{"id":202097,"date":"2023-01-06T13:50:05","date_gmt":"2023-01-06T06:50:05","guid":{"rendered":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/?p=202097"},"modified":"2023-01-06T13:50:05","modified_gmt":"2023-01-06T06:50:05","slug":"logat-batang-sebuah-ngapak-yang-berbeda","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/logat-batang-sebuah-ngapak-yang-berbeda\/","title":{"rendered":"Logat Batang: Sebuah Ngapak yang Berbeda"},"content":{"rendered":"<p><em>Batang punya ngapak yang berbeda ketimbang daerah Panginyongan lainnya<\/em><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Sebagai manusia kelahiran Kabupaten Batang yang merantau di Solo, kadang ketika ditanya dari mana, si penanya malah berbalik tanya. Pertanyaan seperti \u201cBatang itu mana? Masih Jawa Tengah?\u201d sudah seperti kaset rusak: berulang-ulang tanpa henti. Sebagai kewajiban, saya menjelaskan di mana posisi kabupaten saya ini. Kalau diurutkan dari timur diawali dari Semarang, Kendal, Batang, Pekalongan. Begitulah jawaban saya, sudah menjadi template!<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Tak hanya itu, ketika memakai bahasa keseharian ketika di rumah, yang mendengarkan pun kembali bertanya, \u201cLoh, mBatang ki ngapak to?\u201d Sebagai kewajiban, saya menjelaskan lagi dong. Dan kali ini saya mencoba menjelaskan kepada pembaca sekalian mengenai budaya bahasa yang ada di Batang.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Secara budaya bahasa, Kabupaten Batang dekat dengan logat ngapak atau Panginyongan. Hal ini dikarenakan wilayahnya bersebelahan dengan Banjarnegara dan Wonosobo di sebelah selatan. Pekalongan, Pemalang, Tegal, dan Brebes di sebelah barat. Oleh karena itu sebagian besar masyarakat Batang menggunakan kosakata ngapak seperti nyong untuk menyebut saya.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Tapi bagi saya, ngapak di Batang seperti punya dunia sendiri. Sebab jika dicermati dengan seksama baik logat, intonasi, dan partikel bahasa pun berbeda. Kendati sama-sama Ngapakers, terkadang saya butuh waktu untuk memahami bahasa yang dilontarkan teman-teman yang berasal dari Panginyongan utara maupun selatan. Oleh karena itu, di sini saya mencoba merinci tiga hal tersebut.<\/span><\/p>\n<h4><b>#1 Logat<\/b><\/h4>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Secara spesifik, logat memang tidak bisa dicermati dengan tulisan melainkan harus didengarkan. Tapi, izinkan saya mencoba untuk menjelaskan agar setidaknya bisa dipahami. Logat ngapak Panginyongan selatan dan utara terkesan lebih tebal daripada ngapak di Batang. Tebal di sini dalam arti ketika berbicara.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Sejauh pengamatan saya ketika teman-teman Panginyongan berbicara, kondisi mulut mereka tidak terbuka lebar. Sehingga terdengar agak tebal, bulat, dan sedikit sengau. Berbeda dengan logat Batang yang mana ketika berbicara kondisi mulutnya terbuka lebar sehingga terdengar lebih ringan dan jelas. Untuk lebih jelasnya, kalian bisa melihat, mendengarkan, dan membandingkan melalui video-video content creator dari ketiga wilayah ini. Pasti akan berbeda, saya jamin!<\/span><\/p>\n<h4><b>#2 Intonasi<\/b><\/h4>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Intonasi di sini lebih kepada nada dan penekanan-penekanan ketika berbicara. Baik Panginyongan selatan, utara, dan Batang bisa dibilang sulit untuk dibedakan. Karena ketiganya memiliki intonasi yang hampir sama. Datar di awal naik di akhir, atau datar di awal rendah di akhir. Seperti contoh &#8220;aja kaya kuwe, mbok!&#8221; atau &#8220;lah jebul ya pada bae, kak!&#8221;<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Partikel mbok dan kak bisa diucapkan dengan nada tinggi maupun rendah tergantung dengan kondisi yang terjadi. Namun, bagi saya tetap ada perbedaan antara ketiganya walaupun tipis. Tapi jujur saya bingung bagaimana menjelaskannya. Lah pokoke kayangkono, pancen paling bener nek dicontohna langsung.<\/span><\/p>\n<h4><b>#3 Partikel bahasa<\/b><\/h4>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Baik Panginyongan maupun ngapak Batang memiliki partikel bahasa yang berbeda. Namun, tidak menutup kemungkinan sama-sama digunakan di antara ketiganya. Partikel bahasa Panginyongan yang paling terkenal ialah mbok. Misalnya seperti dalam kalimat &#8220;kepriben carane, mbok?&#8221;. Mungkin sekali ada partikel-partikel lain yang digunakan. Ayo, manteman Panginyongan, tunjukkan pesonamu!<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Adapun partikel bahasa ngapak di Batang berupa kak, ra, we, si, pok. Misalnya &#8220;Ya aje sing kuwe, kak!&#8221;, &#8220;Anam we apa sing sekolah ning mBatang kae pok?&#8221;, &#8220;Yo ha&#8217;ah si Mas? Pora wis tekan kene si?&#8221;. Partikel bahasa di sini kebanyakan berfungsi untuk penegas suatu kalimat. Bahkan beberapa tak hanya berada di akhir kalimat, bisa di tengah maupun di awal kalimat.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Tak hanya ketiga hal di atas, secara umum seluruh masyarakat Panginyongan selatan dan utara menggunakan bahasa Jawa ngapak. Namun, berbeda dengan di Batang, yang mana tak semua masyarakatnya menggunakan ngapak. Masyarakat Batang Kota mayoritas menggunakan vokal \/\u00e5\/ atau nglegen\u00e5, kata &#8220;sapa&#8221; dibaca &#8220;sopo&#8221;. Berbeda dengan wilayah timur, selatan, dan sebagian tengah Kabupaten Batang yang menggunakan vokal \/a\/.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Tak hanya itu, banyak kata berakhiran vokal \/a\/ dibaca dengan vokal \/e\/ seperti dalam kata &#8220;padha bae&#8221; dibaca &#8220;padhe bae&#8221;. Bahkan di Kecamatan <a href=\"https:\/\/subah.batangkab.go.id\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">Subah,<\/a> ada desa yakni Adinuso, yang menggunakan vokal \/i\/ di beberapa kosakatanya. Misal kata &#8220;andha&#8221; dibaca &#8220;andhi&#8221;, &#8220;sega&#8221; dibaca &#8220;segi&#8221;. Bayangkan jika &#8220;ana ula mangan sega menek andha&#8221; pasti diucapkan &#8220;ana uli mangan segi menek andhi&#8221;.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Oleh karena itu, penggunaan ngapak di Batang tidak ada batas yang jelas, istilah kerennya hanya batas imajiner. Dalam satu kecamatan seluruh masyarakatnya bisa menggunakan ngapak, bisa saja tetangga desa pun sudah berbeda. Tetapi, ya ora papa n\u00e8k ora ngapak, sing penting n\u00e8k ana batire ngomong ngapak aje diguyu. Bisa nggo sinau kuwe, sinau bahasa. Wis, ngono ndeset. Happy weekend nggo kowe-kowe kab\u00e8h! Salam ngapak!\u00a0<\/span><\/p>\n<p>Penulis: Kukuh Setia Widodo<br \/>\nEditor: Rizky Prasetya<\/p>\n<p><strong>BACA JUGA <a href=\"https:\/\/mojok.co\/pojokan\/rasanya-jadi-orang-batang-yang-terpaksa-ngaku-orang-pekalongan\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">Rasanya Jadi Orang Batang yang Terpaksa Ngaku Orang Pekalongan<\/a><\/strong><\/p>\n<h5><span id=\"Terminal_Mojok_merupakan_platform_User_Generated_Content_UGC_untuk_mewadahi_jamaah_mojokiyah_menulis_tentang_apa_pun_Submit_esaimu_secara_mandiri_lewat_carainiya\"><em>Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara\u00a0<a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/kirim-tulisan\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\">ini<\/a>\u00a0ya.<\/em><\/span><\/h5>\n<h5><em>Anda penulis Terminal Mojok? Silakan bergabung dengan Forum Mojok\u00a0<a href=\"https:\/\/mojok.co\/forum\/daftar\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">di sini<\/a>.<\/em><\/h5>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Beda, mbok.<\/p>\n","protected":false},"author":2000,"featured_media":202110,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_lmt_disableupdate":"no","_lmt_disable":"","jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":{"source_name":"","source_url":"","via_name":"","via_url":"","override_template":"0","override":[{"template":"2","single_blog_custom":"","parallax":"1","fullscreen":"1","layout":"right-sidebar","sidebar":"default-sidebar","second_sidebar":"default-sidebar","sticky_sidebar":"1","share_position":"float","share_float_style":"share-monocrhome","show_share_counter":"1","show_view_counter":"0","show_featured":"1","show_post_meta":"1","show_post_author":"1","show_post_author_image":"1","show_post_date":"1","post_date_format":"default","post_date_format_custom":"Y\/m\/d","show_post_category":"0","show_post_reading_time":"0","post_reading_time_wpm":"300","show_zoom_button":"1","zoom_button_out_step":"3","zoom_button_in_step":"4","show_post_tag":"1","show_prev_next_post":"0","show_popup_post":"1","number_popup_post":"3","show_author_box":"1","show_post_related":"1","show_inline_post_related":"0"}],"override_image_size":"0","image_override":[{"single_post_thumbnail_size":"crop-715","single_post_gallery_size":"crop-500"}],"trending_post":"0","trending_post_position":"meta","trending_post_label":"Trending","sponsored_post":"0","sponsored_post_label":"Sponsored by","sponsored_post_name":"","sponsored_post_url":"","sponsored_post_logo_enable":"0","sponsored_post_logo":"","sponsored_post_desc":"","disable_ad":"0"},"jnews_primary_category":{"id":""},"jnews_override_counter":{"override_view_counter":"0","view_counter_number":"0","override_share_counter":"0","share_counter_number":"0","override_like_counter":"0","like_counter_number":"0","override_dislike_counter":"0","dislike_counter_number":"0"},"jnews_post_split":[],"footnotes":""},"categories":[1],"tags":[761,17682,2517,724],"class_list":["post-202097","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-nusantara","tag-bahasa","tag-batang","tag-logat","tag-ngapak"],"modified_by":"Rizky Prasetya","amp_enabled":true,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/202097","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/users\/2000"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=202097"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/202097\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media\/202110"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=202097"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=202097"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=202097"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}