{"id":1922,"date":"2019-05-23T07:00:47","date_gmt":"2019-05-23T00:00:47","guid":{"rendered":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/?p=1922"},"modified":"2021-10-05T13:56:53","modified_gmt":"2021-10-05T06:56:53","slug":"celotehan-pengguna-setia-kereta-rel-listrik-krl","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/celotehan-pengguna-setia-kereta-rel-listrik-krl\/","title":{"rendered":"Celotehan Pengguna Setia Kereta Rel Listrik (KRL)"},"content":{"rendered":"<p>Sebagai pengguna Kereta Rel Listrik (KRL) selama kurang lebih 10 tahun dan masih berlangsung hingga saat ini\u2014pastinya ada yang lebih lama dari saya\u2014ada beberapa cerita yang tentunya masih saya ingat bahkan terjadi baru-baru ini. Dari awal mula kuliah pada tahun 2009 sampai dengan menjadi pekerja, Kereta Rel Listrik (KRL) menjadi moda transportasi pilihan utama bagi saya juga banyak pekerja lain. Bagaimana tidak, dengan tarif yang relatif terjangkau, tentu bisa menghemat anggaran transportasi dari total pendapatan.<\/p>\n<p>Selain itu, bagi saya yang berdomisili di Bogor dan bekerja di kawasan Jakarta, akan lebih menghemat banyak waktu perjalanan jika berangkat kerja menggunakan KRL dibanding berkendara dengan mobil. Belum lagi menghadapi macetnya jalanan di ibu kota Indonesia\u2014paling tidak sampai dengan saat ini sebelum ada keputusan untuk benar-benar dipindah.<\/p>\n<p>Beberapa pola tingkah laku para pengguna KRL pun sudah biasa saya lihat, alami, dan menjadi &#8216;sarapan&#8217; sehari-hari. Paling tidak bagi saya yang selalu berangkat kerja pada saat matahari belum terbit dan pulang kerja setelah matahari terbenam. Itu kenapa, kadang saya merasa terjebak dalam nostalgia rindu pada pancaran sinar matahari.<\/p>\n<p>Diawali dari keluhan para pengguna KRL yang sering mengeluh di media sosial, dengan cara mention <a href=\"https:\/\/twitter.com\/CommuterLine?ref_src=twsrc%5Egoogle%7Ctwcamp%5Eserp%7Ctwgr%5Eauthor\">akun resmi (at)CommuterLine<\/a>. Memang, akun itu dibuat untuk menanggapi keluhan para pelanggan, mulai dari AC KRL yang tidak menyala sehingga menjadi terasa panas, jadwal kereta telat dari sebagaimana mestinya, sampai laporan jika ada pemuda yang duduk di kursi dan tertidur lalu difoto sedangkan ada orang yang membutuhkan untuk duduk\u2014entah orang tua atau ibu hamil. Maksud saya sih, untuk <em>case<\/em> yang terakhir akan lebih efektif jika menegur langsung dibanding harus memfoto dan lapor via medsos\u2014biar viral?<\/p>\n<p>Selanjutnya, sudah biasa jika pengguna KRL di <a href=\"https:\/\/mojok.co\/apk\/ulasan\/pojokan\/kenapa-rela-nonton-endgame-jam-5-pagi-di-bioskop\/\">jam pagi tidur<\/a> sambil berdiri\u2014karena tak kuasa menahan kantuk. Ditambah pada jam kerja, KRL pasti penuh padat, tidak memungkinkan untuk duduk. Lalu lutut terasa lemas dan akhirnya seperti akan jatuh sehingga penumpang yang juga berdiri akan kaget. Ini seringkali saya alami\u2014jika sudah seperti itu, saya selalu berpura-pura memejamkan mata agar terlihat masih tertidur untuk meminimalisir malu.<\/p>\n<p>Selain itu, saya selalu menggunakan masker kesehatan untuk menutup mulut dan hidung\u2014tidak melulu karena sedang sakit\u2014lebih kepada pagi hari pada saat banyak orang yang belum sarapan biasanya aroma tidak sedap dari mulut tidak terkontrol. Jadi ini bentuk usaha saya dalam melindungi rongga hidung. Lagi\u2014jika tertidur selama perjalanan lalu mulut saya terbuka\u2014masker ini dapat menjadi pelindung utama dari rasa malu. Bisa juga untuk melindungi pernafasan saya dari bahaya sengatan aroma ketiak yang tidak sedap. Biasanya ini terjadi pada sore hari, saat bakteri sudah tidak tahan untuk melakukan pemberontakan di sekitar area tubuh.<\/p>\n<p>Sudah menjadi rahasia umum pada jam berangkat atau pulang kerja, KRL selalu penuh sesak. Rasanya sudah biasa melihat secara langsung cekcok antar penumpang jika saling berdesakan. Tidak mengenal laki-laki atau perempuan, muda atau dewasa. Pernah kala itu, ada seorang bapak yang tidak suka saat bapak yang lain menyandarkan badannya. Sampai si bapak sewot dan berkata, \u201cMAS, JANGAN LENDOT-LENDOT KE BADAN SAYA DONG. BERAT TAU!\u201d<\/p>\n<p>Saya dengan sengaja <em>capslock<\/em> kutipan apa yang dikatakan oleh si bapak, agar kekesalannya terasa. Lucu, karena dua orang bapak-bapak berdebat saling tidak mau berhimpitan.<\/p>\n<p>Belum lagi penumpang yang kesulitan turun karena banyak sekali penumpang menumpuk di depan pintu, meski banyak yang mengalah untuk turun lebih dulu namun juga tidak sedikit yang tertahan sampai terlewat stasiun tujuannya. Ada yang berhasil turun, tapi sandal atau sepatunya tertinggal di dalam kereta karena sebelumnya tidak sengaja terinjak penumpang lain.<\/p>\n<p>Awal saya menggunakan KRL\u2014saat KRL kelas ekonomi masih beroperasi\u2014banyak peristiwa yang saya alami, mulai dari pencopet yang biasa ditemui pada transportasi umum, sampai pedagang yang berjualan di dalam kereta. Sudahlah sesak, pedagang lalu lalang pada gerbong kereta. Belum lagi penumpang yang memaksa naik hingga atap kereta atau bergelantungan di pinggir dan depan kereta.<br \/>\nSaat ini\u2014bukan hanya KRL\u2014tiap stasiun pun sudah dipugar demi kenyamanan pengguna. Sudah terlihat lebih teratur dan tertib dengan suasana yang juga tidak kalah modern. Perlu diapresiasi juga perihal jadwal keberangkatan KRL yang semakin banyak sehingga lebih memudahkan penumpang dalam memilih jadwal pemberangkatan.<\/p>\n<p>Selain cerita duka dalam kereta, pasti ada juga suka yang dirasa. Semoga transportasi massal di negara kita ini semakin dan selalu membaik keadaannya agar lebih diminati masyarakat luas.<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Dari awal mula kuliah pada tahun 2009 sampai dengan menjadi pekerja, Kereta Rel Listrik (KRL) menjadi moda transportasi pilihan utama bagi saya.<\/p>\n","protected":false},"author":24,"featured_media":1947,"comment_status":"closed","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_lmt_disableupdate":"","_lmt_disable":"","jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":[],"jnews_primary_category":[],"jnews_override_counter":[],"jnews_post_split":[],"footnotes":""},"categories":[13080],"tags":[215,523,522,521],"class_list":["post-1922","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-personality","tag-anak-kereta","tag-anker","tag-kereta-rel-listrik","tag-krl"],"modified_by":"Ibil S Widodo","amp_enabled":true,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/1922","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/users\/24"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=1922"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/1922\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media\/1947"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=1922"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=1922"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=1922"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}