{"id":197921,"date":"2022-12-03T08:00:12","date_gmt":"2022-12-03T01:00:12","guid":{"rendered":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/?p=197921"},"modified":"2022-12-03T01:59:01","modified_gmt":"2022-12-02T18:59:01","slug":"kalau-nggak-pernah-merantau-baiknya-nggak-usah-bacot","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/kalau-nggak-pernah-merantau-baiknya-nggak-usah-bacot\/","title":{"rendered":"Kalau Nggak Pernah Merantau, Baiknya Nggak Usah Bacot"},"content":{"rendered":"<p><span style=\"font-weight: 400;\">Perdebatan tentang upah Jogja yang merembet ke perkara merantau, makin hari makin tak jelas ujungnya. Artikel tentang <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/meskipun-upah-di-jogja-murah-saya-terpaksa-kuat-untuk-bertahan\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">tak mudahnya orang Jogja merantau<\/a> itu sebenarnya sudah menjawab jelas. Tapi, orang-orang tetap ngeyel. Masalahnya, yang ngeyel itu bukan perantau. Maka, saya merasa harus menulis tentang merantau dari perspektif pelaku, saya sendiri. Ya, saya adalah seorang perantau.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Saya sudah merantau di Jogja selama 11 tahun. Saya jelas tahu betul tentang perkara ini, setidaknya lebih tahu ketimbang para orang yang menyuruh minggat dari Jogja. Saya telah mengalami banyak hal, dan banyak hal itu membuat saya paham betul bahwa merantau sebenarnya bukan opsi, tapi keterpaksaan.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Tujuan saya merantau awalnya satu: kuliah. Dari semua pelajaran sekolah yang ada, saya hanya jago di pelajaran bahasa Inggris. Sialnya, tak banyak universitas berdiri di Wonogiri. Setahu saya, hanya ada UT, AKBID, dan <a href=\"https:\/\/id.wikipedia.org\/wiki\/Akademi_keperawatan\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">AKPER<\/a> di Wonogiri. Kampus tersebut jelas tak mengakomodir minat saya. Mau tak mau, saya harus ke Solo atau Jogja, yang masih masuk akal untuk saya jangkau.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Setelah saya lulus, saya tak bisa begitu saja pulang dan membangun desa. Skill saya tak laku di Wonogiri. Saya hanya bisa menulis (itu pun kalau tulisan saya dianggap bagus) dan menguasai sedikit hal tentang game. Mana bisa saya kerja di Wonogiri? Mau tak mau ya, saya harus merantau (lagi) ke Jogja. Sebab ya, hanya kota ini yang punya tempat untuk orang macam saya.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Merantau bukan lagi jadi opsi, tapi keharusan.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Dari titik ini saja, sudah bisa dipahami bahwa merantau, bagi saya, atau banyak orang lain, harus dilakukan karena mereka tak punya tempat. Orang-orang zaman dulu yang merantau ke kota besar, ya karena kampung mereka tak memberi ruang dan kesempatan.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Melihat alasan di atas, harusnya orang bisa paham, bahwa menyuruh orang merantau dan keluar dari Jogja itu anehnya minta ampun.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Lho, ya jelas aneh. Di sini, segala skill diterima dengan tangan terbuka. Kamu jago coding? Laris di sini. Jago bikin event? Ya memang sini tempatnya. Ingin kerja sambil main? Jadi tour guide jelas pilihan yang masuk akal. Suka bacok orang? <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/apa-itu-klitih-panduan-memahami-aktivitas-yang-mengancam-nyawa-ini\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">Klitih!<\/a><\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Masalah utama di Jogja ya pengupahan yang nggak masuk akal. Solusinya ya hanya satu: dibikin masuk akal. Pengupahan yang baik dan masuk akal, tentu meningkatkan produktivitas dari pegawai yang direkrut dan bikin perkembangan kota jadi lebih baik. Ini masalah yang harusnya diselesaikan oleh pemerintah, bukan malah diserahkan ke individu. Untuk apa negara ada jika masalah kesejahteraan diserahkan ke rakyatnya sendiri?<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Jadi jelas ya, masalah upah rendah, ya diselesaikan dengan pengupahan yang masuk akal. Bukan malah menyuruh tenaga kerja di kota ini untuk angkat kaki. Apalagi jika yang disuruh pergi malah pekerja kreatif.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Ya aneh, kan kota in memang tempatnya pekerja kreatif. Kalau menyuruh mereka pergi, sama saja membunuh industri yang dibangun dalam waktu yang tak sebentar. Ini sama saja menembak kaki sendiri.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">***<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Orang kerap lupa, bahwa merantau itu bukan urusan yang sepele. Pergi dari rumah dan berjudi dengan nasib itu masalah yang amat pelik. Syukur-syukur dadi sukses neng paran, ha nek ora?<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Sudah banyak kasus perantau yang gagal total dan hidupnya malah terjun bebas. Ada yang kualitas hidupnya tak membaik, ada yang sukses. Tapi seperti formula kehidupan pada umumnya: yang bahagia, jelas jauh lebih sedikit ketimbang yang merana.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Sungguh, merantau itu menyedihkan. Kamu berkawan dengan kesepian, mencoba mengusirnya pun percuma karena ketika kamu kembali ke petak tempatmu bernaung, kesepian kembali menyapamu.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Wajah ibumu tiba-tiba terbayang, dan kau mulai merindukan makanan sederhana bikinan ibumu yang ternyata rasanya begitu lezat. Kamu terbayang betapa kesepiannya ayahmu, yang dihinggapi kekhawatiran karena anaknya sendirian di kota orang. Saudaramu mungkin bahagia karena tak lagi harus ribut denganmu, tapi dalam hati, mereka ingin menukar tiap detik yang ada dengan kehadiranmu.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Sedangkan, di petak yang menyedihkan itu, kamu tak tahu akan berhasil atau tidak. Kamu bahkan tidak tahu besok masih hidup atau tidak. Kamu hanya berharap tak mati sendirian di petak yang berisi kesepian.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Dan akhirnya, hidupmu bergantung pada seberapa besar keteguhan hatimu. Sialnya, terkadang, hidup jauh lebih keras.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">***<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Sebagai seorang perantau, saya betul-betul paham jika orang Jogja tak merantau meski upah di kota ini lebih tepat disebut sebagai hinaan. Sebab, kota ini menyediakan semua, kecuali regulasi upah yang masuk akal. Dan itulah yang harus diperjuangkan. Jika memang tak suka dengan perjuangan tersebut, lebih baik kalian diam.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Dan tak perlulah kalian meminta orang angkat kaki untuk cari rezeki yang lebih baik. Kalian sendiri tak pernah tau rasanya merantau, diam mendekam di ketiak feodalisme dan menyambut penderitaan dengan begitu hangat. Bacot asu i.<\/span><\/p>\n<p>Penulis: Rizky Prasetya<br \/>\nEditor: Rizky Prasetya<\/p>\n<p><strong>BACA JUGA <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/upah-minimum-yogyakarta-itu-ya-harus-minimum\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">Upah Minimum Yogyakarta Itu ya Harus Minimum, Nggak Usah Berharap Naik Signifikan, Halu!<\/a><br \/>\n<\/strong><\/p>\n<h5><span id=\"Terminal_Mojok_merupakan_platform_User_Generated_Content_UGC_untuk_mewadahi_jamaah_mojokiyah_menulis_tentang_apa_pun_Submit_esaimu_secara_mandiri_lewat_carainiya\"><strong><em>Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara\u00a0<a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/kirim-tulisan\/\">ini<\/a>\u00a0ya.<\/em><\/strong><\/span><\/h5>\n<h5><span id=\"Anda_penulis_Terminal_Mojok_Silakan_bergabung_dengan_Forum_Mojokdi_sini\"><strong><em>Anda penulis Terminal Mojok? Silakan bergabung dengan Forum Mojok\u00a0<a href=\"https:\/\/mojok.co\/forum\/daftar\/\">di sini<\/a>.<\/em><\/strong><\/span><\/h5>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Bacot.<\/p>\n","protected":false},"author":777,"featured_media":184567,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_lmt_disableupdate":"no","_lmt_disable":"","jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":{"source_name":"","source_url":"","via_name":"","via_url":"","override_template":"0","override":[{"template":"2","single_blog_custom":"","parallax":"1","fullscreen":"1","layout":"right-sidebar","sidebar":"default-sidebar","second_sidebar":"default-sidebar","sticky_sidebar":"1","share_position":"float","share_float_style":"share-monocrhome","show_share_counter":"1","show_view_counter":"0","show_featured":"1","show_post_meta":"1","show_post_author":"1","show_post_author_image":"1","show_post_date":"1","post_date_format":"default","post_date_format_custom":"Y\/m\/d","show_post_category":"0","show_post_reading_time":"0","post_reading_time_wpm":"300","show_zoom_button":"1","zoom_button_out_step":"3","zoom_button_in_step":"4","show_post_tag":"1","show_prev_next_post":"0","show_popup_post":"1","number_popup_post":"3","show_author_box":"1","show_post_related":"1","show_inline_post_related":"0"}],"override_image_size":"0","image_override":[{"single_post_thumbnail_size":"crop-715","single_post_gallery_size":"crop-500"}],"trending_post":"0","trending_post_position":"meta","trending_post_label":"Trending","sponsored_post":"0","sponsored_post_label":"Sponsored by","sponsored_post_name":"","sponsored_post_url":"","sponsored_post_logo_enable":"0","sponsored_post_logo":"","sponsored_post_desc":"","disable_ad":"0"},"jnews_primary_category":{"id":""},"jnews_override_counter":{"override_view_counter":"0","view_counter_number":"0","override_share_counter":"0","share_counter_number":"0","override_like_counter":"0","like_counter_number":"0","override_dislike_counter":"0","dislike_counter_number":"0"},"jnews_post_split":[],"footnotes":""},"categories":[13087],"tags":[115,1418,13098,17702,9590],"class_list":["post-197921","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-pojok-tubir","tag-jogja","tag-merantau","tag-pilihan-redaksi","tag-tubir-mjk","tag-upah"],"modified_by":"Rizky Prasetya","amp_enabled":true,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/197921","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/users\/777"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=197921"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/197921\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media\/184567"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=197921"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=197921"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=197921"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}