{"id":196716,"date":"2022-11-21T07:07:55","date_gmt":"2022-11-21T00:07:55","guid":{"rendered":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/?p=196716"},"modified":"2022-11-20T22:09:17","modified_gmt":"2022-11-20T15:09:17","slug":"tolak-penjara-anak-apa-pun-alasannya","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/tolak-penjara-anak-apa-pun-alasannya\/","title":{"rendered":"Tolak Penjara Anak, Apa pun Alasannya!"},"content":{"rendered":"<p><span style=\"font-weight: 400;\">Apakah Anda sepakat dengan penjara anak? Apakah Anda muak dengan kenakalan remaja, dan ingin mereka semua mendekam di penjara? Maka artikel ini wajib Anda baca.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Isu tentang pentingnya penjara anak makin santer dibicarakan. Apalagi semenjak kasus bullying dan kenakalan remaja makin sering didengar. <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/apa-itu-klitih-panduan-memahami-aktivitas-yang-mengancam-nyawa-ini\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">Klitih<\/a> misalnya, di mana anak dan remaja menjadi algojo jalanan. Mereka berebut untuk melukai bahkan membunuh demi eksistensi diri. Lalu berbagai kasus bullying yang sampai memakan korban jiwa, baik cedera sampai meninggal dunia.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Penjara anak dinilai akan memberi efek jera. Menjadi teror yang akan menakuti calon pelaku kenakalan remaja dan kekerasan jalanan. Diharapkan hadirnya penjara anak akan menekan perilaku destruktif tersebut.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Tapi, benarkah begitu?<\/span><\/p>\n<h4><b>Penjara tidak pernah menjadi solusi<\/b><\/h4>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Banyak dari kita yang menilai penjara sebagai solusi dari kejahatan. Idealnya, penjara menjadi ruang rehabilitasi bagi pelaku kejahatan. \u201cSekolah\u201d yang akan mendidik pesakitan agar layak untuk hidup berdampingan di masyarakat. Sekaligus menjadi alat teror untuk menakuti \u201ccalon\u201d pelaku kejahatan.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Berhasilkah? Buka mata, buka telinga, dan lihat di sekitar Anda.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Penjara justru tidak memenuhi seluruh peran di atas. Banyak pelaku kejahatan malah \u201cbelajar\u201d lebih jadi penjahat di penjara. Banyak maling dan perampok bisa menemukan sindikat baru di penjara. Bahkan upgrade, dari maling TV bisa jadi maling kartu kredit. Dari begal independen sampai jadi jaringan begal di jalan antarprovinsi. Wajar sih, toh apa yang bisa diharapkan dari ruang isolasi yang berisi pelaku kriminal?<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Hierarki sosial juga menempatkan mantan pesakitan sebagai masyarakat kelas bawah. Catatan kriminal akan terus melekat, termasuk dalam <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/kalau-eks-koruptor-boleh-nyaleg-mending-skck-dihapus-aja-buat-apa\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">SKCK.<\/a> Para mantan pesakitan tidak pernah dipandang layak menjadi bagian dari masyarakat. Jadi penjara telah gagal sebagai fungsi lembaga pemasyarakatan.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Terakhir, kejahatan dan perilaku kontra sosial masih ada kan? Padahal penjara sudah hadir <a href=\"https:\/\/en.wikipedia.org\/wiki\/HM_Prison_Shepton_Mallet\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">setua peradaban<\/a>. Jika fungsi teror tadi berhasil, harusnya angka kejahatan bisa ditekan dari tahun ke tahun. Tapi kejahatan yang dibenci masyarakat memang tidak terjadi karena kurangnya penjara. Tapi karena masalah sosial yang menyebabkan seseorang melakukan apa yang dilarang oleh masyarakat.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Apakah penjara anak akan berakhir sama seperti penjara pada umumnya?<\/span><\/p>\n<h4><b>Jauh panggang dari api<\/b><\/h4>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Apa yang terjadi ketika seorang anak dipenjara? Mereka akan berkumpul dengan sesama narapidana, dan jauh dari kehidupan sosial. Jauh dari pendidikan konvensional yang sejatinya mencetak mereka jadi anggota masyarakat ideal.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Dari situ saja, sudah terlihat bahwa penjara anak tidak menjawab kebutuhan anak dan remaja. Justru mereka diasingkan dari lingkungan yang seharusnya mendidik mereka. Lebih buruk, penjara anak akan menghapus kesempatan seseorang untuk menjadi \u201cbaik\u201d.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Ingat salah satu efek yang diterima narapidana? Mendapat catatan buruk. Bayangkan seseorang yang sedang membangun jati diri langsung mendapat catatan buruk di masyarakat. Maka seluruh perkembangan dirinya akan mengikuti catatan itu. Apakah ini yang diharapkan dari eks narapidana penjara anak?<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Hal terburuk adalah terbentuknya kelompok kriminal baru dari penjara anak. Bahkan kecenderungan ini lebih tinggi daripada penjara orang dewasa. Mental kerumunan dan pencarian jati diri menjadi alasan utamanya.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Mereka yang menyuarakan penjara anak sering tidak berlandaskan perbaikan generasi muda. Mereka menilai seorang pelaku kenakalan remaja sebagai misfits di masyarakat. Dan mengasingkan siapa pun yang dipandang tidak layak menjadi bagian dari masyarakat. Mereka tidak akan pernah setuju dengan opsi rehabilitasi, karena penjara anak adalah tempat ideal bagi \u201cbibit kriminal\u201d.<\/span><\/p>\n<h4><b>Rehabilitasi adalah satu-satunya jawaban<\/b><\/h4>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Saya berdiskusi tentang ini dengan Mas Wisnu, salah satu kepala panti asuhan di Jogja. Ia memandang yang dibutuhkan pelaku kenakalan remaja adalah rehabilitasi. Jangan sampai dijauhkan dari masyarakat, dan justru dibimbing untuk menyesuaikan diri di dalam masyarakat. Menurut Mas Wisnu, penjara anak malah membangun mental kriminal yang lebih kuat.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Seperti klitih, penjara anak malah berpotensi membentuk kelompok klitih baru. Menjadikan label \u201cpenjahat\u201d sebagai alasan mereka melakukan klitih. Pelaku bullying juga sama, akan keluar dari penjara sebagai sosok menyeramkan. Sangat besar kemungkinan bagi mereka untuk jadi bully yang lebih mengerikan.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Tapi kenapa opsi rehabilitasi malah dipandang sebelah mata? Karena masyarakat ingin menghukum, bukan memperbaiki. Anda bisa lihat di berbagai opini warganet yang pro penjara anak. Mereka ingin pelaku kejahatan mendapat posisi sangat rendah di masyarakat. Bahkan setelah keluar dari penjara.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Dan lebih dari rehabilitasi, ada opsi untuk memperbaiki lingkungan masyarakat. Apa yang jadi sumber kenakalan remaja, itulah yang diperbaiki. Baik sosial, ekonomi, sampai budaya yang dipelihara selama ini. Tapi banyak yang tidak rela untuk mengakui situasi sosial kita adalah sumber kejahatan.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Kini, semua tinggal pilihan Anda, menghakimi tanpa solusi, atau memperbaiki dan mereduksi kejahatan. Jika Anda memilih yang kedua, Anda akan menolak penjara anak.<\/span><\/p>\n<p>Penulis: Prabu Yudianto<br \/>\nEditor: Rizky Prasetya<\/p>\n<p><strong>BACA JUGA <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/kehidupan-di-penjara-dan-cara-narapidana-menghabiskan-masa-hukuman-agar-tidak-bosan-setengah-mampus\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">Kehidupan di Penjara dan Cara Narapidana Menghabiskan Masa Hukuman agar Tidak Bosan Setengah Mampus<\/a><br \/>\n<\/strong><\/p>\n<h5><span id=\"Terminal_Mojok_merupakan_platform_User_Generated_Content_UGC_untuk_mewadahi_jamaah_mojokiyah_menulis_tentang_apa_pun_Submit_esaimu_secara_mandiri_lewat_carainiya\"><strong><em>Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara\u00a0<a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/kirim-tulisan\/\">ini<\/a>\u00a0ya.<\/em><\/strong><\/span><\/h5>\n<h5><span id=\"Anda_penulis_Terminal_Mojok_Silakan_bergabung_dengan_Forum_Mojokdi_sini\"><strong><em>Anda penulis Terminal Mojok? Silakan bergabung dengan Forum Mojok\u00a0<a href=\"https:\/\/mojok.co\/forum\/daftar\/\">di sini<\/a>.<\/em><\/strong><\/span><\/h5>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Tolak!<\/p>\n","protected":false},"author":793,"featured_media":196718,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_lmt_disableupdate":"no","_lmt_disable":"","jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":{"source_name":"","source_url":"","via_name":"","via_url":"","override_template":"0","override":[{"template":"2","single_blog_custom":"","parallax":"1","fullscreen":"1","layout":"right-sidebar","sidebar":"default-sidebar","second_sidebar":"default-sidebar","sticky_sidebar":"1","share_position":"float","share_float_style":"share-monocrhome","show_share_counter":"1","show_view_counter":"0","show_featured":"1","show_post_meta":"1","show_post_author":"1","show_post_author_image":"1","show_post_date":"1","post_date_format":"default","post_date_format_custom":"Y\/m\/d","show_post_category":"0","show_post_reading_time":"0","post_reading_time_wpm":"300","show_zoom_button":"1","zoom_button_out_step":"3","zoom_button_in_step":"4","show_post_tag":"1","show_prev_next_post":"0","show_popup_post":"1","number_popup_post":"3","show_author_box":"1","show_post_related":"1","show_inline_post_related":"0"}],"override_image_size":"0","image_override":[{"single_post_thumbnail_size":"crop-715","single_post_gallery_size":"crop-500"}],"trending_post":"0","trending_post_position":"meta","trending_post_label":"Trending","sponsored_post":"0","sponsored_post_label":"Sponsored by","sponsored_post_name":"","sponsored_post_url":"","sponsored_post_logo_enable":"0","sponsored_post_logo":"","sponsored_post_desc":"","disable_ad":"0"},"jnews_primary_category":{"id":""},"jnews_override_counter":{"override_view_counter":"0","view_counter_number":"0","override_share_counter":"0","share_counter_number":"0","override_like_counter":"0","like_counter_number":"0","override_dislike_counter":"0","dislike_counter_number":"0"},"jnews_post_split":[],"footnotes":""},"categories":[13087],"tags":[5193,969,17647,17648],"class_list":["post-196716","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-pojok-tubir","tag-klitih","tag-kriminal","tag-penjara-anak","tag-rehabilitasi"],"modified_by":"Rizky Prasetya","amp_enabled":true,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/196716","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/users\/793"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=196716"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/196716\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media\/196718"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=196716"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=196716"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=196716"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}