{"id":192863,"date":"2022-10-17T11:34:22","date_gmt":"2022-10-17T04:34:22","guid":{"rendered":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/?p=192863"},"modified":"2022-10-17T11:34:22","modified_gmt":"2022-10-17T04:34:22","slug":"piscok-jadi-pisklat-naspad-nasdang-sidang-naskun-nasning-singkatan-sesat-kayak-gini-siapa-yang-bikin","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/piscok-jadi-pisklat-naspad-nasdang-sidang-naskun-nasning-singkatan-sesat-kayak-gini-siapa-yang-bikin\/","title":{"rendered":"Piscok Jadi Pisklat, Naspad-Nasdang-Sidang, Naskun-Nasning: Singkatan Sesat Kayak Gini Siapa yang Bikin?!"},"content":{"rendered":"<p><span style=\"font-weight: 400;\">Terkadang saya takut sendiri sama kreativitas manusia. Terlalu kreatif, jatuhnya malah sesat. Misalnya dalam isu perdebatan singkatan nama makanan. Ada aja yang terlalu banyak punya waktu luang. Mereka lalu menciptakan singkatan sesat. Misalnya piscok jadi pisklat, naskun jadi nasning, dan yang paling aneh itu evolusi <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/nasi-kapau-vs-nasi-padang-membedah-karakter-konsumen-dari-perbedaan-keduanya\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">naspad<\/a> jadi nasdang dan sidang. Apa sih ini hoi!!!<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Semuanya berawal dari postingan foto nasi padang dari sebuah akun di Twitter. Foto nasi padang memang ampuh menggugah selera. Sayangnya, keindahan foto nasi padang dia rusak dengan sebuah caption yang berbunyi, \u201cSidang porsi kaya gini berapa di tempat kalian?\u201d\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Bukannya menjawab pertanyaan sang pemilik foto, tetapi netizen justru salah fokus dengan singkatan kata \u201cSidang&#8221;.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">\u201cApaan sih sidang? Sidang skripsi emang, naspad ya mohon maaf.\u201d<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">\u201cGua sebagai orang Padang asli mau marah!! Siapa yang nyebut naspad jadi sidang woy.\u201d<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">\u201cNaspad ya, ngapa jadi sidang sampe gua mikir sidang apaan.\u201d<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">\u201cBuat yang bikin singkatan baru padahal udah ada singkatan lama yang lebih dikenal, psikopat kalian semua,\u201d ujar beberapa netizen yang terlihat gemas sekaligus kesal.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Sebagai bagian dari dari netizen saya jadi ikut gemas membacanya. Rasanya aneh banget karena sudah ada singkatan yang \u201ckita sepakati bersama\u201d. Misalnya, naspad, <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/tara-nasiku-nasi-instan-ambigu-yang-nggak-laku\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">naskun<\/a>, piscok, dan lain sebagainya. Jadi kalau ada singkatan baru tanpa melewati konsesi bersama itu aneh banget.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Saya jadi heran bagaimana orang-orang ini menemukan singkatan sesat piscok jadi pisklat, naspad jadi sidang, dan naskun jadi nasning. Bagaimana bisa mereka membuat singkatan nama diambil dari nama tengah atau nama terakhir.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Apakah karena perbedaan penyebutan nama di setiap daerah? Atau memang cuma mau terlihat keren aja, biar dianggap berbeda ketika melahirkan singkatan sesat semacam\u00a0 piscok jadi pisklat, naspad jadi sidang, dan naskun jadi nasning.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Percaya, deh, yang kayak gitu nggak lucu dan unik. Jatuhnya adalah perdebatan yang tiada berkesudahan karena lahir pro dan kontra.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Yang pro akan bilang gini: \u201cSemacam piscok jadi pisklat\u00a0 doang diributin, lo pada masalah hidupnya pada berat apa bagaimana sih?\u201d.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">\u201cBukan warga Indonesia kalau hal-hal kecil kaya gini diributin.\u201d<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">\u201cTapi nasdang, nasning kedengarannya lucu sih.\u201d<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">\u201cPadahal gua tim nyebut nasdang.\u201d<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Yang kontra punya argumen yang nggak kalah kuat:<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">\u201cUdah nggak lucu lagi, awal-awal emang ngerasa kaya lucu+unik tapi makin ke sini kayaknya pada caper aja soalnya banyak yang ngirim foto makanan pake caption nama aneh-aneh.\u201d<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Saya, sih setuju. Aneh. Masak piscok jadi pisklat, naspad jadi sidang, dan naskun jadi nasning.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">\u201cSebenarnya nggak ada masalah sama singkat menyingkat, masalahnya udah pada latah banget, awalnya cuman piscok jadi pisklat, naspad-nasdang, naskun-nasning dianggap lucu eh tiba-tiba jadi berakar dan akhirnya bikin orang sebel, ntah yang nyingkat beneran make di kesehariannya apa <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/perkara-pamer-saldo-dan-salah-transfer-bilang-saja-caper-nggak-usah-sok-polos\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">cuma caper doang<\/a>.\u201d<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">\u201cGua doain yang ganti nama makanan lo pada gak tenang hidup lo, main ganti-ganti nama makanan ngelanggar hukum alam alias gua marah.\u201d<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">\u201cOrang yang nyingkat nasi goreng jadi nasreng, nasi padang jadi nasdang, dan nasi kuning jadi nasning itu sekte sesat banget.\u201d<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">\u201cTiap ada orang yang nyebut, nasreng, nasning, sama nasdang maka jembatan shiratal mustaqim tambah kecil jadi 1 helai rambut dibagi 37.\u201d<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Sebenarnya, memang nggak ada masalah menyingkat nama makanan. Katanya sih tergantung selera dan lidah masing-masing. Namun, lama-lama, singkatannya jadi makin liar, aneh, dan kudu mikir buat cari artinya.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Salah satu contohnya adalah <a href=\"https:\/\/cookpad.com\/id\/cari\/risol%20mayones\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">risol mayo<\/a>. Masak ada yang menyingkatnya jadi \u201csolyo\u201d dan \u201crisma\u201d. Jelas aneh dan bikin bingung.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Dan ini semua bukan soal \u201cterbiasa\u201d atau nggak ya. Piscok akan lebih cocok menjadi singkatan pisang cokelat. Naspad adalah jodohnya nasi padang, bukan sidang yang malah ambigu dan berpotensi bikin orang salah menangkap maksud. Bukan juga nasning untuk nasi kuning.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Kadang saya heran. Kenapa yang sudah baik adanya perlu dibuat aneh-aneh. Karena gini lho. Pada akhirnya, orang tuh cuma caper aja bikin sesuatu yang beda. Jatuhnya malah menyesatkan dan bikin orang berpikir. Ingat, menyulitkan orang itu dosa, lho.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Penulis: Hanifa Ramadhanti<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Editor: Yamadipati Seno<\/span><\/p>\n<p><strong>BACA JUGA <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/menguak-pola-nama-grup-dangdut-yang-lucu-lucu\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">Menguak Pola Nama Grup Dangdut yang Lucu-lucu<\/a><br \/>\n<\/strong><\/p>\n<h5><span id=\"Terminal_Mojok_merupakan_platform_User_Generated_Content_UGC_untuk_mewadahi_jamaah_mojokiyah_menulis_tentang_apa_pun_Submit_esaimu_secara_mandiri_lewat_carainiya\"><em>Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara\u00a0<a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/kirim-tulisan\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\">ini<\/a>\u00a0ya.<\/em><\/span><\/h5>\n<h5><em>Anda penulis Terminal Mojok? Silakan bergabung dengan Forum Mojok\u00a0<a href=\"https:\/\/mojok.co\/forum\/daftar\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">di sini<\/a>.<\/em><\/h5>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Sesat! Jangan ditiru.<\/p>\n","protected":false},"author":1896,"featured_media":192867,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_lmt_disableupdate":"no","_lmt_disable":"","jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":{"source_name":"","source_url":"","via_name":"","via_url":"","override_template":"0","override":[{"template":"1","single_blog_custom":"","parallax":"1","fullscreen":"1","layout":"right-sidebar","sidebar":"default-sidebar","second_sidebar":"default-sidebar","sticky_sidebar":"1","share_position":"float","share_float_style":"share-monocrhome","show_share_counter":"1","show_view_counter":"0","show_featured":"1","show_post_meta":"1","show_post_author":"1","show_post_author_image":"1","show_post_date":"1","post_date_format":"default","post_date_format_custom":"Y\/m\/d","show_post_category":"0","show_post_reading_time":"0","post_reading_time_wpm":"300","show_zoom_button":"1","zoom_button_out_step":"3","zoom_button_in_step":"4","show_post_tag":"1","show_prev_next_post":"0","show_popup_post":"1","number_popup_post":"3","show_author_box":"1","show_post_related":"1","show_inline_post_related":"0"}],"override_image_size":"0","image_override":[{"single_post_thumbnail_size":"crop-715","single_post_gallery_size":"crop-500"}],"trending_post":"0","trending_post_position":"meta","trending_post_label":"Trending","sponsored_post":"0","sponsored_post_label":"Sponsored by","sponsored_post_name":"","sponsored_post_url":"","sponsored_post_logo_enable":"0","sponsored_post_logo":"","sponsored_post_desc":"","disable_ad":"0"},"jnews_primary_category":{"id":""},"jnews_override_counter":{"override_view_counter":"0","view_counter_number":"0","override_share_counter":"0","share_counter_number":"0","override_like_counter":"0","like_counter_number":"0","override_dislike_counter":"0","dislike_counter_number":"0"},"jnews_post_split":[],"footnotes":""},"categories":[12909],"tags":[17281,17280,17279,17282],"class_list":["post-192863","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-kuliner","tag-naskun","tag-naspad","tag-piscok","tag-singkatan-nama-makanan"],"modified_by":"Yamadipati Seno","amp_enabled":true,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/192863","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1896"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=192863"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/192863\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media\/192867"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=192863"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=192863"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=192863"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}