{"id":192348,"date":"2022-10-16T09:00:58","date_gmt":"2022-10-16T02:00:58","guid":{"rendered":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/?p=192348"},"modified":"2022-10-16T08:21:46","modified_gmt":"2022-10-16T01:21:46","slug":"5-rekomendasi-oleh-oleh-khas-pasuruan-dari-bipang-hingga-kue-satru","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/5-rekomendasi-oleh-oleh-khas-pasuruan-dari-bipang-hingga-kue-satru\/","title":{"rendered":"5 Rekomendasi Oleh-oleh Khas Pasuruan, dari Bipang hingga Kue Satru"},"content":{"rendered":"<p><em>Tau nggak kalau ada oleh-oleh khas Pasuruan yang namanya bipang juga?<\/em><\/p>\n<p>Pasuruan adalah salah satu kabupaten di provinsi <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/tag\/jawa-timur\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">Jawa Timur<\/a> yang terletak sekitar 50 kilometer sebelah tenggara Surabaya. Kabupaten ini berbatasan langsung dengan Probolinggo di sebelah utara, dan dengan Sidoarjo, Kota Malang, serta Mojokerto di sisi selatan.<\/p>\n<p>Sebelum memutuskan untuk merantau ke Banyuwangi, saya sempat tinggal di Pasuruan selama satu tahun. Selama menjadi perantau di sana, saya jadi tahu oleh-oleh khas Pasuruan yang cocok dibawa pulang ke kampung halaman. Kalau kebetulan kalian berkesempatan mengunjungi kabupaten yang luasnya 1.474,02 kilometer persegi ini, jangan lupa untuk membawa beberapa oleh-oleh khas yang jarang ditemui di tempat lain seperti berikut ini.<\/p>\n<h4><strong>#1\u00a0 Kue satru<\/strong><\/h4>\n<p>Eits, ini bukan &#8220;Satru&#8221;-nya Cak Nan, ygy. Kue satru merupakan salah satu oleh-oleh khas Pasuruan yang nggak bisa ditemukan di daerah lain. Kue ini berbahan dasar tepung kacang hijau, gula pasir, dan tepung sagu. Semua adonan tersebut dicampur lalu dijemur selama 3 jam baru kemudian dipanggang. Tekstur kuenya renyah dan agak sedikit keras.<\/p>\n<h4><strong>#2 Ikan lempuk crispy<\/strong><\/h4>\n<p>Kalau <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/tag\/semarang\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">Semarang<\/a> punya bandeng presto dan Surabaya terkenal dengan ikan asapnya, Pasuruan juga punya oleh-oleh berbahan dasar ikan yang terbuat dari ikan lempuk. Ikan lempuk merupakan hewan endemik yang hanya hidup di Danau Ranu Granti. Konon, ikan lempuk memiliki kandungan protein yang tinggi. Masyarakat Pasuruan mengolah ikan ini dengan cara digoreng krispi atau dijadikan rempeyek. Kalau kalian berkunjung ke Pasuruan, sempatkan untuk mencari ikan lempuk crispy dan dijadikan oleh-oleh untuk dibawa pulang ke kota asal, ya.<\/p>\n<h4><strong>#3 Roti Matahari<\/strong><\/h4>\n<p>Di Pasuruan, ada satu merek roti sisir yang cukup terkenal dan sering dijadikan oleh-oleh <a href=\"https:\/\/kbbi.kemdikbud.go.id\/entri\/wisatawan\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">wisatawan<\/a> yang berkunjung ke sini, namanya Roti Matahari. Roti Matahari merupakan roti sisir yang sudah ada sejak tahun 1955. Ada dua jenis roti sisir, yakni roti sisir basah dan roti sisir kering. Roti sisir basah terbagi lagi menjadi dua, roti sisir basah biasa dan roti sisir rombotter (menggunakan mentega Australia). Roti Matahari berada di kasta tertinggi dalam semesta roti sisir di Pasuruan, lho.<\/p>\n<h4><strong>#4 Bipang<\/strong><\/h4>\n<p>Bipang satu ini bukan bipang Ambawang yang namanya sempat heboh beberapa waktu lalu, lho. Bipang yang jadi oleh-oleh khas Pasuruan dikenal juga dengan nama jipang.<\/p>\n<p>Fyi, wilayah Pasuruan menjadi kawasan dengan etnis keturunan <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/tag\/tionghoa\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">Tionghoa<\/a> yang cukup besar. Kalau kalian berkunjung ke sini, khususnya di Kecamatan Pandaan, bahkan terdapat Masjid Muhamad Cheng Hoo yang beralamat di Jalan Raya Kasri, Petung Sari. Di sini terjadilah akulturasi budaya antara budaya Tiongkok dan masyarakat Pasuruan, tak terkecuali kulinernya.<\/p>\n<p>Bipang Pasuruan berasal dari bahasa Mandarin &#8220;bi&#8221; yang berarti beras dan &#8220;pang&#8221; yang berarti wewangian. Bipang adalah makanan ringan berupa kue beras kembung yang dicampur dengan gula dan perasa vanili. Proses pembuatan bipang nggak digoreng sehingga oleh-oleh khas Pasuruan ini bebas lemak dan rendah natrium.<\/p>\n<h4><strong>#5 Permen Jahe<\/strong><\/h4>\n<p>Kalau kalian pernah melakukan perjalanan dari Semarang ke <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/tag\/banyuwangi\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">Banyuwangi<\/a>, pasti kalian bertemu dengan pedagang asongan yang menjajakan permen jahe dengan bungkus kertas. Permen jahe atau yang biasa disebut ting-ting jahe tersebut merupakan salah satu oleh-oleh khas Pasuruan.<\/p>\n<p>Permen jahe memiliki tekstur yang lunak dan kenyal. Rasanya sedikit pedas khas jahe dan terasa hangat di tenggorokan. Kalian bisa menjadikan permen jahe ini oleh-oleh untuk dibawa pulang ke kampung halaman.<\/p>\n<p>Itulah lima rekomendasi oleh-oleh khas Pasuruan yang bisa jadi pilihan untuk dibawa pulang ke kampung halaman. Pokoknya kalau mampir ke sini, jangan lupa cari kelima oleh-oleh di atas, ya!<\/p>\n<p>Penulis: Fareh Hariyanto<br \/>\nEditor: Intan Ekapratiwi<\/p>\n<p><strong>BACA JUGA <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/4-oleh-oleh-khas-solo-yang-sebaiknya-jangan-dibeli\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">4 Oleh-oleh Khas Solo yang Sebaiknya Jangan Dibeli<\/a>.<\/strong><\/p>\n<h5><span id=\"Terminal_Mojok_merupakan_platform_User_Generated_Content_UGC_untuk_mewadahi_jamaah_mojokiyah_menulis_tentang_apa_pun_Submit_esaimu_secara_mandiri_lewat_carainiya\"><em>Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara\u00a0<a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/kirim-tulisan\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\">ini<\/a>\u00a0ya.<\/em><\/span><\/h5>\n<h5><em>Anda penulis Terminal Mojok? Silakan bergabung dengan Forum Mojok\u00a0<a href=\"https:\/\/mojok.co\/forum\/daftar\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">di sini<\/a>.<\/em><\/h5>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Bipang apaan nih?<\/p>\n","protected":false},"author":664,"featured_media":192745,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_lmt_disableupdate":"no","_lmt_disable":"","jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":{"source_name":"","source_url":"","via_name":"","via_url":"","override_template":"0","override":[{"template":"1","single_blog_custom":"","parallax":"1","fullscreen":"1","layout":"right-sidebar","sidebar":"default-sidebar","second_sidebar":"default-sidebar","sticky_sidebar":"1","share_position":"float","share_float_style":"share-monocrhome","show_share_counter":"1","show_view_counter":"0","show_featured":"1","show_post_meta":"1","show_post_author":"1","show_post_author_image":"1","show_post_date":"1","post_date_format":"default","post_date_format_custom":"Y\/m\/d","show_post_category":"0","show_post_reading_time":"0","post_reading_time_wpm":"300","show_zoom_button":"1","zoom_button_out_step":"3","zoom_button_in_step":"4","show_post_tag":"1","show_prev_next_post":"0","show_popup_post":"1","number_popup_post":"3","show_author_box":"1","show_post_related":"1","show_inline_post_related":"0"}],"override_image_size":"0","image_override":[{"single_post_thumbnail_size":"crop-715","single_post_gallery_size":"crop-500"}],"trending_post":"0","trending_post_position":"meta","trending_post_label":"Trending","sponsored_post":"0","sponsored_post_label":"Sponsored by","sponsored_post_name":"","sponsored_post_url":"","sponsored_post_logo_enable":"0","sponsored_post_logo":"","sponsored_post_desc":"","disable_ad":"0"},"jnews_primary_category":{"id":""},"jnews_override_counter":{"override_view_counter":"0","view_counter_number":"0","override_share_counter":"0","share_counter_number":"0","override_like_counter":"0","like_counter_number":"0","override_dislike_counter":"0","dislike_counter_number":"0"},"jnews_post_split":[],"footnotes":""},"categories":[12909],"tags":[2501,479,17276],"class_list":["post-192348","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-kuliner","tag-jawa-timur","tag-oleh-oleh","tag-pasuruan"],"modified_by":"Intan Ekapratiwi","amp_enabled":true,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/192348","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/users\/664"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=192348"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/192348\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media\/192745"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=192348"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=192348"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=192348"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}