{"id":19155,"date":"2019-10-31T13:06:28","date_gmt":"2019-10-31T06:06:28","guid":{"rendered":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/?p=19155"},"modified":"2019-10-31T09:27:09","modified_gmt":"2019-10-31T02:27:09","slug":"alasan-saya-menghindari-jurus-rame-amat-nggak-ada-yang-mau-mutualan-apa","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/alasan-saya-menghindari-jurus-rame-amat-nggak-ada-yang-mau-mutualan-apa\/","title":{"rendered":"Alasan Saya Menghindari Jurus: Rame Amat, Nggak Ada yang Mau Mutualan Apa?"},"content":{"rendered":"<p>Twitter adalah salah satu media sosial favorit saya. Selain karena keunikannya, juga karena privasi saya terjaga di sana. Nggak ada tetangga dan teman dekat yang juga ikutan main Twitter. Kalaupun ada, mereka juga nggak tahu akun saya. Hehehe<em>. <\/em>Jadi, saya masih tetap dapat sambat dan julid di sana.<\/p>\n<p>Meskipun sudah bergabung dengan Twitter sejak tahun 2013, nyatanya saya baru benar-benar aktif di Twitter di tahun 2019. Alasannya tentu saja, sebelumnya saya masih setia dengan Facebook dan <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/emang-ada-apa-sih-dengan-instagramdarkmode\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\">Instagram<\/a>.<\/p>\n<p>Kini, saya mulai membatasi penggunaan kedua media sosial tersebut karena ada banyak orang yang mengenal saya secara personal di sana. Dan saya merasa nggak memiliki privasi<em>. <\/em>Akhirnya, akun Twitter yang sebelumnya hanya digunakan sesekali saja untuk kegiatan <em>stalking<\/em> para <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/orang-indonesia-di-mata-orang-korea\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\">oppa-oppa Korea<\/a> dan berhubungan dengan sesama Kpopers, justru beralih fungsi menjadi akun pribadi.<\/p>\n<p>Saking lamanya nggak main Twitter, saya justru baru-baru ini mengetahui kalau Twitter memiliki fitur untuk membuat sebuah <em>thread,<\/em> <em>reply, <\/em>dan juga <em>love.<\/em> Tentu saja ini menjadi semacam kebahagiaan yang terlambat saya rasakan.<\/p>\n<p>Mengamati Twitter hari ini, saya juga mengenal beragam istilah baru, seperti, <em>spill tea <\/em>sebagai ungkapan untuk menunjukkan fakta,<em> Twitter please do your magic<\/em> untuk mengharapkan sebuah keajaiban dari Twitter, dan &#8220;<em>rame amat, nggak ada yang mau mutualan apa?\u201d<\/em> untuk memberikan reaksi akan sebuah utas, <em>tweet, <\/em>atau <em>reply <\/em>seseorang yang viral, diteruskan dengan keinginan untuk mengajukan sebuah aksi saling <em>follow<\/em>.<\/p>\n<p>Awalnya, ketika saya membuat sebuah <em>tweet <\/em>yang kemudian di-<em>love <\/em>oleh beberapa orang, muncul sebuah <em>reply, <\/em>\u201cMbak, nggak mau mutualan apa?\u201d atau \u201cMutualan yuk?\u201d tentu saja saya senang, kemudian kami saling <em>follow. <\/em>Tapi, lama-lama saya merasa khawatir akan aksi saling <em>follow <\/em>tersebut. Akhirnya, saya memilih <em>unfollow <\/em>saja. Orang tersebut akhirnya juga <em>unfollow <\/em>saya. Dan, saya kembali merasa aman.<\/p>\n<p>Hingga hari ini, saya termasuk orang yang tidak tertarik untuk mengeluarkan jurus, \u201crame amat, nggak ada yang mau mutualan apa?\u201d di Twitter. Tentu saja, semua disertai dengan alasan.<\/p>\n<h3><strong>Pertama, Terlalu Banyak Mutualan Nggak Jaga Privasi<\/strong><\/h3>\n<p>Ketika saya memiliki banyak <em>follower, <\/em>otomatis pergerakan saya akan dilihat banyak orang. Orang-orang akan memerhatikan setiap detail aktivitas Twitter saya. Mungkin, untuk orang-orang yang sudah terbiasa atau memang tujuannya untuk diperhatikan banyak orang (<em>follower<\/em>), hal tersebut lumrah saja. Tapi, tidak bagi saya.<\/p>\n<p>Sampai hari ini, jumlah <em>follower <\/em>yang sedikit dengan sebagian besar akun de-aktif membuat saya merasa nyaman. Seenggaknya, mereka nggak akan tahu saya, nggak kenal saya di dunia nyata, dan yang terpenting mereka nggak akan terlalu memerhatikan apa pun yang saya lakukan di Twitter.<\/p>\n<p>Privasi saya terjaga meskipun saya tidak mengunci akun Twitter dan saya tetap merasa aman. Jadi, mengeluarkan jurus, \u201crame amat, nggak ada yang mau mutualan apa?\u201d tiap kali beberapa komentar saya mendapat banyak respon akan mempersempit ruang privasi saya.<\/p>\n<h3><strong>Kedua, <\/strong><strong>Bebas Sambat<\/strong><\/h3>\n<p>Alasan utama mengapa saya berpindah dari Instagram dan Facebook ke Twitter adalah karena di kedua medsos tersebut saya tidak lagi bisa <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/mari-kita-sambat-soal-negeri-ini\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\">sambat<\/a>.<em>\u00a0<\/em>Sebab, banyak teman-teman dari <em>real life <\/em>juga para tetangga dan keluarga yang memiliki akun di medsos tersebut. Celakanya, kami juga berteman dan saling <em>follow.<\/em> Jadi, kalau salah dalam menuliskan <em>caption <\/em>atau ketahuan sambat di medsos tersebut, saya bisa jadi bahan gunjingan.<\/p>\n<p>Makanya, saya memilih Twitter sebagai tempat sambat. Nggak akan ada yang kenal, nggak ada yang negur, dan <em>follower <\/em>saya sedikit. Jadi, saya bebas berbuat apa saja karena sambatan saya tentu nggak akan menyakiti orang lain karena nggak akan viral.<\/p>\n<p>Oleh karena itu, saya sangat menghindari jurus, \u201crame amat, nggak ada yang mau mutualan apa?\u201d Soalnya, saya nggak akan benar-benar tahu latar belakang mutual saya yang sebenarnya. Jadi, membatasi jumlah mutual berarti semakin memberikan saya kebebasan untuk berekspresi dan sambat.<em>.<\/em><\/p>\n<h3><strong>Ketiga, Menolak Viral<\/strong><\/h3>\n<p>Menjadi viral adalah sesuatu yang gampang di Twitter. Asalkan postinganmu disukai dan di-<em>retweet <\/em>banyak orang serta di <em>reply, <\/em>maka kamu akan terkenal. Lalu, orang-orang akan berbondong-bondong mengikuti akunmu.<\/p>\n<p>Sejauh ini, saya tidak tertarik untuk viral. Bagi saya, <a href=\"https:\/\/tirto.id\/crosshijaber-instagram-viral-bagaimana-terjadi-ejGX\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\">viral<\/a> = terkenal = akan memiliki banyak <em>follower<\/em>. Saya menolak semuanya untuk menjaga privasi dan tentunya agar isi akun Twitter saya tetap natural seperti diri saya sebenarnya.<\/p>\n<p>Jika memiliki banyak <em>follower, <\/em>sangat mungkin semua hal bodoh yang saya tuliskan di Twitter akan di <em>retweet <\/em>banyak orang dan kemudian menyebar ke mana-mana. Orang-orang akan melihat isi profil saya, mencari tahu jejak <em>like <\/em>saya dan mengamati semua yang saya lakukan.<\/p>\n<p>Mungkin, pikiran saya terlihat berlebihan. Tetapi, dengan banyaknya jumlah mutual di Twitter, menjadi sangat mungkin untuk membuat sebuah <em>tweet <\/em>menjadi viral. Makanya, saya menghindari jurus, \u201crame amat, nggak ada yang mau mutualan apa?\u201d tiap kali <em>reply <\/em>saya di suatu <em>tweet <\/em>disukai dan di-<em>retweet <\/em>banyak kali.<\/p>\n<p><strong>BACA JUGA <\/strong><a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/ikutan-jadi-anak-twitter-selebgram-alih-profesi-jadi-selebtwit\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\">Ikutan Jadi Anak Twitter, Selebgram Alih Profesi Jadi Selebtwit<\/a> atau tulisan <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/author\/siti-halwah\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\">Siti Halwah<\/a>\u00a0lainnya.<\/p>\n<p><em>Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara\u00a0<a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/kirim-tulisan\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\">ini<\/a>\u00a0ya.<\/em><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Mengeluarkan jurus, \u201crame amat, nggak ada yang mau mutualan apa?\u201d ketika tweet saya ramai, akan mempersempit ruang privasi saya.<\/p>\n","protected":false},"author":200,"featured_media":19169,"comment_status":"closed","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_lmt_disableupdate":"","_lmt_disable":"","jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":[],"jnews_primary_category":[],"jnews_override_counter":[],"jnews_post_split":[],"footnotes":""},"categories":[6],"tags":[4314,385,421],"class_list":["post-19155","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-artikel","tag-mutualan","tag-sambat","tag-twitter"],"modified_by":"Audian Laili","amp_enabled":true,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/19155","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/users\/200"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=19155"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/19155\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media\/19169"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=19155"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=19155"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=19155"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}