"1","show_post_author":"1","show_post_author_image":"1","show_post_date":"1","post_date_format":"default","post_date_format_custom":"Y\/m\/d","show_post_category":"0","show_post_reading_time":"0","post_reading_time_wpm":"300","show_zoom_button":"1","zoom_button_out_step":"3","zoom_button_in_step":"4","show_post_tag":"1","show_prev_next_post":"0","show_popup_post":"1","number_popup_post":"3","show_author_box":"1","show_post_related":"1","show_inline_post_related":"0"}],"override_image_size":"0","image_override":[{"single_post_thumbnail_size":"crop-715","single_post_gallery_size":"crop-500"}],"trending_post":"0","trending_post_position":"meta","trending_post_label":"Trending","sponsored_post":"0","sponsored_post_label":"Sponsored by","sponsored_post_name":"","sponsored_post_url":"","sponsored_post_logo_enable":"0","sponsored_post_logo":"","sponsored_post_desc":"","disable_ad":"0"},"jnews_primary_category":{"id":"","hide":""},"jnews_override_counter":{"override_view_counter":"0","view_counter_number":"0","override_share_counter":"0","share_counter_number":"0","override_like_counter":"0","like_counter_number":"0","override_dislike_counter":"0","dislike_counter_number":"0"},"jnews_post_split":[],"footnotes":""},"categories":[13083],"tags":[9649,6711,1134],"class_list":["post-203446","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-acara-tv","tag-ikatan-cinta","tag-preman-pensiun","tag-sinetron"],"modified_by":"Intan Ekapratiwi","amp_enabled":true,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/203446","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1160"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=203446"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/203446\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media\/203485"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=203446"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=203446"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=203446"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}