{"id":191710,"date":"2022-10-08T13:17:40","date_gmt":"2022-10-08T06:17:40","guid":{"rendered":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/?p=191710"},"modified":"2022-10-08T13:17:40","modified_gmt":"2022-10-08T06:17:40","slug":"bullying-masih-subur-karena-sekolah-lebih-fokus-ngurusin-rambut-dan-kaos-kaki","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/bullying-masih-subur-karena-sekolah-lebih-fokus-ngurusin-rambut-dan-kaos-kaki\/","title":{"rendered":"Bullying Masih Subur karena Sekolah Lebih Fokus Ngurusin Rambut dan Kaos Kaki"},"content":{"rendered":"<p><em><span style=\"font-weight: 400;\">Kenapa bullying masih tumbuh subur di Sekolah? Karena sekolahnya masih mbulet ngurusi tampilan luar siswa-siswanya<\/span><\/em><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Pagi ini, selera nyeruput kopi saya mendadak hilang saat membuka Twitter. Memang, ya, paling bener kalau mau cari hiburan, jangan buka Twitter. Bukannya pikiran jadi fresh, malah jadi makin overthinking gara-gara membaca kabar tragedi penembakan massal di Thailand. Gila!<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Namun bukan itu fokus utama saya. Yang jadi perhatian saya adalah saya menemukan komentar tentang bullying di TK. Ada netijen yang memberikan testimoni bahwa bully di TK itu benar adanya. Dia, pernah jadi salah satu korban bully saat masih duduk di bangku TK. Trauma akibat perundungan tersebut masih ia rasakan meskipun kini sudah beranjak dewasa.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Like\u2026 what? Bully di TK, Gaes! Di TK!\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Miris. Bullying dan sekolah. Dua kata itu entah kenapa begitu dekat satu sama lain. Padahal, jika dilihat dari konteksnya, dua kata ini tak seharusnya beriringan. Mengutip Widya Ayu dalam buku <\/span><a href=\"https:\/\/books.google.co.id\/books\/about\/Cegah_dan_Stop_Bullying_Sejak_Dini.html?id=pyH_DwAAQBAJ&amp;redir_esc=y\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\"><i><span style=\"font-weight: 400;\">Cegah dan Stop Bullying Sejak Dini<\/span><\/i><\/a><span style=\"font-weight: 400;\">, bullying berasal dari bahasa Inggris, yaitu bull yang berarti banteng. Jadi, secara etimologi bullying berarti penggertak, yaitu orang yang mengganggu yang lemah. Sementara itu, Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPA) menyebut bullying sebagai penindasan\/risak. Intinya sama, lah, ya, bahwa bullying ini bentuk penindasan yang sengaja dilakukan dengan tujuan menyakiti.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Sedangkan sekolah? Berdasarkan undang-undang nomor 2 tahun 1989, sekolah adalah satuan pendidikan yang berjenjang dan berkesinambungan untuk menyelenggarakan kegiatan belajar mengajar. Dengan kata lain, sekolah ini tempat untuk mencari ilmu, mencari kebaikan, di bawah pengawasan guru dan pemerintah. Lha, kok di dalam lembaga nan suci dan mulia ini sering terjadi bullying itu gimana ceritanya? Kan nggak siku banget.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Berhubung saya nggak mau mumet sendiri, saya coba bertanya pada kawan saya, seorang guru BK. Sebagai seorang guru BK, dia mengaku kerap berhadapan dengan kasus bullying. Sialnya lagi, kadang perundungan itu terjadi karena dipacu masalah sepele. Misalnya saja, berawal dari guyonan. Atau, gara-gara rebutan pacar. Bisa juga, karena senioritas. Siswa di kelas tinggi merasa paling iye, sehingga mereka merasa punya kuasa untuk menindas, mengatur, dan merisak adik kelasnya.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Meskipun, kejadiannya pasti berbeda di masing-masing sekolah. Ada bully yang berujung hingga meregang nyawa, seperti yang menimpa PH (11), siswa kelas VI sekolah dasar di Kecamatan Singaparna Kabupaten Tasikmalaya, pada Juli lalu. Ada pula bully yang (((tipis-tipis))). Namun, tetap saja, bully, ya, bully. Tidak bisa dibenarkan. Setipis apa pun, perundungan akan selalu meninggalkan trauma di benak korban yang akan dibawa hingga dewasa.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Saya jadi mikir. Jangan-jangan adanya kasus bullying di lingkungan sekolah terjadi karena sekolah lebih\u00a0 berfokus dengan \u201chal penting\u201d lainnya?<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">\u201cHal penting\u201d yang saya maksud adalah seperti apa warna sepatu yang dipakai siswa hari ini, bagaimana rambut siswa laki-laki, apakah siswa memakai sabuk, hingga warna kaos kaki yang hari itu siswa kenakan. Seolah, wajah sekolah hanya terletak pada penampilan siswanya. Sehingga, bolak-balik yang dicek oleh tim kesiswaan dan guru BK setiap harinya hanya itu-itu saja: rambut, sepatu dan kaos kaki.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Sementara pencegahan untuk bullying, hanya mentok di sosialisasi. Itupun tidak rutin dilakukan. Hanya disampaikan saat jam pembinaan wali kelas, jam BK atau amanat ketika upacara bendera. Ehm. Itu juga kalau gurunya nggak lupa.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Saya jadi mikir, andai bullying termasuk hal penting yang dimaksud, mungkin kasus bullying di sekolah bakal berkurang drastis. Saya juga mikir, sepenting itukah rambut, sabuk, dan kaos kaki itu ketimbang kesejahteraan anak didik?<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Pertanyaannya, kenapa mereka begitu fokus ke hal-hal yang trivial, tapi begitu bertemu bullying, mereka menganggap enteng?<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Sudah saatnya sekolah bergerak dengan lebih nyata untuk meredam potensi konflik di area sekolah yang dapat memicu terjadinya bullying. Lakukan pendekatan secara persuasif dengan siswa. Ciptakan ruang aman dan nyaman bagi siswa untuk bercerita. Sehingga, siswa bisa leluasa bercerita ketika ada sesuatu yang tidak beres menimpa mereka atau kawannya di sekolah.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Jangan lagi-lagi warna sepatu dan kaos kaki siswa yang dipermasalahkan. Kalau terus-terusan begitu, ya, jangan heran jika masalah besar yang sebenarnya malah jadi kabur. Jangan heran juga jika kemudian ada sekolah yang sampai tidak tahu ada perundungan terjadi di area sekolahnya, seperti yang terjadi di MTS Negeri 1 Kotamobagu, Sulawesi Utara pada bulan Juni lalu. Pada akhirnya, bukan tidak mungkin, sekolah yang kita gadang-gadang jadi tempat mencetak generasi bangsa yang berkualitas, justru jadi tempat tumbuh suburnya pelaku perundungan.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Kenapa? Karena sekolahnya masih mbulet ngurusi tampilan luar siswa-siswanya.<\/span><\/p>\n<p>Penulis: Dyan Arfiana Ayu Puspita<br \/>\nEditor: Rizky Prasetya<\/p>\n<p><strong>BACA JUGA <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/kok-bisa-ada-orang-tua-bangga-anaknya-jadi-pelaku-bullying\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">Kok Bisa Ada Orang Tua Bangga Anaknya Jadi Pelaku Bullying?<\/a><\/strong><\/p>\n<h5><span id=\"Terminal_Mojok_merupakan_platform_User_Generated_Content_UGC_untuk_mewadahi_jamaah_mojokiyah_menulis_tentang_apa_pun_Submit_esaimu_secara_mandiri_lewat_carainiya\"><strong><em>Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara\u00a0<a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/kirim-tulisan\/\">ini<\/a>\u00a0ya.<\/em><\/strong><\/span><\/h5>\n<h5><span id=\"Anda_penulis_Terminal_Mojok_Silakan_bergabung_dengan_Forum_Mojokdi_sini\"><strong><em>Anda penulis Terminal Mojok? Silakan bergabung dengan Forum Mojok\u00a0<a href=\"https:\/\/mojok.co\/forum\/daftar\/\">di sini<\/a>.<\/em><\/strong><\/span><\/h5>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Hal sepele diurusin.<\/p>\n","protected":false},"author":613,"featured_media":68008,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_lmt_disableupdate":"no","_lmt_disable":"","jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":{"source_name":"","source_url":"","via_name":"","via_url":"","override_template":"0","override":[{"template":"1","single_blog_custom":"","parallax":"1","fullscreen":"1","layout":"right-sidebar","sidebar":"default-sidebar","second_sidebar":"default-sidebar","sticky_sidebar":"1","share_position":"float","share_float_style":"share-monocrhome","show_share_counter":"1","show_view_counter":"0","show_featured":"1","show_post_meta":"1","show_post_author":"1","show_post_author_image":"1","show_post_date":"1","post_date_format":"default","post_date_format_custom":"Y\/m\/d","show_post_category":"0","show_post_reading_time":"0","post_reading_time_wpm":"300","show_zoom_button":"1","zoom_button_out_step":"3","zoom_button_in_step":"4","show_post_tag":"1","show_prev_next_post":"0","show_popup_post":"1","number_popup_post":"3","show_author_box":"1","show_post_related":"1","show_inline_post_related":"0"}],"override_image_size":"0","image_override":[{"single_post_thumbnail_size":"crop-715","single_post_gallery_size":"crop-500"}],"trending_post":"0","trending_post_position":"meta","trending_post_label":"Trending","sponsored_post":"0","sponsored_post_label":"Sponsored by","sponsored_post_name":"","sponsored_post_url":"","sponsored_post_logo_enable":"0","sponsored_post_logo":"","sponsored_post_desc":"","disable_ad":"0"},"jnews_primary_category":{"id":""},"jnews_override_counter":{"override_view_counter":"0","view_counter_number":"0","override_share_counter":"0","share_counter_number":"0","override_like_counter":"0","like_counter_number":"0","override_dislike_counter":"0","dislike_counter_number":"0"},"jnews_post_split":[],"footnotes":""},"categories":[13087],"tags":[2321,3502,359],"class_list":["post-191710","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-pojok-tubir","tag-aturan","tag-bullying","tag-sekolah"],"modified_by":"Rizky Prasetya","amp_enabled":true,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/191710","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/users\/613"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=191710"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/191710\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media\/68008"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=191710"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=191710"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=191710"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}