{"id":19889,"date":"2019-11-07T13:35:14","date_gmt":"2019-11-07T06:35:14","guid":{"rendered":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/?p=19889"},"modified":"2019-11-07T13:35:43","modified_gmt":"2019-11-07T06:35:43","slug":"dilema-self-partnering-apa-enaknya-sih-berpacaran-dengan-diri-sendiri","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/dilema-self-partnering-apa-enaknya-sih-berpacaran-dengan-diri-sendiri\/","title":{"rendered":"Dilema Self-Partnering: Apa Enaknya sih Berpacaran dengan Diri Sendiri?"},"content":{"rendered":"<p>Tampaknya, kawula jomblo tanah air patut bergembira. Pasalnya istilah <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/jomblo-lebih-bahagia-setidaknya-itu-kata-bps\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\"><em>jomblo<\/em><\/a> ataupun <em>jones<\/em>\u00a0yang selama ini banyak disematkan pada mereka yang lagi <em>single<\/em> atau tidak sedang pacaran, kini telah memiliki padanan kata yang lebih legit nan <em>sophisticated<\/em>, yaitu <em>self-partnering.<\/em> Atau secara literal memiliki makna berpasangan dengan diri sendiri.<\/p>\n<p>Istilah ini mungkin sudah banyak dipakai para jomblo-jomblo elit di luar negeri, tapi baru masuk ke telinga netizen Indonesia sejak bertenggernya nama aktris <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/fanfiksi-sarana-mencurahkan-kehaluan-dan-menyulut-pertikaian-para-penggemar-fiksi\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\">Emma Watson<\/a> di jajaran paling atas <em>top-trend <\/em>Twitter pada tanggal 7 November lalu. Aktris pemeran Hermione Granger di film Harry Potter ini <a href=\"https:\/\/www.theguardian.com\/film\/2019\/nov\/06\/self-partnered-emma-watson-is-right-we-need-more-ways-to-be-single\">mengakui<\/a> dirinya masih <em>single<\/em> alias jomblo dengan gaya baru, yaitu berkencan dengan dirinya sendiri atau <em>self-partnered<\/em> saat diwawancarai oleh <em>Britsh Vogue.<br \/>\n<\/em><\/p>\n<p>Ya, Emma Watson adalah cerminan kita semua (nggak semua sih. Yang jomblo-jomblo aja, btw). Menjadi <em>self-partnered <\/em>adalah berkomitmen untuk tidak memiliki ketergantungan dengan orang lain baik secara fisik maupun emosional. Layaknya berpacaran, praktik <em>self-partnering<\/em> menuntut diri sendiri untuk selalu bahagia dan merasa berkecukupan walaupun tanpa belaian seorang pacar.<\/p>\n<p>Tapi yang menjadi keniscayaan adalah bahwa keterampilan <em>self-partnering<\/em> bukan hanya wajib dimiliki oleh jomblo saja. Mau tidak mau semua orang wajib mengembangkan keterampilan mencintai diri sendiri dengan ajeg. Sebab pada dasarnya, siapa lagi yang bisa menghargai diri sediri selain diri kita sendiri? Pengembangan <em>self-partnering<\/em> menuntut kita untuk senantiasa mandiri dan tidak bergantung pada orang lain.<\/p>\n<p>Praktik ini yang paling mudah dilakukan adalah dengan menyisihkan waktu untuk <em>me-time<\/em>. Entah itu nonton Youtube 24 jam, rebahan, naik motor keliling kota sendiri, <a href=\"https:\/\/tirto.id\/cara-mal-mal-bertahan-dari-perubahan-zaman-clXN\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\"><em>shopping <\/em>ke mall<\/a> sendirian, ataupun aktivitas lain yang dapat memanjakan keinginan kita untuk sendiri. Pada hakikatnya manusia memang dikatakan sebagai makhluk sosial, tapi tak dapat dimungkiri bahwa kita juga adalah makhluk individual yang perlu menyendiri untuk mengembangkan kemandirian.<\/p>\n<p>Terus apa enaknya sih mengencani diri sendiri? Berkencan dengan diri sendiri membangun rasa percaya diri yang tinggi dan optimisme menuju kemandirian. Berhasil untuk tidak bergantung pada orang lain adalah prestasi yang patut dibanggakan. Sebab, setiap dari diri kita pasti suatu saat akan kehilangan kebersamaan dengan orang-orang yang telah kita percaya sepenuh jiwa. Maka, <em>self-partnering <\/em>adalah latihan untuk mempersiapkan kehilangan, karena mau tidak mau perpisahan itu pasti terjadi.<\/p>\n<p>Lalu apa nggak berbahaya berlama-lama tenggelam dalam kesendirian? Nah, pertanyaan ini cukup dilematis untuk dijawab. <em>Self-partnering<\/em> kadang sering diasosiasikan dengan narsisisme atau konsep mencintai diri secara berlebihan dan cenderung egosentrik. Pada beberapa kasus yang cukup ekstrim, penganut <em>self-partnering<\/em> yang narsis berlebihan tak segan untuk menikahi dirinya sendiri (sologamy) dan kadang juga dirayakan dengan acara pernikahan mewah selayaknya acara kondangan normal.<\/p>\n<p>Karena terbiasa mandiri, penganut <em>self-partnering<\/em> kadang lupa untuk kembali percaya pada orang lain. Apalagi bagi kaum yang baru putus akibat ditinggal mantan pas lagi sayang-sayangnya. Momen-momen menyakitkan seperti itu kadang dapat memicu seseorang untuk menutup pintu hatinya. <em>Self-partnering<\/em> menyediakan kenyamanan dan kepuasan melalui rasa sayang yang diciptakan untuk diri sendiri dan kadang dapat menutup celah masuknya rasa percaya dari orang lain.<\/p>\n<p>Kembali lagi bahwa hal ini<em>\u00a0<\/em>merupakan keterampilan dasar bagi semua orang. Menjadi <em>self-partnered<\/em> tidak serta merta memutus hubungan dengan orang-orang yang selama ini ada di sekitar kita dan banyak menaruh perhatian pada kita. Berkencan dengan diri sendiri adalah jalan paling ampuh untuk membahagiakan diri di kala partner kita sedang tidak dapat ada untuk kita.<\/p>\n<p>Satu hal yang menjadi kenyataan adalah bahwa setiap orang memiliki dunianya sendiri. Sedekat apa pun kita dengan pacar atau partner kita, adalah kemustahilan bahwa dunia kita bisa benar-benar bersatu dengan dunianya. Manusia itu unik dengan pikiran dan idenya masing-masing. Terlibat dalam hubungan seperti pacaran tidak membuat dunia pacarmu menjadi duniamu juga. Kita tetap punya pikiran, keinginan, dan ide sendiri yang wajib dipenuhi diri sendiri.<\/p>\n<p>Ketika kamu sedang sedih dan ingin diperhatikan tapi pacarmu sedang <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/naik-lift-dari-pura-pura-sibuk-hingga-nahan-kentut\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\">sibuk<\/a> mengerjakan skripsinya adalah momen yang pas untuk mengembangkan keterampilan <em>self-partnering<\/em>. Tanpa harus menunggu skripsi pacar kelar, kamu bisa menyibukkan pikiranmu dengan hal-hal yang setidaknya dapat membahagiakan seperti jalan-jalan sendiri, cari makan sendiri, atau menggeluti hobimu dengan lebih tekun.<\/p>\n<p>Lalu apakah kamu siap untuk menjadi <em>self-partnered<\/em>?<\/p>\n<p><strong>BACA JUGA<\/strong> <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/beruntunglah-kalian-para-jomblo\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\">Beruntunglah Kalian Para Jomblo<\/a> atau tulisan Dicky C. Anggoro\u00a0lainnya.<\/p>\n<p>Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara\u00a0<a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/kirim-tulisan\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\">ini<\/a>\u00a0ya.<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Self-partnering adalah latihan untuk mempersiapkan kehilangan, karena mau tidak mau perpisahan itu pasti terjadi. Pada akhirnya kita akan sendirian, kan?<\/p>\n","protected":false},"author":431,"featured_media":19900,"comment_status":"closed","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_lmt_disableupdate":"","_lmt_disable":"","jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":[],"jnews_primary_category":[],"jnews_override_counter":[],"jnews_post_split":[],"footnotes":""},"categories":[8],"tags":[33,3936,4410],"class_list":["post-19889","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-featured","tag-jomblo","tag-me-time","tag-self-partnering"],"modified_by":"Audian Laili","amp_enabled":true,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/19889","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/users\/431"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=19889"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/19889\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media\/19900"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=19889"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=19889"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=19889"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}