{"id":192862,"date":"2022-10-17T12:02:42","date_gmt":"2022-10-17T05:02:42","guid":{"rendered":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/?p=192862"},"modified":"2022-10-17T12:02:42","modified_gmt":"2022-10-17T05:02:42","slug":"salahkah-menulis-demi-uang","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/salahkah-menulis-demi-uang\/","title":{"rendered":"Salahkah Menulis demi Uang?"},"content":{"rendered":"<p><span style=\"font-weight: 400;\">Sampai saat ini, menulis demi uang masih dianggap sebagai pekerjaan nista. Entah kenapa, menulis tidak bisa disejajarkan dengan pekerjaan lain yang layak dibayar, dan entah kenapa, menulis demi uang dianggap nista. Banyak penulis yang selalu menggembar-gemborkan untuk tidak menulis demi uang atau rupiah, seolah-olah pekerjaan itu begitu cabul. SEolah-olah, penulis makan dari menyedot udara dan berfotosintesis.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Kerap kali, orang bilang uang yang didapat dari menulis itu bonus. Artinya, jangan jadi tujuan utama. Gara-gara ini, orang jadi sulit mengidentifikasi penulis sebagai profesi. Layak dibayar pun tidak. Jelas saja hal ini sesat, amat sesat.<\/span><\/p>\n<h4><b>Menulis demi uang bikin kualitas menurun?<\/b><\/h4>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Konon, orang yang menulis demi uang atau rupiah, akan mengabaikan kualitas tulisan. Pada titik ini, saya penasaran dari mana anggapan itu muncul. Soalnya, jelek betul logikanya.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Kita ambil contoh, saat seseorang mengirimkan tulisannya ke media yang berhonor, lalu ternyata tulisan itu ditolak oleh media tersebut, maka ia bisa belajar mencari tahu dimana letak kekurangan pada tulisannya sehingga menyebabkan tulisan itu ditolak redaktur. Dari titik ini saja terlihat bahwa kualitas jelas diperjuangkan.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Semakin sering tulisannya ditolak oleh media, ia akan semakin merasa termotivasi dan tertantang untuk bisa menembusnya. Bukan hanya itu saja, ia juga akan semakin sering \u201cbelajar\u201d dari tulisan orang lain yang sudah lebih dulu dimuat.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Lalu, dari mana bagian mengabaikan kualitasnya?<\/span><\/p>\n<h4><b>Uang bisa jadi motivasi<\/b><\/h4>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Menurut saya, uang malah motivasi terbaik seseorang untuk meningkatkan kualitas. Kalau uang gagal meningkatkan motivasi, justru aneh. Ha wong dapet hadiah kok, nggak mau. Nah, cara mengukurnya ya dengan mengirimkan ke media yang berhonor. <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">Mojok<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">, misalnya.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Ya, untuk mengukur dan meningkatkan kualitas sebuah tulisan adalah dengan mengirimkannya ke media-media yang berhonor. Karena, saat kita mengirimkan tulisan ke media-media berhonor, akan melewati proses kurasi yang ketat. Hanya tulisan-tulisan yang berkualitas dan layak muat yang akan ditayangkan.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Hal ini akan menjadi ajang kompetisi yang positif. Kita akan bersaing dengan puluhan penulis lain. Dari puluhan karya (bahkan ratusan) hanya akan dipilih satu pemenang saja.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Ya, satu pemenang, tidak ada juara dua dan tiga dan seterusnya. Semakin tinggi jumlah honor yang ditawarkan oleh media, semakin tinggi pula tingkat persaingannya. Jika kompetisi pada umumnya, seseorang bisa saling sikut-menyikut untuk bisa menang, berbeda dengan kompetisi satu ini. Tak ada sikut-menyikut, pure penilaian redaktur.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Lalu bagaimana caranya agar bisa menjadi pemenang?<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Hanya ada satu cara; dengan mengirimkan tulisan berkualitas. Hanya itu saja? Ya, itu saja. Semakin baik kualitas sebuah tulisan, semakin besar peluang untuk dimuat dan semakin cepat honor akan ditransfer.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Menulis demi uang bukanlah sesuatu yang nista atau cabul. Sama seperti pekerjaan lain, menulis juga mengeluarkan tenaga, pikiran, waktu, juga uang. Jadi, wajar jika kita mengharapkan bayaran (gaji) setelah menyelesaikan pekerjaan. Setiap orang yang bekerja, tentu membutuhkan upah untuk memenuhi kebutuhan hidup dirinya dan keluarga.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Begitu pun dengan penulis, ia butuh upah (honor) untuk bisa tetap makan atau sekadar beli camilan sebagai teman menulis. Seorang penulis yang menggembar-gemborkan untuk tidak menulis demi uang, mungkin baginya itu hanya sebuah hobi, atau justru terlalu sempit memandang segala hal.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Menurut saya, perdebatan perkara sahkah menulis demi uang itu baiknya diperbaiki. Pemula sekalipun, punya hak untuk berharap tulisannya dibayar. Justru dengan membayar penulis, akan bikin industri jadi makin hidup, dan memunculkan banyak penulis hebat.<\/span><\/p>\n<p>Penulis: Toni Al-Munawwar<br \/>\nEditor: Rizky Prasetya<\/p>\n<p><strong>BACA JUGA\u00a0<a href=\"https:\/\/mojok.co\/kilas\/menurut-amien-rais-mendukung-jokowi-itu-menggadaikan-akidah\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">Menurut Amien Rais, Mendukung Jokowi Itu Menggadaikan Akidah<\/a><\/strong><\/p>\n<h5><span id=\"Terminal_Mojok_merupakan_platform_User_Generated_Content_UGC_untuk_mewadahi_jamaah_mojokiyah_menulis_tentang_apa_pun_Submit_esaimu_secara_mandiri_lewat_carainiya\"><strong><em>Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara\u00a0<a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/kirim-tulisan\/\">ini<\/a>\u00a0ya.<\/em><\/strong><\/span><\/h5>\n<h5><span id=\"Anda_penulis_Terminal_Mojok_Silakan_bergabung_dengan_Forum_Mojokdi_sini\"><strong><em>Anda penulis Terminal Mojok? Silakan bergabung dengan Forum Mojok\u00a0<a href=\"https:\/\/mojok.co\/forum\/daftar\/\">di sini<\/a>.<\/em><\/strong><\/span><\/h5>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Kan penulis butuh makan juga bg.<\/p>\n","protected":false},"author":1961,"featured_media":192872,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_lmt_disableupdate":"no","_lmt_disable":"","jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":{"source_name":"","source_url":"","via_name":"","via_url":"","override_template":"0","override":[{"template":"1","single_blog_custom":"","parallax":"1","fullscreen":"1","layout":"right-sidebar","sidebar":"default-sidebar","second_sidebar":"default-sidebar","sticky_sidebar":"1","share_position":"float","share_float_style":"share-monocrhome","show_share_counter":"1","show_view_counter":"0","show_featured":"1","show_post_meta":"1","show_post_author":"1","show_post_author_image":"1","show_post_date":"1","post_date_format":"default","post_date_format_custom":"Y\/m\/d","show_post_category":"0","show_post_reading_time":"0","post_reading_time_wpm":"300","show_zoom_button":"1","zoom_button_out_step":"3","zoom_button_in_step":"4","show_post_tag":"1","show_prev_next_post":"0","show_popup_post":"1","number_popup_post":"3","show_author_box":"1","show_post_related":"1","show_inline_post_related":"0"}],"override_image_size":"0","image_override":[{"single_post_thumbnail_size":"crop-715","single_post_gallery_size":"crop-500"}],"trending_post":"0","trending_post_position":"meta","trending_post_label":"Trending","sponsored_post":"0","sponsored_post_label":"Sponsored by","sponsored_post_name":"","sponsored_post_url":"","sponsored_post_logo_enable":"0","sponsored_post_logo":"","sponsored_post_desc":"","disable_ad":"0"},"jnews_primary_category":{"id":""},"jnews_override_counter":{"override_view_counter":"0","view_counter_number":"0","override_share_counter":"0","share_counter_number":"0","override_like_counter":"0","like_counter_number":"0","override_dislike_counter":"0","dislike_counter_number":"0"},"jnews_post_split":[],"footnotes":""},"categories":[12911],"tags":[447,3105,842],"class_list":["post-192862","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-loker","tag-penulis","tag-profesi","tag-uang"],"modified_by":"Rizky Prasetya","amp_enabled":true,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/192862","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1961"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=192862"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/192862\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media\/192872"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=192862"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=192862"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=192862"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}