{"id":19766,"date":"2019-11-06T16:02:50","date_gmt":"2019-11-06T09:02:50","guid":{"rendered":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/?p=19766"},"modified":"2019-11-06T16:02:50","modified_gmt":"2019-11-06T09:02:50","slug":"belajar-menjadi-manusia-bersyukur-ala-ika-natassa","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/belajar-menjadi-manusia-bersyukur-ala-ika-natassa\/","title":{"rendered":"Belajar Menjadi Manusia Bersyukur ala Ika Natassa"},"content":{"rendered":"<p>Saya mula-mula mengetahui nama Ika Natassa dari toko buku. Saya takjub betapa berbagai judul novel karangannya berderet di rak-rak. Saya kira Ika Natassa adalah penulis sastra pilih tanding layaknya <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/seperti-dendam-utang-harus-dibayar-lunas\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\">Eka Kurniawan<\/a> atau Leila S. Chudori. Sampai suatu hari saya membaca novelnya. Saya dibuat terperangah dengan isi novelnya yang dipenuhi istilah <em>keminggris<\/em>, nama-nama produk yang harganya selangit, dan konflik yang sinetron banget.<\/p>\n<p>Tak ayal, saya tak mampu menamatkan buku itu. Sebab, tiap kali nama-nama produk tertentu macam tas atau jam tangan mahal muncul di sela cerita,<a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/saya-miskin-dilarang-ngebucin\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\"> jiwa <em>kemisqueenan<\/em><\/a> saya bangkit. Selera baca saya terlalu proletar untuk novel Ika Natassa yang kelewat borjuis.<\/p>\n<p>Bertahun-tahun saya main Twitter\u2014meski sempat vakum, sih\u2014nama Ika Natassa menjadi salah satu penulis yang paling sering saya lihat berseliwer di Twitter. Ia sudah punya seratusan ribu lebih <em>followers<\/em>, sedangkan <em>followers<\/em> saya masih bisa dihitung dengan jari. Untung saja amal perbuatan seorang manusia tak dilihat dari banyaknya <em>followers<\/em> Twitter. Kalau saja demikian, tentu saya akan tersedu-sedu dan berusaha untuk kursus memperbanyak <em>followers<\/em> kepada Ika Natassa.<\/p>\n<p>Selaras dengan buku-bukunya yang selalu <em>best seller<\/em>, tweet-tweet Ika juga tak jarang mengundang perhatian banyak orang. Sayangnya bukan dalam arti yang positif. Beberapa kali ia sempat tersandung karena mempertontonkan mental borjuisnya melalui sebuah cuitan\u2014yang mungkin tak ia sadari menyinggung banyak orang.<\/p>\n<p><em>Horang kayah<\/em> emang suka gitu, sih, ya. Ngetweet, bikin status medsos, atau <em>upload<\/em> foto yang kadang nggak peka keadaan. Misalnya dengan memamerkan kekayaan mereka dan berbangga diri sambi mengatai orang yang tak beruntung sebagai pemalas yang enggan bekerja keras. <em>Huh<\/em>, dasar.<\/p>\n<p>Yang terbaru adalah cuitan Ika Natassa yang mengungkapkan rasa bersyukurnya karena melihat orang-orang yang dulu dia kenal masih gitu-gitu aja hidupnya. Sedangkan dia semakin maju dan beruntung karena bisa kaya dengan uang hasil royalti buku dan gaji pekerjaannya yang mentereng.<\/p>\n<p>Sesungguhnya bersyukur adalah sesuatu yang baik adanya. Tapi, tunggu dulu. Tampaknya ada yang luput dari pandangan seorang Ika Natassa. Barangkali di pikiran Ika orang-orang yang dia bilang hidupnya masih gitu-gitu aja, hidup mereka susah karena mereka nggak mau bekerja keras seperti Ika Natassa. Coba saja mereka bekerja sekeras dan seproduktif Ika Natassa, pasti mereka nggak bakalan jadi orang susah dan stagnan hidupnya.<\/p>\n<p><em>Eits<\/em>, perkaranya\u2014seperti kata Dea Anugrah dalam liputan berjudul <em><a href=\"https:\/\/www.youtube.com\/watch?v=Wt9LstR3RJQ\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\">Mengurai Manggarai<\/a><\/em>, \u201cKeadaan tak pernah segampang bacot yang berjarak dari kenyataan.\u201d<\/p>\n<p>Ya, kemiskinan tak sesederhana seseorang nggak bekerja keras atau malas. Menurut <em>Tempo<\/em> dalam <a href=\"https:\/\/kolom.tempo.co\/read\/1009607\/kemiskinan-struktural-dan-bantuan-hukum\/full&amp;view=ok\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\">Kemiskinan Struktural dan Bantuan Hukum<\/a>, ada tiga sebab mengapa kemiskinan terjadi. <em>Pertama,<\/em> kemiskinan natural yang bergulir secara alami, akibat minimnya mutu manusia dan langkanya kekayaan alam. <em>Kedua,<\/em> kemiskinan kultural yang dipicu budaya atau mental yang mendorong orang hidup miskin, seperti malas bekerja, nihil kreativitas, dan absen gairah hidup untuk maju. <em>Ketiga,<\/em> kemiskinan struktural, yang dibuat tangan manusia dalam wujud kebijakan negara, sehingga lahir kesenjangan struktur ekonomi. Bisa jadi kebijakan diam-diam mengangkangi konstitusi demi kelanggengan kekuasaan, atau kebijakan yang dijadikan alat dominasi faktor produksi guna kejayaan bisnis.<\/p>\n<p>Nah, jenis ketigalah yang kenyataannya sering terjadi. Banyak orang-orang yang justru bekerja lebih keras dan lebih lama daripada kebanyakan orang tetap saja hidup susah. Ini tentu memunculkan pertanyaan di benak kita: <em>Kenapa bisa begitu? <\/em>Jawaban dari pertanyaan itu bisa sesingkat \u201cmemang begitulah adanya\u201d atau bisa juga sangat panjang dengan membawakan data dan analisa tentang ketidakbecusan pemerintah dalam mengelola distribusi ekonomi yang adil.<\/p>\n<p>Atas dasar inilah, tweet Ika Natassa menjadi tidak relevan. Tentu saja kita tidak bisa melarang Ika Natassa menjadi orang kaya dan orang yang penuh rasa syukur. Bagaimanapun, mungkin keberuntungan Ika Natassa memang didapatnya berkat kerja kerasnya seorang diri. Bukan karena memang dari orok dia sudah tajir karena bapak-ibunya konglomerat atau dia punya banyak kenalan yang memuluskan jalan hidupnya.<\/p>\n<p>Akan tetapi, menyandingkan rasa syukur atas keberuntungan hidup diri sendiri dengan kesusahan yang diderita orang lain\u2014yang mana faktor penyebabnya sangat kompleks\u2014tentu tak elok. Apalagi kalau hal itu dilakukan oleh seorang penulis yang sudah menelurkan banyak buku. Padahal kan sejak jauh-jauh hari Pramoedya Ananta Toer sudah bilang, \u201cSeorang terpelajar harus adil sejak dalam pikiran.\u201d Penulis tentu terpelajar, kan? Terlebih penulis yang pada tiap bukunya penuh dengan kosakata \u201cborjuistik\u201d.<\/p>\n<p>Tapi, ada sisi baik\u2014selalu ada sisi baik dalam tiap kontroversi\u2014yang bisa kita ambil dari tweet Ika Natassa tersebut, yaitu soal bersyukur. Walaupun caranya agak norak dan menyakiti banyak orang, paling tidak Ika Natassa sudah berusaha mengajarkan kepada kita pentingnya bersyukur. Kita memang harus banyak-banyak bersyukur walau hidup kita tak seenak hidup Ika Natassa.<\/p>\n<p><strong>BACA JUGA<\/strong> <a href=\"https:\/\/mojok.co\/yms\/ulasan\/pojokan\/menjadi-bijaksana-seperti-ika-natassa\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\">Menjadi Bijaksana Seperti Ika Natassa<\/a>\u00a0atau tulisan\u00a0<a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/author\/erwinsetia\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\">Erwin Setia<\/a>\u00a0lainnya.<\/p>\n<p>Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara\u00a0<a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/kirim-tulisan\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\">ini<\/a>\u00a0ya.<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Yang terbaru adalah cuitan Ika Natassa yang mengungkapkan rasa bersyukurnya karena melihat orang-orang yang dulu dia kenal masih gitu-gitu aja hidupnya.<\/p>\n","protected":false},"author":21,"featured_media":19779,"comment_status":"closed","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_lmt_disableupdate":"","_lmt_disable":"","jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":[],"jnews_primary_category":[],"jnews_override_counter":[],"jnews_post_split":[],"footnotes":""},"categories":[8],"tags":[3134,2456,4396,421],"class_list":["post-19766","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-featured","tag-bersyukur","tag-eka-kurniawan","tag-ika-natassa","tag-twitter"],"modified_by":"Audian Laili","amp_enabled":true,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/19766","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/users\/21"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=19766"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/19766\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media\/19779"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=19766"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=19766"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=19766"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}