{"id":193940,"date":"2022-10-27T13:29:45","date_gmt":"2022-10-27T06:29:45","guid":{"rendered":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/?p=193940"},"modified":"2022-10-27T13:29:45","modified_gmt":"2022-10-27T06:29:45","slug":"tragedi-berdarah-terowongan-paledang-dan-misteri-pelajar-tanpa-kepala","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/tragedi-berdarah-terowongan-paledang-dan-misteri-pelajar-tanpa-kepala\/","title":{"rendered":"Tragedi Berdarah Terowongan Paledang dan Misteri Pelajar Tanpa Kepala"},"content":{"rendered":"<p><span style=\"font-weight: 400;\">Pada 22 tahun yang lalu, terjadi peristiwa kelam di Terowongan Paledang, ketika puluhan pelajar meregang nyawa ketika menaiki kereta api Bogor-Sukabumi. Pada 2000, sekitar 20 pelajar yang naik kereta api, tapi bukannya masuk ke dalam gerbong, mereka malah naik di atapnya.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Hal ini biasa ditemukan di kereta api Indonesia sebelum masa <a href=\"https:\/\/mojok.co\/esai\/menteri-jonan\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">Pak Jonan<\/a> menjadi direktur utama PT KAI. Suasana kereta api saat itu tidak jelas, sumpek, perokok di mana-mana, pedagang yang masuk dengan bebas, bahkan penumpang yang duduk di lantai gerbong.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Para pelajar itu mendapat teguran dari petugas kereta api dan meminta mereka untuk turun, mengingat terowongan yang berada di Jalan Paledang, Bogor Tengah, Kota <a href=\"https:\/\/mojok.co\/esai\/kota-bogor-kota-paling-ideal-di-indonesia-untuk-pensiun\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">Bogor<\/a> ini memang dibangun sangat sempit oleh kolonial Belanda. Namun, wejangan petugas kereta api itu masuk telinga kanan keluar telinga kiri. Para pelajar itu tetap haha-hihi di atas gerbong kereta.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Menurut beberapa sumber, kereta api saat itu melaju sangat cepat akibat keterlambatan pemberangkatan. Hal itu biasa dijumpai di masa kelam perkeretaapian Indonesia, berbeda dengan sekarang yang memiliki jadwal pasti dengan perjalanan yang tepat waktu.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Hingga ketika kereta api itu memasuki Terowongan Paledang, banyak pelajar yang tidak bisa menghindarinya. Meskipun, ada beberapa yang langsung melompat keluar gerbong untuk menyelamatkan nyawa mereka.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Tetapi, puluhan pelajar lainnya tewas dengan kondisi mengenaskan. Terowongan ini hanya memiliki panjang 10 meter, tetapi ukurannya saat itu hanya muat untuk kereta api, tidak ada celah sama sekali. Hal ini membuat kondisi para korban tidak karuan, bahkan ada yang anggota tubuhnya terputus.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Berdasarkan rumor yang beredar, para pelajar itu hendak menggelar perkemahan di masa liburan sekolah. Tetapi, ternyata rencana liburan itu harus pupus ketika nyawa mereka melayang karena tidak mengindahkan teguran petugas.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Hal ini membuat warga sekitar histeris ketika mendatangi lokasi. Setelah kejadian itu, Terowongan Paledang menjadi angker, dan banyak kisah seram yang muncul usai kejadian tersebut.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Beberapa warga lokal kerap melihat sosok pelajar berjalan menyusuri Terowongan Paledang dengan tas ransel, tapi sosok itu terlihat tanpa kepala. Tidak hanya itu, ada juga yang sering mendengar suara jeritan kesakitan, yang konon merupakan suara korban tragedi Terowongan Paledang.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Salah satu yang paling menyeramkan adalah adanya penampakan sekelompok pelajar yang nongkrong di dalam terowongan. Namun, ketika didekati, mereka menghilang entah ke mana. Keangkeran Terowongan Paledang ternyata tidak hanya karena tragedi kelam tersebut, sejarah pembangunannya pun menyisakan kengerian tersendiri.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Tidak ada informasi pasti tentang kapan terowongan ini dibangun. Tetapi, berdasarkan beberapa sumber yang saya temukan, Terowongan Paledang dibangun sekitar tahun 1800-an. Tentunya, terowongan ini dibangun oleh kolonial Belanda di masa penjajahan.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Jauh sebelum <a href=\"https:\/\/jateng.tribunnews.com\/2022\/07\/26\/cerita-mistis-terowongan-paledang-dan-tragedi-paledang-bogor-2000-yang-tewaskan-20-pelajar\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">tragedi<\/a> Paledang, konon katanya, terowongan ini dibangun dengan nyawa para pekerja rodi. Katanya, ada banyak pekerja tewas ketika terowongan yang menghubungkan Bogor-Sukabumi ini dibangun. Namun, jalur kereta di sekitar Paledang menjadi salah satu pusat perekonomian terbaik di zaman Belanda.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Kini, terowongan tersebut sudah mendapatkan banyak renovasi karena proyek double track. Ukuran terowongannya pun sudah diperlebar sehingga tidak sempit. Bahkan, beberapa warga lokal di Paledang menyebut keangkerannya memudar ketika terowongan itu sudah direnovasi.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Meskipun begitu, hingga saat ini masih saja ada warga yang bersaksi mendengar suara jeritan dan sosok tanpa kepala berjalan di sekitar jalur ini. Tetapi, kata anak kampung sini, sosok-sosok itu sejatinya tidak mengganggu. Namun, alangkah baiknya kita mengambil hikmah dari kejadian itu, jangan sekali-kali melanggar aturan safety. Nyawa kalian begitu berharga.<\/span><\/p>\n<p>Penulis: Muhammad Afsal Fauzan S.<br \/>\nEditor: Rizky Prasetya<\/p>\n<p><strong>BACA JUGA <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/stasiun-cipeundeuy-beneran-sakti-atau-keselamatan-harga-mati\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">Stasiun Cipeundeuy: Beneran Sakti Atau Keselamatan Harga Mati?<\/a><\/strong><\/p>\n<h5><span id=\"Terminal_Mojok_merupakan_platform_User_Generated_Content_UGC_untuk_mewadahi_jamaah_mojokiyah_menulis_tentang_apa_pun_Submit_esaimu_secara_mandiri_lewat_carainiya\"><strong><em>Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara\u00a0<a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/kirim-tulisan\/\">ini<\/a>\u00a0ya.<\/em><\/strong><\/span><\/h5>\n<h5><span id=\"Anda_penulis_Terminal_Mojok_Silakan_bergabung_dengan_Forum_Mojokdi_sini\"><strong><em>Anda penulis Terminal Mojok? Silakan bergabung dengan Forum Mojok\u00a0<a href=\"https:\/\/mojok.co\/forum\/daftar\/\">di sini<\/a>.<\/em><\/strong><\/span><\/h5>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Tragedi yang harusnya tak terjadi.<\/p>\n","protected":false},"author":1184,"featured_media":193993,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_lmt_disableupdate":"no","_lmt_disable":"","jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":{"source_name":"","source_url":"","via_name":"","via_url":"","override_template":"0","override":[{"template":"1","single_blog_custom":"","parallax":"1","fullscreen":"1","layout":"right-sidebar","sidebar":"default-sidebar","second_sidebar":"default-sidebar","sticky_sidebar":"1","share_position":"float","share_float_style":"share-monocrhome","show_share_counter":"1","show_view_counter":"0","show_featured":"1","show_post_meta":"1","show_post_author":"1","show_post_author_image":"1","show_post_date":"1","post_date_format":"default","post_date_format_custom":"Y\/m\/d","show_post_category":"0","show_post_reading_time":"0","post_reading_time_wpm":"300","show_zoom_button":"1","zoom_button_out_step":"3","zoom_button_in_step":"4","show_post_tag":"1","show_prev_next_post":"0","show_popup_post":"1","number_popup_post":"3","show_author_box":"1","show_post_related":"1","show_inline_post_related":"0"}],"override_image_size":"0","image_override":[{"single_post_thumbnail_size":"crop-715","single_post_gallery_size":"crop-500"}],"trending_post":"0","trending_post_position":"meta","trending_post_label":"Trending","sponsored_post":"0","sponsored_post_label":"Sponsored by","sponsored_post_name":"","sponsored_post_url":"","sponsored_post_logo_enable":"0","sponsored_post_logo":"","sponsored_post_desc":"","disable_ad":"0"},"jnews_primary_category":{"id":""},"jnews_override_counter":{"override_view_counter":"0","view_counter_number":"0","override_share_counter":"0","share_counter_number":"0","override_like_counter":"0","like_counter_number":"0","override_dislike_counter":"0","dislike_counter_number":"0"},"jnews_post_split":{"enable_post_split":"0","post_split":[{"template":"1","tag":"h2","numbering":"asc","mode":"normal","first":"0","enable_toc":"0","toc_type":"normal"}]},"footnotes":""},"categories":[1],"tags":[1154,17383,8861],"class_list":["post-193940","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-nusantara","tag-kereta-api","tag-terowongan-paledang","tag-tragedi"],"modified_by":"Rizky Prasetya","amp_enabled":true,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/193940","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1184"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=193940"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/193940\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media\/193993"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=193940"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=193940"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=193940"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}