{"id":193872,"date":"2022-10-26T12:32:29","date_gmt":"2022-10-26T05:32:29","guid":{"rendered":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/?p=193872"},"modified":"2022-10-26T14:03:20","modified_gmt":"2022-10-26T07:03:20","slug":"menyesal-kuliah-bahasa-indonesia-di-universitas-indonesia","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/menyesal-kuliah-bahasa-indonesia-di-universitas-indonesia\/","title":{"rendered":"Rasa Sesal yang Dulu Saya Rasakan ketika Kuliah Bahasa Indonesia di Universitas Indonesia"},"content":{"rendered":"<p><span style=\"font-weight: 400;\">Bahasa Indonesia menyandang status sebagai bahasa nasional. Singkatnya, Bahasa Indonesia adalah bahasa persatuan. Produk budaya ini sekaligus mempersatukan ribuan bahasa daerah di Indonesia beserta dialek yang mengiringi. Dan, perkara dialek dan bahasa daerah ini pernah membuat saya merasa menyesal pernah kuliah di Universitas Indonesia.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Setiap bahasa daerah tentu memiliki dialek masing-masing. Oleh sebab itu, sangat wajar ketika penutur, baik sadar maupun tidak, menggunakan dialek bahasa daerahnya ketika berbicara dengan Bahasa Indonesia. Berbicara dialek, saya jadi teringat pengalaman ketika tamat SMA, sebelum kuliah di Universitas Indonesia.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Ceritanya, dari awal masuk sekolah hingga tamat SMA, saya bersekolah di <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/analisis-kekuatan-program-gordon-ramsay-uncharted-sumatera-barat\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">Sumatera Barat<\/a>. Tepatnya di Lubuk Basung dan diterima di Universitas Indonesia pada tahun 1985. Tentu saya senang sekali bisa kuliah di salah satu kampus terbaik di Indonesia.<\/span><\/p>\n<h4><b>Hari-hari awal di Universitas Indonesia<\/b><\/h4>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Saat itu, lokasi kampus Universitas Indonesia masih di Salemba, <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/tempat-ngopi-favorit-di-jakarta-pusat\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">Jakarta Pusat<\/a>, dan Jalan Pemuda, Jakarta Timur. Sebelum perkuliahan berlangsung, mahasiswa baru menerima penataran P4 selama 100 jam di kampus Salemba. Saya masuk ke kelompok yang ditatar di Fakultas Teknik, Salemba.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Suatu ketika, ketika sedang istirahat makan siang, saya didekati oleh kakak panitia. Dengan ramah dia bertanya-tanya. Dalam hati heran juga, nih orang kok ingin tahu benar. Selanjutnya, tanpa saya minta, dia menyebutkan bahwa dirinya dari Fakultas Sastra (FS). Ternyata satu fakultas dengan saya (sekarang FS jadi FIB).<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Dia sempat menebak, \u201cAdik orang Padang ya?\u201d\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">\u201cKok tahu?\u201d Jawab saya senang.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">\u201cIya, logatnya masih bau rendang,\u201d jawabnya sambil tersenyum. Oh la la, pipi saya yang tadinya putih bersih jadi merah tomat.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Di Universitas Indonesia, saya memang mengambil jurusan Sastra Indonesia. Salah satu mata kuliah yang saya ikuti adalah Kajian Prosa. Dosen pengampu matkul tersebut bernama Ibu Panuti Sudjiman.<\/span><\/p>\n<h4><b>Dipermalukan ketika belajar Bahasa Indonesia<\/b><\/h4>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Salah satu metode mengajar beliau adalah mahasiswa diminta membaca beberapa paragraf dari sebuah karya sastra secara bergantian. Setelah itu, kami akan membahas karya sastra tersebut. Saya senang dengan matkul ini, terutama kalau sedang membahas cerpen atau <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/rekomendasi-novel-yang-cocok-dibaca-saat-ingin-menangis-sesenggukan\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">novel<\/a>.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Saya suka sama matkul itu, makanya ketika mendapatkan giliran membaca, saya membaca dengan keras dan lantang. Anehnya, saat membaca, beberapa kali saya mendengar suara tertawa. Meski yang saya dengar adalah suara tertawa yang coba ditahan, tetap saja kuping saya bisa menangkapnya. Saya merasa heran dan bertanya-tanya dalam hati. Ada apa, sih?<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Setelah selesai kuliah, saya menanyakannya pada seorang teman. Jawabnya, \u201cMaaf ya Is, kamu itu mengucapkan bunyi \/e\/ pada kata \u201cemas, bandeng, maret, merdeka\u201d dan sejenisnya gitu dengan bunyi \/e\/ taling\/keras, harusnya kan dengan bunyi \/e\/ pepet\/lemah.\u201d<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Saya terhenyak. Jadi, mereka menertawakan dialek saya? Malunya luar biasa.<\/span><\/p>\n<p><strong>Baca Halaman Selanjutnya<\/strong><br \/>\n<a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/menyesal-kuliah-bahasa-indonesia-di-universitas-indonesia\/2\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">Rasa Malu yang Membuat saya kehilangan kepercayaan diri<\/a><br \/>\n<!--nextpage--><\/p>\n<h4><b>Rasa malu yang membuat saya kehilangan kepercayaan diri<\/b><\/h4>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Rupanya kejadian ini memengaruhi saya. Misalnya, saya jadi sangat ragu ketika hendak bertanya kepada dosen. Saya harus susah payah menyusun kalimat di dalam hati sebelum melontarkannya. Rasa takut mengucapkan \/e\/ itu bikin saya tertekan. Alhasil, saya jadi pendiam. Rasa percaya diri menguap.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Saat itu, saya jadi mempertanyakan keputusan kuliah Bahasa Indonesia di Universitas Indonesia. Kalau saja saya memutuskan kuliah di UNAND Padang, teman-teman saya pasti tidak akan mempermasalahkan mengucapkan \/e\/ taling. Maklum, di tanah <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/alasan-orang-padang-nggak-pakai-minangkabau-untuk-menamai-rumah-makan-padang\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">Minang<\/a>, kami memang tidak mengenal bunyi \/e\/pepet.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Sedih rasanya kalau membayangkan rasa malu kala itu. Selain itu, betapa dialek orang daerah, yang seharusnya menjadi kekayaan Bahasa Indonesia, malah jadi bahan tertawaan. Begitu sedihnya, saya jadi sering menyendiri di sebuah pojokan kampus.<\/span><\/p>\n<h4><b>Bapak Djoko Kencono menyelamatkan saya<\/b><\/h4>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Suatu kali, Bapak Djoko Kencono, dosen Fonologi, melihat saya duduk sendirian di pojokan. Beliau mendekati saya dan bertanya mengapa wajah saya terlihat bersedih. Awalnya, saya enggan berterus terang. Namun, karena beliau terus bertanya, saya terpancing untuk bercerita tentang rasa sesal belajar Bahasa Indonesia dan dipermalukan karena dialek.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Di akhir cerita saya, beliau tersenyum dan berkata.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">\u201cJika tidak bisa menghilangkan dialek Minang ya itu wajar. Namanya juga sudah bertahun-tahun hidup di daerah. Kalau lafalnya tidak membedakan arti, masih boleh kok, tapi pelan-pelan dipelajari, terutama yang membedakan arti. Misalnya, mempelajari bunyi \/e\/ dalam kata \u201cserang\u201d (menyerang) dan kata \u201cSerang\u201d sebagai kota. Pada dua kata itu, lafal \/e\/ berbeda makna.\u201d\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Beliau menambahkan.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">\u201cJangan malu! <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/5-kesalahan-saya-sebagai-seorang-perantau-jawa-newbie-di-tanah-pasundan\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">Logat Jawa<\/a> saya dan Pak Sapardi juga masih kental, kok! Padahal kami dosen. Bukan salah bunda mengandung, melahirkan, dan membesarkan kita di mana.\u201d\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Beliau memotivasi saya dengan suara lembutnya, serta mengakhirinya dengan bercanda dan tersenyum. Saya pun ikut-ikutan tersenyum karena membayangkan selama kuliah dengan Pak Djoko dan Pak Sapardi, dua dosen istimewa di Universitas Indonesia, saya tidak bisa membedakan bunyi \/d\/ dan \/t\/ beliau berdua karena bunyi letupannya di telinga saya sama. Entah di kuping orang lain.<\/span><\/p>\n<h4><b>Memacu diri untuk belajar<\/b><\/h4>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Mendengar motivasi dari Pak Djoko, saya jadi terpacu untuk berlatih mengucapkan bunyi \/e\/ pepet. Saya tidak boleh menyerah belajar Bahasa Indonesia. Dialek memang kekayaan sebuah bahasa, tapi jangan sampai jadi penghambat.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Saat itu, saya dibantu oleh kawan-kawan yang tinggal di \u201cWisma Melati\u201d di Jalan Pemuda III. Sebuah rumah kontrak yang kami bayar secara patungan. Saya mengontrak bersama Ceu Ros, Neni, Hida, Ayin, dan Mbak Nina. Mereka dari Cirebon, Tegal, dan Karawang. Dua orang lagi yang dari Kuningan saya lupa namanya.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Pelatih saya adalah teman sekamar. Namanya Hidayati, kuliah Jurusan Tata Busana di <a href=\"https:\/\/id.wikipedia.org\/wiki\/Universitas_Negeri_Jakarta\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">IKIP Rawamangun<\/a>, bukan Universitas Indonesia. Hida, nama panggilannya, adalah orang Rangkasbitung. Dia tidak menyebut istilah \/e\/ pepet, tapi \/e\/ orang Sunda.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">\u201cKalau bisa mengucapkan kata \u201cpeuyeum\u201d dengan benar, pasti bisa mengucapkan e-nya orang Sunda,\u201d kata Hida penuh semangat.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Makanya, dia meminta saya berulang-ulang mengucapkan kata \u201cpeuyeum\u201d di depan cermin. Saya mau saja lagi. Sementara Ceu Ros, Neni, Hida, Ayin, dan Mbak Nina memperhatikan. Setelah Hida merasa saya mampu mengucapkan \/e\/ pepet, dia meminta saya mengucapkan kata emas, Maret, bandeng, dan lain-lain dengan lafal \/e\/ pepet.<\/span><\/p>\n<h4><b>Ilmu yang saya dapat<\/b><\/h4>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Karena memperhatikan wajah saya di kaca ketika mengucapkan kata \u201cpeuyeum\u201d, saya merasa mendapat ilmu baru dan menyimpulkan sesuatu. Ternyata, mengucapkan bunyi \/e\/pepet itu bibir ditarik ke samping hingga kita seperti orang tersenyum.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">\u201cPantas saja orang Sunda cantik-cantik karena terlatih tersenyum,\u201d kata saya ngomong sendiri di depan cermin. Orang Sunda seolah-olah tersenyum ketika mengucapkan kata-kata berlafal \/e\/ pepet, terutama dalam kata \u201cpeuyeum\u201d. Diam-diam saya berpikir demikian.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">\u201cAyo Is, latihan lagi. Pengucapan \/e\/ Sunda-nya sudah benar, tapi belum pas,\u201d Hida mengagetkan saya yang baru saja merumuskan sebuah teori mengapa orang Sunda cantik. Belum menanggapi Hida, tiba-tiba perut saya sakit. Saya pun bangun hendak ke toilet. \u201cMau ngapain Is?\u201d tanya Hida.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">\u201cBrak,\u201d jawab saya <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/merindukan-acara-spontan-dengan-segala-konten-yang-ditayangkan\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">spontan<\/a>. Tanpa sadar, saya mengganti bunyi \/e\/ taling dalam kata \u201cberak\u201d dengan bunyi \/e\/ pepet. Sontak, teman saya sekontrakan yang berada di dekat saya tertawa terbahak-bahak.<\/span><\/p>\n<h4><b>Terima kasih kawan-kawan Wisma Melati<\/b><\/h4>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Kawan-kawan satu kontrakan itu berjasa besar. Saya ingin menghaturkan rasa terima kasih kepada mereka lewat tulisan ini. Berkat latihan-latihan yang penuh canda dan tawa itu, hari-hari saya belajar Bahasa Indonesia di Universitas Indonesia jadi tidak lagi menyiksa. Penyesalan itu berubah menjadi rasa syukur.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Penulis: Ismalinar<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Editor: Yamadipati Seno<\/span><\/p>\n<p><strong>BACA JUGA <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/kenapa-ejaan-yang-benar-menurut-badan-bahasa-malah-bikin-bahasa-indonesia-jadi-aneh-asing-dan-lucu\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">Kenapa Ejaan yang Benar Menurut Badan Bahasa Malah Bikin Bahasa Indonesia Jadi Aneh, Asing, dan Lucu?<\/a><br \/>\n<\/strong><\/p>\n<h5><span id=\"Terminal_Mojok_merupakan_platform_User_Generated_Content_UGC_untuk_mewadahi_jamaah_mojokiyah_menulis_tentang_apa_pun_Submit_esaimu_secara_mandiri_lewat_carainiya\"><em>Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara\u00a0<a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/kirim-tulisan\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\">ini<\/a>\u00a0ya.<\/em><\/span><\/h5>\n<h5><em>Anda penulis Terminal Mojok? Silakan bergabung dengan Forum Mojok\u00a0<a href=\"https:\/\/mojok.co\/forum\/daftar\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">di sini<\/a>.<\/em><\/h5>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Rasa sesal yang pernah ada.<\/p>\n","protected":false},"author":1967,"featured_media":193885,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_lmt_disableupdate":"no","_lmt_disable":"","jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":{"source_name":"","source_url":"","via_name":"","via_url":"","override_template":"0","override":[{"template":"1","single_blog_custom":"","parallax":"1","fullscreen":"1","layout":"right-sidebar","sidebar":"default-sidebar","second_sidebar":"default-sidebar","sticky_sidebar":"1","share_position":"float","share_float_style":"share-monocrhome","show_share_counter":"1","show_view_counter":"0","show_featured":"1","show_post_meta":"1","show_post_author":"1","show_post_author_image":"1","show_post_date":"1","post_date_format":"default","post_date_format_custom":"Y\/m\/d","show_post_category":"0","show_post_reading_time":"0","post_reading_time_wpm":"300","show_zoom_button":"1","zoom_button_out_step":"3","zoom_button_in_step":"4","show_post_tag":"1","show_prev_next_post":"0","show_popup_post":"1","number_popup_post":"3","show_author_box":"1","show_post_related":"1","show_inline_post_related":"0"}],"override_image_size":"0","image_override":[{"single_post_thumbnail_size":"crop-715","single_post_gallery_size":"crop-500"}],"trending_post":"0","trending_post_position":"meta","trending_post_label":"Trending","sponsored_post":"0","sponsored_post_label":"Sponsored by","sponsored_post_name":"","sponsored_post_url":"","sponsored_post_logo_enable":"0","sponsored_post_logo":"","sponsored_post_desc":"","disable_ad":"0"},"jnews_primary_category":{"id":""},"jnews_override_counter":{"override_view_counter":"0","view_counter_number":"0","override_share_counter":"0","share_counter_number":"0","override_like_counter":"0","like_counter_number":"0","override_dislike_counter":"0","dislike_counter_number":"0"},"jnews_post_split":{"enable_post_split":"0","post_split":[{"template":"1","tag":"h2","numbering":"asc","mode":"normal","first":"0","enable_toc":"0","toc_type":"normal"}]},"footnotes":""},"categories":[13089],"tags":[1164,6512,4016,626,196,12428],"class_list":["post-193872","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-kampus","tag-bahasa-indonesia","tag-bahasa-sunda","tag-belajar-bahasa","tag-sastra-indonesia","tag-ui","tag-universitas-indonesia"],"modified_by":"Yamadipati Seno","amp_enabled":true,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/193872","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1967"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=193872"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/193872\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media\/193885"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=193872"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=193872"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=193872"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}