{"id":19636,"date":"2019-11-06T17:19:33","date_gmt":"2019-11-06T10:19:33","guid":{"rendered":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/?p=19636"},"modified":"2019-11-07T07:25:55","modified_gmt":"2019-11-07T00:25:55","slug":"depresi-itu-nggak-cuma-butuh-didengarkan","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/depresi-itu-nggak-cuma-butuh-didengarkan\/","title":{"rendered":"Depresi Itu (Nggak) Cuma Butuh Didengarkan"},"content":{"rendered":"<p>Depresi memang butuh didengarkan, tapi didengarkan saja tidak cukup untuk menyembuhkannya. Depresi bukan sekadar perasaan tidak nyaman yang butuh diceritakan. Depresi yang kita bicarakan di sini depresi beneran lho ya, bukan yang self diagnose depresi.<\/p>\n<p>Jadi gini&#8230;<\/p>\n<p>Ketika bercerita tentang depresi, sebagian besar dari kita mungkin sadar bahwa orang itu butuh didengarkan. Tapi sebagian membawa \u201cdidengarkan\u201d ini ke titik ekstrim, seakan hanya itu yang dibutuhkan. Seakan dengan didengarkan keluhannya, depresinya menghilang. Seakan depresi itu semacam tumpukan sampah yang perlu dibuang, begitu dibuang ya tumpukannya hilang.<\/p>\n<p>\u201cCoba kalo dia cerita, pasti ga akan depresi\u201d<\/p>\n<p>Padahal bercerita pada orang yang salah, malah memperberat kondisi.\u00a0Padahal \u201cdidengarkan\u201dpun kadang tidak cukup untuk menyembuhkan.<\/p>\n<p>Apakah lantas mendengarkan itu tidak penting? Lantas \u201cdidengarkan\u201d itu tidak penting untuk menjadi bagian proses terapi? Tidak demikian, itu sisi ekstrim yang lain yang juga tidak kalah kelirunya.\u00a0Didengarkan juga adalah kebutuhan, tapi bukan satu satunya kebutuhan.<\/p>\n<p>Depresi tidak sederhana.\u00a0Tidak sesederhana \u201cada trauma, makanya jadi depresi\u201d, \u201corangnya introvert, makanya gampang depresi\u201d, \u201corang tuanya depresi, pantes sih dididik gitu makanya dia jadi depresi\u201d.\u00a0Depresi tidak terjadi karena satu faktor tunggal, selalu ada hal lain di sana.<\/p>\n<p>\u201cTapi dok, akar depresi temenku itu dari dibully online\u201d<\/p>\n<p>Yuk kita lihat gambar akar. Akar itu banyak, panjang, dan dari mana mana.<\/p>\n<p>\u201cAkar\u201d gangguan jiwa tidak bicara tentang satu tema\/kejadian, tapi kompleksitas yang sangat rumit dari faktor biologis, psikologis dan sosial.<\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p><img fetchpriority=\"high\" decoding=\"async\" class=\"\" src=\"https:\/\/pbs.twimg.com\/media\/EIggBYkVAAAPbhs?format=jpg&amp;name=small\" alt=\"Image\" width=\"605\" height=\"339\" \/><\/p>\n<p>Tidak jarang juga, orang dengan depresi mengalami ragam emosi dan pikiran yang terlalu banyak dan membingungkan, sehingga tidak tau harus bercerita apa dan dari mana.\u00a0Rasanya sudah terlalu \u201cpenuh\u201d. Bicarapun rasanya percuma, sehingga yang terucap \u201caku nggak papa kok\u201d.<\/p>\n<p>Depresi juga ga sesederhana \u201cnggak mendapatkan yang diinginkan\u201d. Jadi kalo seseorang dapat yang diinginkan, seperti pasangan cantik\/ganteng, jadi kaya, terkenal, maka lantas dia nggak akan depresi.\u00a0Kayanya ini si jelas ya, liat aja berita berapa banyak orang \u201cideal\u201d yang depresi.<\/p>\n<p>Depresi terjadi karena apa jadi? Karena kompleksitas penyebab.\u00a0Contoh:\u00a0struktur gen + faktor keturunan + trauma + pola asuh + proses pikir + mekanisme defense emosional + support system + stresor = depresi.\u00a0Kesemua faktor tadi ikut serta dalam mengakibatkan depresi.\u00a0Jadi kalau penyebabnya kompleks, depresi nggak pulih dengan solusi sederhana.<\/p>\n<p>Kalau kebakaran melahap satu kompleks perumahan, solusinya kan nggak cuma \u201cmatiin saklar listrik\u201d.\u00a0Kita perlu manggil pemadam, kerjasama nyiram, menyelamatkan yg terjebak, dll.\u00a0Semua dilakukan sekaligus.<\/p>\n<p>\u201cDidengarkan\u201d adalah salah satu cara memadamkan kebakaran akibat depresi.\u00a0Yang lain juga tetap perlu dilakukan.\u00a0Konsultasi rutin, minum obat (jika dibutuhkan), bangun support system, latihan CBT\/ mindfulness\/ ACT (mana yang cocok), didengarkan dengan tepat, dsb semua sekaligus.<\/p>\n<p>Karena depresi butuh didengar, kita bahas sedikit tentang bagaimana itu mendengarkan.\u00a0Dengan syarat, bagian lain juga perlu dilakukan, seperti konseling, minum obat, ubah gaya hidup, tidur teratur, olahraga, makan gizi seimbang, dsb.<\/p>\n<p>Ketika mendengar, ingatlah bahwa &#8220;Dia&#8221; adalah subjek pembicaraan kali ini.<\/p>\n<p>Jangan rebutan spotlight dengan membandingkan kepada ceritamu, kehebatanmu menyelesaikan masalah, saranmu menghadapi situasi. Jangan, rebutan jadi subjek. Ijinkan dia bicara tanpa interupsi cerita hebatmu.\u00a0Niatkan untuk mendengarkan tanpa menghakimi.\u00a0Dengarkan saja, lepaskan asumsi. Bersikaplah seakan-akan kamu tidak tahu apa apa tentang depresi dan kisah temanmu. Dengarkan seutuhnya, sepenuhnya, dengan segenap perhatian yang kamu miliki.<\/p>\n<p>Niatkan mendengar untuk memahami.\u00a0Ketika mengajak seseorang yang depresi bercerita untuk kita mendengarkan, sadari bahwa percakapan ini mungkin tidak terjadi satu kali, mungkin bahkan ajakan pertamamu untuk berbagi tidak berbuah hasil, dan itu tidak apa.\u00a0Sampaikan saja perhatian dan keinginanmu untuk mendengar.<\/p>\n<p>Mengajak bicara,\u00a0&#8220;Hei, akhir akhir ini aku melihat kamu murung. Adakah sesuatu yang mau diceritakan?&#8221;, &#8220;Hei, kamu tampak berbeda beberapa hari ini. Apa kabar?&#8221;\u00a0Kalau dia menolak bercerita,\u00a0&#8220;Oh baiklah kalau begitu. Tapi kalau ada apa apa, aku ada disini kok siap mendengarkan&#8221;<\/p>\n<p>Pertanyaan lanjutan:<\/p>\n<p>&#8220;Sejak kapan kamu merasa begini?&#8221;<br \/>\n&#8220;Adakah sesuatu yang kamu pikir membuat kamu merasa begini?&#8221;<br \/>\n&#8220;Apa yang bisa aku bantu saat ini?&#8221;<br \/>\n&#8220;Apakah kamu mau saran atau didengarkan saja?&#8221;<br \/>\n&#8220;Apakah sudah terpikir untuk mencari pertolongan profesional?&#8221;<\/p>\n<p>Lalu akan muncul pertanyaan lagi, bagaimana merespon ketika mendengarkan? Orang sekarang dikasi semangat jadi sebel.\u00a0Di bawah ini ada contoh respon ketika mendengarkan. Cobalah lihat dari sudut pandang pencerita, rasakan sepenuhnya dan berespon dengan empati.<\/p>\n<p><img decoding=\"async\" class=\"\" src=\"https:\/\/pbs.twimg.com\/media\/EIia74zUUAA-K_H?format=jpg&amp;name=large\" alt=\"Image\" width=\"604\" height=\"302\" \/><\/p>\n<p>Ketika sudah memulai menawarkan sebagai pendengar dan dia berespon, maka langkah selanjutnya adalah:<\/p>\n<h4>1. Tunjukkan bahwa kita memerhatikan<\/h4>\n<p>Dengarkan dengan perhatian, pikiran dan fokus penuh kepada ceritanya. Lakukan kontak mata, jauhkan handphone, duduk dan dengarkanlah.<\/p>\n<h4>2. Sabar<\/h4>\n<p>Cerita ini bisa panjang, bisa menyakitkan, bisa beberapa kali kita dorong baru dia bercerita namun jangan terburu buru memaksa bercerita.\u00a0Mendengarkan yang efektif itu tentang mempercayai orang yang bercerita. Kita percaya dia berusaha menderskripsikan kisahnya.\u00a0Jika butuh bertanya, usahakan gunakan pertanyaan terbuka yang jawabannya tidak sekadar &#8220;iya&#8221; atau &#8220;tidak&#8221;.\u00a0Ajak dia mengeksplorasi cerita dan perasaannya. Ingat, dengan tetap tidak menghakimi.\u00a0Salah satu pertanyaan terbuka untuk mendorong seseorang bercerita &#8220;begitu ya.. lalu?&#8221;<\/p>\n<h4>3. Parafrase<\/h4>\n<p>Ucapkan kembali kalimat yang diceritakan, dengan bahasa kita sendiri. Hal ini menggambarkan kita mendengarkan dan berusaha memahami apa yang dia ceritakan. Dan kalau kita salah menangkap, dia bisa memperbaiki pemahaman kita terhadap kisah tersebut<\/p>\n<p>&#8220;kamu bercerita tentang orang tua kamu, mereka meninggalkan kamu dan kamu merasa marah ya&#8221;<br \/>\n&#8220;kamu merasa dunia tidak adil, padahal kamu sudah berbuat baik tapi tetap saja ada hal buruk yang terjadi&#8221;<\/p>\n<p>Ulangi kalimat yang berisi perasaan dan kejadian yang diceritakan.<\/p>\n<h4>4. Lakukan semua sambil mendengarkan aktif<\/h4>\n<p>Yang meliputi<br \/>\n&#8211; Konsentrasi<br \/>\n&#8211; Memahami<br \/>\n&#8211; Merespon dengan empatik<br \/>\n&#8211; Mengingat apa yang diceritakan<\/p>\n<p>Secara aktif mari pusatkan perhatian untuk mendengarkan, untuk memahami, untuk menyelami apa yang dirasakan. Semoga bisa bermanfaat ya.<\/p>\n<p>Jika ada yang mau menceritakan tipsnya dalam mendengarkan, bisa juga kok balas di kolom komentar dan kita berdiskusi bersama bagaimana mendengarkan dengan empatik.\u00a0Pertolongan itu ada, mari gapai kembali kebahagiaan.<\/p>\n<p><strong>BACA JUGA\u00a0<\/strong><a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/mitos-tentang-aura-cocoklogi-yang-diciptakan-bedes-klenik\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\">Mitos Tentang Aura: Cocoklogi yang Diciptakan Bedes Klenik<\/a>\u00a0atau tulisan\u00a0<a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/author\/jiemi-ardian\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\">dr. Jiemi Ardian<\/a>\u00a0lainnya. Follow Twitter\u00a0<a href=\"https:\/\/twitter.com\/jiemiardian\">dr. Jiemi Ardian<\/a>.<\/p>\n<p><em>Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara\u00a0<a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/kirim-tulisan\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\">ini<\/a>\u00a0ya.<\/em><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>\u201cDidengarkan\u201d adalah salah satu cara memadamkan kebakaran akibat depresi. Tapi\u00a0konsultasi, minum obat, dan bangun support system juga tetap perlu dilakukan.\u00a0<\/p>\n","protected":false},"author":429,"featured_media":19789,"comment_status":"closed","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_lmt_disableupdate":"","_lmt_disable":"","jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":[],"jnews_primary_category":[],"jnews_override_counter":[],"jnews_post_split":[],"footnotes":""},"categories":[6,1],"tags":[2589,244,241],"class_list":["post-19636","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-artikel","category-nusantara","tag-depresi","tag-kesehatan-mental","tag-psikologi"],"modified_by":"Nia Lavinia","amp_enabled":true,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/19636","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/users\/429"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=19636"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/19636\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media\/19789"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=19636"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=19636"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=19636"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}