{"id":19168,"date":"2019-10-31T14:10:33","date_gmt":"2019-10-31T07:10:33","guid":{"rendered":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/?p=19168"},"modified":"2019-10-31T12:19:07","modified_gmt":"2019-10-31T05:19:07","slug":"nasihat-untuk-tipe-tipe-orang-menyebalkan","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/nasihat-untuk-tipe-tipe-orang-menyebalkan\/","title":{"rendered":"Nasihat untuk Tipe-Tipe Orang Menyebalkan"},"content":{"rendered":"<p>Hidup memang sulit terlepaskan dari hal yang menyebalkan, termasuk orang yang menyebalkan pula. Bahkan orang-orang itu hadir sangat dekat di sekitar kita. Mengerikan bukan? Karena secara sadar mereka memanipulasi <em>mood<\/em> kita berubah menjadi amarah. Ada dua cara menghadapi mereka, <em>pertama,<\/em> sabar hingga belut punya bulu. Dan yang <em>kedua,<\/em> kasih nasihat (caci maki) saja. Saat ini saya memilih cara yang kedua. <em>Here is the list!<\/em><\/p>\n<h3><strong>Satu: Teman yang <em>Wanna be Us<\/em><\/strong><\/h3>\n<p>Asli tipe ini mengganggu banget. Di saat kita sudah punya arah sendiri dalam <em>fashion,<\/em> <a href=\"https:\/\/tirto.id\/perubahan-bicara-tunjukkan-gejala-awal-alzheimer-cjrB\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\">gaya bicara<\/a>, kesukaan, musik bahkan idealisme (<em>halah<\/em>). Eh ,tiba-tiba teman kita sendiri menduplikatnya. Hal yang menyebalkannya adalah mereka seolah-olah yang &#8220;tampil beda&#8221;. Padahal, itu semua sudah kita ketahui dan jalani. Sebenarnya saya kasihan, <em>follower<\/em> itu ya tetap saja jadi <em>follower<\/em> tidak akan melebihi yang diikutinya. Punya pikiran tuh bikin sesuatu yang kreatif bukan buat imitatif!<\/p>\n<h3><strong>Dua: Penipu Chat yang Goblok<\/strong><\/h3>\n<p>Pasti kalian pernah mengalami <em>chat<\/em> tidak dibalas bahkan tidak dibaca dalam waktu yang lama oleh seseorang. Kemudian, dia malah lihat <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/menghakimi-status-di-instastory-pasal-mana-pasal\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\"><em>story<\/em><\/a> kita atau aktif di grup <em>chat<\/em> yang kita dan dia ikut gabung. Yang lebih menyebalkanchar lagi ketika dia malah <em>chat<\/em> sama seseorang yang sedang berada di dekat kita. Mau bergaya sibuk dan alasan <em>chat<\/em> menumpuk, tapi tipuannya busuk. Permasalahannya adalah itu sakit sekali, Kawan! Ini diskriminasi namanya!<\/p>\n<h3><strong>Tiga: Jomblo yang Menjijikkan<\/strong><\/h3>\n<p>\u201cJomblo berkualitas\u201d, \u201cjomblo produktif\u201d, \u201cjomblo itu merdeka\u201d dan berbagai <em>caption<\/em> lainnya disematkan sambil nge-<em>post<\/em> kegiatan mereka yang orang lain pun biasa lakukan. Misalkan, menyiram tanaman, berangkat kuliah tepat waktu, makan sehari tiga kali, atau cuma minum kopi di pagi hari. <em>Punten<\/em> ya Mas atau Mbak, <em>any**g!<\/em> Bilang saja kalau Anda itu kesepian. Tidak usah bawa hal-hal lain yang tidak ada korelasinya, deh!<\/p>\n<p>Bahkan ketika mereka melakukan hal yang sebetulnya sangat mulia. Mereka selalu menambahkan embel-embel bahwa dengan kejombloan akhirnya mereka bisa melakukan hal yang mulia. Akhirnya malah membuat kita tidak ingin melakukannya. Kan sayang sekali, bukan? Mending <em>caption-<\/em>nya ganti jadi, \u201cSaya sudah jomblo beberapa tahun. Saya siap jadi bucin asal punya pacar\u201d.<\/p>\n<h3><strong>Empat: Iblis dalam Penyamaran<\/strong><\/h3>\n<p>Tipe ini sangat pandai dalam mempolitisasi alias (((memanfaatkan))) kebaikan orang. Cocok jadi <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/salah-kaprah-partai-oposisi\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\">kader partai politik.<\/a> Coba pikir saja, mereka dengan santai memberikan kenyamanan dan kepedulian tapi ternyata itu hanya untuk kepentingannya. Diajak jalan mau, diajak <em>chat<\/em> mengasyikan atau menemani kita dalam hal nggak penting pun dia mau. Ternyata <em>eh<\/em> ternyata, itu hanya untuk memuluskan langkah dia menuju orang yang dia suka. Bisa juga mencari informasi atau kepentingan-kepentingan lainnya. <em>WTF!<\/em> Sungguh menyebalkan. Kita selama ini ditunggangi! Waspadalah! Jangan gampang GR!<\/p>\n<h3><strong>Lima: Sang Pengemis Pengakuan<\/strong><\/h3>\n<p>Mereka selalu menggunakan majas litotes untuk mendapatkan pengakuan. Merendahkan diri, meskipun kenyataan yang sebenarnya adalah yang sebaliknya. Yang menyebalkan, ketika mereka tidak mau disalahkan. Lalu mereka menggunakan trik litotes ini. Padahal, mereka mampu untuk melakukan sesuatu. Hanya karena kemalasan atau alasan personal lainnya, mereka sok merendah untuk mendapatkan pengampunan.<\/p>\n<p>\u201cAku emang nggak bisa apa-apa\u201d, \u201cKalian emang yang lebih baik\u201d, \u201cAku <em>mah<\/em> apa atuh\u201d. Ah, <em>bullshit!<\/em> Kalau sudah tahu begitu kenapa tidak cari solusinya? Jangan bisanya cuma merendah hanya untuk tidak disalahkan! Bangsat emang!<\/p>\n<p>Maka dari itu, kita harus menjernihkan pikiran agar terhindar atau bisa mengatasi orang-orang seperti ini. Setelah itu, baru kita nasihati (baca: caci maki) mereka. Seperti kata <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/rekomendasi-film-dengan-plot-twist-terbaik-part-4\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\">Jack Sparrow<\/a>, \u201cKau mungkin bisa membunuhku tapi kau takkan bisa menghinaku.\u201d<\/p>\n<p><b>BACA JUGA <\/b><a href=\"https:\/\/mojok.co\/auk\/ulasan\/pojokan\/starter-pack-nge-chat-atasan-ala-budak-birokrat\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\">Starter Pack Nge-chat Atasan ala Budak Birokrat<\/a> atau tulisan Aniq Kanafillah Aziz lainnya.<\/p>\n<p><em>Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara\u00a0<a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/kirim-tulisan\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\">ini<\/a>\u00a0ya.<\/em><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Chat nggak segera dibalas. Eh, yang menyebalkan dia malah lihat Instastory kita, balas chat di grup, atau chattingan sama orang di sebelah kita.<\/p>\n","protected":false},"author":418,"featured_media":19182,"comment_status":"closed","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_lmt_disableupdate":"","_lmt_disable":"","jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":[],"jnews_primary_category":[],"jnews_override_counter":[],"jnews_post_split":[],"footnotes":""},"categories":[6],"tags":[2377,33],"class_list":["post-19168","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-artikel","tag-grup-chat","tag-jomblo"],"modified_by":"Audian Laili","amp_enabled":true,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/19168","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/users\/418"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=19168"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/19168\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media\/19182"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=19168"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=19168"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=19168"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}