{"id":197808,"date":"2022-12-02T07:00:04","date_gmt":"2022-12-02T00:00:04","guid":{"rendered":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/?p=197808"},"modified":"2022-12-02T02:05:23","modified_gmt":"2022-12-01T19:05:23","slug":"konflik-pencak-silat-madiun-tak-akan-pernah-berakhir","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/konflik-pencak-silat-madiun-tak-akan-pernah-berakhir\/","title":{"rendered":"Konflik Pencak Silat Madiun dari Cerita Pelaku: Pertempuran Tak Akan Pernah Berakhir"},"content":{"rendered":"<p><em>Konflik pesilat SH Terate dan Winongo di Madiun sepertinya tak akan berakhir, selama akar masalah tak segera diselesaikan<\/em><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Bagi masyarakat Madiun, pertikaian perguruan silat bukan lagi tragedi, ia sudah jadi wisata tahunan yang di dalamnya memuat makian, pekik ketakutan, bahkan kematian. Di tanah lahirnya 14 perguruan silat, perdamaian hanyalah khayalan, yang abadi benih pertikaian. Narasi damai hanyalah peluru diplomasi yang kian lama kian basi. Mereka berhasil mengelaborasi olahraga, seni, bela diri, dan kejernihan rohani, yapi lupa dan sering gagal dalam mewujudkan persaudaraan.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Datangnya bulan Suro bukanlah kabar bahagia bagi saya. Bulan yang penuh keberkahan yang menitikberatkan kedamaian malah jadi bulan yang mencekam dan menakutkan. Saat daerah lain merayakan Malam 1 Suro dengan ritual pembacaan doa, Madiun berani tampil beda. Kota ini merayakan suro dengan bisingnya suara knalpot. Keramaian tersebut, bahkan, bikin TPA dibubarkan sementara, agar anak-anak yang mengaji tak kenapa-kenapa.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Pencak silat, bagi warga Madiun adalah <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/branding-madiun-kampung-pesilat-indonesia-yang-berlebihan\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">cinta,<\/a> wujud cintanya terpampang oleh tugu kokoh yang ada di tiap perempatan desa, gang kecil rumah warga, serta melekat dengan kain cotton combed 24s dalam wujud kaos. Mencintai pencak silat bagi orang Madiun sama halnya dengan rasa cinta penduduk Surabaya terhadap Persebaya, rasa cinta warga Malang dengan Arema.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Saking cintanya warga Madiun terhadap pencak silat, mereka sampai lupa dengan adagium lama yang sering digembar-gemborkan sesepuhnya, \u201cBedo guru ojo nesu, tunggal guru ojo padu.\u201d Narasi perdamaian semacam ini hanya bisa diucapkan, mustahil untuk diwujudkan. Karena memang, tidak pernah serius untuk diwujudkan.<\/span><\/p>\n<p><b>Kubu Kuning vs Kubu Putih<\/b><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Hari yang tidak saya inginkan akhirnya tiba. Tenda-tenda keamanan berdiri kokoh, aparat berjaga sesuai tugasnya, Polisi dan TNI bersiap dengan strategi pengendalian masa terbaik yang telah mereka rencanakan. Warga desa pucat ketakutan, anak kecil hanya bengong dan bertanya-tanya. Dan inilah golongan yang paling membara, pemuda dengan jiwa \u201cpendekar\u201d bersiap dengan segala konsekuensi lapangan. Hari itu benar benar menakutkan, pesilat dari kubu \u201cputih\u201d bersiap di pinggir jalan untuk menunggu dan mengawasi pesilat kubu \u201ckuning\u201d yang rencananya bakal konvoi dengan tujuan akhir nyekar di makam sesepuh.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Sesuai dengan jadwal yang sudah ditentukan, pesilat kubu \u201ckuning\u201d bakal melintas di desa yang mayoritas \u201cputih\u201d pada pukul 09.00 WIB. Desa ini tak lain tak bukan ya desa saya tercinta. Beberapa pesilat berlambangkan hati bersinar dan bersiap dengan mindset \u201cmbleyer kepruk\u201d atau dalam bahasa mudahnya, kalau ada pesilat kubu \u201ckuning\u201d yang melintas dan menggeber motornya, itu pertanda genderang perang dimulai. Hal yang tidak saya inginkan akhirnya terjadi. Kira kira 09.12 WIB salah satu dari ratusan pesilat kubu \u201dkuning\u201d menggeber motornya dengan penuh bangga. Yang jelas tindakan ini memancing emosi kubu \u201cputih\u201d untuk meluapkan kebencian.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">\u201cJancok, lewat yo lewat wae, ora usah mblayer mblayer garai rusuh!\u201d, pekik makian kubu putih. Kondisi makin memanas, beberapa pesilat adu pukul, rombongan konvoi yang masih di atas motor dan tidak bersalah juga ikut ditendang. Ibu-ibu yang berdiam diri di dalam rumah akhirnya keluar dan panik. Polisi sibuk mengamankan beberapa pesilat yang arogan, pengendalian massa gagal, rumah warga rusak, darah berceceran, tangis di mana-mana.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Hal ini terus berulang dengan pola yang sama, mengedepankan ego sektoral di atas semuanya. Cerita kali ini bukan soal kubu \u201cputih\u201d yang kita kenal dengan Persaudaraan Setia Hati Terate melawan kubu \u201ckuning\u201d atau biasa disebut Persaudaraan Setia Hati Tunas Muda Winongo Madiun. Ini cerita pertikaian yang terjadi saat Subuh, saya masih ingat persis kisah ini, sebab saya ikut andil dalam pertempuran ini. Pengalaman masa kelam, bermodalkan ikut-ikutan, biar keren dan diakui tongkrongan.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Oke kita mulai. Cerita berawal saat saya dan kawan kawan desa kumpul jagongan, obrolan yang kami bahas ya obrolan pos ronda pada umumnya, hingga nyeletuklah salah satu dari kami \u201ceh, engko Pandan Alas mudun lo!\u201d Mudun di sini diartikan turun gunung. FYI, Pandan Alas Madiun ini punya Padepokan Pusat di Kecamatan Kare yang terletak pada dataran tinggi. Jadi kalau mereka habis pengesahan dan perjalanan pulang mereka bakal turun untuk kembali ke rumah.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Muncullah narasi untuk begadang sampai Subuh guna menunggu para pesilat Pandan Alas. Ingat, kami tak sekadar menunggu. Kami siap menyergap siapa saja yang mbleyer dan mengganggu tata aturan yang kami ciptakan.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Malam itu kami mengatur pola pengamanan berbalut penyerangan dengan sistematis. Ada yang turun ke tengah jalan untuk menghadapi rombongan pendekar face to face. Ada yang berjaga di gang-gang desa, ada yang bersiap di atas motor, jaga-jaga kalau nanti ada rombongan polisi yang mengejar kami.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">\u201cKalau ada yang mbleyer dan tidak dikawal polisi, sikat! Mengganggu kenyamanan desa itu namanya!\u201d<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Komando dari kawan kami pegang dengan teguh. Dan tak lama berselang, rombongan Pandan Alas datang dan tak dikawal. Terbit senyum tanpa kami sadari. Tanpa kawalan polisi, artinya, kami bisa leluasa menghajar mereka.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Yang terjadi selanjutnya adalah pertempuran, tentu saja. Suara erangan karena dihajar, dan teriakan beringas lah yang terdengar malam itu. Namun di antara semua itu, ada satu tindakan kejam yang kami lakukan. Ada \u201cmori\u201d salah satu rombongan yang dibuang kawanku ke sungai. Saya yang menyaksikan peristiwa itu tanpa sadar ikut sedih. Mori bukanlah sembarang kain bagi pendekar, ia adalah hidup dan mati, ia adalah pegangan hidup yang penuh filosofi.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Kenapa mori begitu berarti bagi para pendekar? Karena ia bukan sekadar kain. Ia memuat filosofi kehidupan, tanda perjuangan, dan pengingat kematian. Singkatnya, kain ini, adalah pengingat untuk selalu jadi manusia yang baik.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Dan pengingat akan kebaikan tersebut, dibuang ke sungai, seakan kehidupan tak ada artinya. Sejak itulah, saya tak ingin lagi ikut andil.<\/span><\/p>\n<p><em>Menyelisik akar masalah permusuhan<\/em><\/p>\n<p><!--nextpage--><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Suasana mencekam semacam ini sudah jadi makanan warga Madiun. Sejak 1980-an sampai 2000-an, kami sudah akrab dengan lemparan batu. Tragedi konflik pertikaian terbesar kedua perguruan silat ini terjadi pada dekade 1990-an. Lebih dari 20 ribu manusia terlibat dalam tragedi ini. Tak peduli teman lama atau baru, mindset-nya kalau udah konflik ya cuman dua, kita yang membunuh atau kita yang terbunuh. Dan ini serius.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Persaudaraan Setia Hati Tunas Muda Winongo Madiun dan Persaudaraan Setia Hati Terate, sejatinya punya satu guru yang sama. Kedua perguruan silat ini menginduk pada <a href=\"https:\/\/id.wikipedia.org\/wiki\/Persaudaraan_Setia_Hati_Terate\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">Ki Ngabehi Soerodiwirjo<\/a>, kita kenal dengan Eyang Suro. Eyang Suro adalah pendiri Persaudaraan Setia Hati yang berdiri pada 1903 di Winongo, Madiun. Namun, dalam perjalanannya, salah satu murid perguruan setia hati bernama Ki Hardjo Oetomo memilih \u201cberpisah\u201d mendirikan Setia Hati Terate.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Sejauh yang saya ketahui, Setia Hati Terate ini punya visi besar kalau silat harusnya lebih inklusif, bisa dinikmati dan diikuti siapa saja. Tak peduli dari golongan bangsawan atau proletar, pokoknya ada niat belajar silat ya silakan gabung.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Kesannya bagus, tapi, kenapa konflik selalu muncul?<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Akar masalahnya ada di \u201cwarga\u201d yang baru pengesahan. Dalam tataran pemimpin, kedua pimpinan pencak silat yang sering konflik ini sama sekali tidak punya masalah. Bahkan, 14 pimpinan perguruan silat yang ada di Madiun sering cangkruk ngopi bareng. Bentrokan yang terjadi sampai saat ini mayoritas disebabkan oleh gesekan murid di akar rumput. Ndlogoknya, beberapa kali konflik yang merugikan banyak pihak ini sering dipicu karena kesalahpahaman individu dengan individu lain. Malu betul, belajar silat lama lama kok duduk perkaranya karena salah paham.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Selain urusan personal, hal yang memicu konflik perguruan silat di Madiun ya karena perusakan tugu. Madiun ini layak dilabeli Kota Tugu, sebab ada ribuan tugu yang berdiri kokoh di tiap gang desa. Dan namanya tugu, musuhnya ya vandalisme. Tindakan-tindakan orang kurang kerjaan inilah yang sering jadi penyulut konflik.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Selain itu, narasi provokatif yang masif disebarkan di grup Facebook dan WhatsApp sering jadi pemicu bentrokan. Sepertinya, selain belajar nangkis tendangan, pesilat sudah seharusnya paham kiat kiat nangkis hoax.<\/span><\/p>\n<h4><b>Kedewasaan itu barang yang mahal<\/b><\/h4>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Kalau dipikir-pikir, akar masalah konflik perguruan pencak silat Madiun itu sederhana dan cenderung sepele. Masalahnya berkutat pada ketersinggungan, pelemparan batu, ego sektoral, fanatisme, vandalisme, hanya itu. Bukan hal yang ndakik-ndakik semisal perbedaan aliran pandangan dari gurunya, nilai kepercayaan kebenaran yang mereka anut.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Pokoknya, mayoritas konflik perguruan pencak silat Madiun sering dipicu oleh hal-hal kecil yang harusnya bisa selesai kalau pesilat punya pemahaman \u201cagree to disagree\u201d. Tapi sayangnya, kedewasaan bukan untuk semua orang!<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Kedamaian pencak silat Madiun hanya berhenti di tingkat pimpinan. Butuh reformasi pencak silat agar benih kedamaian bisa sampai di akar rumput. Nasihat-nasihat klise dari para sesepuh bukan lagi solusi untuk meredam konflik. Permasalahan ini nggak akan selesai dengan panggung-panggung pertemuan atau podium rekonsiliasi. Analogi bodohnya, kalau tokoh atas tidak ada masalah, penyelesaian konflik akar rumput akan lebih mudah tercapai. Tapi faktanya konflik masih terjadi sampai saat ini.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Sejak Orde Baru, posisi Terate dan Tunas Muda Winongo sudah dikendalikan untuk beberapa kepentingan. Perguruan silat adalah alat politik yang seksi karena basis massanya. Selain itu, mustahil juga berharap perdamaian bisa tercipta kalau dari pimpinannya saja masih senggol-senggolan.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Saya telanjur pesimis konflik ini bisa selesai. Dendam ini diwariskan dan seperti dirawat dari generasi ke generasi. Dendam udah jadi budaya. Memikirkan solusi pun, agaknya percuma jika memang ada yang merawat pertikaian ini. <\/span><span style=\"font-weight: 400;\">Menciptakan perdamaian di Madiun dalam konteks pencak silat memang bukan hal yang mudah, tapi akan selalu ada upaya untuk mencapainya. Dan upaya yang saya lakukan adalah pesimis.<\/span><\/p>\n<p>Dalam setiap konflik, nalar memang akan jadi hal yang dibuang pertama kali. Pelaku, tak merasakan kerugian apa pun. Tapi, di balik teriakan perang, ada orang-orang tak bersalah yang menanggung derita paling besar. Yang tak mau terlibat, selalu kena pedih paling hebat.<\/p>\n<p>Penulis: Geza Xiau<br \/>\nEditor: Rizky Prasetya<\/p>\n<p><strong>BACA JUGA <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/sisi-gelap-julukan-madiun-kota-pendekar\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">Sisi Gelap Julukan \u2018Madiun Kota Pendekar\u2019<\/a><br \/>\n<\/strong><\/p>\n<h5><span id=\"Terminal_Mojok_merupakan_platform_User_Generated_Content_UGC_untuk_mewadahi_jamaah_mojokiyah_menulis_tentang_apa_pun_Submit_esaimu_secara_mandiri_lewat_carainiya\"><strong><em>Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara\u00a0<a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/kirim-tulisan\/\">ini<\/a>\u00a0ya.<\/em><\/strong><\/span><\/h5>\n<h5><span id=\"Anda_penulis_Terminal_Mojok_Silakan_bergabung_dengan_Forum_Mojokdi_sini\"><strong><em>Anda penulis Terminal Mojok? Silakan bergabung dengan Forum Mojok\u00a0<a href=\"https:\/\/mojok.co\/forum\/daftar\/\">di sini<\/a>.<\/em><\/strong><\/span><\/h5>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Tak akan berakhir.<\/p>\n","protected":false},"author":1795,"featured_media":169371,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_lmt_disableupdate":"no","_lmt_disable":"","jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":{"source_name":"","source_url":"","via_name":"","via_url":"","override_template":"0","override":[{"template":"2","single_blog_custom":"","parallax":"1","fullscreen":"1","layout":"right-sidebar","sidebar":"default-sidebar","second_sidebar":"default-sidebar","sticky_sidebar":"1","share_position":"float","share_float_style":"share-monocrhome","show_share_counter":"1","show_view_counter":"0","show_featured":"1","show_post_meta":"1","show_post_author":"1","show_post_author_image":"1","show_post_date":"1","post_date_format":"default","post_date_format_custom":"Y\/m\/d","show_post_category":"0","show_post_reading_time":"0","post_reading_time_wpm":"300","show_zoom_button":"1","zoom_button_out_step":"3","zoom_button_in_step":"4","show_post_tag":"1","show_prev_next_post":"0","show_popup_post":"1","number_popup_post":"3","show_author_box":"1","show_post_related":"1","show_inline_post_related":"0"}],"override_image_size":"0","image_override":[{"single_post_thumbnail_size":"crop-715","single_post_gallery_size":"crop-500"}],"trending_post":"0","trending_post_position":"meta","trending_post_label":"Trending","sponsored_post":"0","sponsored_post_label":"Sponsored by","sponsored_post_name":"","sponsored_post_url":"","sponsored_post_logo_enable":"0","sponsored_post_logo":"","sponsored_post_desc":"","disable_ad":"0"},"jnews_primary_category":{"id":""},"jnews_override_counter":{"override_view_counter":"0","view_counter_number":"0","override_share_counter":"0","share_counter_number":"0","override_like_counter":"0","like_counter_number":"0","override_dislike_counter":"0","dislike_counter_number":"0"},"jnews_post_split":[],"footnotes":""},"categories":[13087],"tags":[2104,7438,7704,17719,17702,17720],"class_list":["post-197808","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-pojok-tubir","tag-konflik","tag-madiun","tag-pencak-silat","tag-sh-terate","tag-tubir-mjk","tag-winongo"],"modified_by":"Rizky Prasetya","amp_enabled":true,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/197808","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1795"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=197808"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/197808\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media\/169371"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=197808"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=197808"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=197808"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}