{"id":192924,"date":"2022-10-18T11:28:08","date_gmt":"2022-10-18T04:28:08","guid":{"rendered":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/?p=192924"},"modified":"2022-10-18T11:28:08","modified_gmt":"2022-10-18T04:28:08","slug":"lomba-desa-kegiatan-nggak-penting-yang-bikin-repot-warga","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/lomba-desa-kegiatan-nggak-penting-yang-bikin-repot-warga\/","title":{"rendered":"Lomba Desa: Kegiatan Nggak Penting yang Bikin Repot Warga"},"content":{"rendered":"<p><span style=\"font-weight: 400;\">Lomba desa adalah agenda tahunan paling menguras tenaga. Saya pernah mengalaminya beberapa tahun lalu. Nyaris setiap hari, saya dan warga sekitar diminta oleh pemerintah setempat untuk kerja bakti \u201cmemoles\u201d desa menjadi sedemikian rupa. Nggak cuma tenaga saja, warga di kampung saya juga wajib iuran untuk memperbaiki jalan, membangun pagar rumah, membangun gapura, hingga renovasi tempat-tempat umum.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Biaya yang dibutuhkan persiapan lomba desa tentu nggak sedikit. Bahkan, warga harus rela ngangsur beberapa bulan demi \u201cmembangun desa\u201d agar tampak gemerlap seperti \u201ckota\u201d. Dari sini sebenarnya sudah kelihatan kalau lomba desa tak lebih sekedar ajang untuk memeras keringat warga, karena pemerintah pengennya lihat kemajuan saja tanpa turun ke lapangan (baca: nggak mau modal).<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Selain diminta iuran, warga di desa saya saat itu juga terpaksa harus membabat habis tanaman teh-tehan dan pepohonan di sekitar rumah. Padahal, sebelum lomba desa, kampung saya masih tampak begitu asri dan alami. Tapi, setelah kegiatan lomba desa dilaksanakan, pohon-pohon rindang dan pagar tanaman teh-tehan di sekitar rumah porak-poranda, digantikan pagar tembok tinggi menjulang.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Perbudakan gaya baru jelas terasa ketika persiapan lomba desa. Nyaris berbulan-bulan warga sekitar diminta untuk membangun berbagai fasilitas yang sebenarnya nggak penting-penting amat. Kayak bikin plang tulisan anjuran <a href=\"https:\/\/hellosehat.com\/seks\/kontrasepsi\/alat-kontrasepsi\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">KB,<\/a> tulisan jam belajar masyarakat, banner-banner menyambut tim juri, hingga beragam umbul-umbul nirfaedah lainnya. Dan, <\/span><span style=\"font-weight: 400;\">kerja paksa<\/span><span style=\"font-weight: 400;\"> kerja bakti itu dilakukan secara maraton, serba dadakan.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Entah kenapa setiap ada kegiatan yang diadakan pemerintah, masyarakatlah yang ujung-ujungnya mengeluarkan biaya. Bahkan, untuk menghaluskan jalan, mengadakan penerangan jalan, hingga renovasi fasilitas umum, warga harus mandiri (baca: patungan). Kadang suka mikir, apa sih guna pemerintah setempat kalau semua urusan pada akhirnya ditanggung warga? Klasik sih, tapi emang gitu kenyataannya.<\/span><\/p>\n<h4><b>Pemerintah bahagia, warga merana<\/b><\/h4>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Lomba desa, baik tingkat kabupaten maupun provinsi, bagi saya cuma akal-akalan pemerintah saja agar warga terus-terusan mandiri membangun berbagai fasilitas di kampung halaman. Kita tahu, sebagian warga masyarakat masih memiliki jiwa serba ewuh-pekewuh dan \u201cnggah-nggih\u201d (baca: nggak enakan) kalau nggak nuruti kemauan pemerintah setempat. Sebab, ancamannya cukup serius. Misal nggak patuh, bisa dianggap sebagai warga yang membangkang, nggak umum batur, dan bisa dilemahke putih (baca: tidak dianggap warga).<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Sifat serba ewuh-pekewuh itu nggak jarang dimanfaatkan pemerintah lokal untuk \u201cmemperbudak\u201d warga masyarakat. Nggak cuma diperas secara tenaga, tapi juga materi. Bayangkan saja, warga di desa saya yang rata-rata berprofesi sebagai tukang bangunan dan petani, terus-terusan diminta iuran untuk mengadakan berbagai kegiatan, tak terkecuali lomba desa nirfaedah itu. Ibaratnya, cari makan saja susah, lha kok disuruh bantu pemerintah yang notabene adalah <a href=\"https:\/\/mojok.co\/pojokan\/bukan-birokrasi-watak-feodal-abdi-negara-yang-bikin-kita-sakit-hati\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">pelayan rakyat<\/a>, piye iki logikane?<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Katanya sih, lomba desa bertujuan untuk meningkatkan partisipasi dan meningkatkan kepekaan warga agar lebih peduli dengan lingkungan sekitar. Saya kira, kalau cuma urusan meningkatkan partisipasi saja, warga sudah ahlinya ahli. Nggak harus bikin kegiatan lomba desa, sejak dulu warga di pelosok desa itu sudah sangat peduli dengan tetangga dan lingkungan sekitar, ygy. Kalau ada tetangga sakit, ya menjenguk. Misal ada yang bikin rumah, ya ikut sambatan. Jadi, ya, nggak heran kalau banyak pihak yang menuding kalau lomba desa cuma akal-akalan pemerintah pusat biar warga mau keluar uang, dan pemerintah setempat tinggal nyawang doang.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Saya kira semua orang tahu kalau lomba desa sebenarnya ajang \u201ctipu-tipu\u201d semata. Ini sudah jadi rahasia umum, biar meraih juara pertama, ((biasanya)) nggak sedikit pemerintah setempat yang \u201cmemalsukan\u201d dokumen, laporan, atau buku-buku administratif berkaitan dengan desa. Katanya sih mirip sekolah atau kampus kalau mau <a href=\"https:\/\/mojok.co\/esai\/pidato-nadiem-makarim-gelar-bukan-segalanya-ditujukan-ke-siapa-sih\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">ngejar akreditasi<\/a> itu, semua kerja lembur nggarap pembukuan ini itu demi kenaikan akreditasi. Katanya lho ini~<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Artinya, kalau menang, adanya kegiatan lomba desa ini sesungguhnya hanya menguntungkan \u201csang kepala\u201d saja. Bukankah ini kesempatan bagus buat membangun citra politikus lokal di mata dunia, ygy? Jadi, ya, nggak heran sih saat persiapan lomba, para pejabat lokal ini begitu vokal dan \u201cmaksa\u201d warga agar mau keluar materi dan tenaga.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Tentu saja saya nggak serta merta menyalahkan aparatur setempat saja. Sebab, saya sadar betul bahwa di balik agenda lomba desa ada skenario yang jauh lebih besar di atas sana. Tapi saya nggak mau membahas lebih jauh perkara itu (risikone gede). Yang jelas saya melihat dengan mata kepala sendiri bahwa kegiatan ini sangat membebani dan menyengsarakan warga. Atas nama \u201cpembangunan\u201d, berulang kali masyarakat akar rumput terus-terusan diperas dan menjadi tumbal para elit. Dan, inilah kabar dari desa, pemerintah bahagia, warga merana.<\/span><\/p>\n<p>Penulis: Jevi Adhi Nugraha<br \/>\nEditor: Rizky Prasetya<\/p>\n<p><strong>BACA JUGA <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/bali-desa-mbangun-desa-perbudakan-gaya-baru\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">Bali Desa Mbangun Desa: Diminta Membantu, Realitasnya Perbudakan Gaya Baru<\/a><\/strong><\/p>\n<h5><span id=\"Terminal_Mojok_merupakan_platform_User_Generated_Content_UGC_untuk_mewadahi_jamaah_mojokiyah_menulis_tentang_apa_pun_Submit_esaimu_secara_mandiri_lewat_carainiya\"><strong><em>Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara\u00a0<a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/kirim-tulisan\/\">ini<\/a>\u00a0ya.<\/em><\/strong><\/span><\/h5>\n<h5><span id=\"Anda_penulis_Terminal_Mojok_Silakan_bergabung_dengan_Forum_Mojokdi_sini\"><strong><em>Anda penulis Terminal Mojok? Silakan bergabung dengan Forum Mojok\u00a0<a href=\"https:\/\/mojok.co\/forum\/daftar\/\">di sini<\/a>.<\/em><\/strong><\/span><\/h5>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Haesh sing repot yo warga meneeeh.<\/p>\n","protected":false},"author":547,"featured_media":192994,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_lmt_disableupdate":"no","_lmt_disable":"","jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":{"source_name":"","source_url":"","via_name":"","via_url":"","override_template":"0","override":[{"template":"1","single_blog_custom":"","parallax":"1","fullscreen":"1","layout":"right-sidebar","sidebar":"default-sidebar","second_sidebar":"default-sidebar","sticky_sidebar":"1","share_position":"float","share_float_style":"share-monocrhome","show_share_counter":"1","show_view_counter":"0","show_featured":"1","show_post_meta":"1","show_post_author":"1","show_post_author_image":"1","show_post_date":"1","post_date_format":"default","post_date_format_custom":"Y\/m\/d","show_post_category":"0","show_post_reading_time":"0","post_reading_time_wpm":"300","show_zoom_button":"1","zoom_button_out_step":"3","zoom_button_in_step":"4","show_post_tag":"1","show_prev_next_post":"0","show_popup_post":"1","number_popup_post":"3","show_author_box":"1","show_post_related":"1","show_inline_post_related":"0"}],"override_image_size":"0","image_override":[{"single_post_thumbnail_size":"crop-715","single_post_gallery_size":"crop-500"}],"trending_post":"0","trending_post_position":"meta","trending_post_label":"Trending","sponsored_post":"0","sponsored_post_label":"Sponsored by","sponsored_post_name":"","sponsored_post_url":"","sponsored_post_logo_enable":"0","sponsored_post_logo":"","sponsored_post_desc":"","disable_ad":"0"},"jnews_primary_category":{"id":""},"jnews_override_counter":{"override_view_counter":"0","view_counter_number":"0","override_share_counter":"0","share_counter_number":"0","override_like_counter":"0","like_counter_number":"0","override_dislike_counter":"0","dislike_counter_number":"0"},"jnews_post_split":{"enable_post_split":"0","post_split":[{"template":"1","tag":"h2","numbering":"asc","mode":"normal","first":"0","enable_toc":"0","toc_type":"normal"}]},"footnotes":""},"categories":[13087],"tags":[5363,3342,17293,12356],"class_list":["post-192924","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-pojok-tubir","tag-lomba-desa","tag-pemerintah","tag-repot","tag-warga"],"modified_by":"Rizky Prasetya","amp_enabled":true,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/192924","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/users\/547"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=192924"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/192924\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media\/192994"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=192924"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=192924"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=192924"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}