{"id":197977,"date":"2022-12-04T12:28:01","date_gmt":"2022-12-04T05:28:01","guid":{"rendered":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/?p=197977"},"modified":"2022-12-04T12:28:01","modified_gmt":"2022-12-04T05:28:01","slug":"4-alasan-orang-bekasi-merantau-padahal-umk-nya-besar","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/4-alasan-orang-bekasi-merantau-padahal-umk-nya-besar\/","title":{"rendered":"4 Alasan Orang Bekasi Merantau padahal UMK-nya Besar"},"content":{"rendered":"<p><em>Orang Bekasi pun merantau, meski UMK kota tersebut salah satu yang paling gede. Kenapa coba?<\/em><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Untuk memperkeruh suasana pembahasan UMK atau yang umumnya lebih sering disebut UMR, saya berinisiatif untuk membahas hal tersebut juga. Tapi dari perspektif yang agak berbeda. Ketika ada orang-orang yang marah kepada pengkritik UMR rendah dan menyuruhnya merantau, maaf-maaf saja, itu mah bukan saran, melainkan kebodohan.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Sebab, merantau itu memang punya konsekuensi yang panjang, serta tak mudah juga. <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/kalau-nggak-pernah-merantau-baiknya-nggak-usah-bacot\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">Artikel ini<\/a> membahas merantau secara lengkap, jadi saya tak perlu panjang-panjang ikutan berbicara. Cuman, saya mau menambahkan satu fenomena yang sekiranya bisa mendukung argumen artikel tersebut.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Bagaimana kalau, ternyata, ada daerah yang punya UMK yang jauh lebih besar, tapi ternyata banyak warga aslinya merantau? Bekasi lah jawabannya.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Bekasi punya upah yang jauh lebih tinggi ketimbang Jogja (duh, jelas). Tapi, saya yakin kalau diperbandingkan, warga Jogja yang merantau pasti lebih sedikit ketimbang warga Bekasi. Saya aja yang asli Bekasi malah merantau ke daerah yang upahnya lebih kecil. BTW, keyakinan ini subjektif sih, jadi terima info ini with a grain of salt ya.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Lupakan soal angka, kita fokus ke masalah utama: kok bisa warga Bekasi merantau? Kotanya lho punya upah yang besar. Dan, inilah alasannya.<\/span><\/p>\n<h4><b>#1 Nggak kunjung dapet kerjaan<\/b><\/h4>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Lebih baik hujan batu di negeri sendiri daripada hujan emas di negeri orang. Adagium ini sepertinya nggak berlaku bagi orang Kota dan Kabupaten Bekasi. Lha wong gajinya tinggi, apanya yang hujan batu? Jogja tuh hujan batu. Eh, hujan clurit maksudnya. YTTA nih.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Bagi anak Bekasi, lulus dan kerja di daerah asalnya sendiri merupakan suatu impian yang ingin diwujudkan. Sayangnya, hidup nggak pernah semulus itu. Saya dan beberapa teman, banyak yang sudah melamar di berbagai perusahaan besar pada kawasan industri Cikarang. Sialnya nggak pernah dapat panggilan seleksi kerja di sana, sekali pun. Kita kalah saing.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Sepertinya inilah efek buruk dari kota yang upahnya besar: jadi tujuan penghidupan. Sebenarnya sih efek buruk ini nggak bakalan ada kalau pemerintah daerah pada peduli dengan penghidupan rakyatnya. Misal nih, naikin UMR, perbanyak infrastruktur, dan kembangin potensi. Nggak usah pake merantau lagi, stay di kampung bisa tetap hidup.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Makanya, akamsi Bekasi banyak yang merantau. Tapi, kalau bisa memilih sih, stay di kota kami aja ye kan. Maka dari itu, kalau daerahmu punya banyak (banget) lapangan pekerjaan, tapi upahnya rendah, yang diperbaiki ya harusnya upahnya dong.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Masak pager yang diperbaiki. Kan lucu.<\/span><\/p>\n<h4><b>#2 Ikut pasangan<\/b><\/h4>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Sepertinya sih, ini nggak hanya berlaku untuk orang Bekasi. \u201cAkan kuhadapi kerasnya dunia asal sama ayang\u201d adalah bahasa universal. Jadi, kalau ada orang Bekasi merantau, bisa jadi karena alasannya ini. Daripada mereka mengambil resiko untuk LDM (Long Distance Marriage). Lebih baik, salah satunya ada yang mengalah.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Mengalah demi cinta, jelas jauh lebih baik ketimbang mengalah demi investor.<\/span><\/p>\n<h4><b>#3 Mengejar passion<\/b><\/h4>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Memang benar UMK Kabupaten dan Kota Bekasi itu besar. Cuma pilihan kariernya mayoritas di <a href=\"https:\/\/finance.detik.com\/advertorial-news-block\/d-3619600\/kawasan-industri-cikarang-terbesar-di-asia-tenggara\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">perusahaan<\/a> saja. Seperti operator mesin, HRD, keuangan dan lain sebagainya.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Pilihan karier tersebut kurang cocok untuk orang-orang yang punya passion dan cita-cita di dunia seni atau entertainment. Oleh karena itu, ada teman SMA saya yang berprofesi sebagai konten kreator, dia lebih memilih merantau ke daerah lain seperti Jakarta. Karena di daerah lain, lebih banyak yang bisa dijadikan konten.<\/span><\/p>\n<h4><strong>#4 Kurang nyaman tinggal di Bekasi<\/strong><\/h4>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Nggak semua orang cocok untuk tinggal di tengah semrawutnya kota besar seperti Bekasi. Sekali pun dia lahir sampai dewasa tinggal di Kota tersebut. Terlebih, orang-orang yang sempat atau pernah merasakan tinggal di kota atau kabupaten kecil yang menerapkan gaya hidup slow living.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Begitu sekiranya, beragam alasan yang berhasil saya rangkum. Jika kamu punya alasan atau cerita lain yang membuat seseorang merantau ke daerah dengan UMK lebih rendah ketimbang daerah asalnya, silakan sampaikan pada kolom komentar di bawah ini.<\/span><\/p>\n<p>Penulis: Ahmad Arief Widodo<br \/>\nEditor: Rizky Prasetya<\/p>\n<p><strong>BACA JUGA <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/5-alasan-cikarang-adalah-tempat-yang-tepat-untuk-nyari-duit\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">5 Alasan Cikarang Adalah Tempat yang Tepat untuk Nyari Duit<\/a><br \/>\n<\/strong><\/p>\n<h5><span id=\"Terminal_Mojok_merupakan_platform_User_Generated_Content_UGC_untuk_mewadahi_jamaah_mojokiyah_menulis_tentang_apa_pun_Submit_esaimu_secara_mandiri_lewat_carainiya\"><strong><em>Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara\u00a0<a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/kirim-tulisan\/\">ini<\/a>\u00a0ya.<\/em><\/strong><\/span><\/h5>\n<h5><span id=\"Anda_penulis_Terminal_Mojok_Silakan_bergabung_dengan_Forum_Mojokdi_sini\"><strong><em>Anda penulis Terminal Mojok? Silakan bergabung dengan Forum Mojok\u00a0<a href=\"https:\/\/mojok.co\/forum\/daftar\/\">di sini<\/a>.<\/em><\/strong><\/span><\/h5>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Lho kok kebalik?<\/p>\n","protected":false},"author":1760,"featured_media":165985,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_lmt_disableupdate":"no","_lmt_disable":"","jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":{"source_name":"","source_url":"","via_name":"","via_url":"","override_template":"0","override":[{"template":"2","single_blog_custom":"","parallax":"1","fullscreen":"1","layout":"right-sidebar","sidebar":"default-sidebar","second_sidebar":"default-sidebar","sticky_sidebar":"1","share_position":"float","share_float_style":"share-monocrhome","show_share_counter":"1","show_view_counter":"0","show_featured":"1","show_post_meta":"1","show_post_author":"1","show_post_author_image":"1","show_post_date":"1","post_date_format":"default","post_date_format_custom":"Y\/m\/d","show_post_category":"0","show_post_reading_time":"0","post_reading_time_wpm":"300","show_zoom_button":"1","zoom_button_out_step":"3","zoom_button_in_step":"4","show_post_tag":"1","show_prev_next_post":"0","show_popup_post":"1","number_popup_post":"3","show_author_box":"1","show_post_related":"1","show_inline_post_related":"0"}],"override_image_size":"0","image_override":[{"single_post_thumbnail_size":"crop-715","single_post_gallery_size":"crop-500"}],"trending_post":"0","trending_post_position":"meta","trending_post_label":"Trending","sponsored_post":"0","sponsored_post_label":"Sponsored by","sponsored_post_name":"","sponsored_post_url":"","sponsored_post_logo_enable":"0","sponsored_post_logo":"","sponsored_post_desc":"","disable_ad":"0"},"jnews_primary_category":{"id":""},"jnews_override_counter":{"override_view_counter":"0","view_counter_number":"0","override_share_counter":"0","share_counter_number":"0","override_like_counter":"0","like_counter_number":"0","override_dislike_counter":"0","dislike_counter_number":"0"},"jnews_post_split":[],"footnotes":""},"categories":[1],"tags":[2840,7211,115,1418,4600],"class_list":["post-197977","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-nusantara","tag-bekasi","tag-cikarang","tag-jogja","tag-merantau","tag-umk"],"modified_by":"Rizky Prasetya","amp_enabled":true,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/197977","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1760"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=197977"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/197977\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media\/165985"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=197977"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=197977"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=197977"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}