{"id":194090,"date":"2022-11-01T10:07:16","date_gmt":"2022-11-01T03:07:16","guid":{"rendered":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/?p=194090"},"modified":"2022-11-01T10:07:16","modified_gmt":"2022-11-01T03:07:16","slug":"hasil-pengamatan-anak-kelas-1-sd-ibu-doyan-lembur-bapak-masak-dan-merapikan-rumah","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/hasil-pengamatan-anak-kelas-1-sd-ibu-doyan-lembur-bapak-masak-dan-merapikan-rumah\/","title":{"rendered":"Hasil Pengamatan Anak Kelas 1 SD: Ibu Doyan Lembur, Bapak Masak dan Merapikan Rumah"},"content":{"rendered":"<p><span style=\"font-weight: 400;\">Suatu hari sewaktu saya masih SD, <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/guru-dan-dosen-bukan-dewa-yang-selalu-benar-dan-murid-bukan-kerbau\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">seorang guru<\/a> pernah mencoret kertas jawaban saya tatkala menjawab pertanyaan \u201cSiapa yang mencari nafkah?\u201d dan \u201cSiapa yang bertugas untuk mengurus Rumah?\u201d\u00a0<\/span><span style=\"font-weight: 400;\">Saya menjawab begini: \u201cIbu yang mencari nafkah dan bapak merapikan rumah.\u201d<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Cerita masa lalu tersebut berumur panjang. Sesekali ibu menceritakan kejadian itu lagi sambil tertawa. Bahkan sampai ketika anak-anaknya sudah dewasa. Sementara itu, saya sendiri tidak ingat kejadian semasa SD itu.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Sebetulnya saya nggak begitu paham mengapa ibu begitu senang ketika menceritakan kisah ketika saya SD. Beranjak dewasa, kurang lebih saya jadi tahu bahwa pembagian peran dalam keluarga kami yang nggak biasa pada zamannya. Barangkali ibu saya senang karena menjadi berbeda di antara \u201ccorak yang umum\u201d.<\/span><\/p>\n<h4><strong>Beda peran bapak dan ibu di rumah<\/strong><\/h4>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Mungkin, saat itu, melalui insting seorang anak kelas 1 SD, memang begitulah peran bapak dan ibu dalam keluarganya. Jawaban tersebut tentu terbentuk dari pengamatan subjektif seorang anak kecil berusia enam tahun.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Saya ingat betul, saat syukuran <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/percayalah-putus-cinta-nggak-ada-apa-apanya-dibanding-pindah-rumah\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">pindah rumah<\/a>, ibu pernah mencoba memasak nasi liwet. Tidak ada yang berharap banyak. Alih-alih gurih, rasanya tidak berbeda dengan nasi putih biasa.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Masakan bapak memang paling top, bahkan di keluarga besar. Tak hanya memasak, bapak banyak menangani pekerjaan rumah lainnya. Misalnya mencuci, ngepel, dan nyapu.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Ketika masih SD, saya bahkan tidak tahu bahwa ternyata bapak juga bekerja di luar rumah. Berbeda dengan bapak yang selalu cepat-cepat pulang kerja, saya justru mengira bahwa ibu adalah bagian dari kumpulan karyawan doyan lembur.\u00a0<\/span><\/p>\n<h4><strong>Corak keluarga masing-masing<\/strong><\/h4>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Tentu setiap keluarga memiliki coraknya masing-masing. Hanya, di satu aspek, pasti selalu ada corak yang lebih menonjol daripada yang lain. Biasanya, inilah yang dijadikan standar di masyarakat.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Bangsa kita memiliki hobi untuk mengotak-ngotakan sesuatu. Sebetulnya tidak hanya bangsa Indonesia, tetapi umat manusia. Seperti anggapan bahwa orang Sunda yang lemah lembut, orang Batak yang cenderung kasar, dan orang Jawa yang lekat dengan santet.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Mungkin kalian pernah melihat ibu-ibu mengendarai sepeda motor dengan posisinya di tengah jalan dan lampu sein yang menyala tetapi ditunggu sampai lumutan pun beliau tidak kunjung belok. Kebanyakan orang Indonesia cenderung akan mewajarkan ibu pengendara motor tersebut. Mentok-mentok mungkin mangkel dan geleng-geleng seraya membatin, \u201cYah namanya juga ibu-ibu.\u201d Begitulah anggapan umumnya.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Saya teringat kepada tulisan mbak <a href=\"https:\/\/mojok.co\/esai\/kolom\/mengapa-perempuan-menyakiti-sesama-perempuan\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">Kalis Mardiasih<\/a> di Mojok. Agaknya, tulisan itu menggambarkan beberapa nilai yang cukup mengakar di antara laki-laki dan perempuan.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Intinya, sedari saya masih SD, laki-laki diberi tahu bahwa mereka adalah pemimpin. Kelak, mereka akan menanggung kehidupan orang lain. Oleh karena itu, laki-laki harus mampu mendapatkan banyak materi sebagai pencari nafkah utama. Sementara perempuan, dianggap tidak mampu hidup sendiri sehingga tindakannya harus selaras dengan keinginan pelindungnya. Banyak prasangka yang sudah mendarah daging.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Pada akhirnya, segala sesuatu cenderung dilabeli dan dikategorikan, termasuk peran. Meskipun berbeda-beda kotak, tetapi tetap saja ada kotak yang lebih mentereng yang menjadi standar bagi khalayak. Di satu sisi, mungkin tidak semuanya begitu. Pengalaman kebanyakan orang benar begitu.<\/span><\/p>\n<h4><strong>Identitas gender<\/strong><\/h4>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Sebetulnya saya hanya ingin bilang bahwa perbedaan peran ini bisa dimulai dari lingkup kecil seperti peran gender di keluarga. Jika standar bapak ideal adalah bekerja mencari nafkah, sementara ibu merapikan rumah, hal ini mungkin memang baik dan benar. Namun, tidak semestinya hal tersebut dijadikan kotak baku yang mengkerdilkan opsi-opsi lain.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Seorang filsuf, <a href=\"https:\/\/id.wikipedia.org\/wiki\/Judith_Butler\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">Judith Butler<\/a> mengemukakan bahwa identitas gender adalah performatif yang berarti identitas gender terbentuk karena imitasi dan tindakan yang dilakukan secara berulang. Maksudnya begini, sebuah identitas gender tidak akan ada bila tidak disertai pengulangan tindakan dan praktik peniruan.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Oleh karena itu, menurut Butler, cara orang lain bertindak juga tentu mempengaruhi nilai-nilai yang sesuai untuk sebuah peranan. Artinya, tindakan berulang dan proses peniruan dari seseorang yang mencerminkan identitas gender. Semuanya tergantung kepada bagaimana seseorang menggunakan tubuhnya untuk menanggapi sesuatu.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Barangkali, dulu saat pertama kali perempuan bekerja di ruang publik, hal tersebut menjadi pemandangan yang tak biasa dan aneh. Lama-kelamaan, jika dilakukan secara berulang, kemungkinan besar anggapan aneh tersebut akan pudar, kemudian menghilang. Sebagaimana kata Butler, tidak ada identitas yang ajeg, termasuk perihal gender.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Saya tidak bermaksud memprioritaskan salah satu peran di antara ibu dan bapak. Keduanya sama pentingnya bagi seorang anak. Sebagai anak SD, rasanya tidak masalah jika mereka menjadi berbeda dalam beberapa hal selama keduanya tidak keberatan dan enjoy. Apalagi ketika masing-masing berusaha melakukan apa yang bisa dilakukannya.<\/span><\/p>\n<h4><strong>Cara adaptasi ibu dan bapak saya<\/strong><\/h4>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Bagi saya, peran ibu dan bapak melebihi ekspektasi jawaban ibu guru pada saat itu. Kalau memang harus dicoret jawabannya, bukan karena salah, melainkan jawaban saya belum lengkap. Barulah di sana saya mengerti mengapa ibu guru menyalahkan jawabannya. Namun, tidak ada yang bisa mengontrol cara orang lain menilai sesuatu, setidaknya ibu dan bapak melakukan hal yang mereka anggap benar.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Konon, secara alami, manusia dibekali cara untuk menolong dirinya dengan cara <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/5-saran-agar-karyawan-cepat-beradaptasi-di-kantor-baru\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">menyesuaikan diri<\/a> dengan lingkungannya. Saya menduga, dengan segala jalan yang dipilih oleh ibu dan bapak, itu adalah jalan penyesuaian diri yang mereka pilih sebagai pasangan dan juga orang tua.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Dan di mata anak SD, semuanya baik adanya. Tidak ada yang aneh.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Penulis: Nisrina Ridiani<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Editor: Yamadipati Seno<\/span><\/p>\n<p><strong>BACA JUGA <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/relationship-goal-yang-sering-terlupakan-ayah-ibu-dan-kakek-nenek-kita\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">Relationship Goal yang Sering Terlupakan: Ayah-Ibu dan Kakek-Nenek Kita<\/a><br \/>\n<\/strong><\/p>\n<h5><span id=\"Terminal_Mojok_merupakan_platform_User_Generated_Content_UGC_untuk_mewadahi_jamaah_mojokiyah_menulis_tentang_apa_pun_Submit_esaimu_secara_mandiri_lewat_carainiya\"><em>Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara\u00a0<a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/kirim-tulisan\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\">ini<\/a>\u00a0ya.<\/em><\/span><\/h5>\n<h5><em>Anda penulis Terminal Mojok? Silakan bergabung dengan Forum Mojok\u00a0<a href=\"https:\/\/mojok.co\/forum\/daftar\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">di sini<\/a>.<\/em><\/h5>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Suatu hari sewaktu saya masih SD, seorang guru pernah mencoret kertas jawaban saya tatkala menjawab pertanyaan \u201cSiapa yang mencari nafkah?\u201d dan \u201cSiapa yang bertugas untuk mengurus Rumah?\u201d\u00a0Saya menjawab begini: \u201cIbu yang mencari nafkah dan bapak merapikan rumah.\u201d Cerita masa lalu tersebut berumur panjang. Sesekali ibu menceritakan kejadian itu lagi sambil tertawa. Bahkan sampai ketika anak-anaknya [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":1973,"featured_media":194362,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_lmt_disableupdate":"no","_lmt_disable":"","jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":{"source_name":"","source_url":"","via_name":"","via_url":"","override_template":"0","override":[{"template":"1","single_blog_custom":"","parallax":"1","fullscreen":"1","layout":"right-sidebar","sidebar":"default-sidebar","second_sidebar":"default-sidebar","sticky_sidebar":"1","share_position":"float","share_float_style":"share-monocrhome","show_share_counter":"1","show_view_counter":"0","show_featured":"1","show_post_meta":"1","show_post_author":"1","show_post_author_image":"1","show_post_date":"1","post_date_format":"default","post_date_format_custom":"Y\/m\/d","show_post_category":"0","show_post_reading_time":"0","post_reading_time_wpm":"300","show_zoom_button":"1","zoom_button_out_step":"3","zoom_button_in_step":"4","show_post_tag":"1","show_prev_next_post":"0","show_popup_post":"1","number_popup_post":"3","show_author_box":"1","show_post_related":"1","show_inline_post_related":"0"}],"override_image_size":"0","image_override":[{"single_post_thumbnail_size":"crop-715","single_post_gallery_size":"crop-500"}],"trending_post":"0","trending_post_position":"meta","trending_post_label":"Trending","sponsored_post":"0","sponsored_post_label":"Sponsored by","sponsored_post_name":"","sponsored_post_url":"","sponsored_post_logo_enable":"0","sponsored_post_logo":"","sponsored_post_desc":"","disable_ad":"0"},"jnews_primary_category":{"id":""},"jnews_override_counter":{"override_view_counter":"0","view_counter_number":"0","override_share_counter":"0","share_counter_number":"0","override_like_counter":"0","like_counter_number":"0","override_dislike_counter":"0","dislike_counter_number":"0"},"jnews_post_split":[],"footnotes":""},"categories":[13080],"tags":[4915,493,566,17431,5340],"class_list":["post-194090","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-personality","tag-anak-sd","tag-bapak","tag-ibu","tag-peran-ibu","tag-sd"],"modified_by":"Yamadipati Seno","amp_enabled":true,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/194090","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1973"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=194090"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/194090\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media\/194362"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=194090"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=194090"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=194090"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}