{"id":192718,"date":"2022-10-16T08:20:22","date_gmt":"2022-10-16T01:20:22","guid":{"rendered":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/?p=192718"},"modified":"2022-10-16T08:20:22","modified_gmt":"2022-10-16T01:20:22","slug":"lagi-di-purwokerto-8-kosakata-ngapak-ini-wajib-kamu-kuasai","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/lagi-di-purwokerto-8-kosakata-ngapak-ini-wajib-kamu-kuasai\/","title":{"rendered":"Lagi di Purwokerto? 8 Kosakata Ngapak Ini Wajib Kamu Kuasai"},"content":{"rendered":"<p><span style=\"font-weight: 400;\">Purwokerto telah menjadi sejarah bagi kehidupan saya. Di kota inilah saya mendapatkan gelar akademik yang sangat berguna untuk melamar pekerjaan. Pada 2010, saya resmi menyandang status sebagai mahasiswa baru dan di pertengahan 2018, saya mendapatkan gelar sarjana di kota yang kental dengan kosakata ngapak dan <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/tips-membuat-tempe-mendoan-enak\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">tempe mendoan<\/a>.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Selama tinggal di Purwokerto, saya sempat mengernyitkan dahi dengan beberapa kosakata yang menurut saya aneh dan terkadang menggelitik. Yah, sebagai pendatang yang baik, pada akhirnya lidah saya fasih mengucapkan kalimat \u201cIya, mbok\u201d setelah rutin mengonsumsi mendoan sebagai asupan nutrisi harian.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Oleh sebagian masyarakat Banyumas Raya, saya sering dianggap sebagai \u201cwong wetan\u201d. Makanya, saya harus mempelajari beberapa kosakata baru demi memperlancar kehidupan saya di Purwokerto selama studi.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Nah, berikut adalah kosakata ngapak yang wajib dipahami oleh siapa saja yang hendak merantau ke Purwokerto dan Banyumas Raya. Tolong ya, kosakata ngapak itu nggak melulu nyong karo rika.<\/span><\/p>\n<h4><b>Kosakata ngapak #1 Langka<\/b><\/h4>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Kata ini menjadi kosakata pertama yang membuat saya mengernyitkan dahi pada bulan pertama saat menginjakkan kaki di Purwokerto. Di sini, kata \u201clangka\u201d memiliki arti \u2018tidak ada sama sekali\u2019. Berbeda dengan <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/kekeliruan-penerjemahan-serial-disney-bahasa-indonesia\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">Bahasa Indonesia<\/a>, di mana kata \u201clangka\u201d memiliki arti \u2018ada tapi sulit ditemukan\u2019 seperti satwa langka, perangko langka, minyak langka, dan lain sebagainya.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Contoh kalimat: \u201cMendoane langka, Mas.\u201d\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Artinya: \u201cMendoannya nggak ada, Mas.\u201d<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Kata \u201clangka\u201d juga bisa digunakan pada awal kalimat untuk menerangkan sesuatu. Misalnya, \u201cLangka duit nang dompet.\u201d artinya: \u201cTidak ada uang di dompet.\u201d<\/span><\/p>\n<h4><b>Kosakata ngapak #2 Butul<\/b><\/h4>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Kata ini bukan berarti antonim dari kata \u201csalah\u201d ya. Kata \u201cbutul\u201d, bagi masyarakat Purwokerto dan Banyumas memiliki arti \u2018sampai\u2019 atau \u2018sudah sampai di tempat yang dituju\u2019.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Contoh kalimat: \u201cNyong wis butul kampus, Bro\u201d\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Artinya: \u201cAku sudah sampai kampus, Bro.\u201d<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Terkadang ada beberapa orang yang mengucapkannya dengan kata \u201cgutul\u201d, entah mana yang salah, saya nggak tahu. Yang jelas, \u201cbutul\u201d dan \u201cgutul\u201d memiliki makna yang sama, yaitu \u2018telah sampai di suatu tempat\u2019.<\/span><\/p>\n<h4><b>Kosakata ngapak #3 Lombo<\/b><\/h4>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Kata ini tidak berarti cabai, yak. Kata \u201clombo\u201d, bagi masyarakat Purwokerto dan <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/5-kuliner-khas-banyumas-yang-wajib-dicoba\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">Banyumas<\/a> memiliki arti \u2018bohong atau ngapusi\u2019. Jika ada orang yang mengucapkan kata tersebut, kemungkinan besar motornya ber-Plat R.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Contoh kalimat: \u201cTemenan, Bro. Nyong ora lombo.\u201d\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Artinya: \u201cSerius, Bro. Aku nggak bohong.\u201d<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Pokoknya, kalau ada pejabat atau wakil rakyat yang suka bohong, mereka layak mendapatkan gelar \u201cTukang Lombo\u201d.<\/span><\/p>\n<h4><b>Kosakata ngapak #4 Kencot<\/b><\/h4>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Kata \u201ckencot\u201d sering diucapkan ketika seseorang memegangi perutnya. Mungkin, kata ini sering dikira sebagai arti dari kata \u2018terinjak\u2019 atau \u2018kepidak\u2019.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Namun, di Purwokerto dan sekitarnya, kata \u201ckencot\u201d memiliki arti \u2018lapar atau ngelih\u2019. Kata ini juga memiliki level kelucuan tersendiri bagi seseorang yang belum pernah menginjakkan kaki di Purwokerto.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Contoh kalimat: \u201cMending mati kencoten, ketimbang mati ora ngudud.\u201d\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Artinya: \u201cMending mati kelaparan, ketimbang mati tidak ngrokok.\u201d<\/span><\/p>\n<h4><b>Kosakata ngapak #5 Kepriwe<\/b><\/h4>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Kata ini sangat sering diucapkan oleh warga Purwokerto dan sekitarnya, entah di pasar, kampus, sekolah, kantoran bahkan saat di rumah saja. Pokoknya kata ini wajib dipahami oleh siapa saja yang datang ke Purwokerto. Kata \u201ckepriwe\u201d memiliki arti \u2018bagaimana\u2019. Terkadang, kata ini diucapkan singkat \u201cpriwe\u201d yang artinya \u2018gimana\u2019.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Pokoknya, kalau ada yang mengatakan \u201ckepriwe\u201d, artinya orang tersebut sedang menanyakan atau memvalidasi sesuatu.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Contoh kalimat: \u201cKepriwe skripsine, wis acc urung?\u201d\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Artinya: \u201cBagaimana skripsinya, udah acc belum?\u201d<\/span><\/p>\n<h4><b>Kosakata ngapak #6 Ramane<\/b><\/h4>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Bagi yang pernah mendengarkan audio series Curanmor yang dibawakan oleh <a href=\"https:\/\/www.jawapos.com\/features\/09\/05\/2017\/sehari-pendapatan-samidi-curanmor-rp-3-miliar-percaya-hahaha\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">Samidi<\/a>, pasti tidak asing dengan kata \u201cramane\u201d. Kata tersebut memiliki arti \u2018bapak atau ayah kandung\u2019.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Di Banyumas Raya, penggunaan kata \u201cbapak\u201d kerap ditujukan kepada pejabat. Misalnya, \u201cbapak bupati\u201d atau \u201cbapak kades\u201d. Namun, kata \u201crama\u201d lebih merujuk kepada sebutan ayah kandung.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Contoh kalimat: \u201cRamane jaluk gawekna kopi.\u201d\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Artinya: \u201cAyah minta dibuatkan kopi.\u201d<\/span><\/p>\n<h4><b>Kosakata ngapak #7 Kaki\/Nini<\/b><\/h4>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Jangan berpikir bahwa \u201ckaki\u201d adalah \u2018sikil\u2019, ketika kamu berada di Banyumas Raya termasuk Purwokerto. Kata \u201ckaki\u201d memiliki arti \u2018kakek\u2019 dan \u201cnini\u201d memiliki arti \u2018nenek\u2019.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Contoh kalimat: \u201cSekolah mangkat sekarepe dewek kaya sekolahe nggone kakine.\u201d\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Artinya: \u201cBerangkat sekolah semaunya sendiri seperti sekolah milik kakeknya saja.<\/span><\/p>\n<h4><b>Kosakata ngapak #8 Acan<\/b><\/h4>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Mendengar kata tersebut, saya jadi teringat grup dangdut, Trio Acan. Aduh, maafkan saya. Nggak sengaja komedi.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Kata \u201cacan\u201d sendiri memiliki arti \u2018sama sekali\u2019. Kalau orang daerah Jogja atau Solo mungkin akan mengartikannya dengan satu kata saya, yaitu \u2018blas\u2019. Kata ini digunakan untuk mengomentari sebuah proses yang nggak menunjukkan progres. Asik, berima.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Contoh kalimat: \u201cBocahe turu bae, ora nggarap tugas acan.\u201d\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Artinya: \u201cAnaknya tidur mulu, tidak mengerjakan tugas sama sekali.\u201d<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Umumnya kata \u201cacan\u201d digunakan di akhir kalimat.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Misalnya, kalimat \u201cSama sekali tidak melihatnya\u201d ditulis \u201cAcan ora weruh.\u201d Ini salah karena yang benar adalah, \u201cOra weruh acan.\u201d<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Demikianlah beberapa kosakata yang wajib dipahami sebelum kamu menginjakkan kaki di Purwokerto. Pastinya, perbendaharaan kata tersebut akan mudah dipelajari sembari dipraktikkan dengan warga lokal.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Kalau ternyata kosakata tersebut masih susah untuk dipahami, kemungkinannya ada 2. Pertama, kamu kurang bergaul atau <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/menolak-falsafah-ra-srawung-rabimu-suwung\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">srawung<\/a>. Kedua, mungkin kamu kurang asupan tempe mendoan. Ingat, tempe mendoan adalah kunci segalanya.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Penulis: Dhimas Raditya Lustiono<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Editor: Yamadipati Seno<\/span><\/p>\n<p><strong>BACA JUGA <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/bangsa-ngapak-itu-nggak-cuma-banyumas-ada-pemalang-juga-yang-kaya-cerita\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">Bangsa Ngapak Itu Nggak Cuma Banyumas, Ada Pemalang Juga yang Kaya Cerita<\/a><br \/>\n<\/strong><\/p>\n<h5><span id=\"Terminal_Mojok_merupakan_platform_User_Generated_Content_UGC_untuk_mewadahi_jamaah_mojokiyah_menulis_tentang_apa_pun_Submit_esaimu_secara_mandiri_lewat_carainiya\"><em>Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara\u00a0<a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/kirim-tulisan\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\">ini<\/a>\u00a0ya.<\/em><\/span><\/h5>\n<h5><em>Anda penulis Terminal Mojok? Silakan bergabung dengan Forum Mojok\u00a0<a href=\"https:\/\/mojok.co\/forum\/daftar\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">di sini<\/a>.<\/em><\/h5>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>\u201cKepriwe skripsine, wis acc urung?\u201d\u00a0Mamam.<\/p>\n","protected":false},"author":770,"featured_media":192744,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_lmt_disableupdate":"no","_lmt_disable":"","jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":{"source_name":"","source_url":"","via_name":"","via_url":"","override_template":"0","override":[{"template":"1","single_blog_custom":"","parallax":"1","fullscreen":"1","layout":"right-sidebar","sidebar":"default-sidebar","second_sidebar":"default-sidebar","sticky_sidebar":"1","share_position":"float","share_float_style":"share-monocrhome","show_share_counter":"1","show_view_counter":"0","show_featured":"1","show_post_meta":"1","show_post_author":"1","show_post_author_image":"1","show_post_date":"1","post_date_format":"default","post_date_format_custom":"Y\/m\/d","show_post_category":"0","show_post_reading_time":"0","post_reading_time_wpm":"300","show_zoom_button":"1","zoom_button_out_step":"3","zoom_button_in_step":"4","show_post_tag":"1","show_prev_next_post":"0","show_popup_post":"1","number_popup_post":"3","show_author_box":"1","show_post_related":"1","show_inline_post_related":"0"}],"override_image_size":"0","image_override":[{"single_post_thumbnail_size":"crop-715","single_post_gallery_size":"crop-500"}],"trending_post":"0","trending_post_position":"meta","trending_post_label":"Trending","sponsored_post":"0","sponsored_post_label":"Sponsored by","sponsored_post_name":"","sponsored_post_url":"","sponsored_post_logo_enable":"0","sponsored_post_logo":"","sponsored_post_desc":"","disable_ad":"0"},"jnews_primary_category":{"id":""},"jnews_override_counter":{"override_view_counter":"0","view_counter_number":"0","override_share_counter":"0","share_counter_number":"0","override_like_counter":"0","like_counter_number":"0","override_dislike_counter":"0","dislike_counter_number":"0"},"jnews_post_split":[],"footnotes":""},"categories":[1],"tags":[17275,11066,724,8526],"class_list":["post-192718","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-nusantara","tag-banyumas-raya","tag-kosakata","tag-ngapak","tag-purwokerto"],"modified_by":"Yamadipati Seno","amp_enabled":true,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/192718","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/users\/770"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=192718"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/192718\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media\/192744"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=192718"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=192718"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=192718"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}