{"id":194746,"date":"2022-11-05T12:23:00","date_gmt":"2022-11-05T05:23:00","guid":{"rendered":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/?p=194746"},"modified":"2026-02-05T23:34:50","modified_gmt":"2026-02-05T16:34:50","slug":"rokok-itu-simbol-komunis-kapitalis-liberal-konservatif-pokoknya-bahaya","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/rokok-itu-simbol-komunis-kapitalis-liberal-konservatif-pokoknya-bahaya\/","title":{"rendered":"Rokok Itu Simbol Komunis-Kapitalis-Liberal-Konservatif, Pokoknya Bahaya!"},"content":{"rendered":"<p><span style=\"font-weight: 400;\">Setiap ada rilisan tolak kenaikan <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/kenaikan-tarif-cukai-rokok-harus-ditolak-meski-anda-antirokok-sekalipun\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">cukai<\/a> rokok, beranda Twitter saya langsung penuh argumen lucu-lucu. Ada yang bilang perokok itu lonte kapitalis dan korporat. Ada yang bilang para komunis itu tukang ngudud. Nom-noman edgy bilang rokok itu konsumsi SJW liberal. Tapi ada juga yang menghujat kaum miskin yang ngudud sebagai kontra perubahan.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Memang menggelikan memandang opini orang-orang yang nggak bisa bedain industri dengan perusahaan.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Rokok mungkin jadi satu-satunya simbol dari hal yang berseberangan. Palu-arit adalah simbol komunis. Mr Monopoly jadi simbol kapitalis. Starbucks jadi simbol liberal. Cocot buzzer jadi simbol konservatif. Tapi rokok jadi simbol komunis-kapitalis-liberal-konservatif dalam satu tarikan nafas (atau isap).<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Nggatheli kan? Tapi memang demikian nasibnya. Banyak suara antirokok hanya berangkat dari satu nilai: rokok itu jahat. Entah dengan sudut pandang apa pun, barang (yang dianggap) laknat tersebut adalah simbol dari rangkuman keburukan peradaban.<\/span><\/p>\n<h4><b>Aidit dipaksa ngudud<\/b><\/h4>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Tanpa agenda antirokok, olahan tembakau ini sudah mendapat stigma negatif. Rokok adalah cara paling mudah untuk melabeli seseorang sebagai sosok jahat. Sialnya, dari negara sampai industri hiburan melakukan hal yang sama.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">DN Aidit adalah korban stigma buruk ini. Sosok yang ditahbiskan selayaknya iblis ini adalah pembenci barang tersebut. Bahkan berani konfrontasi langsung dengan Soekarno. Bayangkan, anak muda ingah-ingih berambut seperti konde ini menghujat kebiasaan ngudud seorang presiden.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Tapi, dalam film propaganda <\/span><a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/film-pengkhianatan-g30s-pki-memang-layak-diputar-dan-ditonton-saban-tahun\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\"><i><span style=\"font-weight: 400;\">Pengkhianatan G30S\/PKI<\/span><\/i><\/a><span style=\"font-weight: 400;\">, Aidit digambarkan sebagai sobat isap. Hanya demi menguatkan citra iblis, kebencian Aidit pada sebat diselewengkan.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Rokok juga terus jadi simbol negatif di dunia hiburan. Tokoh antagonis sering digambarkan sebagai perokok berat. Sekalinya protagonis ngudud, pasti sosok beringas dan kasar. Jarang ada sosok kalem santai tapi ngudud, kecuali dalam film dokumenter.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Secara tidak langsung, rokok adalah simbol buruk tertanam dalam masyarakat. Akhirnya sobat isap jadi sosok penuh dosa. Contoh orang baik pasti adalah sosok bersih rokok. Sedangkan sesukses apa pun, tetap saja buruk karena ngudud.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Meskipun suka rebutan warisan budaya dengan tetangga sebelah, tapi kretek tidak pernah dipuja. Pejabat publik dan tokoh dalam pemerintahan selalu ditampilkan tanpa udud. Mau ngudud seperti kereta sampai bibirnya hitam, di depan publik mereka akan tampil tanpa sebungkus tembakau.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Susi Pudjiastuti tidak lepas dari stigma ini. Kesuksesan blio selalu dibenturkan oleh <a href=\"https:\/\/mojok.co\/esai\/rokok-susi-pudjiastuti-dan-cerutu-winston-churcill\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">kebiasaan ngudud beliau<\/a>. Sampai hari ini, Susi dinilai sebagai misfits dalam sejarah pemerintahan Indonesia. Bukan karena prestasi, tapi karena rokok (dan penampilan). Kalau pejabat maling bansos, tetap layak sebagai gambaran pejabat asal tidak merokok di depan kamera.<\/span><\/p>\n<h4><b>Pokoknya harus salah<\/b><\/h4>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Stigma negatif rokok membuat banyak argumen tentang barang (lagi-lagi, yang dianggap) laknat ini menjadi liar. Saya akan melompati argumen tentang kesehatan. Toh suara kontra sering didasari dari kebencian yang embuh.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Perokok disebut sebagai lonte korporat. Mereka dianggap melanggengkan kapitalisme. Tapi perokok <a href=\"https:\/\/mojok.co\/susul\/satu-tingwe-banyak-mbakonya\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">tingwe<\/a> pembenci korporat juga kena getahnya. Mereka dipandang sebagai masyarakat primitif yang menolak modernisasi, atau tetap dibenci karena suka ngebul. Nanti kalau beli tembakau tingwe produksi korporasi, akan disebut orang primitif yang jadi lonte korporat?<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Rokok digambarkan sebagai konsumsi warganet SJW yang sok open minded. Terutama, tanpa mendukung seksisme, perokok perempuan. Tapi, rokok juga dianggap sebagai konsumsi masyarakat terbelakang yang memilih sebat daripada beras.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Perokok dianggap memiskinkan diri sendiri. \u201cKan kalau nggak ngudud, bisa bangun rumah.\u201d Promotor <a href=\"https:\/\/id.wikipedia.org\/wiki\/Gentrifikasi\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">gentrifikasi<\/a> dan mafia tanah tersenyum melihat argumen ini. Tapi, kalau ada perokok yang punya rumah banyak, tetap saja dianggap salah karena bakar-bakar uang.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Sedikit menyinggung kesehatan, segala penyakit yang diderita perokok akan dihujat karena kebiasaan mereka. Tapi kalau ada yang sakit diabetes, konsumsi gula tidak serta merta jadi sasaran. Dari urusan genetik sampai perubahan peradaban jadi kambing hitam.<\/span><\/p>\n<h4><b>Perang yang tidak akan dimenangkan<\/b><\/h4>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Stigma negatif adalah batu penghalang utama para aktivis pro tembakau. Isu kesehatan sampai kapitalisme hanyalah bumbu yang memperkuat argumen semata. Faktanya pembenci rokok adalah pembenci ide semata. Ide bahwa ngudud itu buruk, titik!<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Oleh karena stigma seperti ini, perokok jadi enggan memperjuangkan isu tentang tembakau. Dari kenaikan cukai sampai isu smoking area tidak akan disuarakan. Mereka memilih diam dan narimo ing pandum. Lha gimana, mau berjuang langsung dapat label komunis-kapitalis-liberal-konservatif.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Negara juga menolak untuk membebaskan diri dari stigma ini. Para pejabat memilih tampil tanpa sebungkus tembakau, meskipun di belakang layar bisa habis berbungkus-bungkus. Citra manusia sempurna menurut negara terus dijaga sebagai bukan (bahkan anti) tembakau.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Perang memperjuangkan hak perokok bukan untuk menang. Karena perang ini adalah perang yang tidak akan kita menangkan. Perang melawan isu, bisa dibalas isu. Tesis bisa dibalas antitesis. Tapi kalau perang melawan kebencian yang tanpa dasar dan embuh dari mana, mau dengan cara apa?<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Bukan berarti isu kontra bisa bebas disuarakan. Tetap perlu argumen tandingan. Opini kolektif yang dikendalikan satu argumen jelas tidak sehat dalam masyarakat. Namun, para sohibul isap harus siap gigit jari kalau bermimpi menang dari para anti. Karena mereka ini akan selalu jadi antek komunis-kapitalis-liberal-konservatif!<\/span><\/p>\n<p>Ngomong-ngomong, kalian bisa bedain industri sama pabrik kan? Bisa kan?<\/p>\n<p>Penulis: Prabu Yudianto<br \/>\nEditor: Rizky Prasetya<\/p>\n<p><strong>BACA JUGA <a href=\"https:\/\/mojok.co\/esai\/kepsuk\/benarkah-saya-membela-perokok\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">Benarkah Saya Membela Perokok?<\/a><\/strong><\/p>\n<h5><span id=\"Terminal_Mojok_merupakan_platform_User_Generated_Content_UGC_untuk_mewadahi_jamaah_mojokiyah_menulis_tentang_apa_pun_Submit_esaimu_secara_mandiri_lewat_carainiya\"><strong><em>Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara\u00a0<a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/kirim-tulisan\/\">ini<\/a>\u00a0ya.<\/em><\/strong><\/span><\/h5>\n<h5><span id=\"Anda_penulis_Terminal_Mojok_Silakan_bergabung_dengan_Forum_Mojokdi_sini\"><strong><em>Anda penulis Terminal Mojok? Silakan bergabung dengan Forum Mojok\u00a0<a href=\"https:\/\/mojok.co\/forum\/daftar\/\">di sini<\/a>.<\/em><\/strong><\/span><\/h5>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Koe bener, koe bener, koe-koe-koe bener, aku sing salah.<\/p>\n","protected":false},"author":793,"featured_media":194748,"comment_status":"closed","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_lmt_disableupdate":"no","_lmt_disable":"","jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":{"source_name":"","source_url":"","via_name":"","via_url":"","override_template":"0","override":[{"template":"2","single_blog_custom":"","parallax":"1","fullscreen":"1","layout":"right-sidebar","sidebar":"default-sidebar","second_sidebar":"default-sidebar","sticky_sidebar":"1","share_position":"float","share_float_style":"share-monocrhome","show_share_counter":"1","show_view_counter":"0","show_featured":"1","show_post_meta":"1","show_post_author":"1","show_post_author_image":"1","show_post_date":"1","post_date_format":"default","post_date_format_custom":"Y\/m\/d","show_post_category":"0","show_post_reading_time":"0","post_reading_time_wpm":"300","show_zoom_button":"1","zoom_button_out_step":"3","zoom_button_in_step":"4","show_post_tag":"1","show_prev_next_post":"0","show_popup_post":"1","number_popup_post":"3","show_author_box":"1","show_post_related":"1","show_inline_post_related":"0"}],"override_image_size":"0","image_override":[{"single_post_thumbnail_size":"crop-715","single_post_gallery_size":"crop-500"}],"trending_post":"0","trending_post_position":"meta","trending_post_label":"Trending","sponsored_post":"0","sponsored_post_label":"Sponsored by","sponsored_post_name":"","sponsored_post_url":"","sponsored_post_logo_enable":"0","sponsored_post_logo":"","sponsored_post_desc":"","disable_ad":"0"},"jnews_primary_category":{"id":""},"jnews_override_counter":{"override_view_counter":"0","view_counter_number":"0","override_share_counter":"0","share_counter_number":"0","override_like_counter":"0","like_counter_number":"0","override_dislike_counter":"0","dislike_counter_number":"0"},"jnews_post_split":[],"footnotes":""},"categories":[13087],"tags":[2131,1657,4772],"class_list":["post-194746","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-pojok-tubir","tag-komunis","tag-kretek","tag-stigma"],"modified_by":"Administrator","amp_enabled":true,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/194746","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/users\/793"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=194746"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/194746\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":389860,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/194746\/revisions\/389860"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media\/194748"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=194746"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=194746"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=194746"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}