{"id":202425,"date":"2023-01-10T13:01:42","date_gmt":"2023-01-10T06:01:42","guid":{"rendered":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/?p=202425"},"modified":"2023-01-10T13:01:42","modified_gmt":"2023-01-10T06:01:42","slug":"kesulitan-bocah-jawa-suroboyoan-belajar-bahasa-jawa-di-sekolah","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/kesulitan-bocah-jawa-suroboyoan-belajar-bahasa-jawa-di-sekolah\/","title":{"rendered":"Kesulitan Bocah Jawa Suroboyoan Belajar Bahasa Jawa di Sekolah"},"content":{"rendered":"<p><span style=\"font-weight: 400;\">Saya lahir dan hidup di Mojokerto, salah satu kota di dekat Surabaya. Sebagai orang yang kesehariannya menggunakan bahasa Jawa, belajar bahasa Jawa adalah hal yang sulit bagi saya. Lha kok iso?<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Tepatnya, saya menggunakan Bahasa Jawa Suroboyoan, cukup berbeda dengan bahasa Jawa yang diajarkan sekolah yang lebih ke-Jateng-Jatengan atau ke-Jogja-Jogjaan. Bahkan, saya tahu bahasa ini digunakan di daerah Jateng-Jogja karena saya frustrasi dan bertanya ke ibuk, kenapa harus belajar bahasa ini, memang dipakai ya? Waktu saya pertama kali membaca text book Bahasa Jawa, saya sempat mengira \u201csesok\u201d artinya besok pagi dengan anggapan isuk + besok = sesok, padahal artinya hanya besok. Saya tahu kata ora dan yen dari lagu dangdut yang diputar radio. Tidak ada satu pun kata-kata di atas yang pernah saya dengar dari tetangga ataupun teman sekolah.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Sebagai gambaran, bahasa Jawa Suroboyoan memang tidak jauh berbeda dengan Jawa pada umumnya. Namun, banyak konteks yang bisa jadi salah paham karena perbedaan kecil tersebut. Sering kali orang meremehkan perbedaan itu karena menganggap Bahasa Jawa ya seputar itu-itu saja. Saya bisa membuktikan anggapan itu salah. Berikut adalah beberapa contoh kalimat sederhana Jawa Suroboyoan yang saya yakin orang Jawa non-Surabaya tidak paham.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">\u201cHe rek, yoopo mene sidone\u201d, \u201clapo se kok gak mben ae\u201d, \u201ckon ngunu iku lo cekne opoo\u201d.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Secara berurutan, berikut translasinya<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">\u201cHalo guys, besok jadinya gimana\u201d, \u201ckenapa kok nggak besok lusa aja\u201d, \u201ckamu itu ngapain sih\u201d.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Kalau dilihat dari contoh di atas, Jawa Suroboyoan punya beberapa ciri khas yang membedakannya dengan Jawa textbook. Perbedaan itu cukup mendasar karena berhubungan dengan kata tanya, sapaan, kata hubung bahkan keterangan waktu. Penggunaan kata-kata itu adalah fondasi utama untuk berbahasa Jawa Suroboyoan. Sehingga, sering kali saya gagal memahami bahasa buku Pepak atau buku Kaweruh Basa Jawa.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Misalnya, Suroboyoan tidak menggunakan akhiran \u2013ake, melainkan \u2013no, bisa dilihat perbedaannya dalam kata ditukokake dan ditukokno. Perbedaan ini sering mengancam nilai saya terutama saat ujian membaca dan menulis.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Sebagai bocil SD yang sehari-hari hanya menggunakan bahasa itu, saya merasa belajar bahasa Jawa hanya sebagai pengetahuan textbook saja. Saya menempatkan bahasa Jawa seperti belajar bahasa Inggris yang tidak tau akan saya pakai kapan. Otomatis hal ini membuat saya cemas karena bisa mengancam nilai rapor. Saya selalu menelpon kakek dan meminta bantuan orang tua saat mengerjakan PR karena butuh effort yang banyak untuk memahami bahasanya. Kakek lah yang the real MVP karena kadang orang tua saya juga tidak mudeng membaca bacaannya.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Sebagian besar pelajaran bahasa Jawa memang berfokus pada sastra. Sayangnya, unsur kebahasaan yang berbeda ini membuat saya merasa asing dengan Jawa yang biasa saya ketahui. Padahal, di kebudayaan Jawa Suroboyoan ada sastra dan budaya yang bisa digali, misalnya ludruk. Ludruk adalah kesenian komedi tradisional yang biasa ditampilkan saat pesta rakyat. Salah satu artis ludruk populer di Jawa Timur adalah <a href=\"https:\/\/www.kompasiana.com\/jabbarabdullah\/550d4c9b813311c925b1e154\/perjalanan-kesenian-cak-supali\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">Supali.<\/a> Bukan main, popularitasnya bisa menyaingi playlist album pop dan dangdut di bus pariwisata. Hal-hal seperti ini jarang dibahas di sekolah karena kurikulum Jawa textbook membuat budaya lokal kurang diperhatikan. Seharusnya pelajaran muatan lokal harusnya bersifat lokal dan membuat siswa semakin menghargai budaya lokal. Setidaknya untuk kelas SD, ambillah contoh sastra lokal yang memang relatable dengan keadaan siswa.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Satu hal yang saya ambil manfaat dari belajar bahasa Jawa adalah bahasa krama. Kebetulan orang tua saya mendisiplinkan anak-anaknya untuk menggunakan bahasa krama. Walaupun pada praktiknya, krama saya masih belepotan dan sering saya tambal dengan bahasa Indonesia, saya merasa lebih classy daripada anak-anak lain yang tidak pakai bahasa krama dengan orang tua.<\/span><\/p>\n<p>Penulis: Affan Hasby Winurrahman<br \/>\nEditor: Rizky Prasetya<\/p>\n<p><strong>BACA JUGA <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/bahasa-jawa-khas-orang-kudus-yang-perlu-dipelajari-kalau-hendak-merantau-ke-kota-kretek\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">Bahasa Jawa Khas Orang Kudus yang Perlu Dipelajari Kalau Hendak Merantau ke Kota Kretek<\/a><\/strong><\/p>\n<h5><span id=\"Terminal_Mojok_merupakan_platform_User_Generated_Content_UGC_untuk_mewadahi_jamaah_mojokiyah_menulis_tentang_apa_pun_Submit_esaimu_secara_mandiri_lewat_carainiya\"><em>Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara\u00a0<a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/kirim-tulisan\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\">ini<\/a>\u00a0ya.<\/em><\/span><\/h5>\n<h5><em>Anda penulis Terminal Mojok? Silakan bergabung dengan Forum Mojok\u00a0<a href=\"https:\/\/mojok.co\/forum\/daftar\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">di sini<\/a>.<\/em><\/h5>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Kok bisa?<\/p>\n","protected":false},"author":1716,"featured_media":202593,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_lmt_disableupdate":"no","_lmt_disable":"","jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":{"source_name":"","source_url":"","via_name":"","via_url":"","override_template":"0","override":[{"template":"2","single_blog_custom":"","parallax":"1","fullscreen":"1","layout":"right-sidebar","sidebar":"default-sidebar","second_sidebar":"default-sidebar","sticky_sidebar":"1","share_position":"float","share_float_style":"share-monocrhome","show_share_counter":"1","show_view_counter":"0","show_featured":"1","show_post_meta":"1","show_post_author":"1","show_post_author_image":"1","show_post_date":"1","post_date_format":"default","post_date_format_custom":"Y\/m\/d","show_post_category":"0","show_post_reading_time":"0","post_reading_time_wpm":"300","show_zoom_button":"1","zoom_button_out_step":"3","zoom_button_in_step":"4","show_post_tag":"1","show_prev_next_post":"0","show_popup_post":"1","number_popup_post":"3","show_author_box":"1","show_post_related":"1","show_inline_post_related":"0"}],"override_image_size":"0","image_override":[{"single_post_thumbnail_size":"crop-715","single_post_gallery_size":"crop-500"}],"trending_post":"0","trending_post_position":"meta","trending_post_label":"Trending","sponsored_post":"0","sponsored_post_label":"Sponsored by","sponsored_post_name":"","sponsored_post_url":"","sponsored_post_logo_enable":"0","sponsored_post_logo":"","sponsored_post_desc":"","disable_ad":"0"},"jnews_primary_category":{"id":""},"jnews_override_counter":{"override_view_counter":"0","view_counter_number":"0","override_share_counter":"0","share_counter_number":"0","override_like_counter":"0","like_counter_number":"0","override_dislike_counter":"0","dislike_counter_number":"0"},"jnews_post_split":[],"footnotes":""},"categories":[12910],"tags":[763,352,359,18076],"class_list":["post-202425","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-pendidikan","tag-bahasa-jawa","tag-belajar","tag-sekolah","tag-suroboyoan"],"modified_by":"Rizky Prasetya","amp_enabled":true,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/202425","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1716"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=202425"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/202425\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media\/202593"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=202425"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=202425"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=202425"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}