{"id":19592,"date":"2019-11-05T08:44:00","date_gmt":"2019-11-05T01:44:00","guid":{"rendered":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/?p=19592"},"modified":"2019-11-05T12:15:15","modified_gmt":"2019-11-05T05:15:15","slug":"alasan-krusial-para-manusia-low-profile-yang-menonaktifkan-kolom-komentar-di-akun-instagram","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/alasan-krusial-para-manusia-low-profile-yang-menonaktifkan-kolom-komentar-di-akun-instagram\/","title":{"rendered":"Alasan Krusial Para Manusia Low Profile yang Menonaktifkan Kolom Komentar di Akun Instagram"},"content":{"rendered":"<p>Beberapa waktu yang lalu, saya sempat membaca dua artikel Mojok yang masing-masing memperdebatkan soal alasan seseorang <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/penelitian-saya-tentang-alasan-kenapa-orang-mematikan-centang-biru-whatsapp-mereka\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\">menonaktifkan dua centang biru<\/a> alias laporan baca pada WhatsApp. Adanya artikel-artikel tersebut sedikit banyak pasti menimbulkan opini pembaca yang terkotakkan menjadi dua kubu. Kubu satu adalah mereka yang pro, kubu kedua adalah mereka yang kontra. Walaupun sebenarnya urusan ini menyangkut hak pribadi seseorang.<\/p>\n<p>Tapi ternyata selain WhatsApp yang memiliki fitur non-aktif laporan baca, Instagram yang sering kita gunakan pun juga memiliki fitur serupa tapi tak sama\u2014adalah fitur non-aktif kolom komentar. Meskipun sama-sama bersifat menonaktifkan sesuatu seperti fitur mematikan laporan baca yang tersedia dalam WhatsApp, fitur ini jelas menghadirkan fungsi yang lumayan jauh berbeda dengan fitur WhatsApp tersebut.<\/p>\n<p>Fitur ini pertama kali saya lihat di akun Instagram seorang <em>influencer:<\/em> <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/awkarin-vs-nadiyah-apa-betul-bangsa-ini-dibiasakan-memaklumi-plagiarisme\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\">Awkarin<\/a>. Saat itu, Awkarin mengunggah sebuah foto yang menampilkan pose syur dan sedikit vulgar (bagi saya). Meskipun saya bukan termasuk <em>haters<\/em>-nya, tapi rasanya jari saya gatal ingin mengetikkan sesuatu agar Karin tidak mengunggah foto yang kurang pantas di media sosial. <em>I mean<\/em>, tubuhnya adalah privasinya.<\/p>\n<p>Namun sayang, seperti bisa memprediksi hal tersebut akan dilakukan oleh banyak netizen, kolom komentar pada unggahan foto tersebut tidak tersedia. Artinya apa? Artinya Awkarin nggak mau baca komentar apa pun, <a href=\"https:\/\/tirto.id\/profil-di-wikipedia-diubah-jadi-arteria-bacot-enggak-apa-apa-ejwb\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\"><em>no bacot-bacot club<\/em>!<\/a> Awkarin nggak mau dijulidin <em>hater<\/em>s-nya.<\/p>\n<p>Selain Awkarin, beberapa unggahan foto tanpa kolom komentar juga sering saya lihat pada unggahan para selebriti tanah air. Ini berarti fitur menonaktifkan kolom komentar pada Instagram lazim digunakan oleh para pesohor negeri dengan alasan menghindari komentar para haters yang julid.<\/p>\n<p>Lalu akhirnya, baru-baru ini saya pun melihat beberapa unggahan foto tanpa kolom komentar para <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/maha-benar-netizen-kebebasan-atau-kebablasan-berpendapat\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\">netizen<\/a> di Instagram yang tidak lain adalah teman saya sendiri. Beberapa teman saya itu bukan dari kalangan artis terkenal, anak pejabat, atau tukang bikin sensasi <del>kayak Barbie Kumalasari.<\/del> Mereka benar-benar <em>low profile<\/em> dan jauh dari kata terkenal yang bahkan jika ada <em>haters<\/em> julid berkomentar pun sebenarnya nggak masalah-masalah amat buat hidupnya.<\/p>\n<p>Akhirnya karena rasa penasaran, saat bertemu mereka saya pun menanyakan perihal alasan mengapa mereka mematikan kolom komentar pada Instagram mereka. Ini dia alasan mereka:<\/p>\n<h4><strong>1. Tidak Ingin Dikomentari oleh &#8220;Orang Lawas&#8221;<\/strong><\/h4>\n<p>\u201cKok bisa sih komentar bikin cemburu?\u201d<\/p>\n<p>\u201cYa bisa lah. <em>Lha wong follower-<\/em>ku ada yang orang lawas.\u201d (Baca: mantan pacar dan mantan gebetan).<\/p>\n<p>\u201cBucin!\u201d<\/p>\n<p>Mengunggah foto berdua dengan pasangan baru, membuat teman saya mematikan kolom komentar di Instagram lantaran tidak ingin membuat pasangannya cemburu. Pasalnya di Instagram ada beberapa <em>follower<\/em> yang termasuk dalam kategori &#8220;orang lawas&#8221; di kehidupan teman saya. Akhirnya untuk menghindari kesalahpahaman, ia menonaktifkan kolom komentar. Dengan begitu, para orang lawas tidak akan bisa berkomentar macam-macam. <em>Tapi kalau tetap mau komentar bisa via DM. <\/em>Hehehe.<\/p>\n<h4><strong>2. Menjaga Kepercayaan Diri<\/strong><\/h4>\n<p>Setelah memilah dan memilih, seseorang akan mengunggah foto mereka di media sosial\u2014salah satunya adalah Instagram. Tapi apa jadinya jika sudah merasa percaya diri dengan foto yang dirasa pas untuk dibagikan di media sosial, ternyata tetap mendapat komentar negatif? Salah satu cara yang tepat untuk dilakukan adalah dengan menonaktfikan kolom komentar.<\/p>\n<p>Seperti kata teman-teman saya yang mengatakan jika seseorang bisa jadi sedang menjaga kepercayaaan dirinya dengan menonaktifkan kolom komentar Instagram. Bagi teman saya, mendapat banyak <em>like<\/em> di setiap unggahan foto dapat menghadirkan euforia kebahagiaan dan meningkatkan rasa percaya diri.<\/p>\n<p>Lalu untuk menjaga euforia dan rasa percaya diri itu agar bertahan lebih lama, mereka menghindari komentar-komentar yang berbau <em>shaming<\/em> dengan menonaktifkan kolom komentar.<\/p>\n<h4><strong>3. Biar Dianggap Keren<\/strong><\/h4>\n<p>Menonaktifkan kolom komentar di Instagram ternyata menurut mereka bisa menjadi salah satu cara agar unggahan terlihat lebih keren meskipun <em>angle<\/em> foto yang ditangkap nggak keren-keren amat. Menurut mereka, melihat unggahan tanpa kolom komentar akan terlihat lebih terasa istimewa. Ini dilakukan karena kebanyakan artis melakukan hal serupa agar unggahan mereka terlihat lebih berkelas.<\/p>\n<p>Menurut mereka, di dalam Instagram sering terjadi adanya <em>spam<\/em> komentar dari pengguna yang sama sekali tidak mereka kenal. Maka untuk menghindarinya, mereka pun menonaktfikan kolom komentar.<\/p>\n<p>Jadi kalau setelah ini ada yang nyeletuk, \u201cKalau nggak pengen dikomentari, kenapa musti di-<em>posting<\/em>?\u201d maka mereka akan menjawab, \u201cYa karena pengen aja <em>posting<\/em> foto bagus. Lagian suka-suka aku dong mau di-<em>posting<\/em> atau nggak.\u201d Dan begitulah alasan-alasan mereka yang hobi menonaktifkan kolom komentar di Instagram. Tapi bagi saya, mereka yang menggunakan fitur tersebut adalah justru orang-orang yang kurang merasa percaya diri.<\/p>\n<p>Ya iya, kalau pede harusnya tahan banting sama komentar apa pun dari netizen kan? Tapi ya tetap saja, menggunakan fitur ini adalah hak pribadi setiap pengguna Instagram. Tidak terkecuali mereka yang <em>low profile. <\/em>Wqwqwq~<\/p>\n<p><b>BACA JUGA <\/b><a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/3-alasan-kenapa-filter-truth-or-dare-dan-head-quiz-di-instagram-story-diciptakan\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\">3 Alasan Kenapa Filter Truth or Dare dan Head Quiz di Instagram Story Diciptakan<\/a> <b><\/b>atau tulisan <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/author\/ade-vika-nanda-yuniwan\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\">Ade Vika Nanda Yuniwan<\/a> lainnya.<\/p>\n<p><em>Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara\u00a0<a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/kirim-tulisan\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\">ini<\/a>\u00a0ya.<\/em><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Menonaktifkan kolom komentar di Instagram ternyata bisa jadi salah satu cara agar unggahan terlihat lebih keren meskipun fotonya nggak keren-keren amat.<\/p>\n","protected":false},"author":208,"featured_media":19647,"comment_status":"closed","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_lmt_disableupdate":"","_lmt_disable":"","jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":[],"jnews_primary_category":[],"jnews_override_counter":[],"jnews_post_split":[],"footnotes":""},"categories":[6],"tags":[1093,4364,4365],"class_list":["post-19592","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-artikel","tag-instagram","tag-kolom-komentar","tag-low-profile"],"modified_by":"Audian Laili","amp_enabled":true,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/19592","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/users\/208"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=19592"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/19592\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media\/19647"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=19592"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=19592"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=19592"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}