{"id":195926,"date":"2022-11-19T07:52:51","date_gmt":"2022-11-19T00:52:51","guid":{"rendered":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/?p=195926"},"modified":"2022-11-19T07:52:51","modified_gmt":"2022-11-19T00:52:51","slug":"12-ucapan-membingungkan-bung-kus-dan-rendra-di-laga-timnas-indonesia","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/12-ucapan-membingungkan-bung-kus-dan-rendra-di-laga-timnas-indonesia\/","title":{"rendered":"12 Ucapan Membingungkan dari Bung Kus dan Rendra di Laga Timnas Indonesia"},"content":{"rendered":"<p><span style=\"font-weight: 400;\">Sebelum laga uji tanding antara timnas U20 Indonesia kontra Prancis dimulai, saya buka <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/twitter-tempat-orang-berlomba-menjadi-jahat\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">Twitter<\/a>. Di situ, nama Bambang Pamungkas trending. Saya kira, dia mau jadi komentator timnas Indonesia di laga friendly match ini, ternyata nggak. Yang jadi komentator Indosiar untuk laga ini tetap saja Bung Kus dan Rendra seperti biasanya.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Sebelum kick off dimulai, saya sudah skeptis sama dua komentator ini. Bukan karena apa, ucapan atau kalimatnya memang sering nyasar ke mana-mana. Nggak fokus ke pertandingan. Komentar yang mereka lontarkan kerap bikin penonton bingung. Nah, dan itu terjadi lagi.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Seingat saya, ada 12 ucapan yang nggak bisa saya pahami dari dua komentator tersebut.\u00a0<\/span><\/p>\n<h4><b>#1 &#8220;Jangan menyerah, jangan panik.&#8221;<\/b><\/h4>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Ketika Cahya Supriadi melakukan kesalahan fatal, yang membuat Prancis unggul 1-0, salah satu komentator ini bilang: &#8220;Jangan menyerah, jangan panik.\u201d Kalimat yang sukses bikin saya.\u00a0\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Gimana ya, saya yakin semua tim yang berlaga pasti tak mau menyerah. Lagian, buat apa timnas Indonesia main kalau mau menyerah?\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Soal &#8220;panik&#8221; agak lebih konkret. Lha wong lawannya semifinalis Euro U20 2022, kok. Mana mungkin nggak panik. STY pun mengakui kalau timnas Indonesia masih takut ketika berhadapan dengan tim besar. Soal menyerah, saya yakin tidak. Kalah, perkara lain.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Makanya, kalimat itu jelas omong kosong. Nggak ada makna dan faedahnya. Lebih baik menganalisis kesalahan fatal Cahya Supriadi. Selain itu, frasa &#8220;Jangan menyerah&#8221; terlalu sering diulang. Ditambah embel-embel &#8220;anak muda&#8221;. Bosan.<\/span><\/p>\n<h4><b>#2 &#8220;Menjadi pelajaran.&#8221;\u00a0<\/b><\/h4>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Saat timnas Indonesia salah passing, bola mudah lepas, pressing yang diberikan oleh Prancis sangat ketat, kalah sprint, dan lain sebagainya, Bung Kus sering mengulang frasa \u201cmenjadi pelajaran\u201d. Kadang ditambah kata &#8220;penting&#8221; atau &#8220;berharga&#8221;.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Gini, lho, bung-bung sekalian, timnas Indonesia melakukan TC ke luar negeri, yang paling diharapkan memang mengambil pelajaran. Makanya, ucapan kayak gitu nggak usah diulang-ulang. Semua orang sudah tahu. Bosan.<\/span><\/p>\n<h4><b>#3 &#8220;Harus kerja keras.&#8221;<\/b><\/h4>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Kata &#8220;harus&#8221; seakan-akan menunjukkan timnas Indonesia tidak mau bekerja dengan keras di laga ini. Padahal bukan itu masalahnya. Tapi, timnas Indonesia memang kalah segalanya dari Prancis.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Apa nggak lihat kalau <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/nasib-susanti-di-upin-ipin-saat-timnas-indonesia-menang-lawan-malaysia\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">Garuda Muda<\/a> sudah bekerja cukup keras dan berusaha semaksimal mungkin untuk membangun serangan dan bertahan? Apakah keok 6-0 adalah satu-satunya penegasan kalau timnas Indonesia nggak kerja keras?<\/span><\/p>\n<h4><b>#4 &#8220;Hati-hati pemirsa, hati-hati pemirsa!&#8221;<\/b><\/h4>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Saat Prancis memasuki kotak kotak penalti timnas Indonesia, dua komentator ini bilang &#8220;Hati-hati pemirsa, hati-hati pemirsa!&#8221;.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Sebentar, kok malah pemirsa atau penonton yang disuruh hati-hati ini? Yang main siapa? Nggak ngotak.\u00a0<\/span><\/p>\n<h4><b>#5 &#8220;Pemain Prancis permainannya terlihat lebih dewasa.&#8221;\u00a0<\/b><\/h4>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Kita sepakat. Apa yang diucapkan oleh komentator itu benar. Namun, ucapan itu terkesan kaget. Seakan-akan kedua komentator ini nggak melakukan riset sebelumnya. Kadang, sebagai penonton, kita nggak membutuhkan komentar yang terlalu ndakik seperti itu.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Untuk level U20, kadang penonton ingin lebih banyak mendengar soal informasi penting. Misalnya soal profil pemain, kelebihan\/kekurangan pemain, dan hal-hal yang konkret. Kan tidak semua penonton itu expert dan bisa memahami makna \u201cpermainan yang dewasa\u201d.<\/span><\/p>\n<h4><b>#6 &#8220;Daerah Pinatar Arena rentan bikin pemain cedera.&#8221;<\/b><\/h4>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Saat Cahya Supriadi berbenturan dengan salah satu pemain Prancis, dia jatuh dan membutuh perawatan medis. Lalu, komentator Indosiar ini bilang, &#8220;Daerah <a href=\"https:\/\/en.wikipedia.org\/wiki\/Pinatar_Arena\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">Pinatar Arena<\/a> rentan bikin pemain cedera.\u201d\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Ha? Sebagai penonton sekaligus pendengar, kalimat itu aneh banget. Kesannya sok tahu. Saya tahu, terkadang komentator harus kreatif, kadang menyisipkan informasi di luar pertandingan. Namun, kalau info yang disampaikan soal tempat laga yang \u201crentan\u201d bikin cedera itu dasar ilmiahnya seperti apa coba? Malah bisa menyesatkan, lho.<\/span><\/p>\n<h4><b>#7 &#8220;Nah itu dia, jangan 30 meter ke depan begitu.&#8221;\u00a0<\/b><\/h4>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Saat pemain Indonesia melakukan serangan, pressing dari Prancis terasa ketat. Sulit menembus area 16 kotak lawan. Tiba-tiba komentator nyeletuk, \u201cNah itu dia, jangan 30 meter ke depan begitu.\u201d<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Lagi dan lagi saya dibuat bimbang dan bingung. Apa Bung Kus dan Rendra itu nggak sadar kalau nggak semua penonton timnas Indonesia tahu ukuran lapangan? Nggak semua tahu ukuran setiap zona. Bakal lebih pantas kalau mereka berdua menganalisis kenapa timnas Indonesia nggak bisa masuk ke kotak penalti Prancis. Udah itu saja cukup.<\/span><\/p>\n<h4><b>#8 &#8220;Jangan menyerah, ayo lari, harus ngotot mengejar bola hahahahaha.&#8221;<\/b><\/h4>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Lantaran kalah penguasaan bola, komentator \u201cmendorong\u201d timnas Indonesia untuk jangan menyerah. Larinya yang ngotot. Gimana, ya. Kita tuh nggak butuh komentar kayak gitu. Kesannya nggak kontekstual.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Lagian sepak bola nggak cuma urusan lari-larian saja. Ketika harus bertahan, ya yang harus diawasi tuh ruang di antara pemain. Bukan cuma ngejar bola. Masak \u201ckomentaror profesional\u201d nggak bisa menjelaskan hal dasar kayak gitu ke pemirsa?<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Anehnya lagi, mereka menutup kalimat absurd itu dengan tertawa. Bagian mana yang lucu, Bung Kus dan Rendra? Aneh.\u00a0<\/span><\/p>\n<h4><b>#9 &#8220;Benturan sama\u2026.&#8221;<\/b><\/h4>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Saat dua pemain melakukan duel udara di lini tengah, salah satu satu pemain timnas Indonesia jatuh. Salah satu komentator bilang gini: &#8220;Benturan sama\u2026.&#8221;<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Benturan sama siapa anjjj\u2026 nggak diterusin kalimatnya. Benturan sama siapa, Kus, Bung Kus? Apa ya komentator nggak ingat nama pemain Prancis? Kan seharusnya mereka memegang catatan yang berisi informasi dasar kayak nama, usia, klub asal, dan lain sebagainya.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Kalau nggak ada persiapan, sih, aneh banget.<\/span><\/p>\n<h4><b>#10 &#8220;Ooooohoooowwww&#8221;\u00a0<\/b><\/h4>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Ada sebuah momen ketika timnas Prancis memegang bola selama dua menit tanpa bisa direbut pemain timnas Indonesia. Tiba-tiba, salah satu komentator nyeletuk, \u201cOooooooooooohhhoooowwwwww\u2026.\u201d<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Abis itu mereka berdua diam. Mungkin sama-sama kaget sudah terjadi kebodohan di sana.<\/span><\/p>\n<h4><b>#11 &#8220;Jadi, kalau melihat Indonesia ini\u2026.&#8221;<\/b><\/h4>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Salah satu momen yang paling nggak enak dari duet Bung Kus dan Rendra adalah kebiasaan memotong kalimat di momen yang nggak pas. Maklum, kalau misalnya salah satu sedang menjelaskan analisis pertandingan, lalu dipotong karena momen genting. Nah, kalau ini tuh ngasal aja.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Misalnya, salah satu komentator lagi mau menjelaskan dengan bilang, \u201cJadi, kalau melihat Indonesia ini\u2026.\u201d<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Tiba-tiba dipotong dengan kalimat, &#8220;Kembali lagi bola dipegang oleh bla-bla-bla.\u201d\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">APA SIH!!!<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Memotong penjelasan cuma untuk bilang kalau bole lagi dipegang oleh salah satu tim. Bukan karena momen penting kayak peluang gol. Ini tuh seakan-akan lagi kebelet kentut, udah diujung, eh lubang dubur dipaksa nutup. Greget gobloknya.<\/span><\/p>\n<h4><b>#12 &#8220;Terus menekan\u2026 hahahaha.&#8221;<\/b><\/h4>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Kadang saya merasa kalau Bung Kus dan Rendra itu nggak fokus mengawal laga timnas Indonesia. Bukan nggak serius, ya, tapi nggak fokus. Kayak orang lagi mabuk terus dipaksa buat saling ngobrol. Misalnya kejadian ini:<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Suatu kali, pemain Prancis menggiring bola dari sisi kanan pertahanan timnas Indonesia dan melakukan umpan silang. Salah satu komentator bilang, \u201cTerus menekan\u2026.\u201d<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Lagi-lagi, salah satu komentator memotong kalimat. Kali ini bukan dengan kalimat lain, tapi suara tertawa. \u201cHahahaha\u2026.\u201d<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Saya yang serius memasang telinga jadi makin yakin kalau mereka berdua ini nggak fokus. Apanya yang lucu dari frasa \u201cterus menekan\u201d? Kalian nggak lagi <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/5-tips-ampuh-menghindari-mabuk-kendaraan\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">mabuk<\/a>, kan?<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Penulis: Zubairi<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Editor: Yamadipati Seno<\/span><\/p>\n<p><strong>BACA JUGA <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/nggak-cuma-membosankan-jadi-fans-timnas-indonesia-juga-melelahkan\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">Nggak Cuma Membosankan, Jadi Fans Timnas Indonesia Juga Melelahkan<\/a><br \/>\n<\/strong><\/p>\n<h5><span id=\"Terminal_Mojok_merupakan_platform_User_Generated_Content_UGC_untuk_mewadahi_jamaah_mojokiyah_menulis_tentang_apa_pun_Submit_esaimu_secara_mandiri_lewat_carainiya\"><em>Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara\u00a0<a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/kirim-tulisan\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\">ini<\/a>\u00a0ya.<\/em><\/span><\/h5>\n<h5><em>Anda penulis Terminal Mojok? Silakan bergabung dengan Forum Mojok\u00a0<a href=\"https:\/\/mojok.co\/forum\/daftar\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">di sini<\/a>.<\/em><\/h5>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Kalian lagi nggak mabuk, kan?<\/p>\n","protected":false},"author":1367,"featured_media":196575,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_lmt_disableupdate":"no","_lmt_disable":"","jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":{"source_name":"","source_url":"","via_name":"","via_url":"","override_template":"0","override":[{"template":"2","single_blog_custom":"","parallax":"1","fullscreen":"1","layout":"right-sidebar","sidebar":"default-sidebar","second_sidebar":"default-sidebar","sticky_sidebar":"1","share_position":"float","share_float_style":"share-monocrhome","show_share_counter":"1","show_view_counter":"0","show_featured":"1","show_post_meta":"1","show_post_author":"1","show_post_author_image":"1","show_post_date":"1","post_date_format":"default","post_date_format_custom":"Y\/m\/d","show_post_category":"0","show_post_reading_time":"0","post_reading_time_wpm":"300","show_zoom_button":"1","zoom_button_out_step":"3","zoom_button_in_step":"4","show_post_tag":"1","show_prev_next_post":"0","show_popup_post":"1","number_popup_post":"3","show_author_box":"1","show_post_related":"1","show_inline_post_related":"0"}],"override_image_size":"0","image_override":[{"single_post_thumbnail_size":"crop-715","single_post_gallery_size":"crop-500"}],"trending_post":"0","trending_post_position":"meta","trending_post_label":"Trending","sponsored_post":"0","sponsored_post_label":"Sponsored by","sponsored_post_name":"","sponsored_post_url":"","sponsored_post_logo_enable":"0","sponsored_post_logo":"","sponsored_post_desc":"","disable_ad":"0"},"jnews_primary_category":{"id":""},"jnews_override_counter":{"override_view_counter":"0","view_counter_number":"0","override_share_counter":"0","share_counter_number":"0","override_like_counter":"0","like_counter_number":"0","override_dislike_counter":"0","dislike_counter_number":"0"},"jnews_post_split":[],"footnotes":""},"categories":[13087],"tags":[17635,2794,17637,17636,1046],"class_list":["post-195926","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-pojok-tubir","tag-bus-kusnaeni","tag-indosiar","tag-komentator-timnas","tag-rendra","tag-timnas-indonesia"],"modified_by":"Yamadipati Seno","amp_enabled":true,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/195926","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1367"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=195926"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/195926\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media\/196575"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=195926"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=195926"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=195926"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}