{"id":196929,"date":"2022-11-26T07:00:12","date_gmt":"2022-11-26T00:00:12","guid":{"rendered":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/?p=196929"},"modified":"2026-01-07T00:23:02","modified_gmt":"2026-01-06T17:23:02","slug":"hari-tanpa-belanja-sedunia-catatan-aktivitas-belanja-online-di-indonesia","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/hari-tanpa-belanja-sedunia-catatan-aktivitas-belanja-online-di-indonesia\/","title":{"rendered":"Hari Tanpa Belanja Sedunia: Catatan Aktivitas Belanja Online di Indonesia"},"content":{"rendered":"<p><span style=\"font-weight: 400;\">Tak banyak yang tahu bahwa tanggal 26 November diperingati sebagai Hari Tanpa Belanja Sedunia. Dibanding hari tersebut, sebagai konsumen, saya lebih familier dengan promo tanggal kembar. Pasalnya, festival belanja tanggal kembar makin diminati masyarakat Indonesia, terutama karena adanya promo <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/gratis-ongkir-belanja-online-orang-luar-jawa-cant-relate\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">gratis ongkos kirim<\/a>.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Faktanya, pasca-pandemi Covid-19, orang Indonesia makin suka belanja <\/span><span style=\"font-weight: 400;\">online<\/span><span style=\"font-weight: 400;\">. Lantas bagaimana dengan satu hari spesial tanpa belanja ini? Mampukah kita menahan diri untuk nggak <\/span><span style=\"font-weight: 400;\">check out<\/span><span style=\"font-weight: 400;\"> atau bahkan sekadar <\/span><span style=\"font-weight: 400;\">stalking<\/span> <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/tag\/online-shop\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\"><span style=\"font-weight: 400;\">online<\/span> <span style=\"font-weight: 400;\">shop<\/span><\/a><span style=\"font-weight: 400;\"> favorit? Bahkan dalam jangka panjang, mampukah kita menjadi pembeli yang cerdas saat melakukan transaksi <\/span><span style=\"font-weight: 400;\">online<\/span><span style=\"font-weight: 400;\">?<\/span><\/p>\n<h4><b>Hari Tanpa Belanja Sedunia<\/b><\/h4>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Hari Tanpa Belanja atau <\/span><span style=\"font-weight: 400;\">Buy Nothing Day<\/span><span style=\"font-weight: 400;\"> dimulai di Kanada dan diperkenalkan pertama kali oleh Ted Dave pada September 1992. Hari setelah <\/span><span style=\"font-weight: 400;\">Thanksgiving<\/span><span style=\"font-weight: 400;\"> ini menjadi hari protes dari gerakan melawan konsumerisme.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Kampanye <\/span><span style=\"font-weight: 400;\">Buy Nothing <\/span><span style=\"font-weight: 400;\">bertujuan untuk memprotes festival belanja <\/span><span style=\"font-weight: 400;\">Black Friday<\/span><span style=\"font-weight: 400;\">. <\/span><span style=\"font-weight: 400;\">Fyi<\/span><span style=\"font-weight: 400;\">, <\/span><span style=\"font-weight: 400;\">Black Friday ini<\/span><span style=\"font-weight: 400;\"> adalah satu hari belanja paling populer di Amerika Serikat. Para peserta dari gerakan ini bertekad menahan diri untuk nggak membeli apa-apa selama 24 jam.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Pada dasarnya, Hari Tanpa Belanja Sedunia dirayakan untuk meningkatkan kesadaran akan konsumerisme yang berlebihan. <\/span><span style=\"font-weight: 400;\">Hari Tanpa Belanja ini juga <\/span><span style=\"font-weight: 400;\">mengingatkan kita untuk jangan terpikat pada pembelian impulsif, apalagi berutang hanya untuk membeli sesuatu yang nggak dibutuhkan.<\/span><\/p>\n<h4><b>Hobi belanja bukan monopoli perempuan<\/b><\/h4>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Istilah <\/span><span style=\"font-weight: 400;\">shopaholic <\/span><span style=\"font-weight: 400;\">yang merujuk ke orang yang gemar berbelanja mungkin lebih melekat kepada perempuan. Hasil riset dari <\/span><a href=\"https:\/\/ejournal.iwima.ac.id\/index.php\/ictech\/article\/view\/237#:~:text=%E2%80%9CKilas%20Balik?:%20Highlight%20Belanja%20Online%20Indonesia.%E2%80%9D%20Iprice.Co.Id.%20https:\/\/iprice.co.id\/trend\/insights\/laporan%2Dhighlight%2Dbelanja%2Donline%2Dindonesia%2Dtahun%2D2021\/.\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\"><span style=\"font-weight: 400;\">I-Price <\/span><\/a><span style=\"font-weight: 400;\">menunjukkan bahwa sejak pandemi, perempuan semakin gemar belanja <\/span><span style=\"font-weight: 400;\">online<\/span><span style=\"font-weight: 400;\"> dibandingkan laki-laki. Persentase perempuan yang berbelanja <\/span><span style=\"font-weight: 400;\">online<\/span><span style=\"font-weight: 400;\"> terus meningkat dari 46% pada 2019 menjadi 51% pada 2020 dan 53% pada 2021.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Namun bukan berarti laki-laki nggak menyukai belanja <\/span><span style=\"font-weight: 400;\">online<\/span><span style=\"font-weight: 400;\">. Sebab, riset <\/span><a href=\"https:\/\/databoks.katadata.co.id\/datapublish\/2022\/07\/06\/survei-kredivo-kic-laki-laki-lebih-sering-transaksi-di-e-commerce-ketimbang-perempuan\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\"><span style=\"font-weight: 400;\">Katadata Insight Center<\/span><\/a><span style=\"font-weight: 400;\"> menunjukkan, pada tahun 2021 pria lebih mendominasi transaksi <\/span><span style=\"font-weight: 400;\">e-commerce<\/span><span style=\"font-weight: 400;\"> di Indonesia. Proporsi belanja <\/span><span style=\"font-weight: 400;\">online<\/span><span style=\"font-weight: 400;\"> yang dilakukan oleh laki-laki mencapai 62%, sementara perempuan ada di angka 38%.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Ini membuktikan bahwa aktivitas belanja hanya lekat dengan perempuan adalah mitos. Menariknya, meski perempuan dan laki-laki memiliki perilaku konsumsi yang berbeda. Jurnal bertajuk <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">Men Buy, Women Shop: Gender Priorities Influencing Buying Behavior <\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">menemukan bahwa perempuan menjadi konsumen yang lebih cerdas daripada laki-laki.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Laki-laki ternyata lebih boros dengan rata-rata pengeluaran sebesar Rp320.982, sedangkan perempuan rata-rata hanya menghabiskan uang sekitar Rp289.163. Perempuan lebih suka meluangkan waktu untuk melihat <\/span><span style=\"font-weight: 400;\">review<\/span><span style=\"font-weight: 400;\"> dan membandingkan harga antar-produk serupa. Meskipun begitu, belum tentu belanja <\/span><span style=\"font-weight: 400;\">online<\/span><span style=\"font-weight: 400;\"> dapat menjadi cara yang bijak untuk menghabiskan uang, lho. Tapi siapa sih yang nggak tergiur promo belanja <\/span><span style=\"font-weight: 400;\">online<\/span><span style=\"font-weight: 400;\">?<\/span><\/p>\n<h4><b>Harga coret jebakan diskon palsu<\/b><\/h4>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Tren belanja <\/span><span style=\"font-weight: 400;\">online<\/span><span style=\"font-weight: 400;\"> melalui <\/span><a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/tag\/e-commerce\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\"><span style=\"font-weight: 400;\">e-commerce<\/span><\/a><span style=\"font-weight: 400;\"> di Indonesia diproyeksikan terus meningkat. Berdasarkan analisis <\/span><a href=\"https:\/\/redseer.com\/reports\/consumer-internet-in-indonesia\/?_x_tr_sl=en&amp;_x_tr_tl=id&amp;_x_tr_hl=id&amp;_x_tr_pto=sc\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\"><span style=\"font-weight: 400;\">Redseer<\/span><\/a><span style=\"font-weight: 400;\">, nilai transaksi <\/span><span style=\"font-weight: 400;\">e-commerce<\/span><span style=\"font-weight: 400;\"> Indonesia antara tahun 2020-2025 diperkirakan mencapai USD 137,5 miliar.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Sayangnya, di balik pertumbuhan hobi belanja <\/span><span style=\"font-weight: 400;\">online<\/span><span style=\"font-weight: 400;\">, jebakan diskon palsu kerap mengisi ruang-ruang <\/span><span style=\"font-weight: 400;\">User Interface<\/span><span style=\"font-weight: 400;\"> (UI) <\/span><span style=\"font-weight: 400;\">marketplace<\/span><span style=\"font-weight: 400;\">. Diskon palsu sering kali digunakan para <\/span><span style=\"font-weight: 400;\">seller<\/span><span style=\"font-weight: 400;\"> sebagai strategi marketing. Sebut saja situs belanja <\/span><span style=\"font-weight: 400;\">online<\/span><span style=\"font-weight: 400;\"> Lazada mengaku kecolongan meloloskan penjual nakal yang berani pasang diskon palsu pada <\/span><span style=\"font-weight: 400;\">event<\/span><span style=\"font-weight: 400;\"> Harbolnas 2015 lalu.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Mengapa ini dianggap masalah? Adanya diskon palsu membuat harga produk yang dijual seolah lebih murah. Padahal penjual menaikkan harga produknya terlebih dulu loh, bahkan tak jarang lebih mahal dari harga normal.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Strategi marketing yang banyak dipilih ini memang punya alasan yang cukup kuat. Dalam riset <\/span><a href=\"https:\/\/www.behavioraleconomics.com\/resources\/mini-encyclopedia-of-be\/pain-of-paying\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\"><span style=\"font-weight: 400;\">Pain of Paying<\/span><\/a><span style=\"font-weight: 400;\"> disebutkan ketika akan <\/span><a href=\"https:\/\/www.behavioraleconomics.com\/resources\/mini-encyclopedia-of-be\/pain-of-paying\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\"><span style=\"font-weight: 400;\">membeli<\/span><\/a><span style=\"font-weight: 400;\"> sebuah produk, pembeli merasa sedih atau sakit. Makanya <\/span><span style=\"font-weight: 400;\">seller-seller <\/span><span style=\"font-weight: 400;\">nakal ini membuat trik diskon palsu agar menarik minat pembeli tanpa merasakan emosi negatif itu ketika memutuskan membelinya.\u00a0<\/span><\/p>\n<h4><b>Mystery box memang misterius<\/b><\/h4>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Selain harga coret, <\/span><span style=\"font-weight: 400;\">seller<\/span><span style=\"font-weight: 400;\"> semakin panjang akal menemukan cara licik agar produknya yang kurang laku menjadi terjual. Contoh lainnya, program <\/span><span style=\"font-weight: 400;\">mystery box<\/span><span style=\"font-weight: 400;\"> yang menawarkan hadiah <\/span><span style=\"font-weight: 400;\">handphone<\/span><span style=\"font-weight: 400;\">.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Gimana nggak menarik, untuk dapat HP yang katanya asli ini, pembeli hanya perlu membeli dengan harga yang murah meriah. Mulai dari Rp99, Rp1.000, hingga di atas Rp100.000. Ini yang namanya tebak-tebak buah manggis.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Sayang seribu sayang meski testimoni pembeli <\/span><span style=\"font-weight: 400;\">mystery box<\/span><span style=\"font-weight: 400;\"> selalu mengecewakan, tetap banyak banget lho yang tertarik membeli. Tapi ya gitu, hampir semua pembelinya dikirim barang yang tak sesuai dengan harapannya. Inilah yang disebut <\/span><span style=\"font-weight: 400;\">zonk<\/span><span style=\"font-weight: 400;\">.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Apa pun hadiah yang diterima, pembeli dilarang komplain, menukar, atau mengembalikannya. Biasanya pada deskripsi produknya tertulis: membeli sama dengan setuju. Hehehe, kira-kira para pembeli ini membacanya nggak, ya?<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Mengingat literasi masyarakat Indonesia yang hanya 0,001%, saya kira segala informasi tersebut nggak sempat dibaca. Mungkin keburu senang melihat barang murah atau <\/span><span style=\"font-weight: 400;\">seller<\/span><span style=\"font-weight: 400;\"> nakalnya memang cerdik memanfaatkan tingkat literasi bangsa kita yang rendah.<\/span><\/p>\n<h4><b>Permainan mindset buyer: Cerdas berbelanja, anti boros<\/b><\/h4>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Fenomena <\/span><a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/benarkah-mystery-box-di-online-shop-adalah-pembodohan-seller-terhadap-buyer\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\"><span style=\"font-weight: 400;\">mystery box<\/span><\/a><span style=\"font-weight: 400;\"> tentu saja sangat merugikan. Namun saya skeptis bahwa program ini nggak disukai masyarakat Indonesia. Buktinya saja pencarian kata kunci \u201cmystery box\u201d di <\/span><span style=\"font-weight: 400;\">e-commerce<\/span><span style=\"font-weight: 400;\"> masih cukup tinggi. Coba ketik sendiri deh kalau nggak percaya.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Saya pikir kalimat \u201c<\/span><span style=\"font-weight: 400;\">be a smart buyer<\/span><span style=\"font-weight: 400;\">\u201d perlu lebih kencang didengungkan lagi. Bukan cuma untuk meningkatkan literasi pembeli tentang sistem COD, tetapi juga bagaimana menyikapi siasat marketing penjual.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Penjual memang harus punya banyak akal agar menarik perhatian pembeli. Tapi jangan sampai banjir penawaran cuma bikin uang konsumen mubazir. Uang melayang, eh hati nggak tenang pas barang datang.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Di momentum hari tanpa belanja sedunia ini, yuk makin siap jadi pembeli yang bijak. Jangan lagi tergiur diskon yang malah bikin boros. Diskon besar-besaran jangan langsung terobos. Ingat dulu barang yang menjadi prioritas.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Terakhir, perkembangan e-commerce yang pesat, sudah seharusnya diimbangi regulasi yang ketat. Pemerintah harus mendorong perlindungan belanja <\/span><span style=\"font-weight: 400;\">online<\/span><span style=\"font-weight: 400;\"> yang aman dan nyaman. Kira-kira Peraturan Pemerintah Perdagangan Melalui Sistem Elektronik (PMSE) sudah cukup belum, ya?<\/span><\/p>\n<p>Penulis: Masriah<br \/>\nEditor: Intan Ekapratiwi<\/p>\n<p><strong>BACA JUGA <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/4-tips-belanja-online-biar-nggak-merasa-ditipu-seller\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">4 Tips Belanja Online biar Nggak Merasa Ditipu Seller<\/a>.<\/strong><\/p>\n<h5><span id=\"Terminal_Mojok_merupakan_platform_User_Generated_Content_UGC_untuk_mewadahi_jamaah_mojokiyah_menulis_tentang_apa_pun_Submit_esaimu_secara_mandiri_lewat_carainiya\"><em>Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara\u00a0<a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/kirim-tulisan\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\">ini<\/a>\u00a0ya.<\/em><\/span><\/h5>\n<h5><em>Anda penulis Terminal Mojok? Silakan bergabung dengan Forum Mojok\u00a0<a href=\"https:\/\/mojok.co\/forum\/daftar\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">di sini<\/a>.<\/em><\/h5>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Yuk, jadi pembeli yang bijak.<\/p>\n","protected":false},"author":1994,"featured_media":197069,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_lmt_disableupdate":"no","_lmt_disable":"","jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":{"source_name":"","source_url":"","via_name":"","via_url":"","override_template":"0","override":[{"template":"2","single_blog_custom":"","parallax":"1","fullscreen":"1","layout":"right-sidebar","sidebar":"default-sidebar","second_sidebar":"default-sidebar","sticky_sidebar":"1","share_position":"float","share_float_style":"share-monocrhome","show_share_counter":"1","show_view_counter":"0","show_featured":"1","show_post_meta":"1","show_post_author":"1","show_post_author_image":"1","show_post_date":"1","post_date_format":"default","post_date_format_custom":"Y\/m\/d","show_post_category":"0","show_post_reading_time":"0","post_reading_time_wpm":"300","show_zoom_button":"1","zoom_button_out_step":"3","zoom_button_in_step":"4","show_post_tag":"1","show_prev_next_post":"0","show_popup_post":"1","number_popup_post":"3","show_author_box":"1","show_post_related":"1","show_inline_post_related":"0","post_calculate_word_method":"str_word_count","show_comment_section":"1"}],"override_image_size":"0","image_override":[{"single_post_thumbnail_size":"crop-715","single_post_gallery_size":"crop-500"}],"trending_post":"0","trending_post_position":"meta","trending_post_label":"Trending","sponsored_post":"0","sponsored_post_label":"Sponsored by","sponsored_post_name":"","sponsored_post_url":"","sponsored_post_logo_enable":"0","sponsored_post_logo":"","sponsored_post_desc":"","disable_ad":"0","format":"standard","subtitle":""},"jnews_primary_category":{"id":""},"jnews_override_counter":{"override_view_counter":"0","view_counter_number":"0","override_share_counter":"0","share_counter_number":"0","override_like_counter":"0","like_counter_number":"0","override_dislike_counter":"0","dislike_counter_number":"0"},"jnews_post_split":{"post_split":[{"template":"1","tag":"h2","numbering":"asc","mode":"normal","first":"0","enable_toc":"0","toc_type":"normal"}]},"footnotes":""},"categories":[13085],"tags":[4503,10483,17667,2763],"class_list":["post-196929","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-ekonomi","tag-belanja","tag-e-commerce","tag-hari-tanpa-belanja","tag-online-shop"],"modified_by":"Anggi Thoat Ariyanto","amp_enabled":true,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/196929","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1994"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=196929"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/196929\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media\/197069"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=196929"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=196929"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=196929"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}