{"id":192038,"date":"2022-10-12T11:16:29","date_gmt":"2022-10-12T04:16:29","guid":{"rendered":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/?p=192038"},"modified":"2022-10-12T11:16:29","modified_gmt":"2022-10-12T04:16:29","slug":"syuting-di-eropa-nggak-bikin-sinetron-indonesia-naik-kelas","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/syuting-di-eropa-nggak-bikin-sinetron-indonesia-naik-kelas\/","title":{"rendered":"Syuting di Eropa Nggak Bikin Sinetron Indonesia Naik Kelas"},"content":{"rendered":"<p><span style=\"font-weight: 400;\">Dunia hiburan televisi Indonesia sekarang lagi rame-ramenya, terlebih di SCTV. Soalnya, TV swasta dengan logo warna kuning dan biru itu akan menayangkan sinetron baru berjudul <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">Siapa Takut Orang Ketiga<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">. Katanya, sih, katanya, sinetron ini memiliki sinematografi kelas internasional, terlebih syutingnya di Eropa. Tapi, menurut saya sinetron ini nggak akan bisa bikin dunia hiburan televisi Indonesia naik kelas.<\/span><\/p>\n<p><i><span style=\"font-weight: 400;\">Siapa Takut Orang Ketiga<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> adalah salah satu sinetron yang bercerita tentang seorang perempuan bernama Kim yang diperebutkan oleh dua laki-laki bernama Will dan Sam. Sinetron yang diproduksi Sinemart ini, tayang setiap sore, setiap hari, sama seperti sinetron pada umumnya.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Meskipun syuting di Swiss dan Paris, tetapi sinetron ini tidak serta merta membuatnya seperti drama Korea yang bisa menggaet penonton dari berbagai belahan dunia. Perlu diakui, beberapa teknik sinematografi di sinetron ini cukup keren, tapi hanya dalam membuat footage perkotaan.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Di sini saya akan saya jelaskan mengapa sinetron <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">Siapa Takut Orang Ketiga<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> ini nggak jauh beda dengan sinetron yang pernah tayang bertahun-tahun yang lalu di Indonesia. Padahal, pasti biaya produksinya mahal karena syuting di luar negeri dengan tayangan yang disiarkan setiap hari.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Pertama, cerita yang nggak ada inovasinya sama sekali. Sinetron Indonesia sangat identik dengan perselingkuhan, percintaan, dan hal-hal yang berkaitan dengan itu. Padahal, para sineas Indonesia tentu punya ide-ide keren yang revolusioner untuk dunia sinetron Indonesia.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Ambil contoh Korea Selatan. Korea Selatan tidak hanya memiliki kisah tentang cinta, tetapi politik, kriminal, aksi, atau bahkan beberapa genre disatukan menjadi sebuah cerita yang ciamik. Tentu hal ini seharusnya menjadi tolok ukur dalam membuat sinetron yang baik, dan tentu bisa menggaet penonton muda.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Kedua, dialog yang biasa aja. Sinetron Indonesia dari tahun ke tahun tidak memiliki kemajuan dalam penulisan skrip, percakapan antartokoh sangat biasa dan <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/sinetron-indonesia-perlu-mengurangi-adegan-ngomong-dalam-hati\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">klise.<\/a> Tentu, sebagai penonton yang mengikuti perkembangan dunia hiburan, bakal merasa bosan. We bored, man. Wanna try something new?<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Padahal, Indonesia pernah memiliki sinetron dengan dialog yang keren dalam<a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/no-debat-para-pencari-tuhan-adalah-sinetron-ramadan-terbaik\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\"> <em>Para Pencari Tuhan<\/em> <\/a>di tahun-tahun awal. Dialog Aya dan Azam masih ngena dan ramai dibagikan di sosial media karena punya retorika yang tidak biasa. Sementara, semakin ke sini, tidak ada lagi penulisan skrip keren seperti itu.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Ketiga, terlalu banyak musik. Sinetron Indonesia sepertinya sangat alergi untuk menghilangkan musik latar dari tayangannya. Setiap scene pasti harus diisi dengan musik latar, yang kadang malah mengganggu telinga. Padahal, musik latar harusnya bisa digunakan lebih sesuai dengan rasa dari scene yang ditayangkan.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Jika kita melihat series-series Indonesia di platform streaming, mereka menggunakan musik latar secukupnya. Bagi scene dialog biasa, tentu keheningan memiliki warna alami tersendiri. Tetapi, di sinetron Indonesia, musik latar itu wajib hukumnya, haram kalau dihilangkan.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Keempat, slow motion yang berlebihan. Dua episode sinetron <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">Siapa Takut Orang Ketiga<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> yang saya tonton, masih punya adegan <a href=\"https:\/\/en.wikipedia.org\/wiki\/Slow_motion\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">slow motion<\/a> yang berlebihan. Bahkan, sinetron yang digembor-gembor punya sinematografi kelas dunia ini menayangkan slow motion yang sedikit patah-patah.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Saya tidak masalah dengan adanya adegan slow motion, tetapi jika terlalu berlebihan apalagi dengan frame rate yang tidak stabil, tentu akan menyakiti mata. Padahal, rumah produksi tentu memiliki alat yang memadai untuk membuatnya lebih sempurna.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Kelima, alur yang lambat. Jika kita membandingkan dengan series <\/span><a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/serial-layangan-putus\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\"><i><span style=\"font-weight: 400;\">Layangan Putus<\/span><\/i><\/a><span style=\"font-weight: 400;\"> yang viral beberapa waktu yang lalu di Disney Hotstar, sinetron Indonesia memiliki alur yang sangat lambat di setiap episodenya.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Tentu, hal ini sangat berguna bagi mereka yang ingin memperpanjang episode sehingga bisa tayang dalam waktu yang lama. Padahal, hal ini membosankan. <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">Layangan Putus<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> memiliki episode yang pendek, tetapi bisa ngena di penonton karena ceritanya yang unik, dan alurnya yang jelas.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Sudahlah, capek saya kalau bahas sinetron Indonesia. Intinya, syuting di Eropa nggak akan bikin sinetron kita naik kelas. Justru menunjukkan kalau emang dah mentok, nggak bisa menawarkan kualitas, dan akhirnya balik ke formula paling nyebahi: memanfaatkan orang Indonesia yang gampang kagum.<\/span><\/p>\n<p>Penulis: Muhammad Afsal Fauzan S<br \/>\nEditor: Rizky Prasetya<\/p>\n<p><strong>BACA JUGA <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/7-adegan-sinetron-indonesia-yang-paling-memuakkan\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">7 Adegan Sinetron Indonesia yang paling Memuakkan<\/a><\/strong><\/p>\n<h5><span id=\"Terminal_Mojok_merupakan_platform_User_Generated_Content_UGC_untuk_mewadahi_jamaah_mojokiyah_menulis_tentang_apa_pun_Submit_esaimu_secara_mandiri_lewat_carainiya\"><strong><em>Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara\u00a0<a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/kirim-tulisan\/\">ini<\/a>\u00a0ya.<\/em><\/strong><\/span><\/h5>\n<h5><span id=\"Anda_penulis_Terminal_Mojok_Silakan_bergabung_dengan_Forum_Mojokdi_sini\"><strong><em>Anda penulis Terminal Mojok? Silakan bergabung dengan Forum Mojok\u00a0<a href=\"https:\/\/mojok.co\/forum\/daftar\/\">di sini<\/a>.<\/em><\/strong><\/span><\/h5>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Gitu-gitu aja.<\/p>\n","protected":false},"author":1184,"featured_media":192090,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_lmt_disableupdate":"no","_lmt_disable":"","jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":{"source_name":"","source_url":"","via_name":"","via_url":"","override_template":"0","override":[{"template":"1","single_blog_custom":"","parallax":"1","fullscreen":"1","layout":"right-sidebar","sidebar":"default-sidebar","second_sidebar":"default-sidebar","sticky_sidebar":"1","share_position":"float","share_float_style":"share-monocrhome","show_share_counter":"1","show_view_counter":"0","show_featured":"1","show_post_meta":"1","show_post_author":"1","show_post_author_image":"1","show_post_date":"1","post_date_format":"default","post_date_format_custom":"Y\/m\/d","show_post_category":"0","show_post_reading_time":"0","post_reading_time_wpm":"300","show_zoom_button":"1","zoom_button_out_step":"3","zoom_button_in_step":"4","show_post_tag":"1","show_prev_next_post":"0","show_popup_post":"1","number_popup_post":"3","show_author_box":"1","show_post_related":"1","show_inline_post_related":"0"}],"override_image_size":"0","image_override":[{"single_post_thumbnail_size":"crop-715","single_post_gallery_size":"crop-500"}],"trending_post":"0","trending_post_position":"meta","trending_post_label":"Trending","sponsored_post":"0","sponsored_post_label":"Sponsored by","sponsored_post_name":"","sponsored_post_url":"","sponsored_post_logo_enable":"0","sponsored_post_logo":"","sponsored_post_desc":"","disable_ad":"0"},"jnews_primary_category":{"id":""},"jnews_override_counter":{"override_view_counter":"0","view_counter_number":"0","override_share_counter":"0","share_counter_number":"0","override_like_counter":"0","like_counter_number":"0","override_dislike_counter":"0","dislike_counter_number":"0"},"jnews_post_split":[],"footnotes":""},"categories":[13082],"tags":[7050,4355,6348,5634],"class_list":["post-192038","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-sinetron","tag-eropa","tag-layangan-putus","tag-para-pencari-tuhan","tag-sinetron-indonesia"],"modified_by":"Rizky Prasetya","amp_enabled":true,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/192038","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1184"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=192038"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/192038\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media\/192090"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=192038"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=192038"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=192038"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}