{"id":192079,"date":"2022-10-12T10:54:31","date_gmt":"2022-10-12T03:54:31","guid":{"rendered":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/?p=192079"},"modified":"2022-10-12T10:59:49","modified_gmt":"2022-10-12T03:59:49","slug":"luckiest-girl-alive-film-netflix-terbaik-tahun-ini","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/luckiest-girl-alive-film-netflix-terbaik-tahun-ini\/","title":{"rendered":"Luckiest Girl Alive, Film Netflix Terbaik Tahun Ini yang Mengangkat Soal Trauma Korban Pemerkosaan"},"content":{"rendered":"<p><span style=\"font-weight: 400;\">Netflix belakangan ini tampak sangat bersemangat memproduksi film berkualitas. Beberapa film bahkan mendapat banyak pujian baik dari audiens maupun kritikus, misalnya <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">Do Revenge<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> dan <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">Athena<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">\u2014tentu saja film <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">Blonde<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> tidak masuk ke dalam daftar ini. Kali ini Netflix menggaet sutradara asal Inggris, Mike Barker (<\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">Moby Dick, To Kill a King<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">), untuk menyutradarai film <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">Luckiest Girl Alive<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Betul. <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">Luckiest Girl Alive<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> adalah seperti apa yang kamu pikirkan. Film ini memang diadaptasi dari <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/tag\/novel\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">novel <\/a><\/span><span style=\"font-weight: 400;\">Best Seller <em>New York Times<\/em><\/span><span style=\"font-weight: 400;\"> berjudul sama karya Jessica Knoll. Jika kamu penggemar Jessica dan novelnya, kamu tidak akan kecewa karena sang penulis ikut berpartisipasi dalam penulisan naskah skenario film ini.<\/span><\/p>\n<div class=\"jeg_video_container jeg_video_content\"><iframe title=\"Luckiest Girl Alive | Official Trailer | Netflix\" width=\"500\" height=\"281\" src=\"https:\/\/www.youtube.com\/embed\/B_XUlbPW-eY?feature=oembed\" frameborder=\"0\" allow=\"accelerometer; autoplay; clipboard-write; encrypted-media; gyroscope; picture-in-picture; web-share\" referrerpolicy=\"strict-origin-when-cross-origin\" allowfullscreen><\/iframe><\/div>\n<p><i><span style=\"font-weight: 400;\">Luckiest Girl Alive<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> mengisahkan kehidupan sempurna Ani Fanelli (Mila Kunis), seorang <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/tag\/penulis\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">penulis<\/a> di majalah wanita populer, yang bertunangan dengan Luke Harrison (Finn Wittrock), seorang pria dari kalangan terhormat dan sayang padanya. Namun, seiring waktu berjalan, kita akhirnya mengetahui bahwa ada masa lalu yang menghantui Ani. Dia memilih untuk tidak membahas kejadian kelam itu. <\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Kehidupan Ani yang sempurna lalu terguncang ketika seorang pembuat film dokumenter ingin mewawancarainya tentang tragedi <\/span><a href=\"https:\/\/en.wikipedia.org\/wiki\/School_shooting\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\"><span style=\"font-weight: 400;\">school shooting<\/span><\/a><span style=\"font-weight: 400;\"> yang dialaminya. Kejadian yang akan selalu melekat dengan dirinya, dan orang-orang selalu mengira bahwa Ani terlibat dalam peristiwa tersebut.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Film Netflix berdurasi hampir dua jam ini memiliki banyak hal untuk diceritakan. Penuturannya tidak semulus versi novel, tetapi sebagai kritik sosial, film ini selalu tepat sasaran. Jessica Knoll paham betul cara mengolah materi adaptasinya menjadi rangkaian plot yang koheren. Tidak semua hal dalam buku dituangkan ke film, tetapi poin utamanya tetap sama, bahwa trauma akan tinggal dalam waktu yang sangat lama dan tidak mudah untuk menghadapinya.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Awalnya saya mengira <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">Luckiest Girl Alive<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> akan menjadi film misteri seperti bagaimana Netflix menjualnya. Saya pikir Jessica Knoll memang ingin membuat adaptasi bukunya menjadi seperti <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">Gone Girl<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> karya David Fincher yang misterius dan menegangkan. Nyatanya, film ini menawarkan drama yang reflektif. <\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Tapi, memangnya ada kesamaan antara <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">Luckiest Girl Alive<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> dengan <\/span><a href=\"https:\/\/en.wikipedia.org\/wiki\/Gone_Girl_(film)\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\"><i><span style=\"font-weight: 400;\">Gone Girl<\/span><\/i><\/a><span style=\"font-weight: 400;\">? Ya ada. Kedua film ini cukup provokatif dan brutal. <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">Luckiest Girl Alive<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> memuat adegan pemerkosaan dan penembakan dengan cukup gamblang. Namun, porsi adegan-adegan tersebut masih terbilang wajar. Kecuali jika kamu memiliki pengalaman serupa, film ini mungkin akan sulit untuk ditonton.<\/span><\/p>\n<p><i><span style=\"font-weight: 400;\">Luckiest Girl Alive<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> bertransformasi dari 15 menit yang cukup &#8220;cerah&#8221; menjadi kisah korban pemerkosaan yang dituduh terlibat dalam penembakan massal di sekolah 15 tahun lalu. Saya suka bagaimana Mike Barker dan Jessica Knoll merusak ekspektasi penonton (dalam hal yang baik). Sebab kalau film ini tidak bertransformasi, ini hanya akan jadi film tentang perempuan yang berharap bisa melakukan apa yang dia pikirkan\u2014seperti membunuh calon suaminya sendiri, misalnya. Selain itu, film ini akan sangat menyebalkan. Saya bersyukur film Netflix ini menjadi lebih <\/span><span style=\"font-weight: 400;\">thoughtful<\/span><span style=\"font-weight: 400;\"> dan bertindak adil pada semua karakternya.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Film ini cukup berhasil menjelaskan sulitnya <\/span><a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/tag\/move-on\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\"><span style=\"font-weight: 400;\">move on<\/span><\/a><span style=\"font-weight: 400;\"> dari trauma. Beranjak dari trauma tidak semudah nasehat sabar dan sok bijak dari orang-orang. Film ini menjelaskan dengan panjang lebar sesulit apa untuk mengungkapkan rasa sakit yang diderita akibat trauma masa lalu.\u00a0<\/span><\/p>\n<h4><strong>Menggambarkan trauma dan penderitaan korban pemerkosaan<\/strong><\/h4>\n<p><i><span style=\"font-weight: 400;\">Luckiest Girl Alive<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> juga menggambarkan bagaimana penderitaan korban <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/tag\/pemerkosaan\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">pemerkosaan<\/a> (tanpa mengeksploitasi penderitaannya) dan bagaimana trauma membangun dan merusak banyak hal dalam hidup. Ani yang selalu didikte oleh ibunya, suatu hari sadar bahwa mimpinya penting, begitu juga mimpi semua perempuan. Ani dihadapkan pada pilihan dilematis seperti pindah ke London bersama Luke dan hidup sebagai istrinya atau bekerja di New York Times seperti keinginannya. Dia akhirnya mampu memutuskan pilihan berdasarkan dirinya, bukan ibunya.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Jessica Knoll dalam buku dan naskah filmnya juga memperlakukan korban pemerkosaan seperti Ani dengan bijak. Film ini tidak menghakimi, tetapi berusaha memahami perasaan dan pikiran Ani. Film ini juga percaya bahwa semua orang bisa bangkit dari keterpurukan, seburuk apa pun itu. <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/tag\/ending\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">Ending film<\/a> ini sangat <\/span><span style=\"font-weight: 400;\">powerful<\/span><span style=\"font-weight: 400;\"> dan <\/span><span style=\"font-weight: 400;\">savage<\/span><span style=\"font-weight: 400;\">, merealisasikan semua racauan yang sebelumnya hanya ada di pikiran Ani. Film ini berakhir tanpa meninggalkan teka-teki atau pertanyaan. Semua hal yang ada di film ini disimpulkan dengan baik di akhir.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Satu hal penting selain trauma yang perlu disorot di film ini adalah tamparan untuk masyarakat dan media soal jarangnya pemerkosaan disebut pemerkosaan. Kita lebih sering membaca kata &#8220;cabul&#8221;, &#8220;disetubuhi&#8221;, &#8220;rudapaksa&#8221;, dan seterusnya pada tajuk berita daripada secara gamblang menyebut &#8220;pemerkosaan&#8221;. Hal tersebut terdengar seperti melindungi pelaku pemerkosaan, masyarakat dan media bahkan lebih sering membahas dan menggunjing korban.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Setelah menonton <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">Luckiest Girl Alive<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">, saya mengingat kembali versi novel yang saya baca sewaktu SMA. Kemudian saya menyadari bahwa meski bersifat fiktif, beberapa kejadian di film ini diambil dari kejadian nyata yang menimpa penulisnya, Jessica Knoll saat remaja, termasuk pemerkosaan (<\/span><span style=\"font-weight: 400;\">gang rape<\/span><span style=\"font-weight: 400;\">) dan kejadian school shooting. Saya juga kembali mengunjungi esa<\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">i <\/span><\/i><a href=\"https:\/\/www.lennyletter.com\/story\/what-i-know\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\"><i><span style=\"font-weight: 400;\">What I Know<\/span><\/i><\/a><span style=\"font-weight: 400;\"> yang ditulis Jessica Knoll, yang secara gamblang menuliskan pengalaman mengerikan yang dialaminya. Saya akhirnya memahami mengapa film ini begitu kuat secara naratif dan sangat reflektif.<\/span><\/p>\n<p><i><span style=\"font-weight: 400;\">Luckiest Girl Alive<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> adalah film tentang berdamai dengan trauma yang &#8220;brutal&#8221;, tetapi juga reflektif. Terlepas dari kekurangan teknis seperti editing yang tidak konsisten, film ini layak dinobatkan sebagai salah satu rilisan Netflix terbaik tahun ini. Saya ingin sekali merekomendasikan film ini kepada semua orang, tetapi karena mengandung banyak adegan yang mengganggu, sebaiknya kamu membaca informasi tentang film ini dahulu sebelum menonton.<\/span><\/p>\n<p>Penulis: Rizal Nurhadiansyah<br \/>\nEditor: Intan Ekapratiwi<\/p>\n<p><strong>BACA JUGA <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/10-film-semi-terbaik-di-netflix-yang-nggak-cuma-jual-adegan-seks\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">Film Semi Terbaik di Netflix yang Nggak Cuma Jual Adegan Seks<\/a>.<\/strong><\/p>\n<h5><span id=\"Terminal_Mojok_merupakan_platform_User_Generated_Content_UGC_untuk_mewadahi_jamaah_mojokiyah_menulis_tentang_apa_pun_Submit_esaimu_secara_mandiri_lewat_carainiya\"><em>Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara\u00a0<a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/kirim-tulisan\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\">ini<\/a>\u00a0ya.<\/em><\/span><\/h5>\n<h5><em>Anda penulis Terminal Mojok? Silakan bergabung dengan Forum Mojok\u00a0<a href=\"https:\/\/mojok.co\/forum\/daftar\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">di sini<\/a>.<\/em><\/h5>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Sebelum nonton, ada baiknya kamu cari info dulu soal film ini, ya.<\/p>\n","protected":false},"author":1693,"featured_media":192086,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_lmt_disableupdate":"no","_lmt_disable":"","jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":{"source_name":"","source_url":"","via_name":"","via_url":"","override_template":"0","override":[{"template":"1","single_blog_custom":"","parallax":"1","fullscreen":"1","layout":"right-sidebar","sidebar":"default-sidebar","second_sidebar":"default-sidebar","sticky_sidebar":"1","share_position":"float","share_float_style":"share-monocrhome","show_share_counter":"1","show_view_counter":"0","show_featured":"1","show_post_meta":"1","show_post_author":"1","show_post_author_image":"1","show_post_date":"1","post_date_format":"default","post_date_format_custom":"Y\/m\/d","show_post_category":"0","show_post_reading_time":"0","post_reading_time_wpm":"300","show_zoom_button":"1","zoom_button_out_step":"3","zoom_button_in_step":"4","show_post_tag":"1","show_prev_next_post":"0","show_popup_post":"1","number_popup_post":"3","show_author_box":"1","show_post_related":"1","show_inline_post_related":"0"}],"override_image_size":"0","image_override":[{"single_post_thumbnail_size":"crop-715","single_post_gallery_size":"crop-500"}],"trending_post":"0","trending_post_position":"meta","trending_post_label":"Trending","sponsored_post":"0","sponsored_post_label":"Sponsored by","sponsored_post_name":"","sponsored_post_url":"","sponsored_post_logo_enable":"0","sponsored_post_logo":"","sponsored_post_desc":"","disable_ad":"0"},"jnews_primary_category":{"id":""},"jnews_override_counter":{"override_view_counter":"0","view_counter_number":"0","override_share_counter":"0","share_counter_number":"0","override_like_counter":"0","like_counter_number":"0","override_dislike_counter":"0","dislike_counter_number":"0"},"jnews_post_split":[],"footnotes":""},"categories":[13081],"tags":[10907,11701,17233,17234,2363],"class_list":["post-192079","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-film","tag-film-netflix","tag-korban-pemerkosaan","tag-luckiest-girl-alive","tag-mila-kunis","tag-netflix"],"modified_by":"Intan Ekapratiwi","amp_enabled":true,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/192079","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1693"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=192079"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/192079\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media\/192086"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=192079"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=192079"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=192079"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}