{"id":197136,"date":"2022-12-02T15:00:30","date_gmt":"2022-12-02T08:00:30","guid":{"rendered":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/?p=197136"},"modified":"2022-12-02T15:08:42","modified_gmt":"2022-12-02T08:08:42","slug":"sisi-gelap-dunia-kerja-jepang-memahami-karoushi-dan-burakku-kigyou","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/sisi-gelap-dunia-kerja-jepang-memahami-karoushi-dan-burakku-kigyou\/","title":{"rendered":"Sisi Gelap Dunia Kerja Jepang: Memahami Karoushi dan Burakku Kigyou"},"content":{"rendered":"<div>\n<p class=\"p1\"><span class=\"s2\">Dunia kerja memang memiliki banyak sisi gelap yang tak bisa dimungkiri. <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/upah-kerja-rendah-di-yogyakarta-siapa-yang-paling-menderita\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">Upah renda<\/a>h, eksploitasi tenaga kerja yang tak manusiawi, sampai kekerasan mental dan fisik di tempat kerja seolah jadi hal biasa. Tak terkecuali dunia kerja di Jepang. Di balik majunya Jepang dan terkenal sebagai negara pekerja keras, tetap saja budaya kerjanya menyisakan persoalan pelik yang bisa mengancam nyawa pekerja itu sendiri. Dua hal yang jadi momok dunia kerja Jepang adalah karoushi dan burakku kigyou<\/span><span class=\"s2\">.<\/span><\/p>\n<\/div>\n<div>\n<h4 class=\"p2\"><strong><span class=\"s4\">Apa itu <\/span><span class=\"s4\"><span lang=\"EN-US\">karoushi dan <\/span><\/span><span class=\"s4\">burakku kigyou?<\/span><\/strong><\/h4>\n<\/div>\n<div>\n<p class=\"p3\"><span class=\"s2\"><span lang=\"EN-US\">Karoushi berasal dari kata <\/span><\/span><span class=\"s2\"><span lang=\"JA\">\u904e\u52b4<\/span><\/span> <span class=\"s2\"><span lang=\"EN-US\">(bekerja lebih) dan <\/span><\/span><span class=\"s2\"><span lang=\"JA\">\u6b7b<\/span><\/span> <span class=\"s2\"><span lang=\"EN-US\">(kematian), sehingga bisa diartikan sebagai kematian akibat bekerja berlebihan. Meskipun standar jam kerja adalah 40 jam per minggu, faktanya pekerja Jepang bisa bekerja<a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/tag\/lembur\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\"> lembur<\/a> ratusan jam per bulan. Artinya, dalam satu hari mereka bisa lembur hingga lebih dari 4 jam dan pulang sampai larut malam. Ada banyak kasus pekerja dalam dunia kerja Jepang yang tidur hanya 3 jam dalam sehari, dan bahkan terpaksa menginap di kantor.<\/span><\/span><\/p>\n<\/div>\n<div>\n<p class=\"p3\"><span class=\"s2\">Sementara itu, burakku kigyou atau black company adalah perusahaan yang mengeksploitasi pekerjanya secara berlebihan. Sebuah perusahaan dikatakan <\/span><span class=\"s3\">burakku kigyou<\/span><span class=\"s2\"> jika<\/span> <span class=\"s2\">mempekerjakan karyawan dan memaksa mereka bekerja lembur <\/span><span class=\"s2\"><span lang=\"EN-US\">berlebihan <\/span><\/span><span class=\"s2\">tanpa<\/span><span class=\"s2\"><span lang=\"EN-US\"> gaji dan<\/span><\/span><span class=\"s2\"> upah<\/span><span class=\"s2\"><span lang=\"EN-US\"> lembur<\/span><\/span><span class=\"s2\"> yang memadai, serta melecehkan atau mengintimidasi <\/span><span class=\"s2\"><span lang=\"EN-US\">pekerja <\/span><\/span><span class=\"s2\">secara verbal maupun fisik.<\/span><\/p>\n<\/div>\n<div>\n<p class=\"p3\"><span class=\"s2\">Meskipun sasaran utama burakku kigyou ini adalah karyawan baru, banyak juga karyawan kontrak yang jadi korban. Biasanya para karyawan ini merasa takut kalau kontrak mereka nggak diperpanjang sehingga mereka rela disuruh ini itu demi status pekerjaannya<\/span><span class=\"s2\">.<\/span><span class=\"apple-converted-space\">\u00a0<\/span><\/p>\n<\/div>\n<div>\n<p class=\"p3\"><span class=\"s2\">Selain <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/tag\/karyawan-baru\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">karyawan baru<\/a> dan karyawan kontrak, karyawan paruh waktu juga sering menjadi korban. Mereka nggak memiliki kontrak kerja yang lebih pasti sehingga bisa dengan mudah &#8220;dimanfaatkan&#8221;. Apalagi karyawan paruh waktu biasanya merupakan mahasiswa yang butuh pengalaman kerja untuk isian CV-nya<\/span><span class=\"apple-converted-space\">\u00a0<\/span><\/p>\n<\/div>\n<div>\n<p class=\"p3\"><span class=\"s2\">Meski begitu, bukan berarti karyawan tetap maupun senior nggak akan mengalami intimidasi ini, ya. Dengan dalih promosi jabatan, mereka juga biasanya mudah dieksploitasi. Jadi, praktik eksploitasi ini pada dasarnya bisa terjadi pada siapa saja dalam dunia kerja Jepang<\/span><span class=\"s2\">.<\/span><\/p>\n<\/div>\n<div>\n<h4 class=\"p2\"><strong><span class=\"s4\">Kasus paling fenomenal dalam dunia kerja Jepang<\/span><\/strong><\/h4>\n<\/div>\n<div>\n<p class=\"p3\"><span class=\"s4\">Pada Agustus 2012, seorang insinyur pria berusia 28 tahun di Perusahaan Nagoya Works bunuh diri karena terlalu banyak bekerja. Pada tahun 2011, dia ditunjuk s<\/span><span class=\"s4\"><span lang=\"EN-US\">ebagai<\/span><\/span> <span class=\"s4\">p<\/span><span class=\"s4\"><span lang=\"EN-US\">en<\/span><\/span><span class=\"s4\">anggung jawab atas proyek pengembangan sistem. Sayangnya proyek tersebut bermasalah sehingga dia gagal memenuhi jadwal penyelesaian proyek. Akhirnya dia bekerja lembur lebih dari 100 jam sebulan selama beberapa bulan untuk menebus penundaan tersebut. Namun, dia mengalami gangguan mental<\/span><span class=\"s4\">.<\/span> <span class=\"s4\">Pada Desember 2014, kasusnya dilaporkan sebagai kecelakaan kerja.<\/span><\/p>\n<\/div>\n<div>\n<p class=\"p3\"><span class=\"s4\">Ada juga kasus lima karyawan pria di Mitsubishi Electric Corporation Jepang yang mengalami gangguan jiwa dan gangguan otak akibat jam kerja yang panjang. Mereka adalah insinyur atau peneliti pengembangan sistem. Dua orang di antaranya bunuh diri karena terlalu banyak bekerja, tetapi dilaporkan sebagai kecelakaan kerja.<\/span><\/p>\n<\/div>\n<div>\n<p class=\"p3\"><span class=\"s4\">Seorang karyawan pria pabrik jaringan perusahaan <\/span><span class=\"s4\"><span lang=\"EN-US\">di <\/span><\/span><span class=\"s4\">Amagasaki<\/span><span class=\"s4\"><span lang=\"EN-US\"> (<\/span><\/span><span class=\"s4\">Hyogo) juga bunuh diri karena terlalu banyak bekerja pada Februari 2016 silam. Sekitar empat bulan sebelum kematiannya, dia bekerja lembur hingga lima kali lipat dari sebelumnya menjadi 80 jam per bulan. Pada Juni 2017, dia dilaporkan kecelakaan karena mengalami <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/tag\/gangguan-mental\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">gangguan mental<\/a>.<\/span><span class=\"apple-converted-space\">\u00a0<\/span><\/p>\n<\/div>\n<div>\n<p class=\"p3\"><span class=\"s4\">Kasus terkenal lainnya adalah Mina Mori, seorang karyawati 26 tahun dari jaringan restoran Watami. Ia bunuh diri setelah dua bulan bergabung pada tahun 2008. Keluarganya mengajukan keluhan ke Kantor Standar Tenaga Kerja Yokosuka untuk meminta pengakuan bunuh diri terkait pekerjaan, tetapi ditolak. Mereka kemudian mengajukan banding ke Biro Tenaga Kerja Prefektur Kanagawa dan mengakui stres terkait pekerjaan sebagai penyebab penurunan kesehatan mental Mina Mori. Pada<\/span> <span class=\"s4\">Desember 2015, Watami membayar kompensasi sebesar 130 juta yen <\/span><span class=\"s4\"><span lang=\"EN-US\">kepada keluarga Mina Mori, <\/span><\/span><span class=\"s4\">dan pendiri Watami<\/span><span class=\"s4\"><span lang=\"EN-US\">, <\/span><\/span><span class=\"s4\">Miki Watanabe<\/span><span class=\"s4\"><span lang=\"EN-US\">,<\/span><\/span><span class=\"s4\"> meminta maaf.<\/span><\/p>\n<\/div>\n<div>\n<p class=\"p3\"><span class=\"s4\">Seorang karyawati Dentsu, Takahas<\/span><span class=\"s4\"><span lang=\"EN-US\">hi<\/span><\/span><span class=\"s4\"> Matsuri<\/span><span class=\"s4\"><span lang=\"EN-US\"> yang berusia 24 tahun<\/span><\/span><span class=\"s4\">\u00a0juga melakukan bunuh diri karena terlalu banyak bekerja. Ia &#8220;dipaksa&#8221; bekerja berjam-jam, bahkan lemburnya mencapai 105 jam pada bulan Oktober 2015. Ia <\/span><span class=\"s2\">mengakhiri hidupnya dengan cara melompat dari jendela asrama pada 25 Desember 2015.<\/span><span class=\"s2\"><span lang=\"EN-US\"> Kasus ini sempat heboh karena sebelum kematiannya, Takahashi Matsuri <a href=\"https:\/\/www.theguardian.com\/world\/2017\/oct\/05\/japanese-woman-dies-overwork-159-hours-overtime\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">sempat mengeluh di Twitter<\/a>.<\/span><\/span><\/p>\n<\/div>\n<div>\n<p class=\"p3\"><span class=\"s2\">Kasus kematian akibat kelelahan bekerja atau dikenal dengan <\/span><span class=\"s3\">karoushi<\/span><span class=\"s2\"> dari tahun 2016 sampai 2019 di Jepang berjumlah 925 kasus.<\/span><span class=\"s4\"> Mengerikan, ya?<\/span><\/p>\n<\/div>\n<div>\n<h4 class=\"p2\"><strong><span class=\"s4\">Most Evil Corporation of The Year Award<\/span><\/strong><\/h4>\n<\/div>\n<div>\n<p class=\"p3\"><span class=\"s2\">Meski<\/span><span class=\"s2\"><span lang=\"EN-US\">pun kedengarannya sangat aneh, setiap tahun di Jepang ada semacam &#8220;award&#8221; yang digunakan untuk menilai mana perusahaan Jepang yang paling jahat. Penghargaan ini diadakan pertama kali pada tahun 2012 lalu.<\/span><\/span><\/p>\n<\/div>\n<div>\n<p class=\"p3\"><span class=\"s2\">Penghargaan perusahaan terjahat dalam dunia kerja Jepang pada tahun 2012 diberikan kepada TEPCO (Tokyo Electric Power Company Holdings Incorporated), tahun 2013 Watami Food Service, tahun 2014 Yamada Holdings Co, Ltd., tahun 2015 Seven Eleven Japan Co, Ltd., tahun 2016 Dentsu Inc., tahun 2017 Hikkoshisha, dan tahun 2018 Mitsubishi Electric Corporation. Selama pandemi Covid-19 penghargaan <\/span>Most Evil Corporation of The Year Award ini ditiadakan dan belum ada informasi terbaru hingga kini.<\/p>\n<\/div>\n<div>\n<p class=\"p3\"><span class=\"s4\">Walaupun perusahaan-perusahaan tersebut akhirnya mendapat rekomendasi dari pemerintah untuk melakukan perbaikan, tetap saja kultur <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/6-budaya-kerja-jepang-yang-bikin-geleng-geleng-kepala\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">budaya kerja Jepang<\/a> sangat sulit untuk diubah.<\/span><\/p>\n<\/div>\n<div>\n<h4 class=\"p2\"><strong><span class=\"s4\">Lantas, bagaimana?<\/span><\/strong><\/h4>\n<\/div>\n<div>\n<p class=\"p3\"><span class=\"s4\">Kebanyakan perusahaan Jepang nggak bisa mencegah terulangnya &#8220;kecelakaan kerja&#8221; yang menyebabkan kematian pekerjanya ini. Meskipun mereka tahu juga bahwa penyebab pekerjanya bunuh diri adalah karena terlalu banyak bekerja. <\/span><\/p>\n<p class=\"p3\"><span class=\"s4\">Perusahaan Dentsu misalnya, mereka <\/span><span class=\"s4\">masih memiliki semboyan perusahaan yang disebut &#8220;Oni Jusoku&#8221; (sepuluh aturan setan) hingga saat ini yang berarti karyawan harus bekerja sendiri, nggak diberikan pada orang lain, dan nggak menyeret orang lain. Mereka juga memiliki motto yang nggak manusiawi seperti &#8220;jangan lepaskan meskipun terbunuh sampai tujuan selesai&#8230;&#8221; sehingga pekerja jadi terintimidasi.<\/span><\/p>\n<\/div>\n<div>\n<p class=\"p3\"><span class=\"s4\">Begitu juga dengan calon karyawan yang tetap <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/tag\/melamar-pekerjaan\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">melamar pekerjaan<\/a> di perusahaan yang memiliki reputasi buruk. Demi prestis misalnya, atau<\/span><span class=\"s4\"><span lang=\"EN-US\"> demi<\/span><\/span><span class=\"s4\"> gaji idamannya. Meskipun tak dipaksa secara langsung<\/span><span class=\"s4\"><span lang=\"EN-US\"> oleh atasan<\/span><\/span><span class=\"s4\">, lingkungan kerja<\/span><span class=\"s4\"><span lang=\"EN-US\"> dan tuntutan pekerjaan akan<\/span><\/span><span class=\"s4\"> membuat <\/span><span class=\"s4\"><span lang=\"EN-US\">para <\/span><\/span><span class=\"s4\">p<\/span><span class=\"s4\"><span lang=\"EN-US\">ekerja Jepang ini<\/span><\/span><span class=\"s4\"> bersaing sengit.<\/span><\/p>\n<\/div>\n<div>\n<p class=\"p3\"><span class=\"s4\">Jadi, seberapa keras pemerintah Jepang mengubah UU ketenagakerjaan dan membatasi jam lembur sekalipun agar nggak ada lagi kasus karoushi, budaya kerja Jepang <\/span><span class=\"s4\"><span lang=\"EN-US\">yang sudah turun temurun itu <\/span><\/span><span class=\"s4\">tak akan mudah diubah begitu saja. Mungkin kalau digalakkan semboyan &#8220;pulang teng<\/span><span class=\"s4\"><span lang=\"EN-US\">go<\/span><\/span><span class=\"s4\"> itu keren&#8221;, bisa saja sih berubah. Tapi entah kapan itu akan terjadi<\/span><span class=\"s4\"><span lang=\"EN-US\">, nggak ada yang tahu.<\/span><\/span><\/p>\n<p>Penulis: Primasari N. Dewi<br \/>\nEditor: Intan Ekapratiwi<\/p>\n<p><strong>BACA JUGA <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/6-budaya-kerja-jepang-yang-bikin-geleng-geleng-kepala\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">6 Budaya Kerja Jepang yang Bikin Geleng-geleng Kepala<\/a>.<\/strong><\/p>\n<h5><span id=\"Terminal_Mojok_merupakan_platform_User_Generated_Content_UGC_untuk_mewadahi_jamaah_mojokiyah_menulis_tentang_apa_pun_Submit_esaimu_secara_mandiri_lewat_carainiya\"><em>Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara\u00a0<a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/kirim-tulisan\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\">ini<\/a>\u00a0ya.<\/em><\/span><\/h5>\n<h5><em>Anda penulis Terminal Mojok? Silakan bergabung dengan Forum Mojok\u00a0<a href=\"https:\/\/mojok.co\/forum\/daftar\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">di sini<\/a>.<\/em><\/h5>\n<\/div>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Serem.<\/p>\n","protected":false},"author":1543,"featured_media":197900,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_lmt_disableupdate":"no","_lmt_disable":"","jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":{"source_name":"","source_url":"","via_name":"","via_url":"","override_template":"0","override":[{"template":"2","single_blog_custom":"","parallax":"1","fullscreen":"1","layout":"right-sidebar","sidebar":"default-sidebar","second_sidebar":"default-sidebar","sticky_sidebar":"1","share_position":"float","share_float_style":"share-monocrhome","show_share_counter":"1","show_view_counter":"0","show_featured":"1","show_post_meta":"1","show_post_author":"1","show_post_author_image":"1","show_post_date":"1","post_date_format":"default","post_date_format_custom":"Y\/m\/d","show_post_category":"0","show_post_reading_time":"0","post_reading_time_wpm":"300","show_zoom_button":"1","zoom_button_out_step":"3","zoom_button_in_step":"4","show_post_tag":"1","show_prev_next_post":"0","show_popup_post":"1","number_popup_post":"3","show_author_box":"1","show_post_related":"1","show_inline_post_related":"0"}],"override_image_size":"0","image_override":[{"single_post_thumbnail_size":"crop-715","single_post_gallery_size":"crop-500"}],"trending_post":"0","trending_post_position":"meta","trending_post_label":"Trending","sponsored_post":"0","sponsored_post_label":"Sponsored by","sponsored_post_name":"","sponsored_post_url":"","sponsored_post_logo_enable":"0","sponsored_post_logo":"","sponsored_post_desc":"","disable_ad":"0"},"jnews_primary_category":{"id":""},"jnews_override_counter":{"override_view_counter":"0","view_counter_number":"0","override_share_counter":"0","share_counter_number":"0","override_like_counter":"0","like_counter_number":"0","override_dislike_counter":"0","dislike_counter_number":"0"},"jnews_post_split":[],"footnotes":""},"categories":[13086],"tags":[315,17735,2710,1213,17734,13617,15700],"class_list":["post-197136","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-luar-negeri","tag-bunuh-diri","tag-burakku-kigyou","tag-dunia-kerja","tag-jepang","tag-karoushi","tag-lembur","tag-sisi-gelap"],"modified_by":"Intan Ekapratiwi","amp_enabled":true,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/197136","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1543"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=197136"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/197136\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media\/197900"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=197136"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=197136"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=197136"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}